Jumat, 02 November 2018

MENGARTIKULASIKAN NARASI EMAS DESA LEWOTOBI


Alunan lagu ciptaan Saudara Anjus Muda “ Emas Di Desa Lewotobi “ membahana, menggetarkan sukma kerinduan warga Lewouran dan Lewotobi, untuk bersatu dalam sebuah Narasi tentang Perjalanan Lewo, Lewotobi dengan Gelar Tobi Lewo Pulo Gelong Tana Lema dan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
                28 Oktober, bertepatan dengan kenangan akan  momentum   Peristiwa Sumpah Pemudah di usia yang ke-90, Warga Desa Lewotobi berkumpul di halaman Kantor Desa Lewotobi. Semuanya berdiri mengarahkan pandangan kearah Pintu Masuk Tenda. Dari rumah Besar, rumah Tuan Tana, Bapak Yohanes Sina Witin, para mantan Kepala Desa Lewotobi didampingi Camat Ile Bura, Kepala Desa Lewotobi, Para tokoh adat, masyarakat, bergerak. Alunan Musik mengiringi ayunan langkah mereka, gerakan yang pelan karena kaki- kaki itu telah letih melangkah ribuan- jutaan kali selama memimpin. Kini mereka melangkah menuju sebuah “ Lage Gole” tempat Ehi Le’e, tempat Ribu Polu Ratu Lema berkumpul untuk mengucap Syukur pada Lera Wulan Tana Ekan. Di depan Pintu Masuk Tenda, mereka disapa dan dikalung oleh anak-anak. Sekali lagi mereka dalam usia yang rentan, bergerak pelan membungkuk badan agar kalungan selempang boleh menyentuh kedua bahu mereka, bahu yang telah letih karena di atasnya amanat Lewo yang mereka emban.

Pengalungan Mantan Kades Pertama Bpk, Yohanes Sina Witin oleh Ketua Forum Anak Desa, Elsa Uran
 
                                               
Hari itu, alam dalam caranya diam. Sehari sebelumnya, angin besar memporakporandakan tenda, hujan Lebat mengguyur lewo. Sentuhan lembut angin, sapaan matahari tanpa halangan, menegaskan keberpihakan dan restu alam dan Lewotana untuk sukacita hari itu.  Rasa Syukur itu membahana dalam alunan lagu –lagu dari Koor  Umat Stasi Lewotobi. Mereka menyanyi dengan sepenuh Jiwa, setulus pengabdian, seiklas menerima harapan,  Emas dalam Kesederhanaan. Ibadat Syukur dipimpin oleh Saudara Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, guru Agama Katolik SMPK Ile Bura. Dalam Kotbahnya, refleksi tentang Bartimeus dalam Bacaan Injil Mrk 10:46-52 disajikan;

                                                          
  


 Seruhan  Bartimeus mengetuk pintu hati Yesus dan sesama yang lain untuk beraksi membantu Bartimeus. Peristiwa di luar kota Yeriko, memberi kita inspirasi untuk menjadi pemimpin dan sesama warga Lewotanah yang baik. Seruhan Bartimeus didengar dan ditanggapi oleh Yesus  sang pemimpin sejati dengan rasa simpatik yang istimewah. Kata-kata Yesus: Panggilah dia adalah keputusan yang bijaksana dari  Yesus. Di tengah orang banyak yang berbondong-bondong,  Yesus tetap mau mendengarkan  suara dan teriakan kaum terbatas itu. Yesus sanggup memilahkan mana yang mesti diutamakan dalam tugas pelayanan. Menyelamatkan nyawa, mengangkat harga diri manusia menjadi pilihan utama. Kepada Bartimeus yang ingin ditolong, Yesus tidak bertanya: Mengapa atau kenapa kau memanggil aku. Karena pertanyaan mengapa dan kenapa selalu ada muatan ego. Ketika penjelasan atas pertanyaan  Mengapa dan kenapa itu masuk akal baru ada kemungkinan untuk mendapat pelayanan.  Yesus bertanya: Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu, pertanyaan ini mengandung muatan Kasih yang membebaskan. Dengan pertanyaan ini Bartimeus yang buta, merasa diterima, didengarkan, dan boleh berharap untuk sembuh. Dan kerinduan Bartimeus terjawab, Bartimeus sembuh, matanya terbuka dan mulai mengikuti Yesus. Bagi Yesus kesembuhan Bartimeus menjadi kemenangan-Nya sebagai utusan Allah, kemenangan-Nya sebagai pemimpin. Daya kasih Yesus mengubah situasi hidup Bartimeus. Ia tidak lagi duduk di jalan. Bartimeus tidak lagi menjadi pengemis. Ia bangkit dan menjadi manusia baru berkat perjupaannya dengan Yesus di jalan. Sebuah pertemuan yang tidak terlalu resmi dengan Yesus tetapi memberikan suatu perubahan yang sangat istimewah dalam kehidupan Bartimeus.

Perayaan Ibadat berlangsung dalam suasana yang sangat Khusuk. Semuanya berjalan lancar tanpa halangan sekecilpun. Sungguh Hikmad dan Agung.  Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran dalam sambutannya menyatakan bahwa Perayaan Ibadah Hari ini seperti Perayaan Imam Baru. Setelah Perayaan Ibadah dilanjutkan dengan Resepsi. Lagu Amazing Grace yang dibawakan oleh Siswa Siswi SMPK Ile Bura sebagai pembuka acara, mengajak orang untuk tidak berhenti bersyukur atas rahmat dan berkat dari Sang Pencipta.

Sebuah momentum yang sangat indah, setelah Sambutan Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius Buto Muda adalah Penyematan Tanda Pengabdian ke para Mantan Kepala Desa yang hadir, yakni pengenaan Cincin Emas  di jari manis mereka. Kepala Desa Pertama, Bapak Yohanes Sina Witin, dikenakan oleh Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran. Mantan Kades  yang ketiga, Bapak Yosep Uli Muda, dikenakan oleh Bapak Hendrikus Hading Uran, mewakili Masyarakat Lewouran. Dan untuk Bapak Markus Lapi Witi, mantan Kades  yang keenam, dikenakan oleh Bapak Simon Pehan Hayon, Ketua BPD Lewotobi. Untuk Mantan Kades  yang kedua, Paulus  Wajon Muda, Kades yang keempat, Longginus Nuli Muda, dan mantan Kades ke lima Hendrikus Hadung Mua tidak bisa hadir. Kepala Desa Tarsisius Buto Muda, dalam sambutannya menegaskan ulang poin yang telah disampaikan oleh Ketua Panitia, bahwa para mantan Kepala Desa  adalah orang-orang yang meletakan dasar dan generasi sekarang bertugas melanjutkan dalam cara dan semangat baru.

                                  


 Pemakaian   Cincin oleh Ketua Panita ke Bapak Yohanes Sina Witin,
Mantan Kades Pertama

                                                           


 Pemakaian Cincin ke Bpk Yosep Uli Muda, Mantan Kades ke tiga
oleh Bapak Hendrikus Hading Uran

                                                            

Pemakaian Cincin ke Mantan Kades ke enam, Bapak Markus Lapi Witi
oleh Ketua BPD Lewotobi
 

Setelah penyematan tanda Jasa dilanjutkan dengan acara Peluncuran Buku Desa, Seri Pertama dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Buku ini berkisah  tentang Kisah Suku- Suku di Kampung Lewouran. Seri Kedua yang akan terbit berkisah tentang Kisah Suku-Suku di Lewotobi. Kehadiran buku ini merupakan terjemahan atas amanat Lewo dalam Seminar Budaya pada tanggal 1 Juni 2017, dengan Tema “ Membangun Desa Berbasis Budaya Ekologis” di mana satu poin amanat Lewo yang tertuang dalam Berita Acara Komitmen adalah  Mendokumentasikan Warisan  Budaya dalam Bentuk Buku sehingga menjadi Dokumen Desa Lewotobi. Peluncuran ini ditandai dengan Pembubuhan  tanda tangan oleh ketiga mantan kepala Desa  di 10 buah Buku dan diserahkan ke bebepara Pihak yakni, Ignasius Boli Uran, S. Fil, Camat Ile Bura, Bapak Jack Ara kian, Mantan Camat Ile Bura, Yosep Tua Dolu, Mantan Sekcam Ile Bura, yang sekarang tela menjadi Camat, Yohanes Ibi Hurint, Kepala Puskesmas Ile Bura, Kepala  SDK Lewotobi, Lewouran dan Kepala SMPK Ile Bura serta Perwakilan pemilik Narasi Lewouran, rencana diterima oleh Bapak Anselmus Pai Muda, tidak hadir karena sakit maka diterima oleh Ketua Stasi Lewouran, Bapak Agustinus Beo Uran. Sepuluh orang yang diundang diatas ini menerima buku dari para mantan kepala Desa dan mereka pun berkontribusi dengan membeli buku ini. Hasil penjualan buku ini diserahkan ke Forum Anak Desa untuk kegiatan pengembangan minat dan bakat mereka.







 
para mantan Kades Membubuhkan tanda tangan di Buku Kenangan 50 Tahun  Desa Lewotobi, Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri





                                                       
 Foto Bersama dengan 10 Orang Penerima Buku

Yosep Tua Dolu,  sebagai camat Pertama Ile Bura, dalam sambutannya mewakili undangan memberikan appresiasi atas perjalanan Desa Lewotobi. Rasa syukurnya karena ia dan para mantan pegawai kecamatan Ile Bura boleh hadir dan berbagi sukacita. Boleh kembali merasakan rasa Persaudaraan bersama orang-orang kecil, orang orang sederhana yang mengajari ia bagaimana belajar memberi dalam ketulusan dan totalitas pengabdian. Camat Ile Bura, Jack Ara Kian kembali menegaskan kembali tentang makna Pelayanan dalam Tugas sebagai Kepala Desa dan rasa tanggungjawab dari masyarakat sebagai empunya narasi. Beliau mendorong warga untuk membeli buku ini agar sejarah, Kisah Lewo terus dituturkan dan darinya boleh lahir komitmen-komitmen baru sebagaimana hasil komitmen dari Warga Lewouran dalam acara Bedah Buku ini di Lewouran pada tanggal 20 Oktober 2018.



Camat Ile Bura Jack Ara Kian

Komitmen Warga Lewouran, pemilik Narasi yang tertuang dalam Buku Ini, yakni : Membangun Rumah Adat di Lewo Oki , Kampung lama, Merstorasi Due Date, Hutan terlarang, mengembalikan Newa ( Nura ) di Lokasi Bao Bele Tiwe Lime yang dimateraikan sebagai Hutan Suku Kwure, ke Suku Kwure, Menjadikan Lokasi Pantai Pede sebagai Lokasi Konservasi Terumbu Karang, Menghidupkan Ritus Lela dan Leba Kene’e dalam semangat Konservasi ekosistem laut serta membagun Kalander Budaya Lewo.

Anselmus Pai Muda, Ketua Lembaga Adat menandatangani Berita Acara Lewo untuk Merawat Warisan Budaya Lewouran


Komitmen Warga Lewouran ini sangat diappresiasi dan di dukung  oleh anak Tana, Pater Dr. Markus Solo Kwuta, yang memberikan Pengantar dari Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Sabtu malam, setelah acara Pawai Marching Band di Lewouran  pada sore hari, dan dilanjutkan dengan Parade membentuk huruf 50 Tahun , di malam hari di lapangan Bola Kaki yang diwarnai dengan kembang api, Pater Markus melalui Video kirimannya ke Penulis dari Vatikan memberikan Ucapan Selamat.  Mengawali Ucapannya beliau mengatakan bahwa Tahun 2018 ditandai dengan tiga peristiwa Besar yakni Emas SMPK Ile Bura, Emas SDK Lewouran dan Emas Desa Lewotobi. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa  Masyarakat harus mampu belajar dan memahami kisah dan sejarah agar dapat merangkai dan membangun masa depan. Kepala Desa dan seluruh elemen masyarakat harus terus memupuk harapan, optimisme untuk menata kearifan – kearifan local sebagai nilai-nilai dalam pembangunan Desa.                         







Dari Kearifan local, gagasan membangun desa berbasis Budaya dikemas dan disuarahkan kembali oleh anak-anak baik selama acara perlombaan-perlombaan seperti membacakan Puisi, berpidato dan menulis artikel maupun acara-acara yang ditampilan dalam  resepsi perayaan Emas ini.
                 



Juara 1 Lomba Pidato Tingkat SMP. Tema yang diangkat tentang Sarung  Figure 7 Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SMP. Imel Kwuta

                                           


                                Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SD, Yosep Pati Hokeng


           
                                                                                 Juara I Lomba Baca Puisi Tingkat SMP : Imel Kwuta



Penampilan Keluarga Besar Puskesmas Ile Bura
                                    
                                                                              
 
Keagungan Kearifan local ini dalam symbol Nasi Tumpeng Beras Jagung, dihidangkan di atas Sebala, dengan lauk pauk Sayu Marungge, Ikan Bakar. Dua Nasi Tumpeng menyimbolkan Gunung Lewotobi berkembar dua. Nasi Tumpeng ini adalah karya dari seluruh elemen masyarakat, yang mengambil peran, memainkan peran dalam keluguan, kesederhanaan, dan ketulusan. Dan Kepala Desa mewakili Ribu Pulo Ratu Lema, dalam gerakan membungkuk, memotong dan menyuap ketiga mantan kepala Desa ini. Sebuah symbol pelayanan, Pengabdian dan Rasa Terima Kasih karena mereka telah melayani Lewo ini dengan ketulusan dan totalitas dalam komitmen pengabdian. Ibadat Sabda dalam Keagungan disyukuri kembali dalam perjamuan  bernuasa Lokal karena masyarakat tidak punya Hosti dan Anggur, karena ada pada mereka hanya nasi Jagung dan Marungge serta Ikan Bakar.





                        
       
 
 
Dari keterbatasan, dari kesederhanaan, mereka terus belajar memberi dan terus menarasikan tentang Keindahaan Hidup di Desa, tentang Desa sebagai sebuah Gerakan Kesunyian Sosial yang terus mendorong alam bawah kesadaran manusia untuk bertindak memuliahkan Manusia, Sesama, Alam. Karena dengan itu Mereka mampu menjawab panggilan Raja Lera Wulan Tana Ekan untuk terlibat dalam totalitas pengabdian dan ketulusan menyapa kehidupan.





Dirgahayu Lewotanaku, menyebut namamu seperti mendaraskan sebuah syair, ada nilai magis, ada nilai seni, ada pengharapan, ada kehidupan, ada kisah yang menanti untuk diartikulasikan dalam semangat “ Bangga Membangun Desa”.


Lewotobi, Penghujung Oktober 2018

URAN, Fabianus Boly

Sabtu, 26 Mei 2018

Merefleksikan Makna " Pete Koda" Dalam Perspektif Manusia Makhluk Simbol


Tradisi  urusan adat pernikahan di masyarakat Lewotobi Kecamatan Ile Bura, satu tahapan adalah Koda Geto. secara Etimologis, Koda : Kata, Geto : Putus . Artinya sebuah Proses untuk mendapatkan keputusan. Hal yang menarik yang hendak penulis angkat dalam refleksi tahapan ini adalah seni memahami Koda Geto yang disebut " Pete Koda" 

Proses Koda Geto merupakan sebuah media komunikasi antara Pihak Perempuan dan delegasi Pihak Laki Laki. Komunikasi yang dibangun adalah kesepakatan untuk besaran dan bentuk penghargaan terhadap wanita, yang akan menjadi istri dari laki-laki. Sebagai sebuah proses komunikasi, kata-kata yang digunakan umumnya tidak mengungkapkan maksud secara jelas tetapi dibingkai dalam kata-kata simbol. Upaya memahami makna  simbol inilah pihak delegasi laki-laki dituntut untuk mampu mendengarkan dan memahami sehingga dapat mencernah makna dan tujuan. inilah yang disebut" Pete Koda" .

Tradisi Koda Geto dalam refleksi penulis merupakan sebuah momentum generasi tua mewarisi sebuah nilai kebudayaan, sebuah nilai yang harus dipahami secara mendalam yakni bagaimana membangun Komunikasi yang bermartabat dan saling pengertian. 

 Recall Shibutan’s dalam Reference Groups as Perspectives, menegaskan bahwa melalui  komunikasi simbolis manusia berperan dalam kebudayaan.  Karena ada proses untuk mengerti sehingga satu sama lain dapat saling memberi dan menerima.  Tindakan untuk mengerti " Knowing"  adalah motivasi dasar manusia untuk memaknai relasi kemanusiaan sebagaimana diulas dalam teori  interaksionisme simbolik oleh George Herbert Mead  yakni sebuah perspektif sosiologi yang dikembangkan pada kisaran pertengahan abad 20, selanjutnya dikembangkan  dalam beberapa pendekatan teoritis yaitu aliran Chicago yang diprakarsai oleh Herbert Blumer, aliran Iowa yang diprakarsai oleh Manford Kuhn, dan aliran Indiana yang diprakarsai oleh Sheldon Stryker.  

Untuk menghasilkan "Koda Geto" sebuah pemahaman bersama, proses Pete Koda harus dilewati, harus dipahami dengan benar dan tepat. Ketika delegasi dari pihak laki laki gagal memahami pesan dari pihak wanita maka yang terjadi adalah kemungkinan muncul konflik.

Sebuah pertanyaan mendasar, mengapa dalam urusan Koda Geto, orang tidak menggunakan kata-kata , kalimat yang jelas dan tegas tetapi membungkus pesan dalam kalimat-kalimat simbol?
Tradisi Koda Geto adalah tradisi Nene Nere , sebuah dialog membangun relasi kekeluargaan, dialog permohonan untuk diterima dalam kesatuan keluarga besar pihak wanita. Mengungkapkan sebuah pesan secara symbol adalah tahapan untuk saling mengenal dan memahami. Bagaimana orang bisa melewati rintangan symbol untuk mencapai pemahaman bersama.

Alasan lain, Koda Geto bukan ruang transaksi nilai wanita yang disebut Belis.  Karena dalam Tradisi Lewotobi, Belis dimaknai sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai luhur seorang wanita. Mengungkapkan secara langsung nilai sebuah belis dan bentuk belis adalah bentuk komunikasi yang merendahkan nilai Nene Nere dan Nilai Wanita. Pesan yang disampaikan secara langsung seperti orang pergi belanja pakaian di pasar dan terjadi proses transaksi. 

Melalui komunikasi symbol, setiap orang melewati tahapan untuk saling mengerti, memahami harapan  satu sama lain dan bersama menguarai symbol menuju pemaham bersama yang disebut “ Koda Geto”. Maka  bagi penulis,  makna  Pete Koda adalah sebuah proses memahami bahasa symbol menuju  kedalaman pemaknaan dan pemahaman bersama.

******** bersambung********
Uran Faby
Penulis dan Pengamat Kebudayaan


 sumber Foto : Uran Oncu


Rabu, 21 Maret 2018

MEMATERAIKAN LEWOTOBI SEBAGAI DESA LAYAK ANAK (Sebuah Refleksi atas Kata Sastra“ Gene Koda Soga Nubu Kenawe”)


Hari Jumad, tanggal 16 Maret dalam Masa Prapaskah ditandai dengan Ibadah Jalan Salib. Sebuah Ziarah Pemaknaan Perjalanan menuju Puncak Gologota, Puncak Salib Terpancang dan semua mata tertuju pada Dia yang dimuliahkan. Hari itu juga Masyarakat  Desa Lewotobi (dulu namanya Desa Birawan tetapi telah berganti nama dengan Desa Lewotobi berdasarkan Perda No 5 Tahun 2015) mengarahkan pandangan mereka, mengarahkan jiwa dan semangat mereka pada sebuah momentum Deklarasi Lewotobi Sebagai Desa Layak Anak dalam Tema “Memateraikan Lewotobi Sebagai Desa Layak Anak” oleh Wakil Bupati Flore Timur Agustinus Payong Boli.

Penulis bersyukur karena tawaran tema yang penulis sampaikan dalam Rapat Panitia diterima. Dalam Konteks menarasikan Tema ini, penulis menyajikan sebuah refleksi mengapa Tema ini dipilih.
Sebuah kalimat sastra (koda kenake) yang ditawarkan oleh Bapak Mathias Wato Kwuta, Kaur Administrasi Desa Lewotobi sangat menarik bagi Penulis yakni “Gene Koda Soga Nubu Kenawe” sebagai sebuah kalimat refleksi yang akan digaungkan di Gapura Penjemputan. Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, Guru di SMPK Ile Bura yang dipercayakan untuk menyusun Sapaan Pembukaan oleh Protokol di Gapura Penjemputan melukiskan dengan indah makna Sastra ini “ 

“ Sejarah Tobi Lewo Pulo, Gelong Tana Lema dalam Perjalanan Waktu semakin Indah dan membanggakan. Lewotobi, Lewotobi yang pernah jadi Pusat Pemerintah Kakang Lewotobi, kini dimateraikan menjadi Desa Layak Anak. Ternyata Leluhur Lewotana telah menenun sendiri dengan benang dan tangan Anak-anak Tanah satu materai Indah ...Anak-Anak Jadi Permata Lewotana yang harus dijaga dan dilestarikan keindahaan masa depannya”.

Warisan Nilai dari Leluhur dituturkan dalam relasi dialogis yang disebut  “Gene Koda”. Arti Etimologis : Gene : Mewarsikan, Meninggalkan, Koda : Kata ( baca Kata-kata, Kalimat). Nilai yang ditanamkan oleh oleh orang tua satu di antaranya  sebagaimana diungkap oleh Romo Christian Uran, Pr  tentang Prinsip dari orangtua “biar kame malu mara bute bia mio anak tetap mori dan sekolah”.  Para leluhur, orang tua telah membangun dan meletakkan sebuah Visi bagimana keberlangsungan  Martabat dan Kualitas dari Lewotana dengan segalah Khasananya. Visi yang diwariskan dalam tuturan lisan, yang diungkapkan dalam cara-cara sederhana, yang dipahami dengan sekian cara.

Dalam Konteks Komunikasi Pembangunan Berbasis Budaya, Kearifan lokal ini harus dikemas dalam guratan pena, dirangkai dalam tulisan agar pesan-pesan tersebut terus hidup, terus direfleksikan dan darinya setiap generasi, setiap orang boleh membaca,  menginteprestasikan, mengaktualisasikan sebagai sebuah landasan bagaimana mendesign pembangunan yang berpihak pada anak-anak sebagai “ Nubu Kenawe”.

Kata “Soga” sebagai penyambung kata Gene Koda dan Nubu KenaweGene Koda Soga Nubu Kenawe” mereflesikan sebuah gerakan Dinamis. Soga berarti Mengakat. Gerakan mengangkat bisa dilakukan oleh seseorang jika beban tersebut ringan tapi jika berat maka butuh kekuatan dan kesatuan, kekompakan. Soga dalam konteks ini adalah gerakan kesatuan secara Lewotana, secara Desa. Sebagai gerakan dinamis, setiap anak tanah, setiap generasi, setiap pihak  dipanggil untuk terus merefleksikan dan memperbaharui pesan-pesan yang termateraikan (Gene Koda) dalam konteks kekinian. Kata Gene Koda dalam konteks ini diterjemahkan sebagai kata “ Memateraikan”. Sesuatu yang telah dimateraikan harus dijaga dan ditaati oleh Generasi sekarang dan seterusnya.
Ritus penjemputan yang semuanya dibawakan oleh anak-anak merupakan sebuah gerakan Dinamis, bagaimana anak-anak dilibatkan sejak awal untuk belajar “Soga” nare Lewotana, bagaimana mereka belajar mengangkat nama Lewotana, nama Desa. Gerakan ini juga menunjukkan sebuah proses pemaknaan nilai, pemaknaan peran dalam kehidupan sosial budaya. Gerakan yang mewajibkan generasi tua untuk berani memberi kesempatan kepada Generasi Muda untuk tampil, bukannya terus bercokol pada egois diri.

Nilai yang dimateraikan  adalah Nilai Keberpihakan pada Anak. Nilai-nilai keberpihakan ini harus mampu diterjemahkan, didesign  dalam Tataran Strategis Pembangunan Desa. Dengan memateraikan Nilai Keberpihakan ini maka seluruh nuansa design pembangunan Desa harus berfokus pada anak. Artinya apa yang sedang dan akan  dilakukan harus membawa perubahaan transformatif-holistik bagi tumbuh kembang anak menuju generasi yang berkualitas. Dengan “memateraikan” ini,  titik refleksi setiap kebijakan adalah untuk anak-anak, untuk Generasi. Tarsisius Buto Muda, Kepala Desa Lewotobi, dalam pandang penulis mewarisi nilai-nilai kepemimpinan dari Ayahnya  Longginus Nuli Muda, mantan Kepala Desa Birawan. Gaya kepemimpinan ayahnya diterjemahkan oleh beliau dalam konteks dan semangat kekinian. Inilah satu dari sekian contoh bagaimana proses menginternalisasikan keluhuran nilai-nilai warisan leluhur, warisan budaya.

Refleksi kegembiraan atas pendeklarasian Desa Layak Anak harus dilanjutkan dalam gerakan komunal, dalam gerakan solidaritas untuk bersama- sama dalam beragam cara mengangkat martabat anak-anak “ Nubu Kenawe “ ( Nubu : Tunas, Kenawe, tumbuh ). Nubu Kenawe, tunas yang telah bertumbuh harus dijaga, dirawat dengan baik. Ini bukan berarti hanya fokus pada anak-anak yang baru lahir saja tetapi sejak awal dalam kandungan ibunya. Sekian regulasi dalam Peraturan Desa yang dilahirkan telah menjadi satu dari sekian penuntun bagaimana  setiap warga Desa menempatkan anak sebagai prioritas utama dalam pembangunan Desa.

Gerakan “ Soga Nubu Kenawe” adalah pesan keterpanggilan untuk setiap anak tanah baik di Lewotobi Lewouran juga di tanah rantau untuk terus menghidupi nilai-nilai luhur ini.
Gene Koda dapat efektif ketika terjadinya proses komunikasi Dialogis. Penuturan warisan –warisan budaya harus menjadi ruang dan lokus utama di dalam rumah ketimbang berhadapan layar lebar dengan tawaran film-film yang tidak mendidik dan tidak sesuai umur anak-anak. Proses komunikasi dialogis harus disertai dengan niat untuk siap memikul Salib menuju Puncak Kemenangan karena hanya dengan totalitas dalam karya pelayanan,  sebagaimana Yesus yang Total memberikan diri maka, kita pun boleh dimateraikan oleh Kristus yang Bangkit karena kita dengan cara kita masing-masing telah menghantar Anak-anak menuju Yesus Sang Guru Agung Sumber Keselamatan.




Selamat Menyongsong Paskah.

URAN, Faby Boli, S.IKom
Penulis dan Pemerhati Budaya.

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...