berisi kumpulan artikel, berita berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya, ekonomi pendidikan, kearifan-kearifan lokal masyarakat di sekitar Lereng Gunung Api Lewotobi Kecamatan Ile Bura
Minggu, 24 November 2019
SISTEM PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN KPU - ppt download
SISTEM PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN KPU - ppt download: Latar Belakang UU No.15/2011, BAB I Pasal 1 Butir 6, KPU sbg penyelenggara Pemilu Melaksananakan tugas, wewenang dan kewajiban dalam penyelenggaraan Pemilihan Anggota DPR, DPD, DPRD, Gubernur, Bupati/Walikota serta Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Amanat dan Amanah kepada KPU Rakyat Memilih dan Mendapatkan Pemimpin Bangsa KPU yang profesional, berintegritas, beretika, berkapabilitas dan berakuntabilitas Diselenggarakan secara langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil Terwujudnya Tujuan Nasional serta memiliki komitment mewujudkan Good Governance dan Clean Government
Rabu, 13 November 2019
Pancasila dalam Pembangunan Desa Refleksi Nilai dalam Ikatan Manusia Lamaholot
Tepat
dua tahun lalu, 1 Juni 2017, berlokasi
di halaman Kantor Desa Lewotobi sebuah refleksi peradaban yang hilang kembali
diangkat dalam rangkaian kegiatan Seminar Budaya dengan Tema "
Birawam Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis” Penulis merasa bangga karena menjadi bagian kecil dari
proses ini. Penulis merasa bersyukur karena hasil kajian warisan budaya Penulis
menjadi sebuah referensi yang dibedah
oleh sekian banyak narasumber dan akhirnya melahirkan keputusan Lewo dan telah
tertuang dalam Perdes. Beberapa Keputusan Lewotobi dan Lewouran adalah :
1.
Konservasi Terumbu Karang
2.
Konservasi Penyu dan Telur Penyu
3.
Menarasikan Warisan Budaya dalam bentuk Dokumentasi berupa buku.
4.
Menanam Pohon-pohon di Pinggir pantai untuk mengatasi Abrasi Laut
5.
Membangun Design Wisata Bahari berbasis Budaya.
Poin
satu sampai tiga sudah dilakukan. Untuk
Poin tiga, pada tanggal 28 Oktober 2018,
bertepatan denga peringatan Usia Emas Desa Lewotobi ( Birawan ) Buku dengan
Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri diluncurkan
sebagai kenangan atas ziarah Lewotana. Hari
ini, 1 Juni 2019, dalam permenungan setelah apel memperingati HUT Pancasila, penulis
mencoba merefleksikan tentang Nilai Pancasila dalam semangat membangun Desa, Membangun
Lewo. Desa adalah sebuah tatanan Sosial, Desa adalah sebait syair tentang
kesunyian, tentang kesederhanaan, tentang kearifan bagaimana membangun dari
keterbatasan, tentang kesadaran untuk terus kembali berpijak pada nilai-nilai
warisan leluhur. Desa dalam tarian kesunyian adalah bagian tak terpisahkan
dalam membangun bangsa ini.
Sejak
Kesepakatan Lewo ini pada tanggal 1 Juni 2019, Pemerintah Desa terus berjuang
mewujudkan amanat keterpanggilan ini. Ada sekian banyak tantangan di awal dan
sesudah proses ini tetapi, Kekuatan Lewo terlalu kuat untuk dikalahkan oleh
segelintir pihak yang tidak memahami tentang Spirit membangun Lewo. Penulis
sangat bersyukur, Program Konservasi Terumbu Karang bisa menghantar Desa
Lewotobi meraih juara II tingkat
Propinsi untuk Kategori Desa dengan Program Inovasi. Saat ini Penyu-Penyu semakin akrab dengan Pantai- Pantai di
Lewotobi, di Pantai Blelawutun, Pantai Waiotan. Masyarakat menemukan sekian
banyak titik penyu bertelur dan setelah
dipastikan, lokasi ini ini dipagari. Bersama Kelompok Konservasi dan Pemerintah
Desa, Masyarakat terus disadarkan dan semakin sadar serta tidak berani lagi mengambil telur penyu untuk
dikonsumsi. Dulu kalau mendapatkan Penyu saat bertelur, Penyu dan telur penyu
dieksekusi untuk konsumsi. Sekarang masyarakat telah sadar dan perlahan tumbuh
jiwa melindungi dan merawat. Sebuah proses transformasi nilai sedang bergerak
dan terus menemukan bentuk-bentuk.
Nilai
transformasi ini juga berpengaruh ke desa desa tentangga. Seorang Nelayan ,
Andreas Tutu Muda, di Desa
Riangbaring yang selalu mengambil telur
penyu untuk Konsumsi dan dijual kini
telah beralih menjadi pegiat Konservasi Penyu dan Telur Penyu. Kesadaran Ande
demikian sapaanya, bukan hanya karena takut dengan regulasi tentang
perlindungan penyu tetapi karena muncul kesadaran tentang pentingnya
kelestarian ekosistem.
Spirit
Melindungi dan Merawat Ekosistem adalah bentuk kecil cara masyarakat Desa
menghayati Nilai-Nilai Luhur Pancasila yang lahir di Bumi Flores, Inspirasi
dari Sang Pencipta kepada Sang Proklamator Soekarno. Merefleksikan nilai-nilai
luhur, mengkaji dan menyajikan sebagai sebuah
design pembangunan Desa adalah cara bagaimana membangun Desa bersumber
dari kekuatan Lewo, kekutatan yang diwariskan oleh Leluhur. Setiap Narasi
tentang Lewo lewat tuturan –tuturan lisan serentak juga ada proses transformasi
kekuatan-kekuatan itu yang sering tidak disadari. Kekuatan-kekuatan Lewo adalah
bisikan panggilan yang harus didengarkan dengan bijak karena ia mengandung
sejuta makna.
Pancasila dalam Sepenggal Refleksi Nilai
Lamaholot
Keluhuran Nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek Moyang
adalah hasil dari dialog kosmik dengan wujud tertinggi yang disebut Ama Lerawulan Ema Tana Ekan, ( Sila
Pertama ) melalui perantara Kewoko Kelite, Nitu Pudu Hari Neda ( Kewoko Kelite : arwah para
leluhur, Nitu Pudu : Penjaga Hutan hutan, Hari Neda : Penjaga Laut dan pantai )
melalui sebuah proses pencarian kebenaran yang disebut Tura Neda Lone Kemie Padu. Proses pencarian kebenaran ini bertujuan
untuk membangun Ata Dike ( Orang baik) ( Sila Kedua ). Ata Dike tidak bisa hidup sendirian, ia terpanggil hidup dalam
sebuah ikatan social budaya yang disebut ata
kaja ribu pulo ratu lema. ( Sila Ketiga). Ikatan social budaya ini
termateraikan dalam adat istiadat yang lahir atas kesekapatan bersama yang
dilakukan dalam sebuah wadah yang disebut Lage
Loge untuk melahirkan Koda Geto ( kesepakatan ). Hasil
kesepakatan ini juga tercermin dalam sikap penerimaan suku-suku pertama yang
mendiami sebuah wilayah terhadap suku-suku pendatang atau yang datang belakangan.
Penerimaan disertai dengan Pua Tana ekan,
memberikan sebagai dari empunya mereka agar ribu
ratu ( masyarakat ) yang baru tiba
boleh menjadi bagian tidak terpisahkan dalam ikatan social budaya. Agar mereka
pun boleh bersama mengolah tanah, mengail ikan untuk sebuah kehidupan yang
layak ( Sila Kelima ) demi sebuah
pewarisan generasi penutur peradaban Ata
Dike, penutur Kemanusiaan yang berbudaya
Kuntowijoyo
dalam Anton Baker “Badan Manusia dan Budaya”
menegaskan bahwa Budaya adalah sebuah sistim yang koherensi di mana
bentuk-bentuk simbolis berkaitan erat dengan konsep epistemologis dari sistim
pengetahuan masyarakat. Sistim ini tidak terlepaskan dari Manusia sebagai
bagian inti dalam pembentukan budaya. Ruang refleksi warisan budaya selama ini
belum dikemas secara terintegrasi sehingga roh pembangunan desa seolah-olah
tanpa dilandasi asas berbasis budaya. Rendahnya ruang refleksi ini pun
berpengaruh pada hilang atau punahnya warisan budaya. Untuk itu diperlukan
upaya terobosan untuk melakukan refleksi sosial untuk menemukan nilai-nilai
peradaban yang telah hilang.
Menghayati
Pancasila adalah cara memahami dan memperlakukan manusia sebagai bagian tidak
terpisahkan dari segala proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara
termasuk bagaimana menumbukan kembali semangay menggali keluhuran nilai-nilai
yang diwariskan. Dari Desa, Pancasila terwujud dalam nilai-nilai kearifan local.
Ketika ada konflik di masyarakat desa, masyarakat dalam kearifan lokalnya
mempunyai cara untuk berdamai, secara cepat atau lambat. Menjadi sebuah
tantangan ketika, para pemimpin atau gembala ( pemimpin dalam Geraj Katolik
) yang hadir dan kurang memahami tentang
nilai-nilai kearifan local mencoba
menggiring masyarakat untuk sebuah penyelesaian dengan cara dan pemahamannya.
Belajar dari para penenun sarung, ketika ada benang yang salah dimasukan atau
terbelit, maka sang penenun dengan tekun mengurai benang tersebut yang disebut
“ Hua Kenire” dan setelah itu akan di
“ Bolo Kape”, disatukan lagi. Hua Kenire adalah kejelihan melihat motif tersebut sepandan
dengan motif lain, tidak salah ditempatkan. Hua
Kenire dalam konteks penyelesaian konflik
adalah melihat dan mendengar dengan ketenangan akar permasalahan, dengan bijak menempatkan
diri tanpa menghakimi sebelum kebenaran tersebut ditemukan. Para penenun dengan
sabar melakukan proses penguraian kusutnya benang. Demikian juga seorang
pemimpin atau gembala, ia harus sabar memahami setiap persoalan bukan dengan
muda termakan atau terpengaruh dengan berita berita yang belum dipastikan
kebenaran.
Para
Leluhur ketika menyelesaikan konflik, mereka melalui sebuah proses pencarian
kebenaran lewat Tura Neda Lone Kemie
Padu, artinya mereka tidak mengandalkan hanya kemampuan mereka tetapi
mereka meletakan dalam pengharapan terhadap Sang pencipta untuk menujukkan
kebenaran serta cara penyelesaian. Penyelesaian sebuah konflik juga disertai
dengan tindakan dalam ritus yang disebut “ Hoi
Bake”, memperbaiki kesalahan agar social budaya kehidupan generasi selanjutnya terlepas dari
ikatan dosa sebelumnya. Ada Proses
merangkul kembali dan memperbaiki bukan proses terus memelihara konflik dan
membangun kubu- kubu permusuhan, apalagi menjadikan setiap momentum konflik
sebagai bahan untuk kotbah. Para Leluhur setelah menyelesaikan konflik, mereka
melipatnya dengan rapih permasalah itu dan menyonsong masa baru dengan
kebersamaan yang ditandai dengan “ Hue
Nuhe atau Kela Tou Nuro Rua.
Menghayati
Pancasila hanya bisa dilakukan ketika manusia melihat manusia lain sebagai
bagian dari dirinya, ketika melihat alam sebagai saudara kehidupan. Menghayati
Pancasila dalam Berdesa adalah kerelasediaan untuk terus belajar memberikan
diri bagi pembangunan sebuah peradaban kehidupan lebih baik, berbasis warisan
nilai-nilai luhur. Kami Indonesia, Kami Pancasila, Kami Orang Desa Kami
Pancasila.
Selamat
Merayakan Hari Lahir Pancasila
Larantuka,
1 Juni 2019
URAN,
Fabianus Boli, S.IKom
Pengamat
dan Penulis Isu-Isu Sosial Kebudayaan
Selasa, 22 Oktober 2019
KEMBALI KE KOKE BALE URE WAI LEWOURAN
Minggu, 20
Oktober 2019, genap setahun peluncuran Buku " di Balik Kesunyian
Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri” , ada sekian komitmen yang
dimateraikan melalui penandatanganan Berita Acara Komitmen dalam bingkai Ritus Tito Gebia Waja. Satu di antaranya
adalah Membangun Rumah Koke Bale Ure Wai
di Kampung lama Lewouran.
Penulis bersyukur boleh menjadi bagian dari proses
ini, bersyukur karena semangat asa usul dari Lewouran selalu menginspirasi
Penulis untuk bersama para tetuah adat dan masyarakat Lewouran, bersama rekan
diskusi penulis sdr Nikolaus Nara, sekretaris Desa Lewotobi, Ade Asis Muda
sebagai Kepala Desa Lewotobi, Kanisius Laranwutun Uran dan segenap pejuang tradisi
mewujudkan komitmen itu. Dukungan moril dan doa serta berkat dari Pater
Markus Solo Kwuta SVD dari Vatikan selalu menguatkan Penulis , Kak Mathias Kwuta, Kake Ansel
Pai Muda, Bapak Knoba Uran, Bapak Panus Kwuta
serta para tetua adat lainnya untuk terus melangkah maju, menjadi
pelopor untuk mewujudkan nilai - nilai ini.
Tepat Pkl 12.30 siang tanggal 20
Oktober, kami keluar dari rumah Tuan
Tanah lewouran , bergerak di tengah terik matahari, melewati ladang yang
gersang, mendaki bukit menuju kampung lama Lewouran. Perjalanan hari itu seperti Ziarah Bangsa Israel melewati padang
gurun menuju tanah perjanjian. Kami
bergerak dalam sebuah ziarah nilai
kehidupan, menuju kampung lama adalah simbol menemukan kembai nilai -
nilai kehidupan luhur yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan lupa dituturkan.
Hari itu, di bawa naungan pohon
beringin yang telah berusia ratusan tahun, di hadapan altar batu, tempat ritus
permohonan Ure Wai dilaksanakan
sekitar tahun 1970-an dalam Misah oleh Pater Cornelius Jan Smith, SVD Rumah Koke Bale Ure Wai didirikan. Empat
tiang rumah yang disiapkan oleh masing- masing Suku Muda, Uran,
Kwure dan Kwuta menyimbolkan kesatuan, keteguhan komitmen sebagai penyokong
keberlanjutan tradisi nilai - nilai kehidupan.
Dalam sesi penutup untuk merangkum keseluruhan proses
yang telah dilalui Penulis menegaskan bahwa proses hari ini adalah
proses ziarah nilai. Segala ritus
hari ini harus kita terjemahkan dalam tindakan - tindakan transformasi sebagai
bentuk dan jawaban iman kita sebagai manusia beragama dan berbudaya. Bentuk – bentuk Konkrit tindakan transformasi adalah , merestorasi
kwasan ini Kampung lama ini dan kwasan
due Date ( hutan terlarang lainnya ) dengan menanam Pohon- pohon pelindung
seperti pohon beringin pada musim hujan ini, menggantung gebote ( ari- ari ) dalam wadah ramah lingkungan yang disebut nebe ( tidak
menggunakan kantong plastik. Acara selanjutnya adalah Ritus Pau Bau Tana Ekan dan dilanjtukan
dengan acara sukacita yakni menampilkan
tarian Raja Sine dan Sole
Sika Mula.
Hari itu, tanggal 20 Oktober 2019 kami telah
memulai sebuah ziarah baru, kami telah memulai sebuah catatan baru dari
lembaran – lembaran kisah yang telah kami lalui. Penulis bersyukur karena boleh
mendokumentasikan dalam narasi dan foto serta Video. Kisah yang dulu dituturkan dalam tuturan lisan
kini boleh dikemas dalam rangkain kata, lewat lembaran potret dan gerakan kesunyian terekam di balik lensa
kamera. Nantikan buku selanjutnya
tentang Ziarah Tradisi dalam Kalender
Musim Tradisi Lewotobi- Lewouran.
Salam dari anak kampung, penulis kisah tradisi
URAN , Fabianus Boli
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli
Detu Saka Ruka Paji Wuri.
Rabu, 02 Oktober 2019
MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIA WAJA PESTA DEMOKRASI
MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIAH WAJA PESTA DEMOKRASI
( Refleksi Pemilu 2019 dalam Perspektif Budaya
Lamaholot Kabupaten Flores Timur)
Keseluruhan Proses dan Tahapan Pemilihan Umum
telah dirangkai oleh KPU Flores Timur
dalam Spirit KPU Melayani. Keterpanggilan melayani masyarakat untuk menggunakan
Hak Konstitusi telah memateraikan pencapaian yakni Flores Timur dapat
menyelenggarakan Pemilihan Umum Tanpa Pemungutan Suara Ulang sebagaimana Slogan
yang terus digaungkan selama masa- masa persiapan menuju hari Pemungutan
suara. Di tengah tantangan tradisi
keagamaan Semana Santa dan Pesta
Demokrasi, KPU Flores Timur bersama seluruh elemen masyarakat di Kabupaten
Flores Timur mampu dan berhasilkan menterjemahkan tradisi dan tugas Negara
dengan baik, aman dan sukses.
Istilah Pesta Demokrasi pertama kali diucapkan
oleh Presiden Soeharto pada kegiatan
Pembukaan Rapat Gubernur / Bupati/ Walikota se Indonesia pada tanggal 23
Februari 1981 di Jakarta. Beliau
menegaskan bahwa, Pemilu harus dirasakan
sebagai pesta poranya demokrasi, sebagai penggunaan hak demokrasi yang
bertanggungjawab dan sama sekali tidak berubah menjadi sesuatu yang menegangkan
dan mencekam.
Ungkapan bahwa Pemilu 2019 sebagai Pesta Demokrasi pun diucapkan oleh Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 2018. Beliau menegaskan bahwa rakyat menyambut pesta demokrasi itu dengan kegembiraan, dengan antusiasme yang tinggi serta kedewasaan politik yang matang.
Ungkapan bahwa Pemilu 2019 sebagai Pesta Demokrasi pun diucapkan oleh Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 2018. Beliau menegaskan bahwa rakyat menyambut pesta demokrasi itu dengan kegembiraan, dengan antusiasme yang tinggi serta kedewasaan politik yang matang.
Pemilu 2019 sebagai sebuah Pesta tepatnya Pesta
Demokrasi dapat terlaksana jika semua
pihak terlibat aktif dan dengan kesadaran penuh menyiapakan Meja perjamuan
Pesta Demokrasi serta para tamu undangan, peserta kontestan pemilu dalam
kelayakan menghadiri perjamua Pesta tersebut. Memahami Pemilu 2019 sebagai
Pesta, Penulis mencoba menghadirkan sebuah media budaya sebagai refleksi tentang Pemilu 2019 di tingkat
Kabupaten Flores Timur dalam Tradisi Pesta Lamaholot yang disebut dengan Gebia Waja.
Gebia adalah tempat siri pinang, Waja berarti menyuguhkan. Gebia Waja adalah sebuah proses
menyuguhkan undangan. Dalam Tradisi Pesta Pernikahan di Lamaholot, tuan pesta
mengundang keluarga, masyarakat umum dengan membawakan Gebia Waja dari rumah ke rumah. Untuk membawakan Gebia Waja, dilalui dengan
ritus Tula Gebia, sebuah proses
menjadikan wadah tersebut sacral dan kudus sebagai tempat menaruh
pesan. Saat membawakan Gebia Waja, pembawa pesan menyampaikan
pesan- pesan dari tuan pesta, seperti tanggal pernikahan adat, pemberkatan
Nikah di Gereja, Resepsi juga undangan untuk bersama- sama bekerja menyiapkan
pesta seperti membuat tenda pesta.
Gebia Waja juga
sebagai symbol penerimaan tamu yang datang dari jauh. Dengan menyentuh Gebia, tamu diterima dan dilindungi,
menjadi keluarga dari keluarga, masyarakat yang dikunjungi. Ketika ada konflik,
setelah proses penyelesaian, dilanjutkan dengan ritus makan Sirih Pinang di Gebia yang disebut Tito Gebia Waja ( Tito : menyentuh ). Tito Gebia Waja dilakukan sebelum dimulai sebuah pekerjaan, seperti
membangun fondasi rumah atau pelaksanaan ritual adat lainnya. Intinya dengan
menyentuh Gebia Waja, semua orang
yang terlibat bersatu hati, komitmen untuk bersama sama membangun, mensukseskan
sebuah pekerjaan.
Bagi
penulis, Pemilihan Umum 2019 adalah sebuah Pesta Budaya, tempat Ribu Ratu ( masyarakat ) memilih Ata
Dike ( orang dengan Budi Baik ) yang dipercayakan untuk membawakan Koda Pulo Kiri Lema ( bahasa Sastra :
Pesan, Mandat ). Ata Dike dalam perspektif Orang Lamaholot ( masyarakat di Kabupaten Flores Timur dan Lemabata ) adalah orang-
orang pilihan yang telah melewati proses dan pada akhirnya terpilih untuk
membawakan, menyuarahkan suara, harapan- harapan masyarakat untuk membangun
Kabupaten Flores Timur, Bumi Lamaholot yang lebih baik.
Gebia
Waja adalah Sarana yang digunakan untuk mengundang masyarakat terlibat dalam
sebuah kegiatan Pesta. Di dalam Gebia
waja yang dibawakan oleh para utusan, dititipkan siri dan pinang serta koda kiri, pesan. Dengan menyentuh Gebia, penerima pesan dipanggil untuk
terlibat, melibatkan keseluruhan diri, jiwa dan raga. KPU Flores Timur sebagai
pembawa Pesan Konstitusi Demokrasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS,
Sekretariat PPK, PPS, KPPS, PAM TPS, melalui keseluruhan tahapan Pelaksanaan
Pemilihan Umum 2019 telah menghadirkan Gebia
waja di tengah – tengah masyarakat Flores Timur, di tengah tengah kontestan
Pemilu.
Melalui Gebia
Waja Pesta Demokrasi, sejarah Pemilihan Umum serentak pertama kali
disajikan di atas meja perjamuan dengan berbagai jenis pilihan. KPU Flores Timur sebagai Implementor
Regulasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS dan KPPS berjuang dalam
keterbatasan menjadi Penatalayan Pesta Demokrasi. Menjadi Penata, yang
memastikan keseluruhan tahapan berproses, berjalan sesuai regulasi. Memastikan
masyarakat yang telah memenuhi kriteria sebagai pemilih dapat terdaftar dalam
Daftar Pemilih Tetap, atau sebagai Pemilih Kategori Daftar Pemilih Tambahan (
DPTb ) atau Dalam Daftar Pemilih Khusus,
memastikan kelengkapan dokumen-dokumen para calon DPRD Kabupaten telah sesuai
dengan kriteria dan tuntutan regulasi, memastikan Logistik Pemilu siap dan telah diterima KPPS
pagi hari sebelum pemungutan suara dimulai.
Jawaban
atas Gebia Waja, symbol kesakralan
suara, kemurnian hati dan jiwa, tanggal 17 April masyarakat pagi – pagi
bergegas menuju TPS untuk menitipkan Koda
Pulo Kiri Lema, menaruh harapan pada Ata
Dike yang mereka percayakan untuk meneruskan dan mewujudkan harapan ,
impian mereka. Dalam semangat KPU Melayani, KPPS di seluruh Pelosok TPS, 689 TPS menjadi
Saksi dan pelaku Sejarah, menjadi Pelayan untuk memastikan Pesta Demokrasi hari
itu berjalan aman, memastikan bahwa setiap undangan Gebia Waja dapat menitipkan pesan mereka di bilik- bilik suara,
dalam kerahasiaan abadi. Di tengah hiruk pikuk keruwetan pemilihan umum, pihak
keamanan, TNI-Polri setia menjadi Pelayan yang hadir memberikan rasa aman bagi
penyelenggara dan masyarakat. Di wilayah
– wilayah yang menyebakan proses Pleno tingkat Kabupaten tidak berjalan lancar,
mereka masih setia, menahan kerinduan kembali menyapa keluarga yang selalu
merindukan mereka, anak yang rindu cerita sang ayah, istri yang rindu
mendengarkan suka duka selama bertugas.
Mereka yang bertugas di gudang Logistik siap siaga setiap detik,
memastikan Gudang Logistik aman. Yang
bertugas di Kantor KPU memastikan keamanan seluruh Komisioner dan staff,
memastikan aktivitas di Kantor berjalan dalam suasan aman. Mereka memastikan Proses Distribusi Logistik
ke TPS dan kembali ke Gudang Logistik tanpa hambatan, memastikan keseluruhan
Logistik aman. TNI- Polri adalah bagian dari Pelayan Demokrasi. Setelah Proses
perhitungan Suara berita tentang hasil di setiap TPS segerah dikirim ke Team
Situng di Kabupaten agar segerah mengungah hasil ke Aplikasi Situng, sehingga
publik pun dapat mendapatkan informasi perkembangan hasil pemilu.
Pihak Kantor Pos Larantuka berjuang memastikan
sebagai Rekanan KPU yang terpercaya dalam mendistribusikan logistic. Pihak PLN
Cabang Larantuka memastikan Lampu tetap menyala. Bahwa ada pemadaman tiba –
tiba, dengan cepat mereka berjuang mengatasi dan lampu kembali menyala. Pihak
Pemerintah Kabupaten Flores Timur memastikan seluruh perangkat Desa, ASN terlibat
untuk mensukseskan Pemilihan Umum. Para Tokoh Agama melalui Mibar Agama,
melalui Surat Kegembalaan menyeruhkan agar umat terlibat aktif dalam
menggunakan Hak Konstitusi sesuai Nurani. Bawaslu Flores Timur bersama
jajarannya hadir sebagai sahabat yang memastikan saudaranya tidak jatuh dalam
perbuatan yang melanggar regulasi pungut hitung dan rekapitulasi, memastikan
para penyelenggara setia pada kode etik sebagai penyelenggara. Para petugas
Kesehatan, dokter, Perawat, Bidan sigap melayani penyelenggara yang sakit. Para
Kepala Desa yang memfasilitasi para PPS menggunakan aula Kantor Desa sebagai
Gudang Logistik Pemilu, sebagai sekretariat PPS. Para Camat bersama seluruh
jajarannya yang memfasiltasi PPK dalam menjalankan tugas mereka sebagai
penyelenggara.
Semua Pihak dengan caranya masing-masing telah
menuturkan kisah dengan bahasa berbeda, telah memainkan peran dengan alur
narasi yang berbeda, dan semuaya itu tersatukan dalam semangat persatuan, dalam
Satu Gebia Pemilu 2019 di Bumi Lamaholot Kabupaten Flores Timur.
Berdasarkan
Keputusan MK nomor 245-06-19/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019
tanggal 6 Agustus 2019, KPU Flores Timur pada tanggal 10 Agustus,
bertempat di Aula OMK St. Cecilia
Larantuka KPU Flores Timur menyelenggarakan Rapat Pleno Penetapan Perolehan
Kursi dan Calon Terpilih DPRD Kabupaten Flores Timur.
Para
Peserta Rapat Pleno Terbuka Penetapan Perolehan Kursi dan Penetapan Calon
Terpilih disambut dengan Tarian Kepe Wayan dari Sanggar Tari
Nulu Nuda SMA Yohanes Paulus
Waibalun. Ketika para Tamu peserta Rapat Pleno, tamu undangan disapa dengan
Siri Pinang yang ditaruh di dalam Gebia
ada pesan tersajikan bahwa Perhelatan Demokrasi telah usai. Perbedaan pilihan
adalah warna warni Demokrasi. Ada yang kalah, ada yang menang, semuanya menjadi
satu, bersatu dalam membangun Lewotana, Kabupaten Flores Timur.
Gebia
Waja adalah spirit tradisi budaya dalam mengundang masyarakat, menerima yang
berbeda menjadi keluarga, memahami perbedaan, perselisihan sebagai dinamika
kehidupan yang harus dimateriakan dalam semangat perdamaian, persatuan sebagai Ata Dike ( Orang baik ). Dengan
menyentuh Gebia Waja, setiap orang
terpanggil untuk hadir dan terlibat penuh dalam keseluruan proses Pemilu,
Proses memilih Pemimpin, wakil rakyat. Sebagaimana Kesakralan dari Gebia Waja proses menterjemahkan makna Gebia Waja, sebuah symbol, melalui
Pemilu sebagaimana Prinsip Pemilu, Langsung Umum, Bebas, Rahasia, kesakralan Koda Kiri yang dititip hendaknya terus memotivasi semua pihak baik para peserta kontestan
Pemilu, para penyelenggara Pemilu dan masyarakat untuk bersama- sama dengan tugas dan peran masing-masing membangun
Peradaban Kemanusiaan, Ata Dike
Lamaholot- Flores Timur.
Melalu Gebia
Waja, KPU Flores Timur menterjemahkan eksistensinya sebagai Penatalayan
Demokrasi, Pelayan dan Penata Perjamuan.
Melalui
keseluruah proses dan tahapan, setiap pihak dengan caranya telah
membantu KPU Flores Timur untuk terus belajar menjadi Penatalayan Demokrasi
yang semakin baik. Melalui Gebia Waja,
masyarakat menitipkan Koda Kiri Pulo Lema,
melalui Gebia Waja, Konstestan Pemilu
berjuang menterjemahkan kesakralan Gebia
waja tersebut.
Larantuka, September 2019
URAN, Fabianus Boli
Komisioner KPU Kabupaten Flores Timur
Beberapa Sumber Tentang Pemilu sebagai Pesta
Demokrasi :
CATATAN LEPAS KONSOLIDASI NASIONAL KPU
CATATAN LEPAS KONSOLIDASI NASIONAL
21- 24 September 2019
Dalam Sepenggal Refleksi atas Buku Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap
Bertempat di JCC Senayan, tiga ribuan anggota
KPU Provinsi dan Kabupaten Se Indonesia berkumpul. 23 September 2019 KPU meluncurkan Pemilihan Serentak 2020, yang akan
dilaksanakan pada tanggal 23 September 2020.
Kegiatan pada tanggal ini sebagai puncak dari rangkaian kegiatan di
masing- masing Divisi dan sekretariat sejak tanggal 21 yang tersebar di
beberapa tempat di Jakarta.
Momentum ini juga diluncurkan Buku DPT di
Balik Layar. Perjuangan KPU bersama jajaranya sampai tingkat PPS coba
dipotret, setiap kisah coba dirangkai sebagai sebuah refleksi perjuangan elemen
bangsa ini khusunya KPU dalam mewujudkan Daftar Pemilih Tetap yang berkualitas.
Banyak kisah- kisah lepas dari para petugas Pemutakhiran Data Pemilih, PPS, PPK
, KPPS yang kadang terelewatkan untuk didokumentasikan. KPU bersama jajaranya
berusaha membingkai catatan catatan lepas, kisah- kisah inspiratif penuh perjuangan
untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar darinya setiap pihak boleh belajar
dan memberikan masukan untuk proses perbaikan penyelenggaraan pemilu pada
tahun- tahun mendatang.
Konsolidasi Nasional sebagai sebuah ruang
refleksi bersama dari para penyelenggara Pemilu. Pada titik ini sebuah
pertanyaan mengusik Penulis untuk
sekedar bertanya tentang Eksistensi
Penyelenggara Pemilu. Selama Proses, tahapan Pemilu 2019, banyak berita Hoax
menyerang KPU, banyak narasi ketidakpercayaan kepada KPU bahkan narasi- narasi
kebencian mengarahkan pada personal anggota KPU menghiasi dunia Maya. Arief Budiman, Ketua
KPU menuturkan bagaimana Pribadinya diserang denga berita- berita bohong.
Semuanya dihadapi dengan senyum. Sebagai Penyelenggara Pemilu, Lembaga yang
dipercayakan Konstitusi untuk menyelenggarakan Pemilu, semua penyelenggara
dituntut untuk bersikap sebagai seorang Negarawan.
Sosok seorang Negarawan dalam Kepemiluan adalah
Alhmarum Husni Kamil Malik, Mantan Ketua
KPU. Buku dengan Judul Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap sebagai sebuah
buku kenangan akan Perjuangan Husni Kamil Malik mengisahkan tentang perjuangan
KPU bersama seluruh jajaranya membangun sistim kepemiluan yang lebih modern,
transpran dan mudah diakses oleh Publik. Perjuangan KPU dalam membangun sistim
kepemiluan yang terbuka dimateraikan dengan penghargaan dari Kementrian Hukum
dan HAM sebagai anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Terbaik untuk
Tingkat Lembaga Negara Non Struktural tahun 2019.
Bagi Penulis, Penyelenggara Pemilu adalah
Penatalayan Demokrasi, pihak yang menata Meja Perjamuan Demokrasi dan Melayani
Pemilih. Menata Sisitim Kepemiluan agar proses Pemilu, setiap tahapan berjalan
sesuai dengan Regulasi, setiap regulasi dapat memenuhi kebutuhan kaum
disabilitas, prinsip- prinsip nilai- nilai kemanusiaan. Arief Budiman, Ketua
KPU Periode 2017-2022 dalam sambutan untuk Buku kenangan ini mengatakan
“ Pemilu Berintegritas sebagai instrument utama demokrasi tidak hadir
begitu saja. Semua ada prosesnya. Benih- benih integritas mesti disemai,
dirawat, diberi unsur hara yang cukup agar pohon demokrasi kita terus tumbuh,
berkembang dan melahirkan pemilih dan pemimpin yang berintegritas pula. Dengan
demikian, keadilan, kesejahteraan dan pemerataan yang menjadi cita-cita konstitusi
kita dapat segerah terwujud” (hal xv).
Pemilu sebagai sebuah sistim berproses melewati
setiap tantangan. Perjalanan memahat kisah Demokrasi yang semakin moderen butuh
kerjsama dan dukungan dari semua pihak. Tanpa peran pihak lain, KPU tidak mampu
menterjemahkan amanat Konstitusi
mewujudkan Demokrasi melalui Pemilu yang bermartabat.
Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap
merupakan refleksi perjalanan bangsa ini membangun sistim kepemiluan. Sisitim
Pemilu yang dulu sering dimanipulasi, penuh intimidasi perlahan seriring dengan
Reformasi, Pemilu semakin ditata sebagai sebuah sistim yang moderen, terbuka,
mudah diakses. Sisitim keterbukaan Informasi sebagai sebuah bentuk menuntun
Publik melewati lorong- lorong gelap, menuju pemahaman yang benar bukan membangun
pemahaman berdasarkan asumsi pribadi apalagi mendasarkan pandangan pada berita
bohong.
Sebagai sebuah sistim, KPU mendorong KPU di
setiap Provinsi dan Kabupaten untuk terus melakukan inovasi- inovasi untuk memperkaya dan membaharui sistim
kepemiluan. Sebuah contoh, Proses Uji Publik di Provinsi Jawa Tengah sebelum
penetapan DPT berbasis Desa Kelurahan sangat membantu proses penetapan DPT yang
berkualitas. Proses Uji public yang dilakukan
dengan melibatkan semua kepala dan anggota keluarga di setiap Dusun/ RT
lebih efektif daripada sekedar pengumuman melalui corong desa. Praktek baik ini
menginspirasi KPU Provinsi Kabupaten Kota untuk menerapkan di masing- masing
Satuan Kerja. Bahwa masih ada kekurangan- kekurangan, adalah bagian dari proses
pembelajaran sehingga setiap tahapan yang dilalui dapat berkontribusi pada
kesuksesan Pemilu.
Setiap Pengalaman dalam penyelenggaraan
Pemilihan umum merupakan proses edukasi bagi Penyelenggara pemilu, Partai
Politik dan masyarakat. Edukasi, Ex :
keluar, Ducere; Menghantar sebagai proses
menghantar orang keluar dari situasi ketidaktahuan, situasi gelap menuju sebuah
pemahaman baru, menuju sebuah sistim yang terang benderang. Bagi penyelenggara
Pemilu atau pun para pegiat demokrasi, setiap catatan catatan lepas merupakan
sumber pengetahuan yang harus didokumentasikan dengan baik agar setip orang
boleh belajar, memahami sejarah kepemiluan, boleh menimbah kreativitas-
kreativitas dalam mentransformasi pesan- pesan kepemiluan.
Sebagai sebuah proses edukasi, KPU pun terus berupaya
mengembangan Sistim IT yang lebih efektif dan efisien. Wacana E- Rekap di mana hasil pungut hitung di
tingkat TPS diproses langsung sehingga tidak ada lagi proses rekapitulasi di
tingkat Kecamatan. Dari segi waktu dan biaya , sistim ini akan sangat membantu.
Untuk itu butuh pelatihan – pelatihan yang intens bagi para KPPS, PPS dan PPK.
Ini adalah satu contoh proses inovasi dalam mendesign sistim kepemiluan. Proses
edukasi juga bagi para pemilih untuk sadar dan taat untuk mengurusi dokumen
kependudukan sehingga dapat menggunakan hak konstitusi setelah terdaftar dalam
Daftar Pemilih Tetap.
DPT
selalu menjadi persoalan bahkan menjadi materi dalam gugatan hasil di sidang
Mahkama Konstitusi. KPU telah berjuang
mendata warga yang secara regulasi telah berhak menyalurkan hak konstitusinya.
Ada banyak tuduhan – tuduhan , berita bohong tentang data ganda. Mersepon
berita ini KPU bersama jajaaranya telah membuktikan bahwa sistim kepemiluan
telah berjalan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
Mewujudkan DPT yang bersih adalah tanggungjawab
semua pihak bukan hanya KPU saja. Bahwa peran dan partisipasi masyarakat sangat
dibutuhkan agar informasi tentang data kependudukan terdokumentasikan dengan
baik dan benar. Harapan kedepan, segenap masyarakat telah mengurusi dokumen
kependudukan termasuk E- KTP sebagai
syarat untuk dapat memilih. Dengan tertib mengurusi dokumen kependudukan,
masyarakat calon pemilih telah berkontribusi bagi terwujudnya sistim kepemiluan
yang bermartabat dan sesuai dengan regulasi.
Buku Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap
menarasikan perjalanan KPU dalam mendesign Kepemiluan yang lebih moderen. Buku ini merasikan dengan indah tentang soliditas team, komunikasi
kemitraan dengan pihak lain, tentang kesadaran akan amanah yang dipercayakan. KPU sebagai lembaga Independen yang
dipercayakan Konstitusi adalah lembaga yang sangat dinamis Dengan berefleksi
atas peran dan kipra Husni Kamil Malik,
siapapun yang tertarik dengan sistim demokrasi dan Pemilihan Umum sebagai
sarana mewujudkan Demokrasi tersebut hendaknya terpanggil untuk membaca dan
berziarah bersama menyelami setiap spirit pergumulan para penyelenggara
Pemilihan umum, orang- orang yang dipanggil untuk melayani Rakyat empunya
daulat suara di meja Perjamuan Demokrasi.
#KPU Penatalayan Demokrasi
Larantuka, 2 Oktober 2019
URAN, Fabianus Boli
Komisioner KPU Flores Timur
Kamis, 12 September 2019
Legenda Tulang Ikan di Lewoawang
Berlokasi di Pantai Lewoawang, Kecamatan Ile Bura Kabupaten Flores Timur, tepatnya di Tanjung Ike Kote Wutu, ada peninggal yang melegenda yakni Tulang Ikan Paus.
Tuturan Tradisi bahwa Ikan Paus ini adalah penolong dua anak kecil yang diculik oleh Hantu.
Sesudah ditolong, pesan ikan paus bahwa dalam beberapa hari kedepan, akan ada Ikan besar yang terdampar di pantai. Orang lain akan mengambil daging saya tetapi kalian berdua tidak boleh. Tugas kalian adalah mengambil tulang saya dan menyimpan baik baik.
Tulang ikan yang disimpan sampai sekarang. Kondisinya sebagian sudah rusak tetapi masih nampak jelas.
Masyarkat tidak berani mengambil tulang ikan tersebut, atau potongan sekecil apapun untuk dibawa ke rumah.
ini merupakan sebuah Potensi asset Wisata Bahari yang harus dikemas dan dikelola oleh Pemerintah Desa melalui pemanfaatan Dana Desa
Sumber Foto dan Video : Dokumentasi Pribadi Uran Oncu
Jumat, 06 September 2019
DARI KETERBATASAN KPPS FLORES TIMUR MERAJUT DEMOKRASI TANPA PSU
“Banggalah bahwa
kalian menjadi bagian dari sejarah Pemilihan Umum serempak pertama kali di Indonesia. Banggalah bahwa
kalian menjadi Pejuang Demokrasi di garis terdepan, orang - orang pilihan yang
memastikan Proses Pemungutan dan Perhitungan Suara tanggal 17 April 2019
berjalan lancar dan sesuai regulasi. Pada Kalianlah Harapan Pesta Demokrasi
dengan Seluruh rangkaian Tahapan menjadi bermakna ketika Flores Timur boleh
melewati Pesta demokrasi ini tanpa PSU”. kalimat- kalimat motivasi yang penulis sampaikan saat
memberikan bimbingan Teknis Pungut Hitung bagi para KPPS
Keruwetan dengan lima jenis surat
suara, sekian banyak formulir, bagaimana
melayani para pemiih DPT, DPTb dan DPK, cara mengisi setiap formulir dipaparkan
saat bimtek dengan peserta yang terbatas karena
keterbatasan anggaran. Atas keterbatasan jumlah KPPS yang mengikuti
bimtek oleh KPU yakni 3 orang per KPPS, PPK dan PPS melanjutkan dengan bimtek
mini ke setiap KPPS. Durasi Bimtek yang singkat dengan persiapan lainnya
menjelang tanggal 17 April, semuaya dijalankan dengan penuh semangat dan total.
Aspek lain adalah keterbatasan
Sumber Daya Manusia. PPS pun berlomba- lomba dengan pihak partai Politik yang
mencari para saksi, berlomba dengan Pengawas tingkat Kecamatan yang gencar
melakukan perekrutan Pengawas TPS. Satu hal yang patut dibanggakan adalah di tengah
keterbatasan, prinsip Penyelenggara yang netral tetap ditegakan, tuntutan
sesuai regulasi setia dipegang teguh. Kerbatasan ini pun akhirnya menggerakan
Jiwa Ernesta Kata, mantan Ketua KPU Flores Timur untuk menjadi KPPS di TPS 003 Kelurahan
Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka

Sejarahpun mencatat, saat matahari belum menyibak kesunyian pagi para petugas KPPS,
PAM TPS, PPK, PPS telah bergerak menyibak sisa sisa mimpi karena Panggilan
Negara sedang menanti. Mimpi keruwetan yang selama ini dihadapi dalam pemikiran, saat itu siap menjadi
kenyataan. Slogan KPU Flores Timur Tanpa PSU sepertinya menjadi doa yang
menggerakan seluruh energi KPPS. Durasi Waktu 17 April, pagi Pkl 07.00 proses
Pemungutan Suara dan dilanjutkan dengan perhitungan suara sampai batas waktu 18 April Pkl
12.00, dilanjutkan dengan proses salinan Dokumen C1 ke pihak lain,
proses serah terima, pengemasan logistic dan pendistribusian kembali kotak
Pemilu ke Sekretariat PPK, KPPS melewati dengan tetap semangat meskipun
keletihan telah menderah fisik mereka. Ada sekian banyak kisah yang dituturkan oleh
para KPPS, PPK dan PPS serta team Monitoring dari KPU, kisah- kisah sedih, lucu mewarnai perjuangan para KPPS.
![]() |
| Kasman, Ketua KPPS. Sumber Foto : Liputan 6.com |
Kisah lain tetang KPPS dari Kecamatan
Wulanggitang. Saat proses perekapan ada selisih di jumlah Pemilih yang
menggunakan Hak pilih dengan jumlah surat suarah sah dan tidak sah. Para KPPS
yang semuanya perempuan, berjuang mencari tau. Selisih pun tidak berhasil
mereka temukan. Ketakutan akan kesalahan
mengoncang jiwa mereka. Tangisan mereka pun pecah. Dalam keterbatasan, mereka
pun meminta bantuan Dukun untuk membantu mereka dengan ritual adat. Telur ayam
pun dipecahkan di lokasi TPS. Seolah - olah doa mereka dalam tradisi budaya
terkabul. Anggota PPK Wulanggitang tiba, Saudara Eman Tupen
Bara. Selisih angkah berhasil ditemukan. Apakah Karena Ritual adat atau
karena kehadiran dari anggota PPK yang membantu mereka menemukan selisih
angkah, satu hal yang pasti Ketulusan Jiwa Mereka, penyerahan total atas
keterbatasan mereka kepada Tuhan telah
menghantar mereka melewati proses yang melelahkan jiwa dan raga dengan penuh
sukacita.
Dari
Kecamatan Wotan Ulumado, Kisah tentang
suara Sah bagi calon atau Partai. Ketika ada dua tusukan di calon dan di
partai, Ketua KPPS membacakan bahwa suara sah untuk Partai. Hal ini diprotes
oleh saksi yang hadir. Jawaban Ketua KPPS, “yang
ikut bimtek saya atau kamu. Saksi pun menjawab, “Teman baca ulang buku panduan. Ketua KPPS pun membuka buku panduan
KPPS, membaca lalu menjawab, Teman saya
yang salah, engkau yang benar. Si
saksi pun merespon, Teman, kau kira kerja
ini seperti engko tembak ikan kah? Dan suasana pun penuh gelak tawa karena
guyonan guyonan lucu dua sahabat ini. Poin dari kisah ini adalah saksi memainkan
peran sebagai Correctio Fraternal. Banyak
informasi yang diperoleh bahwa pemahaman teknis antara KPPS dengan Pengawas TPS
dan Para Saksi sangat berbeda dan menyebabkan perdebatan - perdebatan. Hal ini karena Bimtek ke Para
Pengawas TPS tidak melibatkan KPU. Kisah di Wotan Ulumado, pengawas TPS dapat
memberikan koreksi yang benar karena, saat Bimtek ke para KPPS, Ketua Panwascam
Wotan Ulumado meminta Ketua PPK Wotan Ulumado agar para pengawas TPS pun boleh
ikut dalam Bimtek. Pemahaman Teknis yang berbeda ini pula yang menyebabkan tata
cara melayani pemilih Kategori dalam Daftar Pemilih Khusus. Ketika Para pemilih kategori DPK tidak bisa menunjukkan dokumen Kependudukan yakni E- KTP atau Suket
( Surat Keterangan ) dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Flores
Timur, KPPS dengan bijakasana menjelaskan regulasi bahwa mereka tidak bisa
dilayani. Bahwa ada pandangan berbeda
dari pengawas TPS dan Saksi, KPPS tetap teguh pada regulasi ini.
Pemahaman teknis Pungut Hitung harus
dikuasai oleh KPPS, Pengawas TPS dan Para Saksi. Dengan pemahaman yang baik,
maka semua pihak dapat berkontribusi untuk menjalankan keseluruhan prosedur
dengan benar sesuai regulasi. Proses koreksi sejak awal adalah bentuk control
moral agar para penyelenggara tidak jatuh dalam kesalahan. Kehadiran para saksi
dan Pengawas TPS bukan menanti dan mengamati kapan ada kesalah dibuat tetapi
bagaimana mengawal agar TIDAK ADA KESALAHAN TERJADI. Spirit ini yang harus
dipahami dengan benar. Untuk itu maka pada proses pemilihan –pemilihan
selanjutya, Bimbingan Teknis ke Pengawas TPS dan Para Saksi harus dilakukan
oleh KPU bersama Bawaslu karena yang sangat memahami hal teknis pelaksanaan
Pungut Hitung adalah KPU dan Bawaslu membantu dari aspek pengawasan.
Kesulitan Akses ke setiap Desa tidak pernah
mematahkan semangat para penyelenggara di tingkat PPK dan PPS. Dari Tanjung
Bunga, kegiatan Bimbtek dibagi kedalam dua kelas. Untuk Kelas kedua, meliputi
Desa Latonliwo, Patisirawalang, Aransina dan Latonliwo Dua.
Lokasi Kegiatan Bimtek di Desa terujung Pulau Flores, Patisirawalang. Daerah
yang terkenal dengan nama Basira, sebuah
perkampungan yang dapat dikatakan terisolir. Akses ke lokasi ini sangat sulit,
medannya sangat berat. Jarak dari
Waiklibang Pusat Kecamatan Tanjung Bunga ke Latonliwo sekitar 28 KM. Jarak tempuh mencapai tiga jam dengan sepeda
motor. Sedangkan ke Desa Patisirawalang desa terujung dengan kondisi jalan tanah
kurang lebih 9 KM. Wilayah - wilayah ini
dalam jadwal distribusi logistik Pemilu selalu menjadi yang terdahulu karena akses ke
sana sangat berat. Biasanya distribusi logistik
melalui laut, dan selanjutnya dipikul mendaki bukit menuju kampung –kampung. Penulis
bersyukur boleh mengalami pergumulan PPK, PPS dan KPPS melewati medan yang
teramat berat ini. Ketika kegiatan Bimtek dilakukan di sini, warga masyarakat
sangat senang dan para KPPS dari Desa lain pun senang karna kesempatan ini. Jarang
ada kunjungan – kunjungan dari pihak luar ke wilayah ini. Menurut Rofina
Bince Maran, anggota PPK Tanjung Bunga, ketika kegiatan Bimtek dilakukan di
desa ini, Kepala Desa dan sangat
antusias dan beliau pun mengikuti Bimtek bersama KPPS sampai selesai
Dalam wawancara dengan Ernesta Katana Mantan Ketua KPU Flores Timur yang bertugas sebagai
ketua KPPS di TPS 003 Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka, hal teknis membuka
surat Suara oleh KPPS dan menyerahkan ke para pemilih adalah hal yang sangat
teknis tetapi sangat menentukan karena dengan menyerahkan Surat suara dalam
keadaan terbuka ke pemilih, KPPS telah terhidar dari kesalahan memberikan surat
suara lebih dari aspek jumlah maupun jenis.
Hal lain adalah sangat membantu pemilih untuk segerah menentukan pilihan
di dalam bilik suara karena tidak disibukan lagi dengan membuka surat suara.
Hal teknis lainnya adalah di awal perhitungan Jumlah Surat suara, dilakukan dengan
cepat karena dibagi team dan masing-masing team dikawal oleh Para Saksi dan
dipantau oleh Pengawas TPS. Kunci kesukseskan di TPS ini dan TPS laiinya di
seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur adalah Para KPPS didampingi oleh PPK dan
PPS melakukan simulasi pungut hitung secara swadaya tanpa anggaran.
Dari Aspek biaya, sangat disadari
bahwa honorarium petugas KPPS sangat kecil dibandingkan dengan beban tugas yang
sangat berat. Tetapi panggilan jiwa untuk menjadi bagian dalam sejarah
kepemiluan ini, panggilan jiwa untuk mengabdi Lewotana Flores Timur mengalahkan
keterbatasan anggaran ini. Saat Bimtek, disampaikan besaran Honorarium KPPS.
Bahwa ada yang merasa tidak puas, adalah hal yang teramat wajar. KPU Flores
Timur sangat bersyukur karena tidak ada berita
KPPS mengundurkan diri karena kecilnya honor penyelenggara KPPS.
Masih banyak kisah tentang perjuangan para
KPPS. Keterbatasan waktu tidak mengijinkan untuk merangkai semuanya saat ini.
Biarkan kisah- kisah lainnya menjadi tuturan lisan dan pada waktunya semoga
dapat menjadi sebuah tulisan. Semoga
dengan Foto- foto perjuangan Para KPPS saat mengikuti Bimtek dan menjalankan
tugas di hari pemungutan suara di
lembaran Landscape Foto foto dapat
memberikan gambaran tentang Semangat Melayani, Semangat memberikan yang terbaik
bagi Pesta Demokrasi. Karena Ketulusan Jiwa, integritas sebagai ujung tombak,
KPU Flores Timur bersama seluruh jajarannya, PPK dan PPS berhasil menjalankan
tugas sebagai Penatalayan Demokrasi, berhasil menyajikan Perjamuan Demokrasi
Pemilihan Umum serempak Nasional 2019.
Penulis
URAN, Fabianus Boli
Anggota Komisioner KPU Flores Timur
Langganan:
Komentar (Atom)
MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI
Geliat Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat. Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...
-
Dalam Tradisi Masyarakat Lewotobi- Lewouran, ada Kalender Musim dalam sebutan lokal. Setiap nama bulan mengandung makna yang sangat mend...
-
Minggu, 20 Oktober 2019, genap setahun peluncuran Buku " di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri ” , ada sekian...
-
Suarah Adzan menyapa kami di Beranda Aceh saat pesawat Lion Air mendarat di Bandara Aceh. Senja Enam Mei 2017 untuk pertama kali aku m...

























