Tampilkan postingan dengan label Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2020

KEAJAIBAN WAI UHE WATO LOTA

Tradition
TUTURAN TRADISI KAMI BERNAMA WAI UHE WATO LOTA
BUKAN BATU ROTI

Lokasi Pusat Wato Lota

Tulisan ini disajikan sebagai sebuah penjelasan atas tuturan tradisi di Lewouran, Ile Bura berkaitan dengan lokasi wisata yang saat ini menarik perhatian khalayak dan ramai dikunjungi. Beberapa video dan tulisan singkat tentang lokasi wasata ini sudah penulis sajikan di laman media sosial. Kini Penulis kembali menyajikan tulisan ini dengan tujuan agar sejarah dan identitas kawasan ini dapat dipahami secara utuh mulai dari nama yang benar hingga kepada nilai-nilai spiritual dan ekologis yang berkaitan dengan lokasi ini.  Dengan penyebutan dan pemaknaan nama yang benar, diharapkan agar generasi muda dan semua yang berasal dari Lewouran serta  para pengunjung situs ini tidak lagi menyebut kawasan ini dengan nama yang tidak mencermikan identitas tempat ini, tetapi sebaliknya kembali menaruh rasa hormat terhadap nilai-nilai sakral tradisi Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.

Lewouran di dalam tuturan tradisi setempat disebut dengan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Ungkapan Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri menegaskan tatanan kehidupan sosial budaya masyarakat Lewouran yang merangkai kisah-kisah peradaban mereka dalam tarian kesunyian, yang terus menerus menghayati nilai-nilai kehidupan dalam keheningan relasi kosmik. Ulasan tentang makna Lewouran ini dapat dibaca di dalam buku Penulis dengan Judul “Di Balik Kesunyian lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri ".

Warisan alam yang indah yang dinamai Wato Lota tidak dapat dihayati secara tersendiri, terlepas dari filosofi nama Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Bentangan Wato Lota pun tidak dapat dilepaspisahkan dari keberadaan Sumur Legenda Wai Uhe yang terletak langsung di kawasan yang sama. Sebelum mengujungi dan menikmati keindahan alam di Kawasan Wai Uhe Wato Lota, para wisatawan perlu disajikan informasi yang benar sesuai dengan tuturan tradisi asli Lewouran, bukan tuturan dari sumber-sumber lain yang tidak sempurna.
Wai Uhe
Dalam penuturan tradisi, sumur Wai Uhe ditemukan oleh seorang pemburu bernama Rowe Uran dengan anjingnya bernama Uhe.  Untuk mengenang Rowe Uran yang menemukan mata air ini, maka sebuah batu besar di depan sumur diberi nama Rowe Wato. Wai Uhe adalah  sumur perdana di Lewouran dan usianya diperkirakan sudah ribuan tahun. Butuh penelitan lebih mendetail dan panjang untuk memastikan usia sumur ini. Pada masa dulu, perkampungan masyarakat Lewouran terletak jauh dari laut. Mereka tinggal di kawasan-kawasan yang disebut, Rie-Rie dan Kebe. Perlahan sejarah memahat kesadaran akan sebuah peradaban sosial, mereka sepakat untuk membangun sebuah Kampung yang saat ini disebut Lewooki, artinya Kampung Lama. Dinamakan Lewooki karena pada pertengahan tahun 1970, oleh karena akutnya kekurangan akan air minum bersih, mereka meninggalkan tempat di wilayah bukit dan pegunungan itu untuk menempati lokasi baru di pesisir pantai Waiotan dan Tanjung Niwan, di hadapan Laut Sawu dan pulau Solor. Untuk melestarikan relasi antara masa kini dan masa lalu, tetapi lebih dari itu untuk melestarikan kesinambungan tradisi, di Lewooki ini telah diresmikan Lago Koke Bale Ure Wai pada tanggal 20 Oktober 2019.

Wai Uhe juga merupakan sebuah lokasi Nuba Nara untuk meminta air hujan. Menurut ibu Teresia Bura Muda, ada enam Nuba berada di sepanjang pesisir pantai Lewouran hingga timur ke Lewotobi dan ke barat ke Lewoawang. Ke-enam Nuba itu masing-masingnya berada di pantai Nara (Lewotobi),  pantai Waiotan,  Wai Uhe, Pantai Ele (Lewoawang), di Lewooki Lewouran serta di satu lokasi yang disebut Wato Manu (batu menyerupai ayam) di kawasan perbukitan Lewouran. Fungsi Nuba di Wai Uhe dan pantai Ele adalah untuk meminta air hujan.

Sebagai sebuah kawasan yang dipercayai memiliki kekuatan mistis, masyarakat Lewouran selalu berusaha untuk tidak berjalan sendirian ketika mencari ikan, atau menimbah air di kawasan ini. Masyarakat Lewouran meyakini bahwa sumur Wai Uhe bukan hanya merupakan sumber air bagi manusia saja tetapi juga bagi para arwah. Beberapa kisah yang dituturkan oleh para penutur tradisi setempat yang saat ini masih hidup, bahwa sudah banyak kisah mistis yang dialami oleh masyarakat Lewouran ketika berada di tempat ini. Pernah seorang bapak sendirian mencari ikan di dekat sumur. Tiba-tiba dia mendengar suara tawa seorang ibu di wilayah sumur. Suara itu kedengaran seperti suara seorang perempuan dari Kampung yang sudah sering dia dengar. Si bapak tadi mendengar seolah-olah perempuan tersebut sedang berbicara dengan banyak orang di wilayah sumur. Ketika si bapak tadi menoleh ke arah sumur, dia tidak melihat seorang manusia pun di sana. Dia memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Ketika beliau tiba di rumah dan menceritakan peristiwa itu kepada istrinya, langsung dia dikabarkan oleh sang istri bahwa perempuan tersebut baru saja meninggal dunia.
Wato Lota
Kawasan Pesisir pantai Lewouran mulai dari pantai Pede hingga ke pantai Ele, yang adalah Kene’e suku Muda Lewouran (secara geografis sudah masuk wilayah Desa Lewoawang ), setiap tempat memiliki nama dan makna tesendiri. Di bentangan kawasan Wai Uhe terhampar bebatuan yang tersusun rapih dan disebut dengan nama Wato Lota. Susunan alamiah batu-batu ini menampilkan bentuk yang bervariasi dan mudah dikaitkan atau diasosiasikan dengan benda-benda tertentu yang tentu saja syarat makna. Ada yang berbentuk seperti peti orang mati, ada yang seperti mahkota permaisur. Ada pula yang menyerupai ikan lumba lumba, kura-kura dan buaya. Bentuk lain yang kemudian menjadi ramai diperbincangkan atau viral adalah bentuk khas yang disebut Batu Roti. Jika menelusuri pesisir kawasan ini maka para pengujung dapat menyaksikan aneka bentuk susunan Wato Lota ini. Setiap susunan mengandung makna tersendiri. Satu lokasi, tidak jauh dari Wato Lota nimu, di dinding sebuah Wato Lota ada tulisan angka yang berbentuk sebuah pahatan.

Di antara bentangan kawasan Wato Lota ini, ada sebuah lokasi yang disebut Wato Lota nimu. Artinya Pusat Wato Lota.  Lokasi ini berada sekitar 50 meter ke arah timur dari sumur Wai Uhe. Dalam tuturan tradisi, tempat ini dipercaya sebagai Gereja Para Arwah. Penutur tradisi yang masih hidup, Bapak Herman Demo Uran, usia 89 tahun, menuturkan kisah mistis yang beliau alami bersama alhmarum Pater Van Stee di kawasan ini. Saat itu mereka menembak ikan. Oleh karena ombak besar, beliau meminta Pater Van Stee untuk tidak ikut menembak ikan. Ketika sudah berada di kejauhan untuk menangkap ikan, tiba-tiba Bapak Demo melihat Pater Van Stee berlutut dan memberikan salam hormat ke arah Wato Lota ini. Pulang dari wilayah ini Bapak Demo tidak ingin bertanya tentang apa yang dia saksikan tadi. Sampai hari ini dia tetap menyimpan misteri ini. Suatu saat, ketika Pater Lambertus Lamen Uran (alhmarum) mengunjungi keluarga mereka, barulah beliau menjelaskan bahwa Wato Lota nimu inilah yang selama ini dikenal sebagai tempat perkumpulan para arwah yang disebut Neme re’e. Ternyata Neme re’e adalah sebuah Gereja besar untuk para arwah. Beliau pun berpesan agar kawasan ini harus terus dijaga kesakralannya, sebagaimana yang dilakukan oleh para leluhur. Penturan tradisi lain lagi mengisahkan bahwa ketika ada warga Lewouran meninggal dunia, akan terdengar bunyi musik, seperti digelar sebuah pesta di lokasi ini. Hal ini dimaknai bahwa arwah orang yang meninggal dunia dijemput di sini secara meriah.

Kisah mistis lainnya dialami oleh beberapa orang yang datang memancing di malam hari. Saat memancig tiba-tiba mereka dihantam oleh desiran ombak dari arah darat. Jika salah memilih lokasi untuk duduk memancing, maka bahaya besar akan mengancam.

Wato Tena.

Di hamparan wilayah Wato Lota ini, ada sebuah batu seperti perahu yang disebut Wato Tena. Batu ini dipercayai sebagai Perahu Suku Kwure yang berubah wujud menjadi batu setelah mereka berlabuh. Perubahan wujud perahu menjadi batu menegaskan bahwa di kawasan inilah (Lewouran) suku Kwure akan memulai peradaban kehidupan baru dengan suku-suku yang sudah ada (suku Muda dan suku Uran. Selanjutnya Suku Kwure, menyusul Kewuta dan Kedang). Ulasan lengkap tentang sejarah Suku Kwure dapat di baca di dalam buku tentang Lewouran.


Garis Mistis Wai Uhe, Wato Lota dan Kawasan Nuha Telo

Di hadapan kawasan Wato Lota ini terdapat gugusan Nuha yang disebut Nuha Telo, yakni Nuha Witi, Nuha Kowa dan Nuha Bele. Ketiga Nuha ini dalam tuturan tradisi diyakini  juga sebagai lokasi para arwah. Bagi masyarakat Lewotobi, arwah orang yang meninggal dunia bergerak menuju Nuha Witi melalui jalur pantai Pede. Bagi orang Lewouran, arwah orang yang meninggal dunia bergerak menuju Wai Uhe untuk membersihkan diri, disambut di Wato Lota lalu bergerak menuju Nuha Kowa. Menurut Ibu Theresia Bura Muda, Nuha Kowa dipercayai sebagai ujung sebuah perjalanan. Para arwah dari Nuha Bele dan Nuha Witi berkumpul untuk pembagian lokasi kebun, sekaligus lokasi tempat tempat tinggal yang baru.


Wato Lota, Bolehkah diganti namanya?

Bagi para penutur tradisi di Lewouran, Nama Wato Lota TIDAK dapat diganti dengan sebutan lain. Ketika para penutur tradisi menegaskan tentang hal ini maka generasi muda Lewouran, semua yang berasal dari Lewouran dan siapa saja yang berkunjung ke tempat sakral ini tidak memiliki pilihan lain selain dengan tegas, jelas dan penuh hormat menggunakan nama asli di atas. Dengan menggunakan nama asli Wato Lota, maka seorang sekaligus menegaskan identitas mistis dengan segala keterkaitan sejarah dari sebuah Kampung yang bernama Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paju Wuri. Sebagaimana Nama Wai Uhe tidak bisa diganti dengan sebutan lain, demikian juga Wato Lota tidak dapat diganti dengan nama apapun. Sebuah adaptasi nama situs-situs bersejarah dan bernilai mistis dengan sebutan-sebutan modern dengan tujuan agar mudah disebut atau mudah dikenal orang asing, tidak mencerminkan rasa hormat terhadap keotentikan sebuah sejarah dan keluhuran sebuah tradisi.
Saat berjumpa dengan beberapa pengunjung di kawasan Wato Lota, khususnya di lokasi Wato Nimu, dijumpai pula beberapa wisatawan yang kebetulan sedang berkunjung ke tempat ini. Di sini mereka dijelaskan oleh penutur tradisi dari Lewouran tentang makna serta kesakralan tempat ini. Mereka merasa kagum dan bersyukur bahwa mereka mendapat pencerahan yang memperkaya wawasan mereka dan membangkitkan rasa hormat yang lebih besar terhadap situs-situs bersejarah dan sakral itu.


Pengembangan Kawasan Wai Uhe Wato Lota

Pengembangan kawasan ini sebagai destinasi Wisata harus dikemas dalam bingkai sosial budaya. Artinya filosofi masyarakat adat Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri harus menjadi fondasi nilai untuk pengembangan kawasan ini.  Pada tanggal 1 Juni 2017, masyarakat Lewouran dan Lewotobi dalam semangat membangun Desa berbasis Budaya Ekologis telah memeteraikan poin-poin yang merupakan komitmen bersama. Beberapa diantaranya sudah diwujudkan, misalnya Konservasi Terumbu Karang, Penyu, dan menarasikan serta mendokumentasikan warisan leluhur dalam bentuk buku. Selain itu juga dilakukan upaya penataan kawasan sumur-sumur tua dan mendesign pengembangan Wisata Bahari Nuha Telo.
Arah design pengembangan wisata di kawasan ini sudah diletakan dalam konteks komitmen Lewo pada tanggal 1 Juni 2017 serta komitmen masyarakat Lewouran sendiri pada tanggal 20 Oktober 2018 bertempatan dengan kegiatan bedah buku di Balik kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paju Wuri “. Untuk diketahui publik, pada kegiatan ini dimeteraikan pula komitmen Lewo yakni membangun rumah Koke Bale Ure Wai di Kampung Lama (Lewooki) serta penataan kawasan Wai Uhe. Untuk pembangunan rumah Koke Bale Ure Wai telah diresmikan pada tanggal 20 oktober 2019, genap setahun setelah komitmen dimeteraikan di balai Dusun Lewouran.

Bagi pemerintah Desa Lewotobi (dulu namanya Desa Birawan), sesuai dengan pengamatan penulis dan keterlibatan bersama selama ini, sudah benar bahwa membangun sebuah rencana dan sebuah design harus melalui sebuah proses diskusi dan dialog dengan masyarakat. Inilah pola yang tepat dalam membangun desa. Sebuah keputusan adalah hasil dari dialog dan proses transformasi kesadaran masyarakat, bukan mengikuti dan menerapkan perintah dari atas secara harafiah.
Ketika kawasan ini mulai ramai, banyak yang menyampaikan gagasan. Sebaik apapun gagasan, tanpa keterlibatan Lewo (masyarakat Lewouran), kawasan wisata ini dalam pengembangan selanjutnya bisa kehilang roh, nilai-nilai spiritualitas dan keotentikannya. Di dalam menggarap tulisan ini, Penulis sendri sudah sedang terlibat langsung dalam menata partisiapasi masyarakat setempat.
Bagi penulis, adalah sebuah tanggung jawab moral sebagai generasi keturuan Lewouran untuk membantu mengembangkan kawasan, walaupun untuk langkah awal ini hanya melalui tulisan. Tetapi langkah ini penting untuk menempatkan pendasaran yang benar untuk bisa membangun masa depan yang benar dan teratur. Jika tidak ada narasi yang benar tentang tuturan tradisi, maka bisa terjadi bahwa suatu waktu generasi sesudah ini akan kehilangan identitas dan nuansa tradisi. Karena membangun dan mengembangkan sesuatu di atas pijakan sejarah budaya dan peradaban adalah seni menterjemahkan tuturan nilai-nilai tradisi yang sudah diwariskan dari nenek moyang sekian ribuan tahun lamanya, syarat pesan moral dan kehidupan yang dititip dari generasi ke generasi.


Salam
Uran Faby
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.

keindahan panoram wai uhe wato lota dapat diakses dalam kumpulan foto ini





Jumat, 02 November 2018

MENGARTIKULASIKAN NARASI EMAS DESA LEWOTOBI


Alunan lagu ciptaan Saudara Anjus Muda “ Emas Di Desa Lewotobi “ membahana, menggetarkan sukma kerinduan warga Lewouran dan Lewotobi, untuk bersatu dalam sebuah Narasi tentang Perjalanan Lewo, Lewotobi dengan Gelar Tobi Lewo Pulo Gelong Tana Lema dan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
                28 Oktober, bertepatan dengan kenangan akan  momentum   Peristiwa Sumpah Pemudah di usia yang ke-90, Warga Desa Lewotobi berkumpul di halaman Kantor Desa Lewotobi. Semuanya berdiri mengarahkan pandangan kearah Pintu Masuk Tenda. Dari rumah Besar, rumah Tuan Tana, Bapak Yohanes Sina Witin, para mantan Kepala Desa Lewotobi didampingi Camat Ile Bura, Kepala Desa Lewotobi, Para tokoh adat, masyarakat, bergerak. Alunan Musik mengiringi ayunan langkah mereka, gerakan yang pelan karena kaki- kaki itu telah letih melangkah ribuan- jutaan kali selama memimpin. Kini mereka melangkah menuju sebuah “ Lage Gole” tempat Ehi Le’e, tempat Ribu Polu Ratu Lema berkumpul untuk mengucap Syukur pada Lera Wulan Tana Ekan. Di depan Pintu Masuk Tenda, mereka disapa dan dikalung oleh anak-anak. Sekali lagi mereka dalam usia yang rentan, bergerak pelan membungkuk badan agar kalungan selempang boleh menyentuh kedua bahu mereka, bahu yang telah letih karena di atasnya amanat Lewo yang mereka emban.

Pengalungan Mantan Kades Pertama Bpk, Yohanes Sina Witin oleh Ketua Forum Anak Desa, Elsa Uran
 
                                               
Hari itu, alam dalam caranya diam. Sehari sebelumnya, angin besar memporakporandakan tenda, hujan Lebat mengguyur lewo. Sentuhan lembut angin, sapaan matahari tanpa halangan, menegaskan keberpihakan dan restu alam dan Lewotana untuk sukacita hari itu.  Rasa Syukur itu membahana dalam alunan lagu –lagu dari Koor  Umat Stasi Lewotobi. Mereka menyanyi dengan sepenuh Jiwa, setulus pengabdian, seiklas menerima harapan,  Emas dalam Kesederhanaan. Ibadat Syukur dipimpin oleh Saudara Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, guru Agama Katolik SMPK Ile Bura. Dalam Kotbahnya, refleksi tentang Bartimeus dalam Bacaan Injil Mrk 10:46-52 disajikan;

                                                          
  


 Seruhan  Bartimeus mengetuk pintu hati Yesus dan sesama yang lain untuk beraksi membantu Bartimeus. Peristiwa di luar kota Yeriko, memberi kita inspirasi untuk menjadi pemimpin dan sesama warga Lewotanah yang baik. Seruhan Bartimeus didengar dan ditanggapi oleh Yesus  sang pemimpin sejati dengan rasa simpatik yang istimewah. Kata-kata Yesus: Panggilah dia adalah keputusan yang bijaksana dari  Yesus. Di tengah orang banyak yang berbondong-bondong,  Yesus tetap mau mendengarkan  suara dan teriakan kaum terbatas itu. Yesus sanggup memilahkan mana yang mesti diutamakan dalam tugas pelayanan. Menyelamatkan nyawa, mengangkat harga diri manusia menjadi pilihan utama. Kepada Bartimeus yang ingin ditolong, Yesus tidak bertanya: Mengapa atau kenapa kau memanggil aku. Karena pertanyaan mengapa dan kenapa selalu ada muatan ego. Ketika penjelasan atas pertanyaan  Mengapa dan kenapa itu masuk akal baru ada kemungkinan untuk mendapat pelayanan.  Yesus bertanya: Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu, pertanyaan ini mengandung muatan Kasih yang membebaskan. Dengan pertanyaan ini Bartimeus yang buta, merasa diterima, didengarkan, dan boleh berharap untuk sembuh. Dan kerinduan Bartimeus terjawab, Bartimeus sembuh, matanya terbuka dan mulai mengikuti Yesus. Bagi Yesus kesembuhan Bartimeus menjadi kemenangan-Nya sebagai utusan Allah, kemenangan-Nya sebagai pemimpin. Daya kasih Yesus mengubah situasi hidup Bartimeus. Ia tidak lagi duduk di jalan. Bartimeus tidak lagi menjadi pengemis. Ia bangkit dan menjadi manusia baru berkat perjupaannya dengan Yesus di jalan. Sebuah pertemuan yang tidak terlalu resmi dengan Yesus tetapi memberikan suatu perubahan yang sangat istimewah dalam kehidupan Bartimeus.

Perayaan Ibadat berlangsung dalam suasana yang sangat Khusuk. Semuanya berjalan lancar tanpa halangan sekecilpun. Sungguh Hikmad dan Agung.  Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran dalam sambutannya menyatakan bahwa Perayaan Ibadah Hari ini seperti Perayaan Imam Baru. Setelah Perayaan Ibadah dilanjutkan dengan Resepsi. Lagu Amazing Grace yang dibawakan oleh Siswa Siswi SMPK Ile Bura sebagai pembuka acara, mengajak orang untuk tidak berhenti bersyukur atas rahmat dan berkat dari Sang Pencipta.

Sebuah momentum yang sangat indah, setelah Sambutan Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius Buto Muda adalah Penyematan Tanda Pengabdian ke para Mantan Kepala Desa yang hadir, yakni pengenaan Cincin Emas  di jari manis mereka. Kepala Desa Pertama, Bapak Yohanes Sina Witin, dikenakan oleh Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran. Mantan Kades  yang ketiga, Bapak Yosep Uli Muda, dikenakan oleh Bapak Hendrikus Hading Uran, mewakili Masyarakat Lewouran. Dan untuk Bapak Markus Lapi Witi, mantan Kades  yang keenam, dikenakan oleh Bapak Simon Pehan Hayon, Ketua BPD Lewotobi. Untuk Mantan Kades  yang kedua, Paulus  Wajon Muda, Kades yang keempat, Longginus Nuli Muda, dan mantan Kades ke lima Hendrikus Hadung Mua tidak bisa hadir. Kepala Desa Tarsisius Buto Muda, dalam sambutannya menegaskan ulang poin yang telah disampaikan oleh Ketua Panitia, bahwa para mantan Kepala Desa  adalah orang-orang yang meletakan dasar dan generasi sekarang bertugas melanjutkan dalam cara dan semangat baru.

                                  


 Pemakaian   Cincin oleh Ketua Panita ke Bapak Yohanes Sina Witin,
Mantan Kades Pertama

                                                           


 Pemakaian Cincin ke Bpk Yosep Uli Muda, Mantan Kades ke tiga
oleh Bapak Hendrikus Hading Uran

                                                            

Pemakaian Cincin ke Mantan Kades ke enam, Bapak Markus Lapi Witi
oleh Ketua BPD Lewotobi
 

Setelah penyematan tanda Jasa dilanjutkan dengan acara Peluncuran Buku Desa, Seri Pertama dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Buku ini berkisah  tentang Kisah Suku- Suku di Kampung Lewouran. Seri Kedua yang akan terbit berkisah tentang Kisah Suku-Suku di Lewotobi. Kehadiran buku ini merupakan terjemahan atas amanat Lewo dalam Seminar Budaya pada tanggal 1 Juni 2017, dengan Tema “ Membangun Desa Berbasis Budaya Ekologis” di mana satu poin amanat Lewo yang tertuang dalam Berita Acara Komitmen adalah  Mendokumentasikan Warisan  Budaya dalam Bentuk Buku sehingga menjadi Dokumen Desa Lewotobi. Peluncuran ini ditandai dengan Pembubuhan  tanda tangan oleh ketiga mantan kepala Desa  di 10 buah Buku dan diserahkan ke bebepara Pihak yakni, Ignasius Boli Uran, S. Fil, Camat Ile Bura, Bapak Jack Ara kian, Mantan Camat Ile Bura, Yosep Tua Dolu, Mantan Sekcam Ile Bura, yang sekarang tela menjadi Camat, Yohanes Ibi Hurint, Kepala Puskesmas Ile Bura, Kepala  SDK Lewotobi, Lewouran dan Kepala SMPK Ile Bura serta Perwakilan pemilik Narasi Lewouran, rencana diterima oleh Bapak Anselmus Pai Muda, tidak hadir karena sakit maka diterima oleh Ketua Stasi Lewouran, Bapak Agustinus Beo Uran. Sepuluh orang yang diundang diatas ini menerima buku dari para mantan kepala Desa dan mereka pun berkontribusi dengan membeli buku ini. Hasil penjualan buku ini diserahkan ke Forum Anak Desa untuk kegiatan pengembangan minat dan bakat mereka.







 
para mantan Kades Membubuhkan tanda tangan di Buku Kenangan 50 Tahun  Desa Lewotobi, Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri





                                                       
 Foto Bersama dengan 10 Orang Penerima Buku

Yosep Tua Dolu,  sebagai camat Pertama Ile Bura, dalam sambutannya mewakili undangan memberikan appresiasi atas perjalanan Desa Lewotobi. Rasa syukurnya karena ia dan para mantan pegawai kecamatan Ile Bura boleh hadir dan berbagi sukacita. Boleh kembali merasakan rasa Persaudaraan bersama orang-orang kecil, orang orang sederhana yang mengajari ia bagaimana belajar memberi dalam ketulusan dan totalitas pengabdian. Camat Ile Bura, Jack Ara Kian kembali menegaskan kembali tentang makna Pelayanan dalam Tugas sebagai Kepala Desa dan rasa tanggungjawab dari masyarakat sebagai empunya narasi. Beliau mendorong warga untuk membeli buku ini agar sejarah, Kisah Lewo terus dituturkan dan darinya boleh lahir komitmen-komitmen baru sebagaimana hasil komitmen dari Warga Lewouran dalam acara Bedah Buku ini di Lewouran pada tanggal 20 Oktober 2018.



Camat Ile Bura Jack Ara Kian

Komitmen Warga Lewouran, pemilik Narasi yang tertuang dalam Buku Ini, yakni : Membangun Rumah Adat di Lewo Oki , Kampung lama, Merstorasi Due Date, Hutan terlarang, mengembalikan Newa ( Nura ) di Lokasi Bao Bele Tiwe Lime yang dimateraikan sebagai Hutan Suku Kwure, ke Suku Kwure, Menjadikan Lokasi Pantai Pede sebagai Lokasi Konservasi Terumbu Karang, Menghidupkan Ritus Lela dan Leba Kene’e dalam semangat Konservasi ekosistem laut serta membagun Kalander Budaya Lewo.

Anselmus Pai Muda, Ketua Lembaga Adat menandatangani Berita Acara Lewo untuk Merawat Warisan Budaya Lewouran


Komitmen Warga Lewouran ini sangat diappresiasi dan di dukung  oleh anak Tana, Pater Dr. Markus Solo Kwuta, yang memberikan Pengantar dari Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Sabtu malam, setelah acara Pawai Marching Band di Lewouran  pada sore hari, dan dilanjutkan dengan Parade membentuk huruf 50 Tahun , di malam hari di lapangan Bola Kaki yang diwarnai dengan kembang api, Pater Markus melalui Video kirimannya ke Penulis dari Vatikan memberikan Ucapan Selamat.  Mengawali Ucapannya beliau mengatakan bahwa Tahun 2018 ditandai dengan tiga peristiwa Besar yakni Emas SMPK Ile Bura, Emas SDK Lewouran dan Emas Desa Lewotobi. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa  Masyarakat harus mampu belajar dan memahami kisah dan sejarah agar dapat merangkai dan membangun masa depan. Kepala Desa dan seluruh elemen masyarakat harus terus memupuk harapan, optimisme untuk menata kearifan – kearifan local sebagai nilai-nilai dalam pembangunan Desa.                         







Dari Kearifan local, gagasan membangun desa berbasis Budaya dikemas dan disuarahkan kembali oleh anak-anak baik selama acara perlombaan-perlombaan seperti membacakan Puisi, berpidato dan menulis artikel maupun acara-acara yang ditampilan dalam  resepsi perayaan Emas ini.
                 



Juara 1 Lomba Pidato Tingkat SMP. Tema yang diangkat tentang Sarung  Figure 7 Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SMP. Imel Kwuta

                                           


                                Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SD, Yosep Pati Hokeng


           
                                                                                 Juara I Lomba Baca Puisi Tingkat SMP : Imel Kwuta



Penampilan Keluarga Besar Puskesmas Ile Bura
                                    
                                                                              
 
Keagungan Kearifan local ini dalam symbol Nasi Tumpeng Beras Jagung, dihidangkan di atas Sebala, dengan lauk pauk Sayu Marungge, Ikan Bakar. Dua Nasi Tumpeng menyimbolkan Gunung Lewotobi berkembar dua. Nasi Tumpeng ini adalah karya dari seluruh elemen masyarakat, yang mengambil peran, memainkan peran dalam keluguan, kesederhanaan, dan ketulusan. Dan Kepala Desa mewakili Ribu Pulo Ratu Lema, dalam gerakan membungkuk, memotong dan menyuap ketiga mantan kepala Desa ini. Sebuah symbol pelayanan, Pengabdian dan Rasa Terima Kasih karena mereka telah melayani Lewo ini dengan ketulusan dan totalitas dalam komitmen pengabdian. Ibadat Sabda dalam Keagungan disyukuri kembali dalam perjamuan  bernuasa Lokal karena masyarakat tidak punya Hosti dan Anggur, karena ada pada mereka hanya nasi Jagung dan Marungge serta Ikan Bakar.





                        
       
 
 
Dari keterbatasan, dari kesederhanaan, mereka terus belajar memberi dan terus menarasikan tentang Keindahaan Hidup di Desa, tentang Desa sebagai sebuah Gerakan Kesunyian Sosial yang terus mendorong alam bawah kesadaran manusia untuk bertindak memuliahkan Manusia, Sesama, Alam. Karena dengan itu Mereka mampu menjawab panggilan Raja Lera Wulan Tana Ekan untuk terlibat dalam totalitas pengabdian dan ketulusan menyapa kehidupan.





Dirgahayu Lewotanaku, menyebut namamu seperti mendaraskan sebuah syair, ada nilai magis, ada nilai seni, ada pengharapan, ada kehidupan, ada kisah yang menanti untuk diartikulasikan dalam semangat “ Bangga Membangun Desa”.


Lewotobi, Penghujung Oktober 2018

URAN, Fabianus Boly

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...