Jumat, 02 Juni 2017

BIRAWAN MENUJU PEMBANGUNAN DESA BERBASIS BUDAYA EKOLOGIS



BIRAWAN MENUJU PEMBANGUNAN DESA BERBASIS BUDAYA EKOLOGIS

“Seiring dengan hari lahirnya Pancasila hari ini tgl 01 Juni -2017 Desa Birawan melahirkan satu babak baru dalam pembangunan desa dengan melakukan seminar Budaya pada hari ini hingga mendorong lahirnya regulasi di tingkat Desa berupa Peraturan Desa Birawan tentang Perlindungan Pesisir dan Laut. Kita semua tentu punya harapan dan mimpi yang sama untuk bagaimana  menjaga dan menghormati Ibu Bumi yang telah memberikan kita hidup dan kehidupan sesuai mandat Pastoral Keuskupan Larantuka dalam APP tahun 2017 sebagai tahun ekology. Mari kita berproses secara baik hingga akhir acara ini agar kita memiliki pemahaman yang satu dan sama” demikian sapaan Kepala Desa Birawan Tarsisius Buto Muda saat membuka kegiatan Seminar Budaya.


Bertempat di halaman Kantor Desa Birawan, kegiatan  seminar ini diikuti oleh dua ratus limah puluh orang dengan lima pembicara yakni Rufus Koda Teluma, S.Sos Kadis DPMD Kabupaten Flores Timur dengan Materi Membangun Desa dalam Perspektif UU No 6 Tahun 2014 " tentang Desa dari aspek Kewenangan Lokal  Berskala Desa ". Rm. Thomas Labina, Pr dengan materi Refleksi Warisan Budaya Lewotobi dalam Perspektif Antropologi. Rm. Andi Fernandes, Pr dari Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Larantuka dengan materi Warisan Budaya dalam Perspektif Iman dan Mandat Pastoral Keuskupan Larantuka. Iqbal Herwata dari Misool Baseftin dengan materi Membangun dan Menata Konservasi Alam Laut . Petrus Pemang Liku,S.Sos,MT sebagai Pelaksana Tugas Dinas Pariwisata dengan Tema Pengembangan  Destinasi Pariwisata Budaya sebuah Tantangan dan Peluang. Kegiatan ini dipandu oleh Rm. Marcelinus H.F. Lamury Pr, Pastor Paroki Santo Yosep Lewotobi. 

Sesi Pertama oleh Rm Thomas. Beliau mengajak peserta untuk melakukan refleksi makna manusia Lamaholot. Lamaholot dari kata Lama dan Holot. Lama berarti : rumah-rumah membentuk perkampungan. Holot berarti bersambungan simbol kekeluargaan dan gotong royong. Seminar Budaya berbasis ekologi ini merupakan momentun bagi masyarakat di Kampung Lewotobi dan Lewouran untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan. Karena rendahnya kesadaran dan kemampuan refleksi maka kadang nilai-nilai luhur kehidupan diabaikan. Beliau pun mengajak peserta untuk melihat warisan budaya dalam konteks dunia pendidikan karena hanya melalui pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal anak-anak, generasi harapan Gereja, Lewotana menjadi orang yang mampu mewartakan keagungan Tuhan. Rm Thomas menegaskan bahwa  orang harus berani bermimpi dan berani mewujudkan mimpi tersebut. Dalam nada humor beliau menegaskan, agar orang cepat bermimpi maka cepatlah tidur dan agar mimpi itu dapat menjadi kenyataan  maka orang harus cepat bangun sebelum matahari terbit.



Terbitnya Matahari adalah Rahmat yang harus terus disyukuri. Rasa Syukur atas momentum seminar ini, Rm Andi Fernandes dari Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Larantuka mengajak peserta untuk melihat warisan budaya dalam perspektif Mandat Pastoral Keuskupan Larantuka. Kegiatan Seminar Budaya ini sejalan dengan Mandat Pastoral yakni Pengembangan Pertobatan Ekologis untuk pelestarian lingkungan  dan kegiatan seminar atau lokakarya sebagai satu dari kegiatan untuk menjawab mandat pastoral ini. Budaya berbasis Ekologis adalah gerakan dan momentum untuk melihat dan memperlakukan alam sebagai IBU Bumi yang merangkul manusia. Alam harus dilihat sebagai bagian utuh dari Karya Keselamatan Umat Manusia.







Sementara itu dari narasumber  Petrus Pemang Liku,S.Sos,MT  beliau menegaskan bahwa  Visi Dinas Pariwisata  Flores Timur sejalan dengan Mandat Tahun Ekologi  yakni “Terwujudnya kepariwisataan yang berbasis wisata alam, wisata bahari dan wisata budaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian budaya serta lingkungan hidup”. Inisiatif Desa Birawan membangun Desa berbasis budaya merupakan sebuah potensi pengembangan wisata yang harus mampu dikelola secara terintegrasi dan bermitra. Senada dengan Plt Dinas Pariwisata ini, Bapak Rufus,  sapaan Kepala Dinas Pemerintahan dan Masyarakat Desa Kabupaten Flores Timur ini, seperti pembicara yang lain memberikan apresiasi atas inisiatif Desa Birawan ini. Menurut beliau, Desa Birawan telah mampu menterjemahkan Kewenangan Lokal Berskala Desa yang merupakan mandat dari Undang-undang Desa No 6 Tahun 2014. Lanjutnya, Desa Birawan adalah Desa pertama di Kabupaten Fores Timur yang mampu mengemas kegiatan Seminar Budaya ini. Kesanggupan Desa Birawan dalam menterjemahkan mandat asas  Rekognisi menegaskan bahwa Desa ini sungguh – sungguh menghadirkan pelayanan yang holistik. Kesadaran holistik khususnya dalam relasi dengan ekosistem laut dipertegas oleh Iqbal Herwata  dari Misool Baseftin, LSM yang bermitra dengan Desa Birawan dalam pengembangan kawasan Konservasi Terumbu Karang dan Penyu. Penjelasan beliau tentang Terumbu karang, Penyu, Parimata membuat para peserta menjadi sadar bahwa kebiasaan mereka selama ini ternyata salah. Terumbu Karang sebagai rumah Ikan harus diperlakukan dengan baik, dirawat sebagaimana manusia merawat rumah mereka. Keseimbangan ekosistem laut harus dijaga karena ketika satu rantai kehidupan terganggu maka manusia akan merasakan dampaknya.





Setelah presentasi lima orang Narasumber ini dilanjutkan dengan sesi  Pertanyaan Informatif dan Diskusi kelompok. Para peserta dibagi kedalam tiga kelompok. Kelompok pertama membahas tentang Mandat Pastoral  dengan dua pertanyaan penuntun yakni : Apa saja nilai-nilai kearifan lokal yang memberikan inspirasi khususnya dalam Desa Birawan dan Bagaimana pengembangan nilai tersebut sejalan dengan mandat Pastoral dan Arah Pembangunan Desa Birawan. Kelompok kedua membahas tentang  Kekayaan Laut dengan peranyaan Sejauh mana anda/ kelompok mengetahui kekayaan di laut di Pesisir Pantai Lewotobi dan Apa yang anda harapkan dan bisa dilakukan  agar kekayaan laut dapat dirawat dan dikembangan demi kepentingan masyarakat dan anak cucu. Kelompok ketiga tentang Pengembangan Pariwisata. Pertanyaan; Apa  harapan anda dalam pengembangan wisata pantai/Bahari dari pihak pemerintah dan Apa  yang harus masyarakat lakukan  dalam  pengembangan wisata pantai.





Hasil diskusi kelompok ini dipertajam kembali oleh para narasumber. Rm Marsel, sapaan moderator kegiatan ini merangkum hasil diskusi dengan tiga poin yakni “Konektivitas, Kolaborasi dan Diverensiasi”. Hal yang “membeda” dari  warisan budaya harus mampu dikemas dalam literasi yang mendidik mayarakat, keunikan –keunikan warisan budaya harus mampu didesign dalam spirit yang mempersatukan dan bersolider dengan alam. Sebelum penutupan kegiatan dengan pembaca Berita Acara, Rm. Marsel memberikan kesempatan kepada  Ignasius Boli  Uran, anggota DPRD Kabupaten Fores Timur yang hadir sebagi anak tanah. 


 Ignas sapaannya  memberikan apresiasi atas kegiatan ini. Beliau menegaskan bahwa Lewotobi sebagai pusat pemerintahan Tradisional dalam sejarah kakang, sebagai pusat pemerintah moderen yakni pusat pemerintah Kecamatan, juga sebagai pusat pendidikan di mana pada Juni tahun 2018 akan merayakan momentum Pesta Emas SMPK Ile Bura. Sebagai pusat pemerintahan dan pendidikan Lewotobi  harus mampu mengemas dan menunjukkan jati diri budayanya. “ Dan Lewotobi bukan hanya sebagai Lewotobi yang kita injak ini tetapi sebagai wilayah ini ( Kecamatan) dari aspek pendidikan mesti kita pertimbangkan sebagai wilayah yang memberkan kontribusi pada pembangunan daerah” Lebih lanjut Ignas menegaskan bagaimana nilai-nilai luhur yang didiskusikan satu diantaranya adalah pengendalian diri dalam relasi dengan sesama dan alam harus menjai dasar kita membangun Lewotana, Desa Birawan. Dalam konteks pengembangan Pariwisata, Ignas mengingatkan bahwa pengembangan budaya untuk kepentingan kehidupan kita bukan untuk pariwisata. “Jika cara kita berprasangkah, berpikir bahwa kita mengembangkan budaya untuk menarik wisatawan dari luar maka kita menciptkan budaya untuk kepentingan sesaat, maka Budaya  sebagai Identitas Lewo tidak kita bangun.  Tanpa mengabaikan niat baik pemerintah untuk kepentingan komersial, ekonomi , budaya , adat istiadat kita hidupkan untuk kepentingan kita”

Upaya menunjukan jati dirinya dan budayanya terangkum dalam hasil berita acara yakni :

  1. Peserta berkomitmen untuk melakukan konservasi Terumbu Karang, Perlindungan Telur   Penyu dan  Penyu yang akan tertuang dalam Peraturan Desa
  2. Peserta berkomitmen untuk menghidupkan ritus adat berkaitan dengan relasi dengan alam ekosistem laut
  3. Peserta Berkomitmen untuk melakukan Pendokumentasian dan Menarasikan warisan budaya  secara tertulis sehingga menjadi dokumen Budaya Desa Birawan
  4. Peserta berkomitmen untuk tidak menangkap aneka jenis ikan dan parimata yang dilindungi
  5. Peserta Bekomitmen untuk menjaga kebersihan pantai dan melakukan kegiatan penanaman pohon untuk mengatasi abrasi pantai
  6. Mendorong pemerintah Desa untuk membangun kemitraan denga pihak pemerintah, Gereja  dan swasta dalam  restorasi dan pengembangan ekositem laut dan membangun Grand Design Pembangunan Wisata Desa

Seminar Budaya berbasis Ekologis berjalan lancar dan sukses ini  menegaskan bahwa masyarakat Desa Birawan rindu untuk bersama melakukan refleksi budaya dan sekaligus menegaskan bahwa masyarakat Lewotobi dan Lewouran siap membangun Desa Birawan berbasis budaya Ekologis










Uran Faby

Team Inisiator Seminar Budaya

Senin, 15 Mei 2017

MENGAIS PESAN EKOLOGI DI AJANG PENAS XV PETANI NELAYAN ANDALAN



Suarah Adzan menyapa kami di Beranda Aceh saat pesawat Lion Air mendarat di Bandara Aceh. Senja Enam Mei 2017 untuk pertama kali aku merasakan suasana Kota Aceh. Di depan  ruang penjemputan penumpang, alunan musik  Qosidah lembut menyapa.  Di tengah hiruk pikuk penumpang menanti bagasi, aku mencoba menikmati syair-syair sapaan yang ditujuhkan bagi para peserta Pekan Nasional Petani Nelayan XV. Sungguh terasa rajutan Kebangsaan.

Aceh yang bangkit dari keterpurukan akibat Bencana Tsunami telah mendandani malam-malamnya dengan geliat kehidupan yang tidak sepih. Dinamika kehidupan terus menorehkan kisahnya. Dan pada tanggal 7 Mei, Hari Minggu, sopir taksi menghantar kami menuju Gereja Katolik Hati Kudus. Misa pagi dinamakan Misa Nusantara karena umat yang hadir dari Marauke sampai Sabang. Banyak peserta awalnya bertanya-tanya, apakah di Aceh ada Gereja. Ternyata Paroki Hati Kudus Aceh telah ada sejak tahun 1926 dan pada hari Sabtu tanggal 6 Mei Paroki ini merayakan hari Jadi ke 90 Tahun.



Kekuatan Ekaristi yang kami terima hari itu memampukan kami untuk mengikuti rangkaian kegiatan Penas Petani Nelayan Andalan XV. Kegiatan ini adalah pertemuan para petani Nelayan se Nusantara dalam rangkah saling belajar, saling berbagi informasi, pengalaman, keahlian. Diperkirakan sekitar 35 ribu petani yang hadir dalam kegiatan ini. Para petani melalui wadah Kontak Tani Nelayan Andalan dapat saling membangun relasi kemitraan. Kegiatan –kegiatan dalam Penas adalah Pameran Produk-produk pertanian dari setiap Provinsi, Gelar Teknologi, temu wicara dengan pengusaha, lomba-lomba.

Pertanian Organik- Pesan Ekologi

Pada stand NTT, kontingen Kabupaten Flores Timur memamerkan jagung titi dan Kacang mente. Banyak pengunjung tertarik dengan makanan khas Flores Timur ini. Olahan secara tradisional dan merupakan hasil dari pertanian organik ternyata sangat berpengaruh pada para pembeli. Demikian juga pada kacang mente. Pesan ekologi melalui pendekatan pertanian organik ini ternyata mendapat respon yang sangat baik dari seorang pengunjung  dari Propinsi Lampung. Bapak  Ir. Stanislaus Bambang Cahyo. Usaha beliau adalah Budidaya Kelor, Lada dan Ternak Kalkun. Pria kelahiran  tanggal 11 April 1961 ini sangat peduli dengan pengembangan pertanian Organik.
Hal yang menarik dari diskusi kami adalah Budidaya Kelor dan olahan daun kelor menjadi beberapa jenis produk olahan seperti mie kelor, teh kelor. Juga pengolahan limbah kelor yakni batang kelor menjadi pupuk organik. Umat Paroki Pringsewu Keuskupan Tanjung Karang ini berharap dapat membangun kerjasama dengan para petani di Keuskupan Larantuka dalam pengembangan kelor.



 Tiwul Beras dari Ubi Kayu

Cerita menarik lainnya masih dari Provinsi Lampung adalah olahan beras dari Ubi Kayu, yang biasa disebut Tiwul. Sosok di balik produk ini adalah Ibu Idah Handayani.  Produk yang dihasilkan bervariasi yakni  Tiwul warna putih, Merah dan Hitam. Hasil usahanya ini telah mendapat penghargaan dari Kementrian Pertanian. Dari usaha ini, Pihak Universitas Lampung telah membantu beliau dalam pengembangan Teknologi Tepat Guna Pengolahan Tiwul. Produk beras ubi ini pun rutin mendapat pesanan dari Jakarta. Untuk mengembangan usahanya ini, beliau mempekerjakan 50 orang ibu –ibu untuk pengupasan kulit Ubi. Satu hal menarik adalah kulit ubi diolah lagi ( fermentasi ) untuk pakan ternak sapi.

Olahan pakan ternak ini pun langsung dipasarkan ke peternak sapi dan peternak sapi pun membantu beliau dengan menyediakan pupuk Kompos dari kotoran sapi. Hal menarik adalah bagaimana setiap unit usaha saling berkaitan dan saling mendukung.

Dalam kunjungan ke beberapa stand, dari diskusi dengan para petani ternyata pendekatan organik pada budidaya Pajale, sayur-sayuran masih sangat rendah. Penggunaan pupuk kimia masih mendominasi hasil pertanian. Hanya segelintir saja petani yang mulai fokus pada pertanian organik. Gaung pertanian organik seperti suarah minor di tengah lantunan seribu nada.



Petani, Berani Bermimpi

Beberapa petani yang sukses dalam pengembangan usaha pertanian, dalam sharing mengatakan bahwa semuanya berawal dari mimpi. Ibu Idah Handayani bermimpi bagaimana agar hasil kebun Ubu Kayu dapat diolah dengan aneka jenis dan warna sehingga beliau tidak hanya menjual dalam bentuk gelondongan saja. Bapak Bambang bermimpi bagaimana mengembangkan pertanian organik?

Petani tidak hanya fokus pada produksi saja tetapi bagaimana pengolahan pasca panen. Hal yang menarik adalah bagaimana sistim kemitraan yang dibangun sehingga para petani mampu dalam mengakses sumber daya dukung dalam  pengembangan hasil pertanian. Sebagaimana kata-kata Ebiet G. Ade aku punya mimpi, para petani Flores Timur, petani di Keuskupan Larantuka pun harus berani bermimpi bahwa Pertanian Flores Timur akan terkenal dengan Branding Pertanian Organik.
Meskipun gaung Pertanian Organik masih seperti suarah minor tetapi ketika para petani bersatu, maka gaung pertanian yang ramah Lingkungan sesuai pesan tahun Ekologi akan lebih bergemah kuat dan berdaya transformatif.

Wilayah Flores Timur kaya dengan Kelor, Ubi Kayu tetapi kita masih “ kurang bermimpi” dalam mengolah potensi lokal ini. Masih banyak potensi lokal yang belum dikembangkan secara sistimatis dan sinergis. Semuanya masih bergerak secara parsial. Di pelosok-pelosok banyak petani yang telah berani bermimpi tapi kadang masih terpaku pada mimpi, belum beranjak mengambil langkah awal.

Kisahpun berakhir, tapi gaung ekologi terus bergemah.  Taksi di pagi subuh, Kamis 11 Mei  menghantar kami ke Bandara untuk kembali ke Larantuka. Aceh yang telah bangkit dari keterpurukan mengajari banyak hal. Rasa penghormatan dan penghargaan terhadap sesama, keramahan dalam menyapa sesama menegaskan bahwa Aceh adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat bangkit kembali menegaskan bahwa Ia Tuhan selalu setia menolong manusia. Inisiatif Tuhan pun harus diimbangi dengan mimpi dan usaha manusia.

Mewujudkan Pertanian Organik adalah cara para Petani Memulihkan Karya Ciptaan Tuhan. Mengolah hasil pertanian dalam aneka bentuk, kemasan, cita rasa adalah cara kita menyajikan Persembahan di Altar Tuhan agar Ia mengubahnya menjadi Sukacita Surgawi.

Uran Oncu
Peserta Penas XV

Minggu, 16 April 2017

MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL BUAH PERTAMA HASIL LADANG UNTUK SAUDARI Sebuah refleksi di tahun Ekologi



MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL
BUAH PERTAMA HASIL LADANG UNTUK SAUDARI
Sebuah refleksi di tahun Ekologi

Musim memanen hasil ladang, padi, jagung telah menanti para petani untuk mendendangkan syair-syair di hamparan ladang, bersiul di liuk tanaman-tanaman. Teriakan anak-anak sekolah menyusul orang tua mereka di ladang membahana di dinding bukit, memantul menggapai suarah sahutan. Dari lembah beralun lembut denting batu untuk meniti jagung. Di pelataran bukit, barisan burung gereja mengintai ladang sepih untuk mencari sisa-sisa padi. Kehidupan di ladang semarak dan kesemarakan itu berawal dari sebuah kearifan...
Sebelum para petani memanen hasil ladang, saudari mereka atau anak putri mereka diberi kesempatan untuk memetik jagung muda, membakar dan menikmati jagung muda sebelum anggota keluarga yang lain menikmati hasil ladang tersebut. Sebuah pertanyaan refleksi, mengapa saudari diberi tempat terdepan, pertama untuk menikmati hasil ladang ini?. Secara mitos, padi, jagung adalah bagian dari tubuh wanita yang mengorbankan hidupnya untuk keberlangsungan kehidupan manusia, keluarga mereka. Memberikan mereka tempat terdepan adalah bentuk penghargaan, penghormatan bagi mereka.
Refleksi tempat terdepan menegaskan peran wanita, saudari sebagai orang terdepan yang membawa berita, pesan dari saudara mereka saat mempersunting seorang gadis. Dalam ritus adat pernikahan masyarakat Lamaholot, Flores Timur, peran seorang saudari teramat penting, ia menjadi orang pertama, terdepan, orang yang bertugas melayani keluarga saat menikmati menu adat. Tanpa seorang saudari, setiap tahapan ritus adat tidak dapat dimulai. Perannya sungguh vital.
Peran vital karena ia memberikan kehidupan, kehadiraannya, pengorbanannya untuk keberlangsungan sebuah proses kehidupan baru yang dimulai. Eksistensi yang teramat vital ini kadang menjadi sebuah paradoks ketika melihat realita rasa penghormatan, penghargaan terhadap wanita yang rendah. Realitas wanita mengalami kekerasan, realita rendahnya penghargaan terhadap wanita saat berhadapan dengan pembagian warisan lahan pertanian. Realita keangkuhan kaum pria/saudara yang menuntut wanita, saudari harus datang sujud menyembah jika ada kesalahan. DI Di beberapa wilayah, bahkan saat saudari mereka meninggal dunia, jika ada kesalahan atau belis belum dilunasi maka jasad saudari tidak bisa dikuburkan jika hutang adat ini belum dilunasi. Sungguh teramat ironis, ia yang identik dengan kata “berkorban”dan disaat tubuhnya kaku terbaring, juga masih berkorban, jasadnya tidak dihormati karena para saudara, keluarga masih ribut dengan utang-piutang.
Keangkuhan “budaya” secara tidak langsung terwujud dalam cara masyarakat melihat dan memahami alam semesta. Alam yang identik dengan saudari/ibu “Ema Tana Ekan” dikhianati, dieksploitasi sikap diam mereka. Kamu saudari/ibu identik dengan “diam” dan alam dalam diamnya dieksploitasi demi memenuhi keangkuhan manusia. Alam diam membiarkan dirinya dikianati, dirusak. Tangisannya tidak terdengar tetapi air mata alam teramat terasa. Aliran banjir yang memporakporandakan ladang petani, panas bumi karena  tumbangnya pohon-pohon, sunyinya hutan dari kiacauan burung-burung karena senjata-senjata aparat keamanan, masyarakat sipil dengan senjata senapan angin yang memaksa induk burung berpisah dengan anak-anak mereka. Sungguh ironis. Alam terdepan dalam menyediakan kebutuhan hidup manusia namun alam juga terdepan menjadi korban kerakusan , keangkuhan manusia.


Dalam refleksi biblis pada kegiatan lokarya Ekologi berbasis Budaya, tingkat paroki Santo Yosep Lewotobi, 19 Maret 2017, Rm. Marcelinus H. F Lamury, PR menegaskan tentang kebaikan Sang Pencipta. Kehadiran Yesus Kristus menyatakan kasih Allah amat besar , tidak hanya mencipta, tapi juga memulihkan dan membaharui. Memelihara dan melindungi. Oleh karena itu solidaritas dan kepedulian Allah terhadap manusia harus jadi model bagi manusia untuk bertindak dan memperlakukan ciptaan yang lain. Karya penebusan Yesus Kristus  punya nilai universal, menjangkau semua ciptaan”.  Lebih lanjut, Rm. Marsel, sapaan Pastor Paroki St Yosep lewotobi ini menjelaskan tentang kebaikan Tuhan dan  keangkuhan manusia ...“Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menyuap dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan” (Art. 1). Saudari ini sekarang menjerit karena kerusakan yang telah kita timpakan kepadanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita sampai berpikir bahwa kita adalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, dalam air, di udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh kita. Dia “mengeluh dalam rasa sakit bersalin“ (Rm. 8:22). Kita telah melupakan bahwa kita sendiri adalah debu tanah (Kej. 2: 7); tubuh kita sendiri tersusun dari partikel-partikel bumi, kita menghirup udaranya dan dihidupkan serta disegarkan oleh airnya (Art. 2).
Saudari yang menjerit dalam diam karena keangkuhan  budaya, terwujud dalam tangisan alam, menjerit karena kerusakan. Santo Fransiskus  dari Assisi melukiskan alam sebagai Rumah Kita dalam LAUDATO SI ‘, Mi’ Signore : Rumah Kita bersama adalah seperti seorang saudari yang dengannya kita berbagi hidup, dan seperti seorang ibu yang menawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka”. Refleksi dari seruan Fransiskus Assisi ini menjadi  refleksi umat Paroki Santo Yosep Lewotobi. Dalam Teman Misa, “ Membangun Paroki Membangun Rumah Kita Bersama”,  rasa solidaritas sebagai satu kesatuan, sebagai satu keluarga di Paroki hendaknya menjadi motivasi bagi segenap umat Paroki Santo Yosep Lewotobi  untuk terus berjuang dan memperlakukan alam sebagai saudari, sebagai bagian penting dalam keseharian hidup.Kesadaran terhadap nilai-nilai ekologi berbasis budaya ini menjadi titik refleksi atas model Kasih Allah. “Allah tidak mencipta, tapi juga memulihkan dan membaharui. Memelihara dan melindungi. Oleh Karena itu  Solidaritas dan kepedulian Allah terhadap manusia harus jadi model bagi manusia untuk bertindak dan memperlakukan ciptaan yang lain tegas Rm. Marsel.


Upaya membangun kesadaran solidaritas dengan alam membutuhkan proses.  Model Kasih Allah harus mampu direfleksikan serta dikomunikasikan agar manusia, masyarakat sadar pentinnya alam. Kesadaran terhadap nilai-nilai budaya dalam menempatkan wanita terdepan  membutuhkan proses edukasi, advokasi agar setiap orang terkhusus generasi muda tidak  hanya menerima warisan budaya tetapi gagap dalam menterjemahkan dan menghayati nilai-nilai budaya ini.

Kegagapan Dunia Pendidikan
Kegagapan menterjemahkan warisan budaya karena ruang dalam dunia pendidikan tidak atau kurang didesign sebagai ruang refleksi nilai-nilai luhur budaya. Pendekatan muatan lokal hanya berhenti pada tataran keterampilan dan pengetahuan saja bukan beranjak lebih mendalam sebagaimana Yesus menyuruh para Murid Nya untuk menebarkan jala pada tempat yang lebih dalam. Proses refleksi nilai-nilai sosial, budaya, relasi kosmos harus menjadi sebuah refleksi yang terus dibangun secara sistimatis lewat dunia pendidikan. Melalaui refleksi yang terus menerus, disharingkan, ditulis, diterjemahkan dalam tindakan-tindakan kecil, anak-anak, generasi penerus gereja, penerima sekaligus pewaris budaya menjadi generasi  melek budaya yang sungguh menyadari pentingnya Bumi sebagai Rumah Bersama, di mana martabat wanita sungguh diharagai karena Ia Wanita adalah Gambar  Citra Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi.

Komunikasi, Jembatan Pesan Nilai
“Generasi Melek Budaya” adalah generasi yang mampu melakukan refleksi warisan budaya, menyajikan dalam sebuah diskursus serta berjuang mengkomunikasikan pesan nilai-nilai tersebut. Warta keselamatan dalam sejarah penyelamatan Umat Manusia, warta nilai-nilai moral dari warisan budaya harus terus dikomunikasikan. Media, model dan metode harus terus dikemas agar setiap generasi, setiap orang merasa terdorong memiliki nilai-nilai tersebut serta berjuang dalam totalitas  menterjemahkan nilai-nilai kehidupan tersebut.

“Selamat Menyambut Yesus di Kota Yerusalem dengan Teriakan Hosana..... dan jangan lupa daun palem di tangan anda adalah bukti kebaikan alam memberikan dan merelakan dirinya digunakan untuk Menyambut Tuhan. Melalui tangan anda, alam pun turut menyambut Tuhan




Sabtu, 8 Apri 2017
Catatan harian anak Petani
URAN, Fabianus Boli
Pemerhati Budaya, Aktivisi Lingkungan Hidup
Tinggal di Lewotobi, Desa Birawan

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...