Kamis, 15 Oktober 2020

SARUNG, SELEMBAR KAIN DALAM BALUTAN TRADISI LEWOTOBI- LEWOURAN

 

Tulisan  sederhana ini saya  persembahkan untuk orang- orang ( para perempuan ) yang masih setia dan mencintai profesi sebagai Penenun Sarung. Melalui tulisan sederhana ini penulis mencoba menyajikan beberapa informasi tentang proses dalam tenun ikat. Dan dibagian akhir Penulis menyajikan Refleksi Sarung dalam tuturan tradisi masyarakat di sekitar Lerang gunug Api Lewotobi dengan merefleksikan simbol Patung Wulu, patung seorang ibu yang sedang menenun sambil menyusui bayinya. Patung yang dipercayai sebagi Dewi Hujan.

 

Proses menghasilkan Sarung melalui beberapa Tahapan. 

 

 Mula Kape

 

Mula : Menanam. Kape : Kapas.

Di setiap ladang para petani, para petani di setiap musim menanam selalu memastikan ada tanaman kapas.  Tradisi ladang dengan tanaman kapas masih dipertahankan oleh orang tua penulis sampai saat ini. Ibunda Penulis selalu memastikan tanaman kapas dan Tou selalu ada di ladang. Saat penulis masih usia Sekolah Dasar penulis selalu membantu orang tua memetik buah kapas. Mengenang masa- masa itu, tanpa sadar orang tua mengajari penulis cara mencintai tradisi.

 

Tradisi menanam kapas karena para penun sarung waktu itu belum mengenal benang- benang yang di jual di tokoh- tokoh. Tradisi menanam kapas menunjukkan bahwa para petani tidak hanya fokus pada hasil pertanian tetapi memastikan tradisi tenun ikat harus terus dilestarikan. Sarung, Senae adalah pakain tradisional. Dengan memastikan sekian banyak pohon Kape, Tou serta gebuke di dalam ladang,  para petani khususnya para ibu- ibu, para gadis ( masa dulu ) telah merencanakan berapa sarung, berapa senae yang akan mereka hasilkan dalam satu bulan. Selain itu hasil dari Kape yang akan diolah menjadi benang juga menjadi sebuah alat tukar dalam perdagangan. Penulis masih ingat, beberapa pedagang dari wilayah Sikka datang membawa parang dan ditukarkan dengan  Kape Bolo. ( Benang gulungan. Kebutuhan kapas ( kape ) bukan hanya untuk tenun ikat saja tetapi dalam ritual- ritual kehidupan, kapas (lelu) menjadi sebuah material penting untuk pelaksanaan ritual termasuk ritual- ritual berkaitan dengan ladang yang disebut braha.

 

 

 

Masihkah adakah  Tradisi Mula Kape?

 

Penulis sebagai petani menyadari bahwa saat ini hampir tradisi mula kape sudah perlahan punah. Hampir di setiap ladang , para petani kurang memastikan tumbuhan Kape ini. Ini dipengaruhi oleh beberapa faktor :

  1. Minat para penenun sarung di kalangan generasi mudah sangat rendah.
  2. Produk- produk Benang banyak dijual di tokoh- tokoh
  3. Untuk menghasilkan benang dari Kapas butuh waktu, ketekunan dan ketelitian

 

 

  1. Buna Kape dan Balo Kape

 

Setelah Buah kapas dipetik, tahapan selanjutnya adalah Buna Kape. Kegiatan membersihkan buah kapas sebelum masuk tahapan Balo kape. Balo Kape adalah Proses menggiling biji kapas utuk memisahkan kapas dari biji kapas, menggunakan alat yang disebut menalo

 

 

  1. Buhu Kape.

Setelah kapas yang dihasilakn dari proses Bolo Kape, tahapan selanjutnya adalah Buhu Kape. Proses mengurai kapas yang masih padat agar mudah diproses menjadi benang. Proses ini menggunakan alat yang disebut menuhu, alat seperti busur anak panah.

 

  1. Golo Kape

Golo kape adalah proses mengambil kapas yang berkualitas setelah proses Buhu. Peralatan yang digunakan adalah sebatang bambu yang disebut Wulo.   Batang bambu tersebut di putar putar di tengah tengah kapas agar kapas kapas tersebut mudah disatukan.

 

  1. Pute Ture

Setelah Proses Golo Kape, tahapan selanjutnya adalah  Pute Ture. Proses memintal kapas menjadi Benang.  Proses ini dapat dilakukan secara pute dengan menggunakan alat yang disebut  Mute atau dengan cara Ture,  dengan alat yang digunakan   yakni Menure.

 

 

  1. Blei Kape.

 

Setelah benang yang dihasilan, tahapan selanjutnya adalah membentuk benang- benang tersebut menjadi sebuah ikatan yang disebut Blei Kape

 

 

  1. Pui Kenume

 

Pui Kenume adalah proses membuat motif sarung.  Pui : Mengikat. Kenume : Motif, bentuk. Untuk membuat motif para penenun menggunakan media tali yang terbuat dari Ketebu. Namun sekarang  ketebu sudah jarang digunakan. Para penenun lebih menggunakan tali Rafia atau tali- tali dari bekas karung plastik.  Setiap keluarga dan keturuannya mempunyai motif/kenume  berbeda beda. Ini seperti Hak Paten. Motif tersebut tidak boleh digunakan oleh orang lain. Menutur tuturan lisan, jika ada orang lain yang menggunakan motif yang bukan milik mereka,  dan diketahui oleh pemiliknya maka  Kenume tersebut akan dirusakan. Kadang pemilik langsung mengambil pisau dan geta ( memotong benang- benag tersebut ).  Dalam tuturan tradisi, para orang tua mewarisi putra putri mereka dengan harta warisan dan keterampilan. Bagi anak laki- laki  diwarisi “  gena nura newa tana ekan,  sedangkan anak perempuan “anak berwei sera kenire “( kenume ). Kenire : motif.

 

  1. Gebo Kape

 

  Setelah proses membut motif, tahapan selanjutnya adalah Proses mewarnai kapas yang disebut Gebo Kape. Material yang digunakan dalam bahasa daerah disebut Tou, Gebuke, dan beberapa material lainnya.

 

 

  1. Neke Tane

 

Neke Tane adalah proses menenun sarung. Bunyi sentakan alat tenun seperti sebuah melodi mengalun lembut di kesunyian dari pondok- pondok, dari Ori- Ori. Tapi   rangkaian dawai melodi  yang bersahut- sahutan ini sudah  ( kurang ) tak terdengar lagi. Hanya terdengar sesekali, dan berjauhan. Gemericik peralatan tenun ikat bukan lagi menjadi sebuah nyanyian rindu tapi mungkin perlahan peralatan- perlatan  tenun ikat akan menjadi saksi tentang kearifan yang perlahan punah.

Hasil dari Neke Tane yakni Sarung, selain digunakan sebagai pakaian, juga dijual. Tuturan lisan dari orang tua penulis, dulu mereka pergi menjual sarung dengan sebutan  Pana Wule Bua Dage.  Pana  : berjalan kaki : Wule : berbulan bulan . Bua : berlayar, Dage, Berdagang.   Mereka pergi menjual Sarung, selain dibeli dengan uang juga ditukarkan  dengan Beras, jagung. Masa itu adalah masa- masa paceklik.

 

 

 

Sarung Simbol Kesatuan dan Kekuatan Cinta

 

Tahun 2003 saat Penulis melakukan Kajian warisan Budaya tentang Patung Wulu,  Penulis merefleksikan tentang Keagungan Sarung di tangan seorang Ibu. Patung Wulu adalah Patung Dewi Hujan. Bentuknya, seorang ibu yang menenun sambil menyusui bayinya.

 

Sarung adalah pakaian tradisional masyarakat Lamaholot. Sarung  dihasilkan melalui sekian tahapan, setiap proses dan seluruh material berasal dari bumi, dari potensi- potensi lokal. Setiap helai benang disentak satukan oleh kekuatan cinta  seorang wanita.

Patung Wulu merupakan sebuah simbol tentang peran seorang ibu dalam menyiapkan kehidupan yang dipercayakan Tuhan, Lera Wulan Tana Ekan.  Di tengh kesibukan menenun sarung seorang ibu tidak lupa akan tugasnya memberikan ASI bagi anaknya. Cara berpakaian yakni sugi menunjukkan bahwa ketika bayi membutuhkan ASI, ibu dengan sigap memberikan ASI. Ujung kain sarung yang disatukan dengan  menggunakan sebuah kayu, akan cepat dilepaskan, dan serentak  ibu menyodorkan puting susu ke anaknya.  

 

Refleksi mendalam tentang Patung Wulu dalam sudut padang Sosial Religius dapat dibaca pada link : https://www.kompasiana.com/uran/552884ac6ea83439778b45c0/memaknai-warisan-budaya-patung-wulu-dalam-refleksi-kehidupan-masyarakat-lewotobi






 

Bersambung

 

Uran Faby

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...