Tulisan sederhana ini saya persembahkan untuk orang- orang ( para
perempuan ) yang masih setia dan mencintai profesi sebagai Penenun Sarung.
Melalui tulisan sederhana ini penulis mencoba menyajikan beberapa informasi
tentang proses dalam tenun ikat. Dan dibagian akhir Penulis menyajikan Refleksi
Sarung dalam tuturan tradisi masyarakat di sekitar Lerang gunug Api Lewotobi
dengan merefleksikan simbol Patung Wulu, patung seorang ibu yang sedang menenun
sambil menyusui bayinya. Patung yang dipercayai sebagi Dewi Hujan.
Proses
menghasilkan Sarung melalui beberapa Tahapan.
Mula : Menanam. Kape : Kapas.
Di setiap ladang
para petani, para petani di setiap musim menanam selalu memastikan ada tanaman
kapas. Tradisi ladang dengan tanaman
kapas masih dipertahankan oleh orang tua penulis sampai saat ini. Ibunda Penulis
selalu memastikan tanaman kapas dan Tou
selalu ada di ladang. Saat penulis masih usia Sekolah Dasar penulis selalu
membantu orang tua memetik buah kapas. Mengenang masa- masa itu, tanpa sadar
orang tua mengajari penulis cara mencintai tradisi.
Tradisi menanam
kapas karena para penun sarung waktu itu belum mengenal benang- benang yang di
jual di tokoh- tokoh. Tradisi menanam kapas menunjukkan bahwa para petani tidak
hanya fokus pada hasil pertanian tetapi memastikan tradisi tenun ikat harus
terus dilestarikan. Sarung, Senae adalah pakain tradisional. Dengan memastikan
sekian banyak pohon Kape, Tou serta
gebuke di dalam ladang, para petani
khususnya para ibu- ibu, para gadis ( masa dulu ) telah merencanakan berapa
sarung, berapa senae yang akan mereka
hasilkan dalam satu bulan. Selain itu hasil dari Kape yang akan diolah menjadi benang juga menjadi sebuah alat tukar
dalam perdagangan. Penulis masih ingat, beberapa pedagang dari wilayah Sikka
datang membawa parang dan ditukarkan dengan
Kape Bolo. ( Benang gulungan.
Kebutuhan kapas ( kape ) bukan hanya
untuk tenun ikat saja tetapi dalam ritual- ritual kehidupan, kapas (lelu) menjadi sebuah material penting
untuk pelaksanaan ritual termasuk ritual- ritual berkaitan dengan ladang yang
disebut braha.
Masihkah adakah Tradisi Mula Kape?
Penulis sebagai
petani menyadari bahwa saat ini hampir tradisi mula kape sudah perlahan punah. Hampir di setiap ladang , para
petani kurang memastikan tumbuhan Kape
ini. Ini dipengaruhi oleh beberapa faktor :
- Minat
para penenun sarung di kalangan generasi mudah sangat rendah.
- Produk-
produk Benang banyak dijual di tokoh- tokoh
- Untuk
menghasilkan benang dari Kapas
butuh waktu, ketekunan dan ketelitian
- Buna Kape dan Balo Kape
Setelah Buah
kapas dipetik, tahapan selanjutnya adalah Buna
Kape. Kegiatan membersihkan buah kapas sebelum masuk tahapan Balo kape. Balo Kape adalah Proses
menggiling biji kapas utuk memisahkan kapas dari biji kapas, menggunakan alat
yang disebut menalo
- Buhu Kape.
Setelah kapas yang
dihasilakn dari proses Bolo Kape, tahapan
selanjutnya adalah Buhu Kape. Proses
mengurai kapas yang masih padat agar mudah diproses menjadi benang. Proses ini
menggunakan alat yang disebut menuhu,
alat seperti busur anak panah.
- Golo Kape
Golo kape adalah proses mengambil kapas
yang berkualitas setelah proses Buhu.
Peralatan yang digunakan adalah sebatang bambu yang disebut Wulo.
Batang bambu tersebut di putar putar di tengah tengah kapas agar kapas
kapas tersebut mudah disatukan.
- Pute Ture
Setelah Proses Golo Kape, tahapan selanjutnya adalah Pute
Ture. Proses memintal kapas menjadi Benang.
Proses ini dapat dilakukan secara pute dengan menggunakan alat yang
disebut Mute atau dengan cara Ture,
dengan alat yang digunakan yakni Menure.
- Blei Kape.
Setelah benang
yang dihasilan, tahapan selanjutnya adalah membentuk benang- benang tersebut
menjadi sebuah ikatan yang disebut Blei Kape
- Pui Kenume
Pui Kenume adalah proses membuat motif
sarung. Pui : Mengikat. Kenume :
Motif, bentuk. Untuk membuat motif para penenun menggunakan media tali yang
terbuat dari Ketebu. Namun
sekarang ketebu sudah jarang digunakan. Para penenun lebih menggunakan tali
Rafia atau tali- tali dari bekas karung plastik. Setiap keluarga dan keturuannya mempunyai motif/kenume berbeda beda. Ini seperti Hak Paten. Motif tersebut tidak boleh digunakan oleh orang lain.
Menutur tuturan lisan, jika ada orang lain yang menggunakan motif yang bukan
milik mereka, dan diketahui oleh
pemiliknya maka Kenume tersebut akan dirusakan. Kadang pemilik langsung mengambil
pisau dan geta ( memotong benang-
benag tersebut ). Dalam tuturan tradisi,
para orang tua mewarisi putra putri mereka dengan harta warisan dan
keterampilan. Bagi anak laki- laki
diwarisi “ gena nura newa tana ekan, sedangkan anak perempuan “anak berwei sera kenire “( kenume ). Kenire : motif.
- Gebo Kape
Setelah
proses membut motif, tahapan selanjutnya adalah Proses mewarnai kapas yang
disebut Gebo Kape. Material yang
digunakan dalam bahasa daerah disebut Tou,
Gebuke, dan beberapa material lainnya.
- Neke Tane
Neke Tane adalah proses menenun sarung.
Bunyi sentakan alat tenun seperti sebuah melodi mengalun lembut di kesunyian
dari pondok- pondok, dari Ori- Ori.
Tapi rangkaian dawai melodi yang bersahut- sahutan ini sudah ( kurang ) tak terdengar lagi. Hanya terdengar
sesekali, dan berjauhan. Gemericik peralatan tenun ikat bukan lagi menjadi
sebuah nyanyian rindu tapi mungkin perlahan peralatan- perlatan tenun ikat akan menjadi saksi tentang kearifan
yang perlahan punah.
Hasil dari Neke Tane yakni Sarung, selain digunakan
sebagai pakaian, juga dijual. Tuturan lisan dari orang tua penulis, dulu mereka
pergi menjual sarung dengan sebutan Pana Wule Bua Dage. Pana : berjalan kaki : Wule : berbulan bulan . Bua
: berlayar, Dage, Berdagang. Mereka pergi menjual Sarung, selain dibeli
dengan uang juga ditukarkan dengan
Beras, jagung. Masa itu adalah masa- masa paceklik.
Sarung Simbol Kesatuan dan Kekuatan Cinta
Tahun 2003 saat
Penulis melakukan Kajian warisan Budaya tentang Patung Wulu, Penulis merefleksikan tentang Keagungan Sarung
di tangan seorang Ibu. Patung Wulu adalah Patung Dewi Hujan. Bentuknya, seorang
ibu yang menenun sambil menyusui bayinya.
Sarung adalah
pakaian tradisional masyarakat Lamaholot. Sarung dihasilkan melalui sekian tahapan, setiap
proses dan seluruh material berasal dari bumi, dari potensi- potensi lokal.
Setiap helai benang disentak satukan oleh kekuatan cinta seorang wanita.
Patung Wulu
merupakan sebuah simbol tentang peran seorang ibu dalam menyiapkan kehidupan
yang dipercayakan Tuhan, Lera Wulan Tana Ekan.
Di tengh kesibukan menenun sarung seorang ibu tidak lupa akan tugasnya
memberikan ASI bagi anaknya. Cara berpakaian yakni sugi menunjukkan bahwa
ketika bayi membutuhkan ASI, ibu dengan sigap memberikan ASI. Ujung kain sarung
yang disatukan dengan menggunakan sebuah
kayu, akan cepat dilepaskan, dan serentak
ibu menyodorkan puting susu ke anaknya.
Refleksi
mendalam tentang Patung Wulu dalam sudut padang Sosial Religius dapat dibaca
pada link : https://www.kompasiana.com/uran/552884ac6ea83439778b45c0/memaknai-warisan-budaya-patung-wulu-dalam-refleksi-kehidupan-masyarakat-lewotobi
Bersambung
Uran Faby
