Sabtu, 26 Mei 2018

Merefleksikan Makna " Pete Koda" Dalam Perspektif Manusia Makhluk Simbol


Tradisi  urusan adat pernikahan di masyarakat Lewotobi Kecamatan Ile Bura, satu tahapan adalah Koda Geto. secara Etimologis, Koda : Kata, Geto : Putus . Artinya sebuah Proses untuk mendapatkan keputusan. Hal yang menarik yang hendak penulis angkat dalam refleksi tahapan ini adalah seni memahami Koda Geto yang disebut " Pete Koda" 

Proses Koda Geto merupakan sebuah media komunikasi antara Pihak Perempuan dan delegasi Pihak Laki Laki. Komunikasi yang dibangun adalah kesepakatan untuk besaran dan bentuk penghargaan terhadap wanita, yang akan menjadi istri dari laki-laki. Sebagai sebuah proses komunikasi, kata-kata yang digunakan umumnya tidak mengungkapkan maksud secara jelas tetapi dibingkai dalam kata-kata simbol. Upaya memahami makna  simbol inilah pihak delegasi laki-laki dituntut untuk mampu mendengarkan dan memahami sehingga dapat mencernah makna dan tujuan. inilah yang disebut" Pete Koda" .

Tradisi Koda Geto dalam refleksi penulis merupakan sebuah momentum generasi tua mewarisi sebuah nilai kebudayaan, sebuah nilai yang harus dipahami secara mendalam yakni bagaimana membangun Komunikasi yang bermartabat dan saling pengertian. 

 Recall Shibutan’s dalam Reference Groups as Perspectives, menegaskan bahwa melalui  komunikasi simbolis manusia berperan dalam kebudayaan.  Karena ada proses untuk mengerti sehingga satu sama lain dapat saling memberi dan menerima.  Tindakan untuk mengerti " Knowing"  adalah motivasi dasar manusia untuk memaknai relasi kemanusiaan sebagaimana diulas dalam teori  interaksionisme simbolik oleh George Herbert Mead  yakni sebuah perspektif sosiologi yang dikembangkan pada kisaran pertengahan abad 20, selanjutnya dikembangkan  dalam beberapa pendekatan teoritis yaitu aliran Chicago yang diprakarsai oleh Herbert Blumer, aliran Iowa yang diprakarsai oleh Manford Kuhn, dan aliran Indiana yang diprakarsai oleh Sheldon Stryker.  

Untuk menghasilkan "Koda Geto" sebuah pemahaman bersama, proses Pete Koda harus dilewati, harus dipahami dengan benar dan tepat. Ketika delegasi dari pihak laki laki gagal memahami pesan dari pihak wanita maka yang terjadi adalah kemungkinan muncul konflik.

Sebuah pertanyaan mendasar, mengapa dalam urusan Koda Geto, orang tidak menggunakan kata-kata , kalimat yang jelas dan tegas tetapi membungkus pesan dalam kalimat-kalimat simbol?
Tradisi Koda Geto adalah tradisi Nene Nere , sebuah dialog membangun relasi kekeluargaan, dialog permohonan untuk diterima dalam kesatuan keluarga besar pihak wanita. Mengungkapkan sebuah pesan secara symbol adalah tahapan untuk saling mengenal dan memahami. Bagaimana orang bisa melewati rintangan symbol untuk mencapai pemahaman bersama.

Alasan lain, Koda Geto bukan ruang transaksi nilai wanita yang disebut Belis.  Karena dalam Tradisi Lewotobi, Belis dimaknai sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai luhur seorang wanita. Mengungkapkan secara langsung nilai sebuah belis dan bentuk belis adalah bentuk komunikasi yang merendahkan nilai Nene Nere dan Nilai Wanita. Pesan yang disampaikan secara langsung seperti orang pergi belanja pakaian di pasar dan terjadi proses transaksi. 

Melalui komunikasi symbol, setiap orang melewati tahapan untuk saling mengerti, memahami harapan  satu sama lain dan bersama menguarai symbol menuju pemaham bersama yang disebut “ Koda Geto”. Maka  bagi penulis,  makna  Pete Koda adalah sebuah proses memahami bahasa symbol menuju  kedalaman pemaknaan dan pemahaman bersama.

******** bersambung********
Uran Faby
Penulis dan Pengamat Kebudayaan


 sumber Foto : Uran Oncu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...