Minggu, 20
Oktober 2019, genap setahun peluncuran Buku " di Balik Kesunyian
Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri” , ada sekian komitmen yang
dimateraikan melalui penandatanganan Berita Acara Komitmen dalam bingkai Ritus Tito Gebia Waja. Satu di antaranya
adalah Membangun Rumah Koke Bale Ure Wai
di Kampung lama Lewouran.
Penulis bersyukur boleh menjadi bagian dari proses
ini, bersyukur karena semangat asa usul dari Lewouran selalu menginspirasi
Penulis untuk bersama para tetuah adat dan masyarakat Lewouran, bersama rekan
diskusi penulis sdr Nikolaus Nara, sekretaris Desa Lewotobi, Ade Asis Muda
sebagai Kepala Desa Lewotobi, Kanisius Laranwutun Uran dan segenap pejuang tradisi
mewujudkan komitmen itu. Dukungan moril dan doa serta berkat dari Pater
Markus Solo Kwuta SVD dari Vatikan selalu menguatkan Penulis , Kak Mathias Kwuta, Kake Ansel
Pai Muda, Bapak Knoba Uran, Bapak Panus Kwuta
serta para tetua adat lainnya untuk terus melangkah maju, menjadi
pelopor untuk mewujudkan nilai - nilai ini.
Tepat Pkl 12.30 siang tanggal 20
Oktober, kami keluar dari rumah Tuan
Tanah lewouran , bergerak di tengah terik matahari, melewati ladang yang
gersang, mendaki bukit menuju kampung lama Lewouran. Perjalanan hari itu seperti Ziarah Bangsa Israel melewati padang
gurun menuju tanah perjanjian. Kami
bergerak dalam sebuah ziarah nilai
kehidupan, menuju kampung lama adalah simbol menemukan kembai nilai -
nilai kehidupan luhur yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan lupa dituturkan.
Hari itu, di bawa naungan pohon
beringin yang telah berusia ratusan tahun, di hadapan altar batu, tempat ritus
permohonan Ure Wai dilaksanakan
sekitar tahun 1970-an dalam Misah oleh Pater Cornelius Jan Smith, SVD Rumah Koke Bale Ure Wai didirikan. Empat
tiang rumah yang disiapkan oleh masing- masing Suku Muda, Uran,
Kwure dan Kwuta menyimbolkan kesatuan, keteguhan komitmen sebagai penyokong
keberlanjutan tradisi nilai - nilai kehidupan.
Dalam sesi penutup untuk merangkum keseluruhan proses
yang telah dilalui Penulis menegaskan bahwa proses hari ini adalah
proses ziarah nilai. Segala ritus
hari ini harus kita terjemahkan dalam tindakan - tindakan transformasi sebagai
bentuk dan jawaban iman kita sebagai manusia beragama dan berbudaya. Bentuk – bentuk Konkrit tindakan transformasi adalah , merestorasi
kwasan ini Kampung lama ini dan kwasan
due Date ( hutan terlarang lainnya ) dengan menanam Pohon- pohon pelindung
seperti pohon beringin pada musim hujan ini, menggantung gebote ( ari- ari ) dalam wadah ramah lingkungan yang disebut nebe ( tidak
menggunakan kantong plastik. Acara selanjutnya adalah Ritus Pau Bau Tana Ekan dan dilanjtukan
dengan acara sukacita yakni menampilkan
tarian Raja Sine dan Sole
Sika Mula.
Hari itu, tanggal 20 Oktober 2019 kami telah
memulai sebuah ziarah baru, kami telah memulai sebuah catatan baru dari
lembaran – lembaran kisah yang telah kami lalui. Penulis bersyukur karena boleh
mendokumentasikan dalam narasi dan foto serta Video. Kisah yang dulu dituturkan dalam tuturan lisan
kini boleh dikemas dalam rangkain kata, lewat lembaran potret dan gerakan kesunyian terekam di balik lensa
kamera. Nantikan buku selanjutnya
tentang Ziarah Tradisi dalam Kalender
Musim Tradisi Lewotobi- Lewouran.
Salam dari anak kampung, penulis kisah tradisi
URAN , Fabianus Boli
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli
Detu Saka Ruka Paji Wuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar