Jumat, 11 Desember 2015

MENGEMBALIKAN SPRITUALITAS KEKATOLIKAN SMPK ILE BURA



Momentum penyusunan  Rencana Strategis ( Renstra)  SMPK Ilebura, 5- 6 Desember 2015 merupakan sebuah tapak awal untuk menata kembali eksistensi dan perjalanan lembaga pendidikan yang berlokasi di Lewotobi, Desa Birawan Kecamatan Ilebura Kabupaten Flores Timur. Paulus Senggo Hokeng, S. Fil, guru sekaligus kaur kesiswaan di awal lokakarya Renstra, menyuguhkan sebuah pertanyaan reflektif...” Ilebura bukanlah terakhir dalam hitungan sejarah. Ilebura terus bergerak dan SMPK Ilebura pun wajib berdiam diri bertanya “ Quo Vadis”.
Quo Vadis SMPK Ilebura di usianya yang ke 47 tahun, bagi Pastor Paroki St. Yosep Lewotobi Rm Marcel lamuri, Pr. merupakan sebuah momentum untuk memasuki tanah terjanji. ” Penyususnan Renstra dua hari ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk mempersiapkan diri dan menyambut tahun emas, 50 tahun SMPK Ilebura, tahun di mana kita mengembalikan  lembaga pendidikan Katolik yang terpercaya bagi pilihan anak dan ortu di tengah gencarnya kehadiran sekolah-sekolah negeri dengan segala tawaran kemurahan biaya pendidikan.”. Sebagaimana ziarah umat Israel di padang gurun selama 40 tahun, SMPK Ilebura pun melakukan ziarahnya  sejak 15 Januari 1968 di bawah tokoh pendidik Pater ( alhmarun) Lambertus lamen Uran, SVD. Spritualitas pendirian sekolah ini adalah menghadirkan Sang Sabda dalam realita kehidupan sebagaimana makna dari SVD, Society Verbi Divini, Serikat Sabda Allah. Cara memahami Sang Sabda, Sumber Kehidupan adalah melaui proses pembelajaran, sebuah proses transformasi menghantar orang dari ketidaktahuan menuju pemahaman, dari ketidaan keterampilan menuju kesanggupan mengolah keterampilan. Proses yang menghantar orang untuk memahami dirinya sebagai warga masyarakat dan warga persekutuan umat Allah.
Upaya mewujudkan kualitas proses transformasi dalam lembaga pendidikan, menurut Rm. Thomas Labina, Pr , pakar Managemen Pendidikan , lulusan dari Filipinina yang saat ini bertugas  sebagai sekretaris Yapersuktim ( Yayasan Persekolahan Umat Katolik Flores Timur) membutuhkan keberanian dari semua pihak untuk berani membuat terobosan yakni mendesign kurikulum sebagai sebuah upaya memenuhi kebutuhan wilayah bukan untuk menjawab keinginan dan tuntutan dari Jakarta. Beliau menawarkan konsep bagi kaur kurikulum yakni : Aspek kognitif : 20 %, Afektif, 50%, dan Psikomotorik, 30 %. Baginya sekolah sekolah Swasta Katolik harus tetap menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga yang terus menjadi pioner dalam mentrasformasi Sang Sabda Menjadi Manusia, menjadi sekolah yang peduli pada penyiapan generasi mudah untuk sadar, peduli dan memiliki keterampilan dalam merancang dan mengkualitaskan dirinya sebagai umat beriman.
Kehadiran sekolah-sekolah Negeri dengan segala kemudahaanya dari pemerintah tidak menggoyangkan iman umat di wilayah ini untuk mengubah status sekolah ini menjadi sekolah negeri. Ketika kehadiran sekolah-sekolah negeri, muncul beberapa aspirasi dari masyarakat untuk mengubah status sekolah ini dengan alasan agar memudahkan mendapatkan bantuan dari pemerintah dan biaya sekolah menjadi murah. Kepala Desa Riang Bura Tonce  Wuring mewakili masyarakat Riang buara  menegaskan “ SMPK Ilebura sekali Katolik tetap Katolik”.   Seruan ini pun ditegaskan oleh Kepala Desa Birawan, Tarsisius Buto Muda bahwa SMPK Ilebura sebagai asset desa, aset warisan harus tetap dipertahankan ciri khasnya sebagai Lembaga Pendidikan Katolik. Pemerintahan Desa Birawan melalui Program Muatan Lokal Terintegrasi kerjasama Pemerintah desa dengan SMPK Ilebura menunjukkan bahwa pemerintah sangat menaruh perhatian pada peningkatan kualitas lembaga pendidikan ini.  Karena kualitasnya maka para Kepala Sekolah Dasar pendukung SMPK Ilebura menegaskan kembali komitmen mereka untuk mengarahkan para siswa untuk melanjutkan pendidikan mereka di SMPK Ilebura.

Berkaitan dengan identitas kekatolikan, suarah alumnus SMPK Ilebura dari Kota Vatikan, P. Markus Solo Kwuta, SVD menegaskan bahwa Lembaga Pendidikan ini HARUS TETAP DIPERTAHANKAN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN KATOLIK.  Mengubah status, identitas sekolah ini menjadi sekolah negeri adalah sebuah bentuk pengingkran akan sejarah, akan nilai dan juga pengingkaran akan nilai Kristiani. Untuk itu lembaga pendidikan ini tidak boleh berjalan sendirian, semua pihak harus terlibat. Beliau mendesak untuk segerah dibentuk wadah bagi para alumnus/alumni SMPK Ilebura. Dan ini pun menjadi sebuah keputusan Renstra. Beberapa keputusan Renstra adalah : Restrukturisasi dan Revitalisasi Lembaga Pendidikan termasuk Komite SMPK Ilebura yang selama ini tidak jelas dan tidak memilik program kerja yang jelas. Penyusunan Rencana Anggaran Sekolah, pembentukan wadah alumni, Penguatan program  mulok terintegrasi, Iuran pendidikan melalui Paroki dan kegiatan sosialisasi tentang hasil Renstra.
Melalui Renstra ini, Indentitas Lembaga Pendidikan kembali dipertegas yang terungkap dalam Visi SMPK Ilebura “Terwujudnya Lembaga Pendidikan Katolik yang Berkualitas, Mandiri, Berbudaya dan Berdaya Saing”.
Identitas Kekatolikan  sebagai nilai yang menjiwai keseluruhan aktivitas sekolah, menjiwai seluruh komponen yang terlibat di dalamnya. Berkualitas dalam berilmu, Iman dan Kepribadian. Mandiri dalam aspek finansial juga  dalam keterampilan. Artinya melalui design kurikum, para siswa memperoleh keterampilan atau mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk menjadi mandiri. Mandiri juga berarti apapun bantuan dari pihak ketiga termasuk pemerintah, itu  sebagai modal untuk mewujudkan kemandirian. Berbudaya dalam aklak sebagai manusia budaya Lamaholot, mengenal dan menghayati budaya lokal. Melalui muatan lokal, para siswa dimampukan untuk memahami dan mengembangkan warisan budaya sebagai  sebuah potensi untuk membangun masa depannya.
Sebagaimana sebagai sekolah pertama di Yaperskutim yang melakukan Restra, sekolah pertama yang melakukan Muatan Lokal Terintegrasi,  bagi Rm. Marcel Pastro Paroki St Yosep  Lewotobi,  SMPK Ilebura diharapan menjadi Terdepan  dalam pembaharuan pendidikan, terdepan  dalam menegaskan identitas dirinya. Dan menutup renstra ini, Rm Thomas mengajak semua peserta untuk terus menjadi Pioner dan Pahlawan. Menjadi Pioner artinya terus menjadi orang pertama yang membawa perubahan dan menjadi Pahlawan artinya ketika orang lain sudah menyerah, ia tetap teguh berjuang. SMPK Ile Bura sebagai nama dari Ile : Gunung dan Bura : mendidih,  terus berdiri tegak mewartakan Kekatolikan,  Gunung yang dapat dipandang setiap orang, gunung dengan segalah keindahaanya di lerang bukitnya menjadi sebuah ziarah iman bagi mereka yang mau memahami apa itu makan Pendidikan di Lembaga Pendidikan Katolik.  Bura artinya terus bersuarah dalam peningkatan kualitasnya. Sekali  Sekolah katolik tetap Sekolah  Katolik.





Ket. Foto. Rm. Thomas Labina sedang mempresentasikan konsep Pendidikan berbasis kebutuhan. Lokasi di SMPK Ilebura. Peserta yang hadir   50 orang. Sumber foto : uran oncu


Uran Faby
Almunus SMPK Ile Bura
Pemerhati masalah pendidikan, sosial dan budaya
Penggagas Mulok Terintegrasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...