Tradisi
urusan adat pernikahan di masyarakat Lewotobi Kecamatan Ile Bura, satu tahapan
adalah Koda Geto. secara Etimologis, Koda : Kata, Geto : Putus . Artinya sebuah
Proses untuk mendapatkan keputusan. Hal yang menarik yang hendak penulis
angkat dalam refleksi tahapan ini adalah seni memahami Koda Geto yang disebut "
Pete Koda"
Proses Koda
Geto merupakan sebuah media komunikasi antara Pihak Perempuan dan delegasi
Pihak Laki Laki. Komunikasi yang dibangun adalah kesepakatan untuk besaran dan
bentuk penghargaan terhadap wanita, yang akan menjadi istri dari laki-laki. Sebagai
sebuah proses komunikasi, kata-kata yang digunakan umumnya tidak mengungkapkan
maksud secara jelas tetapi dibingkai dalam kata-kata simbol. Upaya memahami
makna simbol inilah pihak delegasi laki-laki dituntut untuk mampu
mendengarkan dan memahami sehingga dapat mencernah makna dan tujuan. inilah
yang disebut" Pete Koda" .
Tradisi Koda
Geto dalam refleksi penulis merupakan sebuah momentum generasi tua mewarisi
sebuah nilai kebudayaan, sebuah nilai yang harus dipahami secara mendalam yakni
bagaimana membangun Komunikasi yang bermartabat dan saling pengertian.
Recall
Shibutan’s dalam Reference Groups as Perspectives, menegaskan bahwa
melalui komunikasi simbolis manusia berperan dalam kebudayaan. Karena
ada proses untuk mengerti sehingga satu sama lain dapat saling memberi dan
menerima. Tindakan untuk mengerti " Knowing" adalah motivasi dasar manusia untuk memaknai
relasi kemanusiaan sebagaimana diulas dalam teori interaksionisme
simbolik oleh George
Herbert Mead yakni sebuah perspektif sosiologi yang dikembangkan pada
kisaran pertengahan abad 20, selanjutnya dikembangkan dalam beberapa
pendekatan teoritis yaitu aliran Chicago yang diprakarsai oleh Herbert Blumer, aliran Iowa
yang diprakarsai oleh Manford
Kuhn, dan aliran Indiana yang diprakarsai oleh Sheldon Stryker.
Untuk menghasilkan "Koda Geto" sebuah
pemahaman bersama, proses Pete Koda harus dilewati, harus dipahami
dengan benar dan tepat. Ketika delegasi dari pihak laki laki gagal memahami
pesan dari pihak wanita maka yang terjadi adalah kemungkinan muncul konflik.
Sebuah pertanyaan mendasar, mengapa dalam
urusan Koda Geto, orang tidak
menggunakan kata-kata , kalimat yang jelas dan tegas tetapi membungkus pesan
dalam kalimat-kalimat simbol?
Tradisi Koda
Geto adalah tradisi Nene Nere , sebuah
dialog membangun relasi kekeluargaan, dialog permohonan untuk diterima dalam
kesatuan keluarga besar pihak wanita. Mengungkapkan sebuah pesan secara symbol adalah
tahapan untuk saling mengenal dan memahami. Bagaimana orang bisa melewati
rintangan symbol untuk mencapai pemahaman bersama.
Alasan lain, Koda Geto bukan ruang transaksi nilai
wanita yang disebut Belis. Karena dalam
Tradisi Lewotobi, Belis dimaknai sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai
luhur seorang wanita. Mengungkapkan secara langsung nilai sebuah belis dan
bentuk belis adalah bentuk komunikasi yang merendahkan nilai Nene Nere dan Nilai Wanita. Pesan yang disampaikan secara langsung seperti orang
pergi belanja pakaian di pasar dan terjadi proses transaksi.
Melalui
komunikasi symbol, setiap orang melewati tahapan untuk saling mengerti,
memahami harapan satu sama lain dan
bersama menguarai symbol menuju pemaham bersama yang disebut “ Koda Geto”. Maka bagi penulis, makna Pete Koda adalah sebuah proses memahami
bahasa symbol menuju kedalaman pemaknaan
dan pemahaman bersama.
********
bersambung********
Uran Faby
Penulis dan
Pengamat Kebudayaan
sumber Foto : Uran Oncu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar