Kamis, 12 September 2019

Legenda Tulang Ikan di Lewoawang

Berlokasi di Pantai Lewoawang, Kecamatan Ile Bura Kabupaten Flores Timur, tepatnya di Tanjung Ike Kote Wutu, ada peninggal yang melegenda yakni Tulang Ikan Paus.
Tuturan Tradisi bahwa Ikan Paus ini adalah penolong dua anak kecil yang diculik oleh Hantu.
Sesudah ditolong, pesan ikan paus bahwa dalam beberapa hari kedepan, akan ada Ikan besar yang terdampar di pantai. Orang lain akan mengambil daging saya tetapi kalian berdua tidak boleh. Tugas kalian adalah mengambil tulang saya dan menyimpan baik baik.

Tulang ikan yang disimpan sampai sekarang. Kondisinya sebagian sudah rusak tetapi masih nampak jelas.

Masyarkat tidak berani mengambil tulang ikan tersebut, atau potongan sekecil apapun untuk dibawa ke rumah.

ini merupakan sebuah Potensi asset Wisata Bahari yang harus dikemas dan dikelola oleh Pemerintah Desa melalui pemanfaatan Dana Desa













Sumber Foto dan Video : Dokumentasi Pribadi Uran Oncu



Jumat, 06 September 2019

DARI KETERBATASAN KPPS FLORES TIMUR MERAJUT DEMOKRASI TANPA PSU


“Banggalah bahwa kalian menjadi bagian dari sejarah Pemilihan Umum serempak  pertama kali di Indonesia. Banggalah bahwa kalian menjadi Pejuang Demokrasi di garis terdepan, orang - orang pilihan yang memastikan Proses Pemungutan dan Perhitungan Suara tanggal 17 April 2019 berjalan lancar dan sesuai regulasi. Pada Kalianlah Harapan Pesta Demokrasi dengan Seluruh rangkaian Tahapan menjadi bermakna ketika Flores Timur boleh melewati Pesta demokrasi ini tanpa PSU”. kalimat- kalimat  motivasi yang penulis sampaikan saat memberikan bimbingan Teknis Pungut Hitung bagi para KPPS
Keruwetan dengan lima jenis surat suara, sekian banyak formulir,  bagaimana melayani para pemiih DPT, DPTb dan DPK, cara mengisi setiap formulir dipaparkan saat bimtek dengan peserta yang terbatas karena  keterbatasan anggaran. Atas keterbatasan jumlah KPPS yang mengikuti bimtek oleh KPU yakni 3 orang per KPPS, PPK dan PPS melanjutkan dengan bimtek mini ke setiap KPPS. Durasi Bimtek yang singkat dengan persiapan lainnya menjelang tanggal 17 April, semuaya dijalankan dengan penuh semangat dan total.
Aspek lain adalah keterbatasan Sumber Daya Manusia. PPS pun berlomba- lomba dengan pihak partai Politik yang mencari para saksi, berlomba dengan Pengawas tingkat Kecamatan yang gencar melakukan perekrutan Pengawas TPS. Satu hal yang patut dibanggakan adalah di tengah keterbatasan, prinsip Penyelenggara yang netral tetap ditegakan, tuntutan sesuai regulasi setia dipegang teguh. Kerbatasan ini pun akhirnya menggerakan Jiwa Ernesta Kata, mantan Ketua KPU Flores  Timur untuk menjadi KPPS di TPS 003 Kelurahan Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka












Sejarahpun mencatat, saat matahari belum  menyibak kesunyian pagi para petugas KPPS, PAM TPS, PPK, PPS telah bergerak menyibak sisa sisa mimpi karena Panggilan Negara sedang menanti. Mimpi keruwetan yang selama ini dihadapi  dalam pemikiran, saat itu siap menjadi kenyataan. Slogan KPU Flores Timur Tanpa PSU sepertinya menjadi doa yang menggerakan seluruh energi KPPS. Durasi Waktu 17 April, pagi Pkl 07.00 proses Pemungutan Suara dan dilanjutkan dengan perhitungan suara  sampai batas waktu 18 April  Pkl  12.00, dilanjutkan dengan proses salinan Dokumen C1 ke pihak lain, proses serah terima, pengemasan logistic dan pendistribusian kembali kotak Pemilu ke Sekretariat PPK, KPPS melewati dengan tetap semangat meskipun keletihan telah menderah fisik mereka.  Ada sekian banyak kisah yang dituturkan oleh para KPPS, PPK dan PPS serta team Monitoring dari KPU, kisah- kisah  sedih, lucu mewarnai perjuangan para KPPS.


Kasman Ola Samon  Ketua KPPS Pemilu 2019 di Desa Riangduli, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus melewati kisah yang teramat sedih, ditinggalkan Sang Ibunda Tercinta pada pukul 01 Pagi tanggal 17 April 2019. Imannya diuji antara Cinta pada Sang Ibunda dan Tugas Negara. Karena Cinta pada Sang Ibunda Ia tetap setia menjalankan tugas sebagai Ketua KPPS  dan sesekali lari kembali ke rumah memeluk jasad ibundanya yang terbujur kaku. Pukul  15.00 dalam ketegaran Jiwa Sang Ibunda dihantar  menuju perisitirahatan kekal dan Kasman tetap kembali bertugas melakukan Rekapitulasi suara sampai selesai yakni dini hari tanggal 18 April 2019.  Kisah Kasman ini pun diliput oleh team  Liputan6.com, Kamis (18/4/2019). Kisah Pilu Ketua KPPS di NTT yang Ditinggal Sang Ibu Saat Pemilu


Kasman, Ketua KPPS. Sumber Foto : Liputan 6.com



Kisah lain tetang KPPS dari Kecamatan Wulanggitang. Saat proses perekapan ada selisih di jumlah Pemilih yang menggunakan Hak pilih dengan jumlah surat suarah sah dan tidak sah. Para KPPS yang semuanya perempuan, berjuang mencari tau. Selisih pun tidak berhasil mereka temukan.  Ketakutan akan kesalahan mengoncang jiwa mereka. Tangisan mereka pun pecah. Dalam keterbatasan, mereka pun meminta bantuan Dukun untuk membantu mereka dengan ritual adat. Telur ayam pun dipecahkan di lokasi TPS. Seolah - olah doa mereka dalam tradisi budaya terkabul. Anggota PPK Wulanggitang tiba, Saudara Eman  Tupen  Bara. Selisih angkah berhasil ditemukan. Apakah Karena Ritual adat atau karena kehadiran dari anggota PPK yang membantu mereka menemukan selisih angkah, satu hal yang pasti Ketulusan Jiwa Mereka, penyerahan total atas keterbatasan mereka  kepada Tuhan telah menghantar mereka melewati proses yang melelahkan jiwa dan raga dengan penuh sukacita.

 Dari Kecamatan Wotan Ulumado, Kisah  tentang suara Sah bagi calon atau Partai. Ketika ada dua tusukan di calon dan di partai, Ketua KPPS membacakan bahwa suara sah untuk Partai. Hal ini diprotes oleh saksi yang hadir. Jawaban Ketua KPPS, “yang ikut bimtek saya atau kamu. Saksi pun menjawab, “Teman baca ulang buku panduan. Ketua KPPS pun membuka buku panduan KPPS, membaca lalu menjawab, Teman saya yang salah, engkau yang benar.  Si saksi pun merespon, Teman, kau kira kerja ini seperti engko tembak ikan kah? Dan suasana pun penuh gelak tawa karena guyonan guyonan lucu dua sahabat ini.  Poin dari kisah ini adalah saksi memainkan peran sebagai  Correctio Fraternal.  Banyak informasi yang diperoleh bahwa pemahaman teknis antara KPPS dengan Pengawas TPS dan Para Saksi sangat berbeda dan menyebabkan perdebatan -  perdebatan. Hal ini karena Bimtek ke Para Pengawas TPS tidak melibatkan KPU. Kisah di Wotan Ulumado, pengawas TPS dapat memberikan koreksi yang benar karena, saat Bimtek ke para KPPS, Ketua Panwascam Wotan Ulumado meminta Ketua PPK Wotan Ulumado agar para pengawas TPS pun boleh ikut dalam Bimtek. Pemahaman Teknis yang berbeda ini pula yang menyebabkan tata cara melayani pemilih Kategori dalam Daftar Pemilih Khusus.  Ketika Para pemilih kategori DPK tidak bisa menunjukkan  dokumen Kependudukan yakni E- KTP atau Suket ( Surat Keterangan ) dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Flores Timur, KPPS dengan bijakasana menjelaskan regulasi bahwa mereka tidak bisa dilayani.  Bahwa ada pandangan berbeda dari pengawas TPS dan Saksi, KPPS tetap teguh pada regulasi ini.


               Pemahaman teknis Pungut Hitung harus dikuasai oleh KPPS, Pengawas TPS dan Para Saksi. Dengan pemahaman yang baik, maka semua pihak dapat berkontribusi untuk menjalankan keseluruhan prosedur dengan benar sesuai regulasi. Proses koreksi sejak awal adalah bentuk control moral agar para penyelenggara tidak jatuh dalam kesalahan. Kehadiran para saksi dan Pengawas TPS bukan menanti dan mengamati kapan ada kesalah dibuat tetapi bagaimana mengawal agar TIDAK ADA KESALAHAN TERJADI. Spirit ini yang harus dipahami dengan benar. Untuk itu maka pada proses pemilihan –pemilihan selanjutya, Bimbingan Teknis ke Pengawas TPS dan Para Saksi harus dilakukan oleh KPU bersama Bawaslu karena yang sangat memahami hal teknis pelaksanaan Pungut Hitung adalah KPU dan Bawaslu membantu dari aspek pengawasan.



Kesulitan Akses ke setiap Desa tidak pernah mematahkan semangat para penyelenggara di tingkat PPK dan PPS. Dari Tanjung Bunga, kegiatan Bimbtek dibagi kedalam dua kelas. Untuk Kelas kedua, meliputi Desa  Latonliwo,  Patisirawalang, Aransina dan Latonliwo Dua. Lokasi Kegiatan Bimtek di Desa terujung Pulau Flores, Patisirawalang. Daerah yang terkenal dengan nama  Basira, sebuah perkampungan yang dapat dikatakan terisolir. Akses ke lokasi ini sangat sulit, medannya sangat berat.  Jarak dari Waiklibang Pusat Kecamatan Tanjung Bunga ke Latonliwo sekitar 28 KM.  Jarak tempuh mencapai tiga jam dengan sepeda motor. Sedangkan ke Desa Patisirawalang desa terujung dengan kondisi jalan tanah kurang lebih 9 KM. Wilayah -  wilayah ini dalam jadwal distribusi logistik Pemilu  selalu menjadi yang terdahulu karena akses ke sana sangat berat.  Biasanya distribusi logistik melalui laut, dan selanjutnya dipikul mendaki bukit menuju kampung –kampung. Penulis bersyukur boleh mengalami pergumulan PPK, PPS dan KPPS melewati medan yang teramat berat ini. Ketika kegiatan Bimtek dilakukan di sini, warga masyarakat sangat senang dan para KPPS dari Desa lain pun senang karna kesempatan ini. Jarang ada kunjungan – kunjungan dari pihak luar ke wilayah ini. Menurut  Rofina Bince Maran, anggota PPK Tanjung Bunga, ketika kegiatan Bimtek dilakukan di desa ini, Kepala Desa  dan sangat antusias dan beliau pun mengikuti Bimtek bersama KPPS sampai selesai










 Dalam wawancara dengan Ernesta Katana Mantan Ketua KPU Flores Timur yang bertugas sebagai ketua KPPS di TPS 003 Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka, hal teknis membuka surat Suara oleh KPPS dan menyerahkan ke para pemilih adalah hal yang sangat teknis tetapi sangat menentukan karena dengan menyerahkan Surat suara dalam keadaan terbuka ke pemilih, KPPS telah terhidar dari kesalahan memberikan surat suara lebih dari aspek jumlah maupun jenis.  Hal lain adalah sangat membantu pemilih untuk segerah menentukan pilihan di dalam bilik suara karena tidak disibukan lagi dengan membuka surat suara. Hal teknis lainnya adalah di awal perhitungan Jumlah Surat suara, dilakukan dengan cepat karena dibagi team dan masing-masing team dikawal oleh Para Saksi dan dipantau oleh Pengawas TPS. Kunci kesukseskan di TPS ini dan TPS laiinya di seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur adalah Para KPPS didampingi oleh PPK dan PPS melakukan simulasi pungut hitung secara swadaya tanpa anggaran.

Dari Aspek biaya, sangat disadari bahwa honorarium petugas KPPS sangat kecil dibandingkan dengan beban tugas yang sangat berat. Tetapi panggilan jiwa untuk menjadi bagian dalam sejarah kepemiluan ini, panggilan jiwa untuk mengabdi Lewotana Flores Timur mengalahkan keterbatasan anggaran ini. Saat Bimtek, disampaikan besaran Honorarium KPPS. Bahwa ada yang merasa tidak puas, adalah hal yang teramat wajar. KPU Flores Timur sangat bersyukur karena tidak ada berita  KPPS mengundurkan diri karena kecilnya honor penyelenggara KPPS.
 Masih banyak kisah tentang perjuangan para KPPS. Keterbatasan waktu tidak mengijinkan untuk merangkai semuanya saat ini. Biarkan kisah- kisah lainnya menjadi tuturan lisan dan pada waktunya semoga dapat menjadi sebuah tulisan.  Semoga dengan Foto- foto perjuangan Para KPPS saat mengikuti Bimtek dan menjalankan tugas di hari pemungutan suara  di lembaran Landscape  Foto foto dapat memberikan gambaran tentang Semangat Melayani, Semangat memberikan yang terbaik bagi Pesta Demokrasi. Karena Ketulusan Jiwa, integritas sebagai ujung tombak, KPU Flores Timur bersama seluruh jajarannya, PPK dan PPS berhasil menjalankan tugas sebagai Penatalayan Demokrasi, berhasil menyajikan Perjamuan Demokrasi Pemilihan Umum serempak Nasional 2019.

Penulis
URAN, Fabianus Boli
Anggota Komisioner KPU Flores Timur

























Jumat, 31 Mei 2019

Membingkai Pancasila dalam Membangun Desa Refleksi dalam Ikatan Manusia Lamaholot


Membingkai Pancasila dalam Membangun Desa
Refleksi dalam Ikatan Manusia Lamaholot


Tepat dua tahun lalu, 1 Juni 2017,  berlokasi di halaman Kantor Desa Lewotobi sebuah refleksi peradaban yang hilang kembali diangkat dalam rangkaian kegiatan  Seminar Budaya dengan Tema " Birawam Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis Penulis  merasa bangga karena menjadi bagian kecil dari proses ini. Penulis merasa bersyukur karena hasil kajian warisan budaya Penulis  menjadi sebuah referensi yang dibedah oleh sekian banyak narasumber dan akhirnya melahirkan keputusan Lewo dan telah tertuang dalam Perdes. Beberapa Keputusan Lewotobi dan Lewouran adalah :


1. Konservasi Terumbu Karang
2. Konservasi Penyu dan Telur Penyu
3. Menarasikan Warisan Budaya dalam bentuk Dokumentasi berupa buku.
4. Menanam Pohon-pohon di Pinggir pantai untuk mengatasi Abrasi Laut
5. Membangun Design Wisata Bahari berbasis Budaya.

Poin satu sampai tiga  sudah dilakukan. Untuk Poin  tiga, pada tanggal 28 Oktober 2018, bertepatan denga peringatan Usia Emas Desa Lewotobi ( Birawan ) Buku dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri diluncurkan sebagai kenangan atas ziarah Lewotana.  Hari ini, 1 Juni 2019, dalam permenungan setelah apel memperingati HUT Pancasila, penulis mencoba merefleksikan tentang Nilai Pancasila dalam semangat membangun Desa, Membangun Lewo. Desa adalah sebuah tatanan Sosial, Desa adalah sebait syair tentang kesunyian, tentang kesederhanaan, tentang kearifan bagaimana membangun dari keterbatasan, tentang kesadaran untuk terus kembali berpijak pada nilai-nilai warisan leluhur. Desa dalam tarian kesunyian adalah bagian tak terpisahkan dalam membangun bangsa ini.

Sejak Kesepakatan Lewo ini pada tanggal 1 Juni 2019, Pemerintah Desa terus berjuang mewujudkan amanat keterpanggilan ini. Ada sekian banyak tantangan di awal dan sesudah proses ini tetapi, Kekuatan Lewo terlalu kuat untuk dikalahkan oleh segelintir pihak yang tidak memahami tentang Spirit membangun Lewo. Penulis sangat bersyukur, Program Konservasi Terumbu Karang bisa menghantar Desa Lewotobi  meraih juara II tingkat Propinsi untuk Kategori Desa dengan Program Inovasi. Saat ini Penyu-Penyu  semakin akrab dengan Pantai- Pantai di Lewotobi, di Pantai Blelawutun, Pantai Waiotan. Masyarakat menemukan sekian banyak titik penyu  bertelur dan setelah dipastikan, lokasi ini ini dipagari. Bersama Kelompok Konservasi dan Pemerintah Desa, Masyarakat terus disadarkan dan semakin sadar serta  tidak berani lagi mengambil telur penyu untuk dikonsumsi. Dulu kalau mendapatkan Penyu saat bertelur, Penyu dan telur penyu dieksekusi untuk konsumsi. Sekarang masyarakat telah sadar dan perlahan tumbuh jiwa melindungi dan merawat. Sebuah proses transformasi nilai sedang bergerak dan terus menemukan bentuk-bentuk.
Nilai transformasi ini juga berpengaruh ke desa desa tentangga. Seorang Nelayan , Andreas  Tutu Muda, di Desa Riangbaring  yang selalu mengambil telur penyu  untuk Konsumsi dan dijual kini telah beralih menjadi pegiat Konservasi Penyu dan Telur Penyu. Kesadaran Ande demikian sapaanya, bukan hanya karena takut dengan regulasi tentang perlindungan penyu tetapi karena muncul kesadaran tentang pentingnya kelestarian ekosistem.
Spirit Melindungi dan Merawat Ekosistem adalah bentuk kecil cara masyarakat Desa menghayati Nilai-Nilai Luhur Pancasila yang lahir di Bumi Flores, Inspirasi dari Sang Pencipta kepada Sang Proklamator Soekarno. Merefleksikan nilai-nilai luhur, mengkaji dan menyajikan sebagai sebuah  design pembangunan Desa adalah cara bagaimana membangun Desa bersumber dari kekuatan Lewo, kekutatan yang diwariskan oleh Leluhur. Setiap Narasi tentang Lewo lewat tuturan –tuturan lisan serentak juga ada proses transformasi kekuatan-kekuatan itu yang sering tidak disadari. Kekuatan-kekuatan Lewo adalah bisikan panggilan yang harus didengarkan dengan bijak karena ia mengandung sejuta makna.

 Pancasila dalam Sepenggal Refleksi Nilai Lamaholot

Keluhuran  Nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek Moyang adalah hasil dari dialog kosmik dengan wujud tertinggi yang disebut Ama Lerawulan Ema Tana Ekan, ( Sila Pertama )  melalui perantara Kewoko Kelite, Nitu Pudu  Hari Neda ( Kewoko Kelite : arwah para leluhur, Nitu Pudu : Penjaga Hutan hutan, Hari Neda : Penjaga Laut dan pantai ) melalui sebuah proses pencarian kebenaran yang disebut Tura Neda Lone Kemie Padu. Proses pencarian kebenaran ini bertujuan untuk membangun Ata Dike ( Orang baik) ( Sila Kedua ). Ata Dike tidak bisa hidup sendirian, ia terpanggil hidup dalam sebuah ikatan social budaya yang disebut ata kaja ribu pulo ratu lema. ( Sila Ketiga). Ikatan social budaya ini termateraikan dalam adat istiadat yang lahir atas kesekapatan bersama yang dilakukan dalam sebuah wadah yang disebut Lage Loge  untuk melahirkan Koda Geto ( kesepakatan ). Hasil kesepakatan ini juga tercermin dalam sikap penerimaan suku-suku pertama yang mendiami sebuah wilayah terhadap suku-suku pendatang atau yang datang belakangan. Penerimaan disertai dengan Pua Tana ekan, memberikan sebagai dari empunya mereka agar ribu ratu  ( masyarakat ) yang baru tiba boleh menjadi bagian tidak terpisahkan dalam ikatan social budaya. Agar mereka pun boleh bersama mengolah tanah, mengail ikan untuk sebuah kehidupan yang layak ( Sila Kelima )  demi sebuah pewarisan generasi penutur peradaban Ata Dike, penutur Kemanusiaan.

Menghayati Pancasila adalah cara memahami dan memperlakukan manusia sebagai bagian tidak terpisahkan dari segala proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.  Dari Desa, Pancasila terwujud dalam nilai-nilai kearifan local. Ketika ada konflik di masyarakat desa, masyarakat dalam kearifan lokalnya mempunyai cara untuk berdamai, secara cepat atau lambat. Menjadi sebuah tantangan ketika, para pemimpin atau gembala ( pemimpin dalam Geraj Katolik )  yang hadir dan kurang memahami tentang nilai-nilai kearifan local  mencoba menggiring masyarakat untuk sebuah penyelesaian dengan cara dan pemahamannya. Belajar dari para penenun sarung, ketika ada benang yang salah dimasukan atau terbelit, maka sang penenun dengan tekun mengurai benang tersebut yang disebut “ Hua Kenire” dan setelah itu akan di “ Bolo Kape”, disatukan lagi. Hua Kenire adalah  kejelihan melihat motif tersebut sepandan dengan motif lain, tidak salah ditempatkan. Hua Kenire dalam konteks penyelesaian konflik  adalah melihat dan mendengar dengan ketenangan  akar permasalahan, dengan bijak menempatkan diri tanpa menghakimi sebelum kebenaran tersebut ditemukan. Para penenun dengan sabar melakukan proses penguraian kusutnya benang. Demikian juga seorang pemimpin atau gembala, ia harus sabar memahami setiap persoalan bukan dengan muda termakan atau terpengaruh dengan berita berita yang belum dipastikan kebenaran.
Para Leluhur ketika menyelesaikan konflik, mereka melalui sebuah proses pencarian kebenaran lewat Tura Neda Lone Kemie Padu, artinya mereka tidak mengandalkan hanya kemampuan mereka tetapi mereka meletakan dalam pengharapan terhadap Sang pencipta untuk menujukkan kebenaran serta cara penyelesaian. Penyelesaian sebuah konflik juga disertai dengan tindakan dalam ritus yang disebut “ Hoi Bake”, memperbaiki kesalahan agar  social budaya  kehidupan generasi selanjutnya terlepas dari ikatan dosa sebelumnya.  Ada Proses merangkul kembali dan memperbaiki bukan proses terus memelihara konflik dan membangun kubu- kubu permusuhan, apalagi menjadikan setiap momentum konflik sebagai bahan untuk kotbah. Para Leluhur setelah menyelesaikan konflik, mereka melipatnya dengan rapih permasalah itu dan menyonsong masa baru dengan kebersamaan yang ditandai dengan “ Hue Nuhe atau Kela Tou Nuro Rua.

Menghayati Pancasila hanya bisa dilakukan ketika manusia melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya, ketika melihat alam sebagai saudara kehidupan. Menghayati Pancasila dalam Berdesa adalah kerelasediaan untuk terus belajar memberikan diri bagi pembangunan sebuah peradaban kehidupan lebih baik, berbasis warisan nilai-nilai luhur. Kami Indonesia, Kami Pancasila, Kami Orang Desa Kami Pancasila.

Selamat Merayakan Hari Lahir Pancasila


Larantuka, 1 Juni 2019
Penulis adalah pemerhati isu- isu sosial budaya

Jumat, 02 November 2018

MENGARTIKULASIKAN NARASI EMAS DESA LEWOTOBI


Alunan lagu ciptaan Saudara Anjus Muda “ Emas Di Desa Lewotobi “ membahana, menggetarkan sukma kerinduan warga Lewouran dan Lewotobi, untuk bersatu dalam sebuah Narasi tentang Perjalanan Lewo, Lewotobi dengan Gelar Tobi Lewo Pulo Gelong Tana Lema dan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
                28 Oktober, bertepatan dengan kenangan akan  momentum   Peristiwa Sumpah Pemudah di usia yang ke-90, Warga Desa Lewotobi berkumpul di halaman Kantor Desa Lewotobi. Semuanya berdiri mengarahkan pandangan kearah Pintu Masuk Tenda. Dari rumah Besar, rumah Tuan Tana, Bapak Yohanes Sina Witin, para mantan Kepala Desa Lewotobi didampingi Camat Ile Bura, Kepala Desa Lewotobi, Para tokoh adat, masyarakat, bergerak. Alunan Musik mengiringi ayunan langkah mereka, gerakan yang pelan karena kaki- kaki itu telah letih melangkah ribuan- jutaan kali selama memimpin. Kini mereka melangkah menuju sebuah “ Lage Gole” tempat Ehi Le’e, tempat Ribu Polu Ratu Lema berkumpul untuk mengucap Syukur pada Lera Wulan Tana Ekan. Di depan Pintu Masuk Tenda, mereka disapa dan dikalung oleh anak-anak. Sekali lagi mereka dalam usia yang rentan, bergerak pelan membungkuk badan agar kalungan selempang boleh menyentuh kedua bahu mereka, bahu yang telah letih karena di atasnya amanat Lewo yang mereka emban.

Pengalungan Mantan Kades Pertama Bpk, Yohanes Sina Witin oleh Ketua Forum Anak Desa, Elsa Uran
 
                                               
Hari itu, alam dalam caranya diam. Sehari sebelumnya, angin besar memporakporandakan tenda, hujan Lebat mengguyur lewo. Sentuhan lembut angin, sapaan matahari tanpa halangan, menegaskan keberpihakan dan restu alam dan Lewotana untuk sukacita hari itu.  Rasa Syukur itu membahana dalam alunan lagu –lagu dari Koor  Umat Stasi Lewotobi. Mereka menyanyi dengan sepenuh Jiwa, setulus pengabdian, seiklas menerima harapan,  Emas dalam Kesederhanaan. Ibadat Syukur dipimpin oleh Saudara Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, guru Agama Katolik SMPK Ile Bura. Dalam Kotbahnya, refleksi tentang Bartimeus dalam Bacaan Injil Mrk 10:46-52 disajikan;

                                                          
  


 Seruhan  Bartimeus mengetuk pintu hati Yesus dan sesama yang lain untuk beraksi membantu Bartimeus. Peristiwa di luar kota Yeriko, memberi kita inspirasi untuk menjadi pemimpin dan sesama warga Lewotanah yang baik. Seruhan Bartimeus didengar dan ditanggapi oleh Yesus  sang pemimpin sejati dengan rasa simpatik yang istimewah. Kata-kata Yesus: Panggilah dia adalah keputusan yang bijaksana dari  Yesus. Di tengah orang banyak yang berbondong-bondong,  Yesus tetap mau mendengarkan  suara dan teriakan kaum terbatas itu. Yesus sanggup memilahkan mana yang mesti diutamakan dalam tugas pelayanan. Menyelamatkan nyawa, mengangkat harga diri manusia menjadi pilihan utama. Kepada Bartimeus yang ingin ditolong, Yesus tidak bertanya: Mengapa atau kenapa kau memanggil aku. Karena pertanyaan mengapa dan kenapa selalu ada muatan ego. Ketika penjelasan atas pertanyaan  Mengapa dan kenapa itu masuk akal baru ada kemungkinan untuk mendapat pelayanan.  Yesus bertanya: Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu, pertanyaan ini mengandung muatan Kasih yang membebaskan. Dengan pertanyaan ini Bartimeus yang buta, merasa diterima, didengarkan, dan boleh berharap untuk sembuh. Dan kerinduan Bartimeus terjawab, Bartimeus sembuh, matanya terbuka dan mulai mengikuti Yesus. Bagi Yesus kesembuhan Bartimeus menjadi kemenangan-Nya sebagai utusan Allah, kemenangan-Nya sebagai pemimpin. Daya kasih Yesus mengubah situasi hidup Bartimeus. Ia tidak lagi duduk di jalan. Bartimeus tidak lagi menjadi pengemis. Ia bangkit dan menjadi manusia baru berkat perjupaannya dengan Yesus di jalan. Sebuah pertemuan yang tidak terlalu resmi dengan Yesus tetapi memberikan suatu perubahan yang sangat istimewah dalam kehidupan Bartimeus.

Perayaan Ibadat berlangsung dalam suasana yang sangat Khusuk. Semuanya berjalan lancar tanpa halangan sekecilpun. Sungguh Hikmad dan Agung.  Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran dalam sambutannya menyatakan bahwa Perayaan Ibadah Hari ini seperti Perayaan Imam Baru. Setelah Perayaan Ibadah dilanjutkan dengan Resepsi. Lagu Amazing Grace yang dibawakan oleh Siswa Siswi SMPK Ile Bura sebagai pembuka acara, mengajak orang untuk tidak berhenti bersyukur atas rahmat dan berkat dari Sang Pencipta.

Sebuah momentum yang sangat indah, setelah Sambutan Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius Buto Muda adalah Penyematan Tanda Pengabdian ke para Mantan Kepala Desa yang hadir, yakni pengenaan Cincin Emas  di jari manis mereka. Kepala Desa Pertama, Bapak Yohanes Sina Witin, dikenakan oleh Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran. Mantan Kades  yang ketiga, Bapak Yosep Uli Muda, dikenakan oleh Bapak Hendrikus Hading Uran, mewakili Masyarakat Lewouran. Dan untuk Bapak Markus Lapi Witi, mantan Kades  yang keenam, dikenakan oleh Bapak Simon Pehan Hayon, Ketua BPD Lewotobi. Untuk Mantan Kades  yang kedua, Paulus  Wajon Muda, Kades yang keempat, Longginus Nuli Muda, dan mantan Kades ke lima Hendrikus Hadung Mua tidak bisa hadir. Kepala Desa Tarsisius Buto Muda, dalam sambutannya menegaskan ulang poin yang telah disampaikan oleh Ketua Panitia, bahwa para mantan Kepala Desa  adalah orang-orang yang meletakan dasar dan generasi sekarang bertugas melanjutkan dalam cara dan semangat baru.

                                  


 Pemakaian   Cincin oleh Ketua Panita ke Bapak Yohanes Sina Witin,
Mantan Kades Pertama

                                                           


 Pemakaian Cincin ke Bpk Yosep Uli Muda, Mantan Kades ke tiga
oleh Bapak Hendrikus Hading Uran

                                                            

Pemakaian Cincin ke Mantan Kades ke enam, Bapak Markus Lapi Witi
oleh Ketua BPD Lewotobi
 

Setelah penyematan tanda Jasa dilanjutkan dengan acara Peluncuran Buku Desa, Seri Pertama dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Buku ini berkisah  tentang Kisah Suku- Suku di Kampung Lewouran. Seri Kedua yang akan terbit berkisah tentang Kisah Suku-Suku di Lewotobi. Kehadiran buku ini merupakan terjemahan atas amanat Lewo dalam Seminar Budaya pada tanggal 1 Juni 2017, dengan Tema “ Membangun Desa Berbasis Budaya Ekologis” di mana satu poin amanat Lewo yang tertuang dalam Berita Acara Komitmen adalah  Mendokumentasikan Warisan  Budaya dalam Bentuk Buku sehingga menjadi Dokumen Desa Lewotobi. Peluncuran ini ditandai dengan Pembubuhan  tanda tangan oleh ketiga mantan kepala Desa  di 10 buah Buku dan diserahkan ke bebepara Pihak yakni, Ignasius Boli Uran, S. Fil, Camat Ile Bura, Bapak Jack Ara kian, Mantan Camat Ile Bura, Yosep Tua Dolu, Mantan Sekcam Ile Bura, yang sekarang tela menjadi Camat, Yohanes Ibi Hurint, Kepala Puskesmas Ile Bura, Kepala  SDK Lewotobi, Lewouran dan Kepala SMPK Ile Bura serta Perwakilan pemilik Narasi Lewouran, rencana diterima oleh Bapak Anselmus Pai Muda, tidak hadir karena sakit maka diterima oleh Ketua Stasi Lewouran, Bapak Agustinus Beo Uran. Sepuluh orang yang diundang diatas ini menerima buku dari para mantan kepala Desa dan mereka pun berkontribusi dengan membeli buku ini. Hasil penjualan buku ini diserahkan ke Forum Anak Desa untuk kegiatan pengembangan minat dan bakat mereka.







 
para mantan Kades Membubuhkan tanda tangan di Buku Kenangan 50 Tahun  Desa Lewotobi, Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri





                                                       
 Foto Bersama dengan 10 Orang Penerima Buku

Yosep Tua Dolu,  sebagai camat Pertama Ile Bura, dalam sambutannya mewakili undangan memberikan appresiasi atas perjalanan Desa Lewotobi. Rasa syukurnya karena ia dan para mantan pegawai kecamatan Ile Bura boleh hadir dan berbagi sukacita. Boleh kembali merasakan rasa Persaudaraan bersama orang-orang kecil, orang orang sederhana yang mengajari ia bagaimana belajar memberi dalam ketulusan dan totalitas pengabdian. Camat Ile Bura, Jack Ara Kian kembali menegaskan kembali tentang makna Pelayanan dalam Tugas sebagai Kepala Desa dan rasa tanggungjawab dari masyarakat sebagai empunya narasi. Beliau mendorong warga untuk membeli buku ini agar sejarah, Kisah Lewo terus dituturkan dan darinya boleh lahir komitmen-komitmen baru sebagaimana hasil komitmen dari Warga Lewouran dalam acara Bedah Buku ini di Lewouran pada tanggal 20 Oktober 2018.



Camat Ile Bura Jack Ara Kian

Komitmen Warga Lewouran, pemilik Narasi yang tertuang dalam Buku Ini, yakni : Membangun Rumah Adat di Lewo Oki , Kampung lama, Merstorasi Due Date, Hutan terlarang, mengembalikan Newa ( Nura ) di Lokasi Bao Bele Tiwe Lime yang dimateraikan sebagai Hutan Suku Kwure, ke Suku Kwure, Menjadikan Lokasi Pantai Pede sebagai Lokasi Konservasi Terumbu Karang, Menghidupkan Ritus Lela dan Leba Kene’e dalam semangat Konservasi ekosistem laut serta membagun Kalander Budaya Lewo.

Anselmus Pai Muda, Ketua Lembaga Adat menandatangani Berita Acara Lewo untuk Merawat Warisan Budaya Lewouran


Komitmen Warga Lewouran ini sangat diappresiasi dan di dukung  oleh anak Tana, Pater Dr. Markus Solo Kwuta, yang memberikan Pengantar dari Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Sabtu malam, setelah acara Pawai Marching Band di Lewouran  pada sore hari, dan dilanjutkan dengan Parade membentuk huruf 50 Tahun , di malam hari di lapangan Bola Kaki yang diwarnai dengan kembang api, Pater Markus melalui Video kirimannya ke Penulis dari Vatikan memberikan Ucapan Selamat.  Mengawali Ucapannya beliau mengatakan bahwa Tahun 2018 ditandai dengan tiga peristiwa Besar yakni Emas SMPK Ile Bura, Emas SDK Lewouran dan Emas Desa Lewotobi. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa  Masyarakat harus mampu belajar dan memahami kisah dan sejarah agar dapat merangkai dan membangun masa depan. Kepala Desa dan seluruh elemen masyarakat harus terus memupuk harapan, optimisme untuk menata kearifan – kearifan local sebagai nilai-nilai dalam pembangunan Desa.                         







Dari Kearifan local, gagasan membangun desa berbasis Budaya dikemas dan disuarahkan kembali oleh anak-anak baik selama acara perlombaan-perlombaan seperti membacakan Puisi, berpidato dan menulis artikel maupun acara-acara yang ditampilan dalam  resepsi perayaan Emas ini.
                 



Juara 1 Lomba Pidato Tingkat SMP. Tema yang diangkat tentang Sarung  Figure 7 Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SMP. Imel Kwuta

                                           


                                Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SD, Yosep Pati Hokeng


           
                                                                                 Juara I Lomba Baca Puisi Tingkat SMP : Imel Kwuta



Penampilan Keluarga Besar Puskesmas Ile Bura
                                    
                                                                              
 
Keagungan Kearifan local ini dalam symbol Nasi Tumpeng Beras Jagung, dihidangkan di atas Sebala, dengan lauk pauk Sayu Marungge, Ikan Bakar. Dua Nasi Tumpeng menyimbolkan Gunung Lewotobi berkembar dua. Nasi Tumpeng ini adalah karya dari seluruh elemen masyarakat, yang mengambil peran, memainkan peran dalam keluguan, kesederhanaan, dan ketulusan. Dan Kepala Desa mewakili Ribu Pulo Ratu Lema, dalam gerakan membungkuk, memotong dan menyuap ketiga mantan kepala Desa ini. Sebuah symbol pelayanan, Pengabdian dan Rasa Terima Kasih karena mereka telah melayani Lewo ini dengan ketulusan dan totalitas dalam komitmen pengabdian. Ibadat Sabda dalam Keagungan disyukuri kembali dalam perjamuan  bernuasa Lokal karena masyarakat tidak punya Hosti dan Anggur, karena ada pada mereka hanya nasi Jagung dan Marungge serta Ikan Bakar.





                        
       
 
 
Dari keterbatasan, dari kesederhanaan, mereka terus belajar memberi dan terus menarasikan tentang Keindahaan Hidup di Desa, tentang Desa sebagai sebuah Gerakan Kesunyian Sosial yang terus mendorong alam bawah kesadaran manusia untuk bertindak memuliahkan Manusia, Sesama, Alam. Karena dengan itu Mereka mampu menjawab panggilan Raja Lera Wulan Tana Ekan untuk terlibat dalam totalitas pengabdian dan ketulusan menyapa kehidupan.





Dirgahayu Lewotanaku, menyebut namamu seperti mendaraskan sebuah syair, ada nilai magis, ada nilai seni, ada pengharapan, ada kehidupan, ada kisah yang menanti untuk diartikulasikan dalam semangat “ Bangga Membangun Desa”.


Lewotobi, Penghujung Oktober 2018

URAN, Fabianus Boly

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...