Membingkai Pancasila dalam Membangun Desa
Refleksi
dalam Ikatan Manusia Lamaholot
Tepat
dua tahun lalu, 1 Juni 2017, berlokasi
di halaman Kantor Desa Lewotobi sebuah refleksi peradaban yang hilang kembali
diangkat dalam rangkaian kegiatan Seminar Budaya dengan Tema "
Birawam Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis” Penulis merasa bangga karena menjadi bagian kecil dari
proses ini. Penulis merasa bersyukur karena hasil kajian warisan budaya Penulis
menjadi sebuah referensi yang dibedah
oleh sekian banyak narasumber dan akhirnya melahirkan keputusan Lewo dan telah
tertuang dalam Perdes. Beberapa Keputusan Lewotobi dan Lewouran adalah :
1. Konservasi Terumbu Karang
2. Konservasi Penyu dan Telur Penyu
3. Menarasikan Warisan Budaya dalam
bentuk Dokumentasi berupa buku.
4. Menanam Pohon-pohon di Pinggir
pantai untuk mengatasi Abrasi Laut
5. Membangun Design Wisata Bahari
berbasis Budaya.
Poin
satu sampai tiga sudah dilakukan. Untuk
Poin tiga, pada tanggal 28 Oktober 2018,
bertepatan denga peringatan Usia Emas Desa Lewotobi ( Birawan ) Buku dengan
Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri diluncurkan
sebagai kenangan atas ziarah Lewotana. Hari
ini, 1 Juni 2019, dalam permenungan setelah apel memperingati HUT Pancasila, penulis
mencoba merefleksikan tentang Nilai Pancasila dalam semangat membangun Desa, Membangun
Lewo. Desa adalah sebuah tatanan Sosial, Desa adalah sebait syair tentang
kesunyian, tentang kesederhanaan, tentang kearifan bagaimana membangun dari
keterbatasan, tentang kesadaran untuk terus kembali berpijak pada nilai-nilai
warisan leluhur. Desa dalam tarian kesunyian adalah bagian tak terpisahkan
dalam membangun bangsa ini.
Sejak
Kesepakatan Lewo ini pada tanggal 1 Juni 2019, Pemerintah Desa terus berjuang
mewujudkan amanat keterpanggilan ini. Ada sekian banyak tantangan di awal dan
sesudah proses ini tetapi, Kekuatan Lewo terlalu kuat untuk dikalahkan oleh
segelintir pihak yang tidak memahami tentang Spirit membangun Lewo. Penulis
sangat bersyukur, Program Konservasi Terumbu Karang bisa menghantar Desa
Lewotobi meraih juara II tingkat
Propinsi untuk Kategori Desa dengan Program Inovasi. Saat ini Penyu-Penyu semakin akrab dengan Pantai- Pantai di
Lewotobi, di Pantai Blelawutun, Pantai Waiotan. Masyarakat menemukan sekian
banyak titik penyu bertelur dan setelah
dipastikan, lokasi ini ini dipagari. Bersama Kelompok Konservasi dan Pemerintah
Desa, Masyarakat terus disadarkan dan semakin sadar serta tidak berani lagi mengambil telur penyu untuk
dikonsumsi. Dulu kalau mendapatkan Penyu saat bertelur, Penyu dan telur penyu
dieksekusi untuk konsumsi. Sekarang masyarakat telah sadar dan perlahan tumbuh
jiwa melindungi dan merawat. Sebuah proses transformasi nilai sedang bergerak
dan terus menemukan bentuk-bentuk.
Nilai
transformasi ini juga berpengaruh ke desa desa tentangga. Seorang Nelayan ,
Andreas Tutu Muda, di Desa Riangbaring yang selalu mengambil telur penyu untuk Konsumsi dan dijual kini telah beralih
menjadi pegiat Konservasi Penyu dan Telur Penyu. Kesadaran Ande demikian
sapaanya, bukan hanya karena takut dengan regulasi tentang perlindungan penyu
tetapi karena muncul kesadaran tentang pentingnya kelestarian ekosistem.
Spirit
Melindungi dan Merawat Ekosistem adalah bentuk kecil cara masyarakat Desa
menghayati Nilai-Nilai Luhur Pancasila yang lahir di Bumi Flores, Inspirasi
dari Sang Pencipta kepada Sang Proklamator Soekarno. Merefleksikan nilai-nilai
luhur, mengkaji dan menyajikan sebagai sebuah
design pembangunan Desa adalah cara bagaimana membangun Desa bersumber
dari kekuatan Lewo, kekutatan yang diwariskan oleh Leluhur. Setiap Narasi
tentang Lewo lewat tuturan –tuturan lisan serentak juga ada proses transformasi
kekuatan-kekuatan itu yang sering tidak disadari. Kekuatan-kekuatan Lewo adalah
bisikan panggilan yang harus didengarkan dengan bijak karena ia mengandung
sejuta makna.
Pancasila dalam Sepenggal Refleksi Nilai
Lamaholot
Keluhuran
Nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek
Moyang adalah hasil dari dialog kosmik dengan wujud tertinggi yang disebut Ama Lerawulan Ema Tana Ekan, ( Sila
Pertama ) melalui perantara Kewoko Kelite, Nitu Pudu Hari Neda ( Kewoko Kelite : arwah para
leluhur, Nitu Pudu : Penjaga Hutan hutan, Hari Neda : Penjaga Laut dan pantai )
melalui sebuah proses pencarian kebenaran yang disebut Tura Neda Lone Kemie Padu. Proses pencarian kebenaran ini bertujuan
untuk membangun Ata Dike ( Orang baik) ( Sila Kedua ). Ata Dike tidak bisa hidup sendirian, ia terpanggil hidup dalam
sebuah ikatan social budaya yang disebut ata
kaja ribu pulo ratu lema. ( Sila Ketiga). Ikatan social budaya ini
termateraikan dalam adat istiadat yang lahir atas kesekapatan bersama yang
dilakukan dalam sebuah wadah yang disebut Lage
Loge untuk melahirkan Koda Geto ( kesepakatan ). Hasil
kesepakatan ini juga tercermin dalam sikap penerimaan suku-suku pertama yang
mendiami sebuah wilayah terhadap suku-suku pendatang atau yang datang belakangan.
Penerimaan disertai dengan Pua Tana ekan,
memberikan sebagai dari empunya mereka agar ribu
ratu ( masyarakat ) yang baru tiba
boleh menjadi bagian tidak terpisahkan dalam ikatan social budaya. Agar mereka
pun boleh bersama mengolah tanah, mengail ikan untuk sebuah kehidupan yang
layak ( Sila Kelima ) demi sebuah
pewarisan generasi penutur peradaban Ata
Dike, penutur Kemanusiaan.
Menghayati
Pancasila adalah cara memahami dan memperlakukan manusia sebagai bagian tidak
terpisahkan dari segala proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari Desa, Pancasila terwujud dalam
nilai-nilai kearifan local. Ketika ada konflik di masyarakat desa, masyarakat
dalam kearifan lokalnya mempunyai cara untuk berdamai, secara cepat atau
lambat. Menjadi sebuah tantangan ketika, para pemimpin atau gembala ( pemimpin
dalam Geraj Katolik ) yang hadir dan
kurang memahami tentang nilai-nilai kearifan local mencoba menggiring masyarakat untuk sebuah
penyelesaian dengan cara dan pemahamannya. Belajar dari para penenun sarung,
ketika ada benang yang salah dimasukan atau terbelit, maka sang penenun dengan
tekun mengurai benang tersebut yang disebut “ Hua Kenire” dan setelah itu akan di “ Bolo Kape”, disatukan lagi. Hua
Kenire adalah kejelihan melihat
motif tersebut sepandan dengan motif lain, tidak salah ditempatkan. Hua Kenire dalam konteks penyelesaian
konflik adalah melihat dan mendengar
dengan ketenangan akar permasalahan,
dengan bijak menempatkan diri tanpa menghakimi sebelum kebenaran tersebut
ditemukan. Para penenun dengan sabar melakukan proses penguraian kusutnya
benang. Demikian juga seorang pemimpin atau gembala, ia harus sabar memahami
setiap persoalan bukan dengan muda termakan atau terpengaruh dengan berita
berita yang belum dipastikan kebenaran.
Para
Leluhur ketika menyelesaikan konflik, mereka melalui sebuah proses pencarian
kebenaran lewat Tura Neda Lone Kemie Padu,
artinya mereka tidak mengandalkan hanya kemampuan mereka tetapi mereka
meletakan dalam pengharapan terhadap Sang pencipta untuk menujukkan kebenaran
serta cara penyelesaian. Penyelesaian sebuah konflik juga disertai dengan
tindakan dalam ritus yang disebut “ Hoi
Bake”, memperbaiki kesalahan agar social
budaya kehidupan generasi selanjutnya
terlepas dari ikatan dosa sebelumnya. Ada
Proses merangkul kembali dan memperbaiki bukan proses terus memelihara konflik
dan membangun kubu- kubu permusuhan, apalagi menjadikan setiap momentum konflik
sebagai bahan untuk kotbah. Para Leluhur setelah menyelesaikan konflik, mereka
melipatnya dengan rapih permasalah itu dan menyonsong masa baru dengan
kebersamaan yang ditandai dengan “ Hue
Nuhe atau Kela Tou Nuro Rua.
Menghayati
Pancasila hanya bisa dilakukan ketika manusia melihat manusia lain sebagai
bagian dari dirinya, ketika melihat alam sebagai saudara kehidupan. Menghayati
Pancasila dalam Berdesa adalah kerelasediaan untuk terus belajar memberikan
diri bagi pembangunan sebuah peradaban kehidupan lebih baik, berbasis warisan
nilai-nilai luhur. Kami Indonesia, Kami Pancasila, Kami Orang Desa Kami
Pancasila.
Selamat
Merayakan Hari Lahir Pancasila
Larantuka, 1 Juni 2019
Penulis adalah pemerhati isu- isu sosial budaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar