Rabu, 02 Oktober 2019

MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIA WAJA PESTA DEMOKRASI


MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIAH WAJA PESTA DEMOKRASI
( Refleksi Pemilu 2019 dalam Perspektif Budaya Lamaholot Kabupaten  Flores Timur)


Keseluruhan Proses dan Tahapan Pemilihan Umum telah dirangkai  oleh KPU Flores Timur dalam Spirit KPU Melayani. Keterpanggilan melayani masyarakat untuk menggunakan Hak Konstitusi telah memateraikan pencapaian yakni Flores Timur dapat menyelenggarakan Pemilihan Umum Tanpa Pemungutan Suara Ulang sebagaimana Slogan yang terus digaungkan selama masa- masa persiapan menuju hari Pemungutan suara.  Di tengah tantangan tradisi keagamaan Semana Santa dan  Pesta Demokrasi, KPU Flores Timur bersama seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Flores Timur mampu dan berhasilkan menterjemahkan tradisi dan tugas Negara dengan baik, aman dan sukses.
Istilah Pesta Demokrasi pertama kali diucapkan oleh Presiden Soeharto pada kegiatan   Pembukaan Rapat Gubernur / Bupati/ Walikota se Indonesia pada tanggal 23 Februari 1981 di Jakarta.  Beliau menegaskan bahwa,  Pemilu harus dirasakan sebagai pesta poranya demokrasi, sebagai penggunaan hak demokrasi yang bertanggungjawab dan sama sekali tidak berubah menjadi sesuatu yang menegangkan dan mencekam.
Ungkapan bahwa Pemilu 2019 sebagai Pesta Demokrasi pun diucapkan oleh Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 2018. Beliau menegaskan bahwa rakyat menyambut pesta demokrasi itu dengan kegembiraan, dengan antusiasme yang tinggi serta kedewasaan politik yang matang.

Pemilu 2019 sebagai sebuah Pesta tepatnya Pesta Demokrasi  dapat terlaksana jika semua pihak terlibat aktif dan dengan kesadaran penuh menyiapakan Meja perjamuan Pesta Demokrasi serta para tamu undangan, peserta kontestan pemilu dalam kelayakan menghadiri perjamua Pesta tersebut. Memahami Pemilu 2019 sebagai Pesta, Penulis mencoba menghadirkan sebuah media budaya sebagai  refleksi tentang Pemilu 2019 di tingkat Kabupaten Flores Timur dalam Tradisi Pesta Lamaholot yang disebut dengan Gebia Waja.

Gebia  adalah tempat siri pinang, Waja   berarti menyuguhkan. Gebia Waja  adalah sebuah proses menyuguhkan undangan. Dalam Tradisi Pesta Pernikahan di Lamaholot, tuan pesta mengundang keluarga, masyarakat umum dengan membawakan Gebia Waja dari rumah ke rumah.  Untuk membawakan Gebia Waja, dilalui dengan ritus Tula Gebia, sebuah proses menjadikan wadah tersebut sacral dan kudus sebagai  tempat menaruh   pesan. Saat membawakan Gebia Waja, pembawa pesan menyampaikan pesan- pesan dari tuan pesta, seperti tanggal pernikahan adat, pemberkatan Nikah di Gereja, Resepsi juga undangan untuk bersama- sama bekerja menyiapkan pesta seperti membuat tenda pesta.

Gebia Waja juga sebagai symbol penerimaan tamu yang datang dari jauh. Dengan menyentuh Gebia, tamu diterima dan dilindungi, menjadi keluarga dari keluarga, masyarakat yang dikunjungi. Ketika ada konflik, setelah proses penyelesaian, dilanjutkan dengan ritus makan Sirih Pinang di Gebia yang disebut Tito Gebia Waja ( Tito : menyentuh ). Tito Gebia Waja dilakukan sebelum dimulai sebuah pekerjaan, seperti membangun fondasi rumah atau pelaksanaan ritual adat lainnya. Intinya dengan menyentuh Gebia Waja, semua orang yang terlibat bersatu hati, komitmen untuk bersama sama membangun, mensukseskan sebuah pekerjaan.

 Bagi penulis, Pemilihan Umum 2019 adalah sebuah Pesta Budaya, tempat Ribu Ratu ( masyarakat )  memilih Ata Dike ( orang dengan Budi Baik ) yang dipercayakan untuk membawakan Koda Pulo Kiri Lema ( bahasa Sastra : Pesan, Mandat ).   Ata Dike dalam perspektif  Orang Lamaholot  ( masyarakat di Kabupaten  Flores Timur dan Lemabata ) adalah orang- orang pilihan yang telah melewati proses dan pada akhirnya terpilih untuk membawakan, menyuarahkan suara, harapan- harapan masyarakat untuk membangun Kabupaten Flores Timur, Bumi Lamaholot yang lebih baik.
Gebia Waja adalah Sarana yang digunakan untuk mengundang masyarakat terlibat dalam sebuah kegiatan Pesta. Di dalam Gebia waja yang dibawakan oleh para utusan, dititipkan siri dan pinang serta koda kiri, pesan. Dengan menyentuh Gebia, penerima pesan dipanggil untuk terlibat, melibatkan keseluruhan diri, jiwa dan raga. KPU Flores Timur sebagai pembawa Pesan Konstitusi Demokrasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS, Sekretariat PPK, PPS, KPPS, PAM TPS,  melalui keseluruhan tahapan Pelaksanaan Pemilihan Umum 2019 telah menghadirkan Gebia waja di tengah – tengah masyarakat Flores Timur, di tengah tengah kontestan Pemilu.
Melalui Gebia Waja Pesta Demokrasi, sejarah Pemilihan Umum serentak pertama kali disajikan di atas meja perjamuan dengan berbagai jenis pilihan.  KPU Flores Timur sebagai Implementor Regulasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS dan KPPS berjuang dalam keterbatasan menjadi Penatalayan Pesta Demokrasi. Menjadi Penata, yang memastikan keseluruhan tahapan berproses, berjalan sesuai regulasi. Memastikan masyarakat yang telah memenuhi kriteria sebagai pemilih dapat terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap, atau sebagai Pemilih Kategori Daftar Pemilih Tambahan ( DPTb )  atau Dalam Daftar Pemilih Khusus, memastikan kelengkapan dokumen-dokumen para calon DPRD Kabupaten telah sesuai dengan kriteria dan tuntutan regulasi, memastikan  Logistik Pemilu siap dan telah diterima KPPS pagi hari sebelum pemungutan suara dimulai.
 Jawaban atas Gebia Waja, symbol kesakralan suara, kemurnian hati dan jiwa, tanggal 17 April masyarakat pagi – pagi bergegas menuju TPS untuk menitipkan Koda Pulo Kiri Lema, menaruh harapan pada Ata Dike yang mereka percayakan untuk meneruskan dan mewujudkan harapan , impian mereka. Dalam semangat KPU Melayani,  KPPS di seluruh Pelosok TPS, 689 TPS menjadi Saksi dan pelaku Sejarah, menjadi Pelayan untuk memastikan Pesta Demokrasi hari itu berjalan aman, memastikan bahwa setiap undangan Gebia Waja dapat menitipkan pesan mereka di bilik- bilik suara, dalam kerahasiaan abadi. Di tengah hiruk pikuk keruwetan pemilihan umum, pihak keamanan, TNI-Polri setia menjadi Pelayan yang hadir memberikan rasa aman bagi penyelenggara dan masyarakat.  Di wilayah – wilayah yang menyebakan proses Pleno tingkat Kabupaten tidak berjalan lancar, mereka masih setia, menahan kerinduan kembali menyapa keluarga yang selalu merindukan mereka, anak yang rindu cerita sang ayah, istri yang rindu mendengarkan suka duka selama bertugas.  Mereka yang bertugas di gudang Logistik siap siaga setiap detik, memastikan Gudang Logistik aman.  Yang bertugas di Kantor KPU memastikan keamanan seluruh Komisioner dan staff, memastikan aktivitas di Kantor berjalan dalam suasan aman.   Mereka memastikan Proses Distribusi Logistik ke TPS dan kembali ke Gudang Logistik tanpa hambatan, memastikan keseluruhan Logistik aman. TNI- Polri adalah bagian dari Pelayan Demokrasi. Setelah Proses perhitungan Suara berita tentang hasil di setiap TPS segerah dikirim ke Team Situng di Kabupaten agar segerah mengungah hasil ke Aplikasi Situng, sehingga publik pun dapat mendapatkan informasi perkembangan hasil pemilu.
Pihak Kantor Pos Larantuka berjuang memastikan sebagai Rekanan KPU yang terpercaya dalam mendistribusikan logistic. Pihak PLN Cabang Larantuka memastikan Lampu tetap menyala. Bahwa ada pemadaman tiba – tiba, dengan cepat mereka berjuang mengatasi dan lampu kembali menyala. Pihak Pemerintah Kabupaten Flores Timur memastikan seluruh perangkat Desa, ASN terlibat untuk mensukseskan Pemilihan Umum. Para Tokoh Agama melalui Mibar Agama, melalui Surat Kegembalaan menyeruhkan agar umat terlibat aktif dalam menggunakan Hak Konstitusi sesuai Nurani. Bawaslu Flores Timur bersama jajarannya hadir sebagai sahabat yang memastikan saudaranya tidak jatuh dalam perbuatan yang melanggar regulasi pungut hitung dan rekapitulasi, memastikan para penyelenggara setia pada kode etik sebagai penyelenggara. Para petugas Kesehatan, dokter, Perawat, Bidan sigap melayani penyelenggara yang sakit. Para Kepala Desa yang memfasilitasi para PPS menggunakan aula Kantor Desa sebagai Gudang Logistik Pemilu, sebagai sekretariat PPS. Para Camat bersama seluruh jajarannya yang memfasiltasi PPK dalam menjalankan tugas mereka sebagai penyelenggara.
Semua Pihak dengan caranya masing-masing telah menuturkan kisah dengan bahasa berbeda, telah memainkan peran dengan alur narasi yang berbeda, dan semuaya itu tersatukan dalam semangat persatuan, dalam Satu Gebia Pemilu 2019 di Bumi Lamaholot  Kabupaten Flores Timur.

Berdasarkan Keputusan MK nomor 245-06-19/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 tanggal  6 Agustus 2019, KPU Flores Timur pada tanggal 10 Agustus, bertempat di Aula OMK  St. Cecilia Larantuka KPU Flores Timur menyelenggarakan Rapat Pleno Penetapan Perolehan Kursi dan Calon Terpilih DPRD Kabupaten Flores Timur.
Para Peserta Rapat Pleno Terbuka Penetapan Perolehan Kursi dan Penetapan Calon Terpilih disambut dengan Tarian Kepe Wayan dari Sanggar Tari Nulu Nuda  SMA Yohanes Paulus Waibalun. Ketika para Tamu peserta Rapat Pleno, tamu undangan disapa dengan Siri Pinang yang ditaruh di dalam Gebia ada pesan tersajikan bahwa Perhelatan Demokrasi telah usai. Perbedaan pilihan adalah warna warni Demokrasi. Ada yang kalah, ada yang menang, semuanya menjadi satu, bersatu dalam membangun Lewotana, Kabupaten Flores Timur.




Gebia Waja adalah spirit tradisi budaya dalam mengundang masyarakat, menerima yang berbeda menjadi keluarga, memahami perbedaan, perselisihan sebagai dinamika kehidupan yang harus dimateriakan dalam semangat perdamaian, persatuan sebagai Ata Dike ( Orang baik ). Dengan menyentuh Gebia Waja, setiap orang terpanggil untuk hadir dan terlibat penuh dalam keseluruan proses Pemilu, Proses memilih Pemimpin, wakil rakyat. Sebagaimana Kesakralan dari Gebia Waja proses menterjemahkan makna Gebia Waja, sebuah symbol, melalui Pemilu sebagaimana Prinsip Pemilu, Langsung Umum, Bebas, Rahasia, kesakralan Koda Kiri yang dititip   hendaknya terus memotivasi  semua pihak baik para peserta kontestan Pemilu, para penyelenggara Pemilu dan masyarakat  untuk bersama- sama  dengan tugas dan peran masing-masing membangun Peradaban Kemanusiaan, Ata Dike Lamaholot- Flores Timur.
Melalu Gebia Waja, KPU Flores Timur menterjemahkan eksistensinya sebagai Penatalayan Demokrasi, Pelayan dan Penata  Perjamuan.  Melalui  keseluruah proses dan tahapan, setiap pihak dengan caranya telah membantu KPU Flores Timur untuk terus belajar menjadi Penatalayan Demokrasi yang semakin baik. Melalui Gebia Waja, masyarakat menitipkan Koda Kiri Pulo Lema, melalui Gebia Waja, Konstestan Pemilu berjuang menterjemahkan kesakralan Gebia waja tersebut.


Larantuka, September 2019

URAN, Fabianus Boli
Komisioner KPU Kabupaten Flores Timur

 Beberapa Sumber Tentang Pemilu sebagai Pesta Demokrasi :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...