Senin, 15 Mei 2017

MENGAIS PESAN EKOLOGI DI AJANG PENAS XV PETANI NELAYAN ANDALAN



Suarah Adzan menyapa kami di Beranda Aceh saat pesawat Lion Air mendarat di Bandara Aceh. Senja Enam Mei 2017 untuk pertama kali aku merasakan suasana Kota Aceh. Di depan  ruang penjemputan penumpang, alunan musik  Qosidah lembut menyapa.  Di tengah hiruk pikuk penumpang menanti bagasi, aku mencoba menikmati syair-syair sapaan yang ditujuhkan bagi para peserta Pekan Nasional Petani Nelayan XV. Sungguh terasa rajutan Kebangsaan.

Aceh yang bangkit dari keterpurukan akibat Bencana Tsunami telah mendandani malam-malamnya dengan geliat kehidupan yang tidak sepih. Dinamika kehidupan terus menorehkan kisahnya. Dan pada tanggal 7 Mei, Hari Minggu, sopir taksi menghantar kami menuju Gereja Katolik Hati Kudus. Misa pagi dinamakan Misa Nusantara karena umat yang hadir dari Marauke sampai Sabang. Banyak peserta awalnya bertanya-tanya, apakah di Aceh ada Gereja. Ternyata Paroki Hati Kudus Aceh telah ada sejak tahun 1926 dan pada hari Sabtu tanggal 6 Mei Paroki ini merayakan hari Jadi ke 90 Tahun.



Kekuatan Ekaristi yang kami terima hari itu memampukan kami untuk mengikuti rangkaian kegiatan Penas Petani Nelayan Andalan XV. Kegiatan ini adalah pertemuan para petani Nelayan se Nusantara dalam rangkah saling belajar, saling berbagi informasi, pengalaman, keahlian. Diperkirakan sekitar 35 ribu petani yang hadir dalam kegiatan ini. Para petani melalui wadah Kontak Tani Nelayan Andalan dapat saling membangun relasi kemitraan. Kegiatan –kegiatan dalam Penas adalah Pameran Produk-produk pertanian dari setiap Provinsi, Gelar Teknologi, temu wicara dengan pengusaha, lomba-lomba.

Pertanian Organik- Pesan Ekologi

Pada stand NTT, kontingen Kabupaten Flores Timur memamerkan jagung titi dan Kacang mente. Banyak pengunjung tertarik dengan makanan khas Flores Timur ini. Olahan secara tradisional dan merupakan hasil dari pertanian organik ternyata sangat berpengaruh pada para pembeli. Demikian juga pada kacang mente. Pesan ekologi melalui pendekatan pertanian organik ini ternyata mendapat respon yang sangat baik dari seorang pengunjung  dari Propinsi Lampung. Bapak  Ir. Stanislaus Bambang Cahyo. Usaha beliau adalah Budidaya Kelor, Lada dan Ternak Kalkun. Pria kelahiran  tanggal 11 April 1961 ini sangat peduli dengan pengembangan pertanian Organik.
Hal yang menarik dari diskusi kami adalah Budidaya Kelor dan olahan daun kelor menjadi beberapa jenis produk olahan seperti mie kelor, teh kelor. Juga pengolahan limbah kelor yakni batang kelor menjadi pupuk organik. Umat Paroki Pringsewu Keuskupan Tanjung Karang ini berharap dapat membangun kerjasama dengan para petani di Keuskupan Larantuka dalam pengembangan kelor.



 Tiwul Beras dari Ubi Kayu

Cerita menarik lainnya masih dari Provinsi Lampung adalah olahan beras dari Ubi Kayu, yang biasa disebut Tiwul. Sosok di balik produk ini adalah Ibu Idah Handayani.  Produk yang dihasilkan bervariasi yakni  Tiwul warna putih, Merah dan Hitam. Hasil usahanya ini telah mendapat penghargaan dari Kementrian Pertanian. Dari usaha ini, Pihak Universitas Lampung telah membantu beliau dalam pengembangan Teknologi Tepat Guna Pengolahan Tiwul. Produk beras ubi ini pun rutin mendapat pesanan dari Jakarta. Untuk mengembangan usahanya ini, beliau mempekerjakan 50 orang ibu –ibu untuk pengupasan kulit Ubi. Satu hal menarik adalah kulit ubi diolah lagi ( fermentasi ) untuk pakan ternak sapi.

Olahan pakan ternak ini pun langsung dipasarkan ke peternak sapi dan peternak sapi pun membantu beliau dengan menyediakan pupuk Kompos dari kotoran sapi. Hal menarik adalah bagaimana setiap unit usaha saling berkaitan dan saling mendukung.

Dalam kunjungan ke beberapa stand, dari diskusi dengan para petani ternyata pendekatan organik pada budidaya Pajale, sayur-sayuran masih sangat rendah. Penggunaan pupuk kimia masih mendominasi hasil pertanian. Hanya segelintir saja petani yang mulai fokus pada pertanian organik. Gaung pertanian organik seperti suarah minor di tengah lantunan seribu nada.



Petani, Berani Bermimpi

Beberapa petani yang sukses dalam pengembangan usaha pertanian, dalam sharing mengatakan bahwa semuanya berawal dari mimpi. Ibu Idah Handayani bermimpi bagaimana agar hasil kebun Ubu Kayu dapat diolah dengan aneka jenis dan warna sehingga beliau tidak hanya menjual dalam bentuk gelondongan saja. Bapak Bambang bermimpi bagaimana mengembangkan pertanian organik?

Petani tidak hanya fokus pada produksi saja tetapi bagaimana pengolahan pasca panen. Hal yang menarik adalah bagaimana sistim kemitraan yang dibangun sehingga para petani mampu dalam mengakses sumber daya dukung dalam  pengembangan hasil pertanian. Sebagaimana kata-kata Ebiet G. Ade aku punya mimpi, para petani Flores Timur, petani di Keuskupan Larantuka pun harus berani bermimpi bahwa Pertanian Flores Timur akan terkenal dengan Branding Pertanian Organik.
Meskipun gaung Pertanian Organik masih seperti suarah minor tetapi ketika para petani bersatu, maka gaung pertanian yang ramah Lingkungan sesuai pesan tahun Ekologi akan lebih bergemah kuat dan berdaya transformatif.

Wilayah Flores Timur kaya dengan Kelor, Ubi Kayu tetapi kita masih “ kurang bermimpi” dalam mengolah potensi lokal ini. Masih banyak potensi lokal yang belum dikembangkan secara sistimatis dan sinergis. Semuanya masih bergerak secara parsial. Di pelosok-pelosok banyak petani yang telah berani bermimpi tapi kadang masih terpaku pada mimpi, belum beranjak mengambil langkah awal.

Kisahpun berakhir, tapi gaung ekologi terus bergemah.  Taksi di pagi subuh, Kamis 11 Mei  menghantar kami ke Bandara untuk kembali ke Larantuka. Aceh yang telah bangkit dari keterpurukan mengajari banyak hal. Rasa penghormatan dan penghargaan terhadap sesama, keramahan dalam menyapa sesama menegaskan bahwa Aceh adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat bangkit kembali menegaskan bahwa Ia Tuhan selalu setia menolong manusia. Inisiatif Tuhan pun harus diimbangi dengan mimpi dan usaha manusia.

Mewujudkan Pertanian Organik adalah cara para Petani Memulihkan Karya Ciptaan Tuhan. Mengolah hasil pertanian dalam aneka bentuk, kemasan, cita rasa adalah cara kita menyajikan Persembahan di Altar Tuhan agar Ia mengubahnya menjadi Sukacita Surgawi.

Uran Oncu
Peserta Penas XV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...