Momentum penyusunan Rencana Strategis ( Renstra) SMPK Ilebura, 5- 6 Desember 2015 merupakan
sebuah tapak awal untuk menata kembali eksistensi dan perjalanan lembaga
pendidikan yang berlokasi di Lewotobi, Desa Birawan Kecamatan Ilebura Kabupaten
Flores Timur. Paulus Senggo Hokeng, S. Fil, guru sekaligus kaur kesiswaan di
awal lokakarya Renstra, menyuguhkan sebuah pertanyaan reflektif...” Ilebura
bukanlah terakhir dalam hitungan sejarah. Ilebura terus bergerak dan SMPK
Ilebura pun wajib berdiam diri bertanya “ Quo Vadis”.
Quo Vadis SMPK Ilebura di usianya
yang ke 47 tahun, bagi Pastor Paroki St. Yosep Lewotobi Rm Marcel lamuri, Pr. merupakan
sebuah momentum untuk memasuki tanah terjanji. ” Penyususnan Renstra dua hari ini adalah waktu yang tepat bagi kita
untuk mempersiapkan diri dan menyambut tahun emas, 50 tahun SMPK Ilebura, tahun
di mana kita mengembalikan lembaga
pendidikan Katolik yang terpercaya bagi pilihan anak dan ortu di tengah
gencarnya kehadiran sekolah-sekolah negeri dengan segala tawaran kemurahan
biaya pendidikan.”. Sebagaimana ziarah umat Israel di padang gurun selama
40 tahun, SMPK Ilebura pun melakukan ziarahnya sejak 15 Januari 1968 di bawah tokoh pendidik
Pater ( alhmarun) Lambertus lamen Uran, SVD. Spritualitas pendirian sekolah ini
adalah menghadirkan Sang Sabda dalam realita kehidupan sebagaimana makna dari
SVD, Society Verbi Divini, Serikat
Sabda Allah. Cara memahami Sang Sabda, Sumber Kehidupan adalah melaui proses
pembelajaran, sebuah proses transformasi menghantar orang dari ketidaktahuan
menuju pemahaman, dari ketidaan keterampilan menuju kesanggupan mengolah
keterampilan. Proses yang menghantar orang untuk memahami dirinya sebagai warga
masyarakat dan warga persekutuan umat Allah.
Upaya mewujudkan kualitas proses
transformasi dalam lembaga pendidikan, menurut Rm. Thomas Labina, Pr , pakar
Managemen Pendidikan , lulusan dari Filipinina yang saat ini bertugas sebagai sekretaris Yapersuktim ( Yayasan
Persekolahan Umat Katolik Flores Timur) membutuhkan keberanian dari semua pihak
untuk berani membuat terobosan yakni mendesign kurikulum sebagai sebuah upaya
memenuhi kebutuhan wilayah bukan untuk menjawab keinginan dan tuntutan dari
Jakarta. Beliau menawarkan konsep bagi kaur kurikulum yakni : Aspek kognitif :
20 %, Afektif, 50%, dan Psikomotorik, 30 %. Baginya sekolah sekolah Swasta
Katolik harus tetap menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga yang terus
menjadi pioner dalam mentrasformasi Sang Sabda Menjadi Manusia, menjadi sekolah
yang peduli pada penyiapan generasi mudah untuk sadar, peduli dan memiliki
keterampilan dalam merancang dan mengkualitaskan dirinya sebagai umat beriman.
Kehadiran sekolah-sekolah Negeri
dengan segala kemudahaanya dari pemerintah tidak menggoyangkan iman umat di
wilayah ini untuk mengubah status sekolah ini menjadi sekolah negeri. Ketika
kehadiran sekolah-sekolah negeri, muncul beberapa aspirasi dari masyarakat
untuk mengubah status sekolah ini dengan alasan agar memudahkan mendapatkan
bantuan dari pemerintah dan biaya sekolah menjadi murah. Kepala Desa Riang Bura
Tonce Wuring mewakili masyarakat Riang
buara menegaskan “ SMPK Ilebura sekali Katolik
tetap Katolik”. Seruan ini pun ditegaskan oleh Kepala Desa
Birawan, Tarsisius Buto Muda bahwa SMPK Ilebura sebagai asset desa, aset
warisan harus tetap dipertahankan ciri khasnya sebagai Lembaga Pendidikan
Katolik. Pemerintahan Desa Birawan melalui Program Muatan Lokal Terintegrasi
kerjasama Pemerintah desa dengan SMPK Ilebura menunjukkan bahwa pemerintah sangat
menaruh perhatian pada peningkatan kualitas lembaga pendidikan ini. Karena kualitasnya maka para Kepala Sekolah
Dasar pendukung SMPK Ilebura menegaskan kembali komitmen mereka untuk
mengarahkan para siswa untuk melanjutkan pendidikan mereka di SMPK Ilebura.
Berkaitan dengan identitas
kekatolikan, suarah alumnus SMPK Ilebura dari Kota Vatikan, P. Markus Solo
Kwuta, SVD menegaskan bahwa Lembaga Pendidikan ini HARUS TETAP DIPERTAHANKAN
SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN KATOLIK. Mengubah
status, identitas sekolah ini menjadi sekolah negeri adalah sebuah bentuk
pengingkran akan sejarah, akan nilai dan juga pengingkaran akan nilai
Kristiani. Untuk itu lembaga pendidikan ini tidak boleh berjalan sendirian,
semua pihak harus terlibat. Beliau mendesak untuk segerah dibentuk wadah bagi
para alumnus/alumni SMPK Ilebura. Dan ini pun menjadi sebuah keputusan Renstra.
Beberapa keputusan Renstra adalah : Restrukturisasi dan Revitalisasi Lembaga
Pendidikan termasuk Komite SMPK Ilebura yang selama ini tidak jelas dan tidak
memilik program kerja yang jelas. Penyusunan Rencana Anggaran Sekolah,
pembentukan wadah alumni, Penguatan program
mulok terintegrasi, Iuran pendidikan melalui Paroki dan kegiatan
sosialisasi tentang hasil Renstra.
Melalui Renstra ini, Indentitas
Lembaga Pendidikan kembali dipertegas yang terungkap dalam Visi SMPK Ilebura “Terwujudnya
Lembaga Pendidikan Katolik yang Berkualitas, Mandiri, Berbudaya dan Berdaya
Saing”.
Identitas Kekatolikan sebagai nilai yang menjiwai keseluruhan
aktivitas sekolah, menjiwai seluruh komponen yang terlibat di dalamnya. Berkualitas
dalam berilmu, Iman dan Kepribadian. Mandiri dalam aspek finansial juga dalam keterampilan. Artinya melalui design
kurikum, para siswa memperoleh keterampilan atau mengembangkan
keterampilan-keterampilan untuk menjadi mandiri. Mandiri juga berarti apapun
bantuan dari pihak ketiga termasuk pemerintah, itu sebagai modal untuk mewujudkan kemandirian. Berbudaya
dalam aklak sebagai manusia budaya Lamaholot, mengenal dan menghayati budaya
lokal. Melalui muatan lokal, para siswa dimampukan untuk memahami dan
mengembangkan warisan budaya sebagai
sebuah potensi untuk membangun masa depannya.
Sebagaimana sebagai sekolah
pertama di Yaperskutim yang melakukan Restra, sekolah pertama yang melakukan
Muatan Lokal Terintegrasi, bagi Rm. Marcel
Pastro Paroki St Yosep Lewotobi, SMPK Ilebura diharapan menjadi Terdepan dalam pembaharuan pendidikan, terdepan dalam menegaskan identitas dirinya. Dan
menutup renstra ini, Rm Thomas mengajak semua peserta untuk terus menjadi Pioner
dan Pahlawan. Menjadi Pioner artinya terus menjadi orang pertama yang membawa
perubahan dan menjadi Pahlawan artinya ketika orang lain sudah menyerah, ia
tetap teguh berjuang. SMPK Ile Bura sebagai nama dari Ile : Gunung dan Bura :
mendidih, terus berdiri tegak mewartakan
Kekatolikan, Gunung yang dapat dipandang
setiap orang, gunung dengan segalah keindahaanya di lerang bukitnya menjadi
sebuah ziarah iman bagi mereka yang mau memahami apa itu makan Pendidikan di
Lembaga Pendidikan Katolik. Bura artinya
terus bersuarah dalam peningkatan kualitasnya. Sekali Sekolah katolik tetap Sekolah Katolik.
Ket. Foto. Rm. Thomas Labina
sedang mempresentasikan konsep Pendidikan berbasis kebutuhan. Lokasi di SMPK
Ilebura. Peserta yang hadir 50 orang.
Sumber foto : uran oncu
Uran Faby
Almunus SMPK Ile Bura
Pemerhati masalah pendidikan,
sosial dan budaya
Penggagas Mulok Terintegrasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar