Selasa, 22 Oktober 2019

KEMBALI KE KOKE BALE URE WAI LEWOURAN


 Minggu, 20 Oktober 2019, genap setahun peluncuran Buku " di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri, ada sekian komitmen yang dimateraikan melalui penandatanganan Berita Acara  Komitmen dalam bingkai Ritus Tito Gebia Waja. Satu di antaranya adalah Membangun Rumah Koke Bale Ure Wai di Kampung lama Lewouran.
Penulis  bersyukur boleh menjadi bagian dari proses ini, bersyukur karena semangat asa usul dari Lewouran selalu menginspirasi Penulis untuk bersama para tetuah adat dan masyarakat Lewouran, bersama rekan diskusi penulis sdr Nikolaus Nara, sekretaris Desa Lewotobi, Ade Asis Muda sebagai Kepala Desa Lewotobi, Kanisius Laranwutun Uran dan  segenap pejuang tradisi  mewujudkan komitmen itu. Dukungan moril dan doa serta berkat dari Pater Markus Solo Kwuta  SVD dari Vatikan selalu menguatkan  Penulis , Kak Mathias Kwuta, Kake Ansel Pai Muda, Bapak Knoba Uran, Bapak Panus Kwuta  serta para tetua adat lainnya untuk terus melangkah maju, menjadi pelopor untuk mewujudkan nilai - nilai ini.

Tepat Pkl 12.30 siang tanggal 20 Oktober, kami keluar dari rumah  Tuan Tanah lewouran , bergerak di tengah terik matahari, melewati ladang yang gersang, mendaki bukit menuju kampung lama Lewouran. Perjalanan hari itu seperti Ziarah Bangsa Israel melewati padang gurun menuju tanah perjanjian. Kami bergerak dalam sebuah ziarah nilai  kehidupan, menuju kampung lama adalah simbol menemukan kembai nilai - nilai kehidupan luhur yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan lupa dituturkan.







Hari itu, di bawa naungan pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun, di hadapan altar batu, tempat ritus permohonan Ure Wai dilaksanakan sekitar tahun 1970-an dalam Misah oleh Pater Cornelius Jan Smith, SVD Rumah Koke Bale Ure Wai didirikan. Empat tiang rumah yang disiapkan  oleh masing- masing Suku Muda, Uran, Kwure dan Kwuta menyimbolkan kesatuan, keteguhan komitmen sebagai penyokong keberlanjutan tradisi nilai - nilai kehidupan.










Lantuna lagu Mars Lewouran  Ciptaan Pater Markus Solo Kwuta, SVD  mengalun dalam keheningan, membisikan sejuat pesan, bahwa di atas peradaan ini, nilai kehidupan didirikan, sebagai sebuah entitas Gereja Kecil yang harus terus merefleksikan dirinya sebagai Murid Tuhan dalam ziarah kehidupan. Dan Lagu Lewouran Tanah Pusaka  setelah Ritus Lou Lete, ritus memberkati rumah ini agar menjadi tempat yang sejuk , menegaskan komitmen untuk terus setiap menjaga dan merawat, menghidupi nilai- nilai luhur meskipun di tanah rantau. Keriduan sang penyair dalam lagu ini, Pater Markus Solo Kwuta , SVD , secara lewo Ribu Pulo Ratu Lema menterjemahkan dengan perjuangan menenun kembali warisan leluhur ini. Setelah keseluruhan rangkain ritus peresmian Rumah Koke Bale Ure Wai ini, dilanjutkan dengan sambutan- sambutan dari  yang mewakili Kepala Desa Lewotobi, Sdr. Polus Aran, Camat Ile Bura, Kabid Pengembangan Seni dan Budaya Dinas Pariwisata Kab. Flore Timur. Polus Aran menyampaikan tentang semangat membangun Desa termasuk rencana pembangunan Jalan Usaha Tani yang mendukung mobilitas masyarakat menjangkau kawasan ini. Camat Ile Bura Bapak Yakobus Arakian mengharapkan agar kisah Lewouran yang telah ditulis disempurnakan lagi termasuk kegiatan ritus hari ini. Sedangkan dari Dinas Pariwisata, ibu Neldi Koten menyampaikan proficiat atas semangat warga , komunitas adat Lewouran dalam menggali dan menghidupan nilai- nilai tradisi.  Harapan kedepan agar nilai – nilai ini digali dan didokumentasian dengan baik dalam bentuk buku- buku. Lebih dari itu adalah bagaimana semangat tradisi membantu masyarakat dalam keterlibatan membangun Lewotana Flores Timur.




Dalam sesi penutup untuk merangkum keseluruhan proses yang telah dilalui  Penulis   menegaskan bahwa proses hari ini adalah proses ziarah nilai. Segala ritus hari ini harus kita terjemahkan dalam tindakan - tindakan transformasi sebagai bentuk dan jawaban iman kita sebagai manusia beragama dan berbudaya.  Bentuk – bentuk Konkrit  tindakan transformasi adalah , merestorasi kwasan ini  Kampung lama ini dan kwasan due Date ( hutan terlarang lainnya ) dengan menanam Pohon- pohon pelindung seperti pohon beringin pada musim hujan ini, menggantung  gebote ( ari- ari ) dalam wadah  ramah lingkungan yang disebut nebe ( tidak menggunakan kantong plastik. Acara selanjutnya adalah Ritus Pau Bau Tana Ekan dan dilanjtukan dengan acara sukacita yakni menampilkan  tarian Raja Sine dan  Sole Sika Mula.

Hari itu, tanggal 20 Oktober 2019 kami telah memulai sebuah ziarah baru, kami telah memulai sebuah catatan baru dari lembaran – lembaran kisah yang telah kami lalui. Penulis bersyukur karena boleh mendokumentasikan dalam narasi dan foto serta Video.  Kisah yang dulu dituturkan dalam tuturan lisan kini boleh dikemas dalam rangkain kata, lewat lembaran potret dan  gerakan kesunyian terekam di balik lensa kamera.  Nantikan buku selanjutnya tentang  Ziarah Tradisi dalam Kalender Musim Tradisi Lewotobi- Lewouran.






Salam dari anak kampung, penulis kisah tradisi


URAN , Fabianus Boli
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...