Minggu, 24 November 2019

SISTEM PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN KPU - ppt download

SISTEM PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN KPU - ppt download: Latar Belakang UU No.15/2011, BAB I Pasal 1 Butir 6, KPU sbg penyelenggara Pemilu Melaksananakan tugas, wewenang dan kewajiban dalam penyelenggaraan Pemilihan Anggota DPR, DPD, DPRD, Gubernur, Bupati/Walikota serta Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Amanat dan Amanah kepada KPU Rakyat Memilih dan Mendapatkan Pemimpin Bangsa KPU yang profesional, berintegritas, beretika, berkapabilitas dan berakuntabilitas Diselenggarakan secara langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil Terwujudnya Tujuan Nasional serta memiliki komitment mewujudkan Good Governance dan Clean Government

Rabu, 13 November 2019

Pancasila dalam Pembangunan Desa Refleksi Nilai dalam Ikatan Manusia Lamaholot


Tepat dua tahun lalu, 1 Juni 2017,  berlokasi di halaman Kantor Desa Lewotobi sebuah refleksi peradaban yang hilang kembali diangkat dalam rangkaian kegiatan  Seminar Budaya dengan Tema " Birawam Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis Penulis  merasa bangga karena menjadi bagian kecil dari proses ini. Penulis merasa bersyukur karena hasil kajian warisan budaya Penulis  menjadi sebuah referensi yang dibedah oleh sekian banyak narasumber dan akhirnya melahirkan keputusan Lewo dan telah tertuang dalam Perdes. Beberapa Keputusan Lewotobi dan Lewouran adalah :


1. Konservasi Terumbu Karang
2. Konservasi Penyu dan Telur Penyu
3. Menarasikan Warisan Budaya dalam bentuk Dokumentasi berupa buku.
4. Menanam Pohon-pohon di Pinggir pantai untuk mengatasi Abrasi Laut
5. Membangun Design Wisata Bahari berbasis Budaya.

Poin satu sampai tiga  sudah dilakukan. Untuk Poin  tiga, pada tanggal 28 Oktober 2018, bertepatan denga peringatan Usia Emas Desa Lewotobi ( Birawan ) Buku dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri diluncurkan sebagai kenangan atas ziarah Lewotana.  Hari ini, 1 Juni 2019, dalam permenungan setelah apel memperingati HUT Pancasila, penulis mencoba merefleksikan tentang Nilai Pancasila dalam semangat membangun Desa, Membangun Lewo. Desa adalah sebuah tatanan Sosial, Desa adalah sebait syair tentang kesunyian, tentang kesederhanaan, tentang kearifan bagaimana membangun dari keterbatasan, tentang kesadaran untuk terus kembali berpijak pada nilai-nilai warisan leluhur. Desa dalam tarian kesunyian adalah bagian tak terpisahkan dalam membangun bangsa ini.

Sejak Kesepakatan Lewo ini pada tanggal 1 Juni 2019, Pemerintah Desa terus berjuang mewujudkan amanat keterpanggilan ini. Ada sekian banyak tantangan di awal dan sesudah proses ini tetapi, Kekuatan Lewo terlalu kuat untuk dikalahkan oleh segelintir pihak yang tidak memahami tentang Spirit membangun Lewo. Penulis sangat bersyukur, Program Konservasi Terumbu Karang bisa menghantar Desa Lewotobi  meraih juara II tingkat Propinsi untuk Kategori Desa dengan Program Inovasi. Saat ini Penyu-Penyu  semakin akrab dengan Pantai- Pantai di Lewotobi, di Pantai Blelawutun, Pantai Waiotan. Masyarakat menemukan sekian banyak titik penyu  bertelur dan setelah dipastikan, lokasi ini ini dipagari. Bersama Kelompok Konservasi dan Pemerintah Desa, Masyarakat terus disadarkan dan semakin sadar serta  tidak berani lagi mengambil telur penyu untuk dikonsumsi. Dulu kalau mendapatkan Penyu saat bertelur, Penyu dan telur penyu dieksekusi untuk konsumsi. Sekarang masyarakat telah sadar dan perlahan tumbuh jiwa melindungi dan merawat. Sebuah proses transformasi nilai sedang bergerak dan terus menemukan bentuk-bentuk.
Nilai transformasi ini juga berpengaruh ke desa desa tentangga. Seorang Nelayan , Andreas  Tutu Muda, di Desa Riangbaring  yang selalu mengambil telur penyu  untuk Konsumsi dan dijual kini telah beralih menjadi pegiat Konservasi Penyu dan Telur Penyu. Kesadaran Ande demikian sapaanya, bukan hanya karena takut dengan regulasi tentang perlindungan penyu tetapi karena muncul kesadaran tentang pentingnya kelestarian ekosistem.
Spirit Melindungi dan Merawat Ekosistem adalah bentuk kecil cara masyarakat Desa menghayati Nilai-Nilai Luhur Pancasila yang lahir di Bumi Flores, Inspirasi dari Sang Pencipta kepada Sang Proklamator Soekarno. Merefleksikan nilai-nilai luhur, mengkaji dan menyajikan sebagai sebuah  design pembangunan Desa adalah cara bagaimana membangun Desa bersumber dari kekuatan Lewo, kekutatan yang diwariskan oleh Leluhur. Setiap Narasi tentang Lewo lewat tuturan –tuturan lisan serentak juga ada proses transformasi kekuatan-kekuatan itu yang sering tidak disadari. Kekuatan-kekuatan Lewo adalah bisikan panggilan yang harus didengarkan dengan bijak karena ia mengandung sejuta makna.

 Pancasila dalam Sepenggal Refleksi Nilai Lamaholot

Keluhuran  Nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek Moyang adalah hasil dari dialog kosmik dengan wujud tertinggi yang disebut Ama Lerawulan Ema Tana Ekan, ( Sila Pertama )  melalui perantara Kewoko Kelite, Nitu Pudu  Hari Neda ( Kewoko Kelite : arwah para leluhur, Nitu Pudu : Penjaga Hutan hutan, Hari Neda : Penjaga Laut dan pantai ) melalui sebuah proses pencarian kebenaran yang disebut Tura Neda Lone Kemie Padu. Proses pencarian kebenaran ini bertujuan untuk membangun Ata Dike ( Orang baik) ( Sila Kedua ). Ata Dike tidak bisa hidup sendirian, ia terpanggil hidup dalam sebuah ikatan social budaya yang disebut ata kaja ribu pulo ratu lema. ( Sila Ketiga). Ikatan social budaya ini termateraikan dalam adat istiadat yang lahir atas kesekapatan bersama yang dilakukan dalam sebuah wadah yang disebut Lage Loge  untuk melahirkan Koda Geto ( kesepakatan ). Hasil kesepakatan ini juga tercermin dalam sikap penerimaan suku-suku pertama yang mendiami sebuah wilayah terhadap suku-suku pendatang atau yang datang belakangan. Penerimaan disertai dengan Pua Tana ekan, memberikan sebagai dari empunya mereka agar ribu ratu  ( masyarakat ) yang baru tiba boleh menjadi bagian tidak terpisahkan dalam ikatan social budaya. Agar mereka pun boleh bersama mengolah tanah, mengail ikan untuk sebuah kehidupan yang layak ( Sila Kelima )  demi sebuah pewarisan generasi penutur peradaban Ata Dike, penutur Kemanusiaan yang berbudaya

Kuntowijoyo dalam Anton Baker “Badan Manusia dan Budaya”  menegaskan bahwa Budaya adalah sebuah sistim yang koherensi di mana bentuk-bentuk simbolis berkaitan erat dengan konsep epistemologis dari sistim pengetahuan masyarakat. Sistim ini tidak terlepaskan dari Manusia sebagai bagian inti dalam pembentukan budaya. Ruang refleksi warisan budaya selama ini belum dikemas secara terintegrasi sehingga roh pembangunan desa seolah-olah tanpa dilandasi asas berbasis budaya. Rendahnya ruang refleksi ini pun berpengaruh pada hilang atau punahnya warisan budaya. Untuk itu diperlukan upaya terobosan untuk melakukan refleksi sosial untuk menemukan nilai-nilai peradaban yang telah hilang.

Menghayati Pancasila adalah cara memahami dan memperlakukan manusia sebagai bagian tidak terpisahkan dari segala proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk bagaimana menumbukan kembali semangay menggali keluhuran nilai-nilai yang diwariskan. Dari Desa, Pancasila terwujud dalam nilai-nilai kearifan local. Ketika ada konflik di masyarakat desa, masyarakat dalam kearifan lokalnya mempunyai cara untuk berdamai, secara cepat atau lambat. Menjadi sebuah tantangan ketika, para pemimpin atau gembala ( pemimpin dalam Geraj Katolik )  yang hadir dan kurang memahami tentang nilai-nilai kearifan local  mencoba menggiring masyarakat untuk sebuah penyelesaian dengan cara dan pemahamannya. Belajar dari para penenun sarung, ketika ada benang yang salah dimasukan atau terbelit, maka sang penenun dengan tekun mengurai benang tersebut yang disebut “ Hua Kenire” dan setelah itu akan di “ Bolo Kape”, disatukan lagi. Hua Kenire adalah  kejelihan melihat motif tersebut sepandan dengan motif lain, tidak salah ditempatkan. Hua Kenire dalam konteks penyelesaian konflik  adalah melihat dan mendengar dengan ketenangan  akar permasalahan, dengan bijak menempatkan diri tanpa menghakimi sebelum kebenaran tersebut ditemukan. Para penenun dengan sabar melakukan proses penguraian kusutnya benang. Demikian juga seorang pemimpin atau gembala, ia harus sabar memahami setiap persoalan bukan dengan muda termakan atau terpengaruh dengan berita berita yang belum dipastikan kebenaran.
Para Leluhur ketika menyelesaikan konflik, mereka melalui sebuah proses pencarian kebenaran lewat Tura Neda Lone Kemie Padu, artinya mereka tidak mengandalkan hanya kemampuan mereka tetapi mereka meletakan dalam pengharapan terhadap Sang pencipta untuk menujukkan kebenaran serta cara penyelesaian. Penyelesaian sebuah konflik juga disertai dengan tindakan dalam ritus yang disebut “ Hoi Bake”, memperbaiki kesalahan agar  social budaya  kehidupan generasi selanjutnya terlepas dari ikatan dosa sebelumnya.  Ada Proses merangkul kembali dan memperbaiki bukan proses terus memelihara konflik dan membangun kubu- kubu permusuhan, apalagi menjadikan setiap momentum konflik sebagai bahan untuk kotbah. Para Leluhur setelah menyelesaikan konflik, mereka melipatnya dengan rapih permasalah itu dan menyonsong masa baru dengan kebersamaan yang ditandai dengan “ Hue Nuhe atau Kela Tou Nuro Rua.

Menghayati Pancasila hanya bisa dilakukan ketika manusia melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya, ketika melihat alam sebagai saudara kehidupan. Menghayati Pancasila dalam Berdesa adalah kerelasediaan untuk terus belajar memberikan diri bagi pembangunan sebuah peradaban kehidupan lebih baik, berbasis warisan nilai-nilai luhur. Kami Indonesia, Kami Pancasila, Kami Orang Desa Kami Pancasila.

Selamat Merayakan Hari Lahir Pancasila


Larantuka, 1 Juni 2019
URAN, Fabianus Boli, S.IKom
Pengamat dan Penulis Isu-Isu Sosial Kebudayaan

Selasa, 22 Oktober 2019

KEMBALI KE KOKE BALE URE WAI LEWOURAN


 Minggu, 20 Oktober 2019, genap setahun peluncuran Buku " di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri, ada sekian komitmen yang dimateraikan melalui penandatanganan Berita Acara  Komitmen dalam bingkai Ritus Tito Gebia Waja. Satu di antaranya adalah Membangun Rumah Koke Bale Ure Wai di Kampung lama Lewouran.
Penulis  bersyukur boleh menjadi bagian dari proses ini, bersyukur karena semangat asa usul dari Lewouran selalu menginspirasi Penulis untuk bersama para tetuah adat dan masyarakat Lewouran, bersama rekan diskusi penulis sdr Nikolaus Nara, sekretaris Desa Lewotobi, Ade Asis Muda sebagai Kepala Desa Lewotobi, Kanisius Laranwutun Uran dan  segenap pejuang tradisi  mewujudkan komitmen itu. Dukungan moril dan doa serta berkat dari Pater Markus Solo Kwuta  SVD dari Vatikan selalu menguatkan  Penulis , Kak Mathias Kwuta, Kake Ansel Pai Muda, Bapak Knoba Uran, Bapak Panus Kwuta  serta para tetua adat lainnya untuk terus melangkah maju, menjadi pelopor untuk mewujudkan nilai - nilai ini.

Tepat Pkl 12.30 siang tanggal 20 Oktober, kami keluar dari rumah  Tuan Tanah lewouran , bergerak di tengah terik matahari, melewati ladang yang gersang, mendaki bukit menuju kampung lama Lewouran. Perjalanan hari itu seperti Ziarah Bangsa Israel melewati padang gurun menuju tanah perjanjian. Kami bergerak dalam sebuah ziarah nilai  kehidupan, menuju kampung lama adalah simbol menemukan kembai nilai - nilai kehidupan luhur yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan lupa dituturkan.







Hari itu, di bawa naungan pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun, di hadapan altar batu, tempat ritus permohonan Ure Wai dilaksanakan sekitar tahun 1970-an dalam Misah oleh Pater Cornelius Jan Smith, SVD Rumah Koke Bale Ure Wai didirikan. Empat tiang rumah yang disiapkan  oleh masing- masing Suku Muda, Uran, Kwure dan Kwuta menyimbolkan kesatuan, keteguhan komitmen sebagai penyokong keberlanjutan tradisi nilai - nilai kehidupan.










Lantuna lagu Mars Lewouran  Ciptaan Pater Markus Solo Kwuta, SVD  mengalun dalam keheningan, membisikan sejuat pesan, bahwa di atas peradaan ini, nilai kehidupan didirikan, sebagai sebuah entitas Gereja Kecil yang harus terus merefleksikan dirinya sebagai Murid Tuhan dalam ziarah kehidupan. Dan Lagu Lewouran Tanah Pusaka  setelah Ritus Lou Lete, ritus memberkati rumah ini agar menjadi tempat yang sejuk , menegaskan komitmen untuk terus setiap menjaga dan merawat, menghidupi nilai- nilai luhur meskipun di tanah rantau. Keriduan sang penyair dalam lagu ini, Pater Markus Solo Kwuta , SVD , secara lewo Ribu Pulo Ratu Lema menterjemahkan dengan perjuangan menenun kembali warisan leluhur ini. Setelah keseluruhan rangkain ritus peresmian Rumah Koke Bale Ure Wai ini, dilanjutkan dengan sambutan- sambutan dari  yang mewakili Kepala Desa Lewotobi, Sdr. Polus Aran, Camat Ile Bura, Kabid Pengembangan Seni dan Budaya Dinas Pariwisata Kab. Flore Timur. Polus Aran menyampaikan tentang semangat membangun Desa termasuk rencana pembangunan Jalan Usaha Tani yang mendukung mobilitas masyarakat menjangkau kawasan ini. Camat Ile Bura Bapak Yakobus Arakian mengharapkan agar kisah Lewouran yang telah ditulis disempurnakan lagi termasuk kegiatan ritus hari ini. Sedangkan dari Dinas Pariwisata, ibu Neldi Koten menyampaikan proficiat atas semangat warga , komunitas adat Lewouran dalam menggali dan menghidupan nilai- nilai tradisi.  Harapan kedepan agar nilai – nilai ini digali dan didokumentasian dengan baik dalam bentuk buku- buku. Lebih dari itu adalah bagaimana semangat tradisi membantu masyarakat dalam keterlibatan membangun Lewotana Flores Timur.




Dalam sesi penutup untuk merangkum keseluruhan proses yang telah dilalui  Penulis   menegaskan bahwa proses hari ini adalah proses ziarah nilai. Segala ritus hari ini harus kita terjemahkan dalam tindakan - tindakan transformasi sebagai bentuk dan jawaban iman kita sebagai manusia beragama dan berbudaya.  Bentuk – bentuk Konkrit  tindakan transformasi adalah , merestorasi kwasan ini  Kampung lama ini dan kwasan due Date ( hutan terlarang lainnya ) dengan menanam Pohon- pohon pelindung seperti pohon beringin pada musim hujan ini, menggantung  gebote ( ari- ari ) dalam wadah  ramah lingkungan yang disebut nebe ( tidak menggunakan kantong plastik. Acara selanjutnya adalah Ritus Pau Bau Tana Ekan dan dilanjtukan dengan acara sukacita yakni menampilkan  tarian Raja Sine dan  Sole Sika Mula.

Hari itu, tanggal 20 Oktober 2019 kami telah memulai sebuah ziarah baru, kami telah memulai sebuah catatan baru dari lembaran – lembaran kisah yang telah kami lalui. Penulis bersyukur karena boleh mendokumentasikan dalam narasi dan foto serta Video.  Kisah yang dulu dituturkan dalam tuturan lisan kini boleh dikemas dalam rangkain kata, lewat lembaran potret dan  gerakan kesunyian terekam di balik lensa kamera.  Nantikan buku selanjutnya tentang  Ziarah Tradisi dalam Kalender Musim Tradisi Lewotobi- Lewouran.






Salam dari anak kampung, penulis kisah tradisi


URAN , Fabianus Boli
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.





Rabu, 02 Oktober 2019

MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIA WAJA PESTA DEMOKRASI


MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIAH WAJA PESTA DEMOKRASI
( Refleksi Pemilu 2019 dalam Perspektif Budaya Lamaholot Kabupaten  Flores Timur)


Keseluruhan Proses dan Tahapan Pemilihan Umum telah dirangkai  oleh KPU Flores Timur dalam Spirit KPU Melayani. Keterpanggilan melayani masyarakat untuk menggunakan Hak Konstitusi telah memateraikan pencapaian yakni Flores Timur dapat menyelenggarakan Pemilihan Umum Tanpa Pemungutan Suara Ulang sebagaimana Slogan yang terus digaungkan selama masa- masa persiapan menuju hari Pemungutan suara.  Di tengah tantangan tradisi keagamaan Semana Santa dan  Pesta Demokrasi, KPU Flores Timur bersama seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Flores Timur mampu dan berhasilkan menterjemahkan tradisi dan tugas Negara dengan baik, aman dan sukses.
Istilah Pesta Demokrasi pertama kali diucapkan oleh Presiden Soeharto pada kegiatan   Pembukaan Rapat Gubernur / Bupati/ Walikota se Indonesia pada tanggal 23 Februari 1981 di Jakarta.  Beliau menegaskan bahwa,  Pemilu harus dirasakan sebagai pesta poranya demokrasi, sebagai penggunaan hak demokrasi yang bertanggungjawab dan sama sekali tidak berubah menjadi sesuatu yang menegangkan dan mencekam.
Ungkapan bahwa Pemilu 2019 sebagai Pesta Demokrasi pun diucapkan oleh Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 2018. Beliau menegaskan bahwa rakyat menyambut pesta demokrasi itu dengan kegembiraan, dengan antusiasme yang tinggi serta kedewasaan politik yang matang.

Pemilu 2019 sebagai sebuah Pesta tepatnya Pesta Demokrasi  dapat terlaksana jika semua pihak terlibat aktif dan dengan kesadaran penuh menyiapakan Meja perjamuan Pesta Demokrasi serta para tamu undangan, peserta kontestan pemilu dalam kelayakan menghadiri perjamua Pesta tersebut. Memahami Pemilu 2019 sebagai Pesta, Penulis mencoba menghadirkan sebuah media budaya sebagai  refleksi tentang Pemilu 2019 di tingkat Kabupaten Flores Timur dalam Tradisi Pesta Lamaholot yang disebut dengan Gebia Waja.

Gebia  adalah tempat siri pinang, Waja   berarti menyuguhkan. Gebia Waja  adalah sebuah proses menyuguhkan undangan. Dalam Tradisi Pesta Pernikahan di Lamaholot, tuan pesta mengundang keluarga, masyarakat umum dengan membawakan Gebia Waja dari rumah ke rumah.  Untuk membawakan Gebia Waja, dilalui dengan ritus Tula Gebia, sebuah proses menjadikan wadah tersebut sacral dan kudus sebagai  tempat menaruh   pesan. Saat membawakan Gebia Waja, pembawa pesan menyampaikan pesan- pesan dari tuan pesta, seperti tanggal pernikahan adat, pemberkatan Nikah di Gereja, Resepsi juga undangan untuk bersama- sama bekerja menyiapkan pesta seperti membuat tenda pesta.

Gebia Waja juga sebagai symbol penerimaan tamu yang datang dari jauh. Dengan menyentuh Gebia, tamu diterima dan dilindungi, menjadi keluarga dari keluarga, masyarakat yang dikunjungi. Ketika ada konflik, setelah proses penyelesaian, dilanjutkan dengan ritus makan Sirih Pinang di Gebia yang disebut Tito Gebia Waja ( Tito : menyentuh ). Tito Gebia Waja dilakukan sebelum dimulai sebuah pekerjaan, seperti membangun fondasi rumah atau pelaksanaan ritual adat lainnya. Intinya dengan menyentuh Gebia Waja, semua orang yang terlibat bersatu hati, komitmen untuk bersama sama membangun, mensukseskan sebuah pekerjaan.

 Bagi penulis, Pemilihan Umum 2019 adalah sebuah Pesta Budaya, tempat Ribu Ratu ( masyarakat )  memilih Ata Dike ( orang dengan Budi Baik ) yang dipercayakan untuk membawakan Koda Pulo Kiri Lema ( bahasa Sastra : Pesan, Mandat ).   Ata Dike dalam perspektif  Orang Lamaholot  ( masyarakat di Kabupaten  Flores Timur dan Lemabata ) adalah orang- orang pilihan yang telah melewati proses dan pada akhirnya terpilih untuk membawakan, menyuarahkan suara, harapan- harapan masyarakat untuk membangun Kabupaten Flores Timur, Bumi Lamaholot yang lebih baik.
Gebia Waja adalah Sarana yang digunakan untuk mengundang masyarakat terlibat dalam sebuah kegiatan Pesta. Di dalam Gebia waja yang dibawakan oleh para utusan, dititipkan siri dan pinang serta koda kiri, pesan. Dengan menyentuh Gebia, penerima pesan dipanggil untuk terlibat, melibatkan keseluruhan diri, jiwa dan raga. KPU Flores Timur sebagai pembawa Pesan Konstitusi Demokrasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS, Sekretariat PPK, PPS, KPPS, PAM TPS,  melalui keseluruhan tahapan Pelaksanaan Pemilihan Umum 2019 telah menghadirkan Gebia waja di tengah – tengah masyarakat Flores Timur, di tengah tengah kontestan Pemilu.
Melalui Gebia Waja Pesta Demokrasi, sejarah Pemilihan Umum serentak pertama kali disajikan di atas meja perjamuan dengan berbagai jenis pilihan.  KPU Flores Timur sebagai Implementor Regulasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS dan KPPS berjuang dalam keterbatasan menjadi Penatalayan Pesta Demokrasi. Menjadi Penata, yang memastikan keseluruhan tahapan berproses, berjalan sesuai regulasi. Memastikan masyarakat yang telah memenuhi kriteria sebagai pemilih dapat terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap, atau sebagai Pemilih Kategori Daftar Pemilih Tambahan ( DPTb )  atau Dalam Daftar Pemilih Khusus, memastikan kelengkapan dokumen-dokumen para calon DPRD Kabupaten telah sesuai dengan kriteria dan tuntutan regulasi, memastikan  Logistik Pemilu siap dan telah diterima KPPS pagi hari sebelum pemungutan suara dimulai.
 Jawaban atas Gebia Waja, symbol kesakralan suara, kemurnian hati dan jiwa, tanggal 17 April masyarakat pagi – pagi bergegas menuju TPS untuk menitipkan Koda Pulo Kiri Lema, menaruh harapan pada Ata Dike yang mereka percayakan untuk meneruskan dan mewujudkan harapan , impian mereka. Dalam semangat KPU Melayani,  KPPS di seluruh Pelosok TPS, 689 TPS menjadi Saksi dan pelaku Sejarah, menjadi Pelayan untuk memastikan Pesta Demokrasi hari itu berjalan aman, memastikan bahwa setiap undangan Gebia Waja dapat menitipkan pesan mereka di bilik- bilik suara, dalam kerahasiaan abadi. Di tengah hiruk pikuk keruwetan pemilihan umum, pihak keamanan, TNI-Polri setia menjadi Pelayan yang hadir memberikan rasa aman bagi penyelenggara dan masyarakat.  Di wilayah – wilayah yang menyebakan proses Pleno tingkat Kabupaten tidak berjalan lancar, mereka masih setia, menahan kerinduan kembali menyapa keluarga yang selalu merindukan mereka, anak yang rindu cerita sang ayah, istri yang rindu mendengarkan suka duka selama bertugas.  Mereka yang bertugas di gudang Logistik siap siaga setiap detik, memastikan Gudang Logistik aman.  Yang bertugas di Kantor KPU memastikan keamanan seluruh Komisioner dan staff, memastikan aktivitas di Kantor berjalan dalam suasan aman.   Mereka memastikan Proses Distribusi Logistik ke TPS dan kembali ke Gudang Logistik tanpa hambatan, memastikan keseluruhan Logistik aman. TNI- Polri adalah bagian dari Pelayan Demokrasi. Setelah Proses perhitungan Suara berita tentang hasil di setiap TPS segerah dikirim ke Team Situng di Kabupaten agar segerah mengungah hasil ke Aplikasi Situng, sehingga publik pun dapat mendapatkan informasi perkembangan hasil pemilu.
Pihak Kantor Pos Larantuka berjuang memastikan sebagai Rekanan KPU yang terpercaya dalam mendistribusikan logistic. Pihak PLN Cabang Larantuka memastikan Lampu tetap menyala. Bahwa ada pemadaman tiba – tiba, dengan cepat mereka berjuang mengatasi dan lampu kembali menyala. Pihak Pemerintah Kabupaten Flores Timur memastikan seluruh perangkat Desa, ASN terlibat untuk mensukseskan Pemilihan Umum. Para Tokoh Agama melalui Mibar Agama, melalui Surat Kegembalaan menyeruhkan agar umat terlibat aktif dalam menggunakan Hak Konstitusi sesuai Nurani. Bawaslu Flores Timur bersama jajarannya hadir sebagai sahabat yang memastikan saudaranya tidak jatuh dalam perbuatan yang melanggar regulasi pungut hitung dan rekapitulasi, memastikan para penyelenggara setia pada kode etik sebagai penyelenggara. Para petugas Kesehatan, dokter, Perawat, Bidan sigap melayani penyelenggara yang sakit. Para Kepala Desa yang memfasilitasi para PPS menggunakan aula Kantor Desa sebagai Gudang Logistik Pemilu, sebagai sekretariat PPS. Para Camat bersama seluruh jajarannya yang memfasiltasi PPK dalam menjalankan tugas mereka sebagai penyelenggara.
Semua Pihak dengan caranya masing-masing telah menuturkan kisah dengan bahasa berbeda, telah memainkan peran dengan alur narasi yang berbeda, dan semuaya itu tersatukan dalam semangat persatuan, dalam Satu Gebia Pemilu 2019 di Bumi Lamaholot  Kabupaten Flores Timur.

Berdasarkan Keputusan MK nomor 245-06-19/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 tanggal  6 Agustus 2019, KPU Flores Timur pada tanggal 10 Agustus, bertempat di Aula OMK  St. Cecilia Larantuka KPU Flores Timur menyelenggarakan Rapat Pleno Penetapan Perolehan Kursi dan Calon Terpilih DPRD Kabupaten Flores Timur.
Para Peserta Rapat Pleno Terbuka Penetapan Perolehan Kursi dan Penetapan Calon Terpilih disambut dengan Tarian Kepe Wayan dari Sanggar Tari Nulu Nuda  SMA Yohanes Paulus Waibalun. Ketika para Tamu peserta Rapat Pleno, tamu undangan disapa dengan Siri Pinang yang ditaruh di dalam Gebia ada pesan tersajikan bahwa Perhelatan Demokrasi telah usai. Perbedaan pilihan adalah warna warni Demokrasi. Ada yang kalah, ada yang menang, semuanya menjadi satu, bersatu dalam membangun Lewotana, Kabupaten Flores Timur.




Gebia Waja adalah spirit tradisi budaya dalam mengundang masyarakat, menerima yang berbeda menjadi keluarga, memahami perbedaan, perselisihan sebagai dinamika kehidupan yang harus dimateriakan dalam semangat perdamaian, persatuan sebagai Ata Dike ( Orang baik ). Dengan menyentuh Gebia Waja, setiap orang terpanggil untuk hadir dan terlibat penuh dalam keseluruan proses Pemilu, Proses memilih Pemimpin, wakil rakyat. Sebagaimana Kesakralan dari Gebia Waja proses menterjemahkan makna Gebia Waja, sebuah symbol, melalui Pemilu sebagaimana Prinsip Pemilu, Langsung Umum, Bebas, Rahasia, kesakralan Koda Kiri yang dititip   hendaknya terus memotivasi  semua pihak baik para peserta kontestan Pemilu, para penyelenggara Pemilu dan masyarakat  untuk bersama- sama  dengan tugas dan peran masing-masing membangun Peradaban Kemanusiaan, Ata Dike Lamaholot- Flores Timur.
Melalu Gebia Waja, KPU Flores Timur menterjemahkan eksistensinya sebagai Penatalayan Demokrasi, Pelayan dan Penata  Perjamuan.  Melalui  keseluruah proses dan tahapan, setiap pihak dengan caranya telah membantu KPU Flores Timur untuk terus belajar menjadi Penatalayan Demokrasi yang semakin baik. Melalui Gebia Waja, masyarakat menitipkan Koda Kiri Pulo Lema, melalui Gebia Waja, Konstestan Pemilu berjuang menterjemahkan kesakralan Gebia waja tersebut.


Larantuka, September 2019

URAN, Fabianus Boli
Komisioner KPU Kabupaten Flores Timur

 Beberapa Sumber Tentang Pemilu sebagai Pesta Demokrasi :



CATATAN LEPAS KONSOLIDASI NASIONAL KPU


CATATAN LEPAS KONSOLIDASI NASIONAL
21- 24 September 2019
Dalam Sepenggal Refleksi atas Buku  Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap


Bertempat di JCC Senayan, tiga ribuan anggota KPU Provinsi dan Kabupaten Se Indonesia berkumpul.  23 September 2019 KPU meluncurkan  Pemilihan Serentak 2020, yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 September 2020.  Kegiatan pada tanggal ini sebagai puncak dari rangkaian kegiatan di masing- masing Divisi dan sekretariat sejak tanggal 21 yang tersebar di beberapa tempat di Jakarta.
Momentum ini juga diluncurkan Buku  DPT di Balik Layar. Perjuangan KPU bersama jajaranya sampai tingkat PPS coba dipotret, setiap kisah coba dirangkai sebagai sebuah refleksi perjuangan elemen bangsa ini khusunya KPU dalam mewujudkan Daftar Pemilih Tetap yang berkualitas. Banyak kisah- kisah lepas dari para petugas Pemutakhiran Data Pemilih, PPS, PPK , KPPS yang kadang terelewatkan untuk didokumentasikan. KPU bersama jajaranya berusaha membingkai catatan catatan lepas, kisah- kisah inspiratif penuh perjuangan untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar darinya setiap pihak boleh belajar dan memberikan masukan untuk proses perbaikan penyelenggaraan pemilu pada tahun- tahun mendatang.





Konsolidasi Nasional sebagai sebuah ruang refleksi bersama dari para penyelenggara Pemilu. Pada titik ini sebuah pertanyaan  mengusik Penulis untuk sekedar bertanya tentang  Eksistensi Penyelenggara Pemilu. Selama Proses, tahapan Pemilu 2019, banyak berita Hoax menyerang KPU, banyak narasi ketidakpercayaan kepada KPU bahkan narasi- narasi kebencian mengarahkan pada personal anggota  KPU menghiasi dunia Maya. Arief Budiman, Ketua KPU menuturkan bagaimana Pribadinya diserang denga berita- berita bohong. Semuanya dihadapi dengan senyum. Sebagai Penyelenggara Pemilu, Lembaga yang dipercayakan Konstitusi untuk menyelenggarakan Pemilu, semua penyelenggara dituntut untuk bersikap sebagai seorang Negarawan.


Sosok seorang Negarawan dalam Kepemiluan adalah Alhmarum  Husni Kamil Malik, Mantan Ketua KPU. Buku dengan Judul Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap sebagai sebuah buku kenangan akan Perjuangan Husni Kamil Malik mengisahkan tentang perjuangan KPU bersama seluruh jajaranya membangun sistim kepemiluan yang lebih modern, transpran dan mudah diakses oleh Publik. Perjuangan KPU dalam membangun sistim kepemiluan yang terbuka dimateraikan dengan penghargaan dari Kementrian Hukum dan HAM sebagai  anggota Jaringan  Dokumentasi dan Informasi Terbaik untuk Tingkat Lembaga Negara Non Struktural tahun 2019.





Bagi Penulis, Penyelenggara Pemilu adalah Penatalayan Demokrasi, pihak yang menata Meja Perjamuan Demokrasi dan Melayani Pemilih. Menata Sisitim Kepemiluan agar proses Pemilu, setiap tahapan berjalan sesuai dengan Regulasi, setiap regulasi dapat memenuhi kebutuhan kaum disabilitas, prinsip- prinsip nilai- nilai kemanusiaan. Arief Budiman, Ketua KPU Periode 2017-2022 dalam sambutan untuk Buku kenangan ini mengatakan
“ Pemilu Berintegritas sebagai instrument utama demokrasi tidak hadir begitu saja. Semua ada prosesnya. Benih- benih integritas mesti disemai, dirawat, diberi unsur hara yang cukup agar pohon demokrasi kita terus tumbuh, berkembang dan melahirkan pemilih dan pemimpin yang berintegritas pula. Dengan demikian, keadilan, kesejahteraan dan pemerataan yang menjadi cita-cita konstitusi kita dapat segerah terwujud” (hal xv).

Pemilu sebagai sebuah sistim berproses melewati setiap tantangan. Perjalanan memahat kisah Demokrasi yang semakin moderen butuh kerjsama dan dukungan dari semua pihak. Tanpa peran pihak lain, KPU tidak mampu menterjemahkan amanat Konstitusi  mewujudkan Demokrasi melalui Pemilu yang bermartabat.


 Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap merupakan refleksi perjalanan bangsa ini membangun sistim kepemiluan. Sisitim Pemilu yang dulu sering dimanipulasi, penuh intimidasi perlahan seriring dengan Reformasi, Pemilu semakin ditata sebagai sebuah sistim yang moderen, terbuka, mudah diakses. Sisitim keterbukaan Informasi sebagai sebuah bentuk menuntun Publik melewati lorong- lorong gelap, menuju pemahaman yang benar bukan membangun pemahaman berdasarkan asumsi pribadi apalagi mendasarkan pandangan pada berita bohong.

Sebagai sebuah sistim, KPU mendorong KPU di setiap Provinsi dan Kabupaten untuk terus melakukan inovasi- inovasi  untuk memperkaya dan membaharui sistim kepemiluan. Sebuah contoh, Proses Uji Publik di Provinsi Jawa Tengah sebelum penetapan DPT berbasis Desa Kelurahan sangat membantu proses penetapan DPT yang berkualitas. Proses Uji public yang dilakukan  dengan melibatkan semua kepala dan anggota keluarga di setiap Dusun/ RT lebih efektif daripada sekedar pengumuman melalui corong desa. Praktek baik ini menginspirasi KPU Provinsi Kabupaten Kota untuk menerapkan di masing- masing Satuan Kerja. Bahwa masih ada kekurangan- kekurangan, adalah bagian dari proses pembelajaran sehingga setiap tahapan yang dilalui dapat berkontribusi pada kesuksesan Pemilu.


Setiap Pengalaman dalam penyelenggaraan Pemilihan umum merupakan proses edukasi bagi Penyelenggara pemilu, Partai Politik dan masyarakat. Edukasi, Ex : keluar, Ducere; Menghantar sebagai proses menghantar orang keluar dari situasi ketidaktahuan, situasi gelap menuju sebuah pemahaman baru, menuju sebuah sistim yang terang benderang. Bagi penyelenggara Pemilu atau pun para pegiat demokrasi, setiap catatan catatan lepas merupakan sumber pengetahuan yang harus didokumentasikan dengan baik agar setip orang boleh belajar, memahami sejarah kepemiluan, boleh menimbah kreativitas- kreativitas dalam mentransformasi pesan- pesan kepemiluan.
Sebagai sebuah proses edukasi, KPU pun terus berupaya mengembangan Sistim IT yang lebih efektif dan efisien. Wacana E- Rekap di mana hasil pungut hitung di tingkat TPS diproses langsung sehingga tidak ada lagi proses rekapitulasi di tingkat Kecamatan. Dari segi waktu dan biaya , sistim ini akan sangat membantu. Untuk itu butuh pelatihan – pelatihan yang intens bagi para KPPS, PPS dan PPK. Ini adalah satu contoh proses inovasi dalam mendesign sistim kepemiluan. Proses edukasi juga bagi para pemilih untuk sadar dan taat untuk mengurusi dokumen kependudukan sehingga dapat menggunakan hak konstitusi setelah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap.
 DPT selalu menjadi persoalan bahkan menjadi materi dalam gugatan hasil di sidang Mahkama Konstitusi.  KPU telah berjuang mendata warga yang secara regulasi telah berhak menyalurkan hak konstitusinya. Ada banyak tuduhan – tuduhan , berita bohong tentang data ganda. Mersepon berita ini KPU bersama jajaaranya telah membuktikan bahwa sistim kepemiluan telah berjalan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.


Mewujudkan DPT yang bersih adalah tanggungjawab semua pihak bukan hanya KPU saja. Bahwa peran dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan agar informasi tentang data kependudukan terdokumentasikan dengan baik dan benar. Harapan kedepan, segenap masyarakat telah mengurusi dokumen kependudukan termasuk E- KTP sebagai syarat untuk dapat memilih. Dengan tertib mengurusi dokumen kependudukan, masyarakat calon pemilih telah berkontribusi bagi terwujudnya sistim kepemiluan yang bermartabat dan sesuai dengan regulasi.



Buku Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap menarasikan perjalanan KPU dalam mendesign Kepemiluan yang lebih moderen.  Buku ini merasikan dengan  indah tentang soliditas team, komunikasi kemitraan dengan pihak lain, tentang kesadaran akan amanah yang dipercayakan.  KPU sebagai lembaga Independen yang dipercayakan Konstitusi adalah lembaga yang sangat dinamis Dengan berefleksi atas peran dan kipra Husni  Kamil Malik, siapapun yang tertarik dengan sistim demokrasi dan Pemilihan Umum sebagai sarana mewujudkan Demokrasi tersebut hendaknya terpanggil untuk membaca dan berziarah bersama menyelami setiap spirit pergumulan para penyelenggara Pemilihan umum, orang- orang yang dipanggil untuk melayani Rakyat empunya daulat suara di meja Perjamuan Demokrasi.

#KPU Penatalayan Demokrasi

Larantuka, 2 Oktober 2019

URAN, Fabianus Boli
Komisioner KPU Flores Timur






Kamis, 12 September 2019

Legenda Tulang Ikan di Lewoawang

Berlokasi di Pantai Lewoawang, Kecamatan Ile Bura Kabupaten Flores Timur, tepatnya di Tanjung Ike Kote Wutu, ada peninggal yang melegenda yakni Tulang Ikan Paus.
Tuturan Tradisi bahwa Ikan Paus ini adalah penolong dua anak kecil yang diculik oleh Hantu.
Sesudah ditolong, pesan ikan paus bahwa dalam beberapa hari kedepan, akan ada Ikan besar yang terdampar di pantai. Orang lain akan mengambil daging saya tetapi kalian berdua tidak boleh. Tugas kalian adalah mengambil tulang saya dan menyimpan baik baik.

Tulang ikan yang disimpan sampai sekarang. Kondisinya sebagian sudah rusak tetapi masih nampak jelas.

Masyarkat tidak berani mengambil tulang ikan tersebut, atau potongan sekecil apapun untuk dibawa ke rumah.

ini merupakan sebuah Potensi asset Wisata Bahari yang harus dikemas dan dikelola oleh Pemerintah Desa melalui pemanfaatan Dana Desa













Sumber Foto dan Video : Dokumentasi Pribadi Uran Oncu



Jumat, 06 September 2019

DARI KETERBATASAN KPPS FLORES TIMUR MERAJUT DEMOKRASI TANPA PSU


“Banggalah bahwa kalian menjadi bagian dari sejarah Pemilihan Umum serempak  pertama kali di Indonesia. Banggalah bahwa kalian menjadi Pejuang Demokrasi di garis terdepan, orang - orang pilihan yang memastikan Proses Pemungutan dan Perhitungan Suara tanggal 17 April 2019 berjalan lancar dan sesuai regulasi. Pada Kalianlah Harapan Pesta Demokrasi dengan Seluruh rangkaian Tahapan menjadi bermakna ketika Flores Timur boleh melewati Pesta demokrasi ini tanpa PSU”. kalimat- kalimat  motivasi yang penulis sampaikan saat memberikan bimbingan Teknis Pungut Hitung bagi para KPPS
Keruwetan dengan lima jenis surat suara, sekian banyak formulir,  bagaimana melayani para pemiih DPT, DPTb dan DPK, cara mengisi setiap formulir dipaparkan saat bimtek dengan peserta yang terbatas karena  keterbatasan anggaran. Atas keterbatasan jumlah KPPS yang mengikuti bimtek oleh KPU yakni 3 orang per KPPS, PPK dan PPS melanjutkan dengan bimtek mini ke setiap KPPS. Durasi Bimtek yang singkat dengan persiapan lainnya menjelang tanggal 17 April, semuaya dijalankan dengan penuh semangat dan total.
Aspek lain adalah keterbatasan Sumber Daya Manusia. PPS pun berlomba- lomba dengan pihak partai Politik yang mencari para saksi, berlomba dengan Pengawas tingkat Kecamatan yang gencar melakukan perekrutan Pengawas TPS. Satu hal yang patut dibanggakan adalah di tengah keterbatasan, prinsip Penyelenggara yang netral tetap ditegakan, tuntutan sesuai regulasi setia dipegang teguh. Kerbatasan ini pun akhirnya menggerakan Jiwa Ernesta Kata, mantan Ketua KPU Flores  Timur untuk menjadi KPPS di TPS 003 Kelurahan Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka












Sejarahpun mencatat, saat matahari belum  menyibak kesunyian pagi para petugas KPPS, PAM TPS, PPK, PPS telah bergerak menyibak sisa sisa mimpi karena Panggilan Negara sedang menanti. Mimpi keruwetan yang selama ini dihadapi  dalam pemikiran, saat itu siap menjadi kenyataan. Slogan KPU Flores Timur Tanpa PSU sepertinya menjadi doa yang menggerakan seluruh energi KPPS. Durasi Waktu 17 April, pagi Pkl 07.00 proses Pemungutan Suara dan dilanjutkan dengan perhitungan suara  sampai batas waktu 18 April  Pkl  12.00, dilanjutkan dengan proses salinan Dokumen C1 ke pihak lain, proses serah terima, pengemasan logistic dan pendistribusian kembali kotak Pemilu ke Sekretariat PPK, KPPS melewati dengan tetap semangat meskipun keletihan telah menderah fisik mereka.  Ada sekian banyak kisah yang dituturkan oleh para KPPS, PPK dan PPS serta team Monitoring dari KPU, kisah- kisah  sedih, lucu mewarnai perjuangan para KPPS.


Kasman Ola Samon  Ketua KPPS Pemilu 2019 di Desa Riangduli, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus melewati kisah yang teramat sedih, ditinggalkan Sang Ibunda Tercinta pada pukul 01 Pagi tanggal 17 April 2019. Imannya diuji antara Cinta pada Sang Ibunda dan Tugas Negara. Karena Cinta pada Sang Ibunda Ia tetap setia menjalankan tugas sebagai Ketua KPPS  dan sesekali lari kembali ke rumah memeluk jasad ibundanya yang terbujur kaku. Pukul  15.00 dalam ketegaran Jiwa Sang Ibunda dihantar  menuju perisitirahatan kekal dan Kasman tetap kembali bertugas melakukan Rekapitulasi suara sampai selesai yakni dini hari tanggal 18 April 2019.  Kisah Kasman ini pun diliput oleh team  Liputan6.com, Kamis (18/4/2019). Kisah Pilu Ketua KPPS di NTT yang Ditinggal Sang Ibu Saat Pemilu


Kasman, Ketua KPPS. Sumber Foto : Liputan 6.com



Kisah lain tetang KPPS dari Kecamatan Wulanggitang. Saat proses perekapan ada selisih di jumlah Pemilih yang menggunakan Hak pilih dengan jumlah surat suarah sah dan tidak sah. Para KPPS yang semuanya perempuan, berjuang mencari tau. Selisih pun tidak berhasil mereka temukan.  Ketakutan akan kesalahan mengoncang jiwa mereka. Tangisan mereka pun pecah. Dalam keterbatasan, mereka pun meminta bantuan Dukun untuk membantu mereka dengan ritual adat. Telur ayam pun dipecahkan di lokasi TPS. Seolah - olah doa mereka dalam tradisi budaya terkabul. Anggota PPK Wulanggitang tiba, Saudara Eman  Tupen  Bara. Selisih angkah berhasil ditemukan. Apakah Karena Ritual adat atau karena kehadiran dari anggota PPK yang membantu mereka menemukan selisih angkah, satu hal yang pasti Ketulusan Jiwa Mereka, penyerahan total atas keterbatasan mereka  kepada Tuhan telah menghantar mereka melewati proses yang melelahkan jiwa dan raga dengan penuh sukacita.

 Dari Kecamatan Wotan Ulumado, Kisah  tentang suara Sah bagi calon atau Partai. Ketika ada dua tusukan di calon dan di partai, Ketua KPPS membacakan bahwa suara sah untuk Partai. Hal ini diprotes oleh saksi yang hadir. Jawaban Ketua KPPS, “yang ikut bimtek saya atau kamu. Saksi pun menjawab, “Teman baca ulang buku panduan. Ketua KPPS pun membuka buku panduan KPPS, membaca lalu menjawab, Teman saya yang salah, engkau yang benar.  Si saksi pun merespon, Teman, kau kira kerja ini seperti engko tembak ikan kah? Dan suasana pun penuh gelak tawa karena guyonan guyonan lucu dua sahabat ini.  Poin dari kisah ini adalah saksi memainkan peran sebagai  Correctio Fraternal.  Banyak informasi yang diperoleh bahwa pemahaman teknis antara KPPS dengan Pengawas TPS dan Para Saksi sangat berbeda dan menyebabkan perdebatan -  perdebatan. Hal ini karena Bimtek ke Para Pengawas TPS tidak melibatkan KPU. Kisah di Wotan Ulumado, pengawas TPS dapat memberikan koreksi yang benar karena, saat Bimtek ke para KPPS, Ketua Panwascam Wotan Ulumado meminta Ketua PPK Wotan Ulumado agar para pengawas TPS pun boleh ikut dalam Bimtek. Pemahaman Teknis yang berbeda ini pula yang menyebabkan tata cara melayani pemilih Kategori dalam Daftar Pemilih Khusus.  Ketika Para pemilih kategori DPK tidak bisa menunjukkan  dokumen Kependudukan yakni E- KTP atau Suket ( Surat Keterangan ) dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Flores Timur, KPPS dengan bijakasana menjelaskan regulasi bahwa mereka tidak bisa dilayani.  Bahwa ada pandangan berbeda dari pengawas TPS dan Saksi, KPPS tetap teguh pada regulasi ini.


               Pemahaman teknis Pungut Hitung harus dikuasai oleh KPPS, Pengawas TPS dan Para Saksi. Dengan pemahaman yang baik, maka semua pihak dapat berkontribusi untuk menjalankan keseluruhan prosedur dengan benar sesuai regulasi. Proses koreksi sejak awal adalah bentuk control moral agar para penyelenggara tidak jatuh dalam kesalahan. Kehadiran para saksi dan Pengawas TPS bukan menanti dan mengamati kapan ada kesalah dibuat tetapi bagaimana mengawal agar TIDAK ADA KESALAHAN TERJADI. Spirit ini yang harus dipahami dengan benar. Untuk itu maka pada proses pemilihan –pemilihan selanjutya, Bimbingan Teknis ke Pengawas TPS dan Para Saksi harus dilakukan oleh KPU bersama Bawaslu karena yang sangat memahami hal teknis pelaksanaan Pungut Hitung adalah KPU dan Bawaslu membantu dari aspek pengawasan.



Kesulitan Akses ke setiap Desa tidak pernah mematahkan semangat para penyelenggara di tingkat PPK dan PPS. Dari Tanjung Bunga, kegiatan Bimbtek dibagi kedalam dua kelas. Untuk Kelas kedua, meliputi Desa  Latonliwo,  Patisirawalang, Aransina dan Latonliwo Dua. Lokasi Kegiatan Bimtek di Desa terujung Pulau Flores, Patisirawalang. Daerah yang terkenal dengan nama  Basira, sebuah perkampungan yang dapat dikatakan terisolir. Akses ke lokasi ini sangat sulit, medannya sangat berat.  Jarak dari Waiklibang Pusat Kecamatan Tanjung Bunga ke Latonliwo sekitar 28 KM.  Jarak tempuh mencapai tiga jam dengan sepeda motor. Sedangkan ke Desa Patisirawalang desa terujung dengan kondisi jalan tanah kurang lebih 9 KM. Wilayah -  wilayah ini dalam jadwal distribusi logistik Pemilu  selalu menjadi yang terdahulu karena akses ke sana sangat berat.  Biasanya distribusi logistik melalui laut, dan selanjutnya dipikul mendaki bukit menuju kampung –kampung. Penulis bersyukur boleh mengalami pergumulan PPK, PPS dan KPPS melewati medan yang teramat berat ini. Ketika kegiatan Bimtek dilakukan di sini, warga masyarakat sangat senang dan para KPPS dari Desa lain pun senang karna kesempatan ini. Jarang ada kunjungan – kunjungan dari pihak luar ke wilayah ini. Menurut  Rofina Bince Maran, anggota PPK Tanjung Bunga, ketika kegiatan Bimtek dilakukan di desa ini, Kepala Desa  dan sangat antusias dan beliau pun mengikuti Bimtek bersama KPPS sampai selesai










 Dalam wawancara dengan Ernesta Katana Mantan Ketua KPU Flores Timur yang bertugas sebagai ketua KPPS di TPS 003 Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka, hal teknis membuka surat Suara oleh KPPS dan menyerahkan ke para pemilih adalah hal yang sangat teknis tetapi sangat menentukan karena dengan menyerahkan Surat suara dalam keadaan terbuka ke pemilih, KPPS telah terhidar dari kesalahan memberikan surat suara lebih dari aspek jumlah maupun jenis.  Hal lain adalah sangat membantu pemilih untuk segerah menentukan pilihan di dalam bilik suara karena tidak disibukan lagi dengan membuka surat suara. Hal teknis lainnya adalah di awal perhitungan Jumlah Surat suara, dilakukan dengan cepat karena dibagi team dan masing-masing team dikawal oleh Para Saksi dan dipantau oleh Pengawas TPS. Kunci kesukseskan di TPS ini dan TPS laiinya di seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur adalah Para KPPS didampingi oleh PPK dan PPS melakukan simulasi pungut hitung secara swadaya tanpa anggaran.

Dari Aspek biaya, sangat disadari bahwa honorarium petugas KPPS sangat kecil dibandingkan dengan beban tugas yang sangat berat. Tetapi panggilan jiwa untuk menjadi bagian dalam sejarah kepemiluan ini, panggilan jiwa untuk mengabdi Lewotana Flores Timur mengalahkan keterbatasan anggaran ini. Saat Bimtek, disampaikan besaran Honorarium KPPS. Bahwa ada yang merasa tidak puas, adalah hal yang teramat wajar. KPU Flores Timur sangat bersyukur karena tidak ada berita  KPPS mengundurkan diri karena kecilnya honor penyelenggara KPPS.
 Masih banyak kisah tentang perjuangan para KPPS. Keterbatasan waktu tidak mengijinkan untuk merangkai semuanya saat ini. Biarkan kisah- kisah lainnya menjadi tuturan lisan dan pada waktunya semoga dapat menjadi sebuah tulisan.  Semoga dengan Foto- foto perjuangan Para KPPS saat mengikuti Bimtek dan menjalankan tugas di hari pemungutan suara  di lembaran Landscape  Foto foto dapat memberikan gambaran tentang Semangat Melayani, Semangat memberikan yang terbaik bagi Pesta Demokrasi. Karena Ketulusan Jiwa, integritas sebagai ujung tombak, KPU Flores Timur bersama seluruh jajarannya, PPK dan PPS berhasil menjalankan tugas sebagai Penatalayan Demokrasi, berhasil menyajikan Perjamuan Demokrasi Pemilihan Umum serempak Nasional 2019.

Penulis
URAN, Fabianus Boli
Anggota Komisioner KPU Flores Timur

























MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...