Selasa, 22 Oktober 2019

KEMBALI KE KOKE BALE URE WAI LEWOURAN


 Minggu, 20 Oktober 2019, genap setahun peluncuran Buku " di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri, ada sekian komitmen yang dimateraikan melalui penandatanganan Berita Acara  Komitmen dalam bingkai Ritus Tito Gebia Waja. Satu di antaranya adalah Membangun Rumah Koke Bale Ure Wai di Kampung lama Lewouran.
Penulis  bersyukur boleh menjadi bagian dari proses ini, bersyukur karena semangat asa usul dari Lewouran selalu menginspirasi Penulis untuk bersama para tetuah adat dan masyarakat Lewouran, bersama rekan diskusi penulis sdr Nikolaus Nara, sekretaris Desa Lewotobi, Ade Asis Muda sebagai Kepala Desa Lewotobi, Kanisius Laranwutun Uran dan  segenap pejuang tradisi  mewujudkan komitmen itu. Dukungan moril dan doa serta berkat dari Pater Markus Solo Kwuta  SVD dari Vatikan selalu menguatkan  Penulis , Kak Mathias Kwuta, Kake Ansel Pai Muda, Bapak Knoba Uran, Bapak Panus Kwuta  serta para tetua adat lainnya untuk terus melangkah maju, menjadi pelopor untuk mewujudkan nilai - nilai ini.

Tepat Pkl 12.30 siang tanggal 20 Oktober, kami keluar dari rumah  Tuan Tanah lewouran , bergerak di tengah terik matahari, melewati ladang yang gersang, mendaki bukit menuju kampung lama Lewouran. Perjalanan hari itu seperti Ziarah Bangsa Israel melewati padang gurun menuju tanah perjanjian. Kami bergerak dalam sebuah ziarah nilai  kehidupan, menuju kampung lama adalah simbol menemukan kembai nilai - nilai kehidupan luhur yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan lupa dituturkan.







Hari itu, di bawa naungan pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun, di hadapan altar batu, tempat ritus permohonan Ure Wai dilaksanakan sekitar tahun 1970-an dalam Misah oleh Pater Cornelius Jan Smith, SVD Rumah Koke Bale Ure Wai didirikan. Empat tiang rumah yang disiapkan  oleh masing- masing Suku Muda, Uran, Kwure dan Kwuta menyimbolkan kesatuan, keteguhan komitmen sebagai penyokong keberlanjutan tradisi nilai - nilai kehidupan.










Lantuna lagu Mars Lewouran  Ciptaan Pater Markus Solo Kwuta, SVD  mengalun dalam keheningan, membisikan sejuat pesan, bahwa di atas peradaan ini, nilai kehidupan didirikan, sebagai sebuah entitas Gereja Kecil yang harus terus merefleksikan dirinya sebagai Murid Tuhan dalam ziarah kehidupan. Dan Lagu Lewouran Tanah Pusaka  setelah Ritus Lou Lete, ritus memberkati rumah ini agar menjadi tempat yang sejuk , menegaskan komitmen untuk terus setiap menjaga dan merawat, menghidupi nilai- nilai luhur meskipun di tanah rantau. Keriduan sang penyair dalam lagu ini, Pater Markus Solo Kwuta , SVD , secara lewo Ribu Pulo Ratu Lema menterjemahkan dengan perjuangan menenun kembali warisan leluhur ini. Setelah keseluruhan rangkain ritus peresmian Rumah Koke Bale Ure Wai ini, dilanjutkan dengan sambutan- sambutan dari  yang mewakili Kepala Desa Lewotobi, Sdr. Polus Aran, Camat Ile Bura, Kabid Pengembangan Seni dan Budaya Dinas Pariwisata Kab. Flore Timur. Polus Aran menyampaikan tentang semangat membangun Desa termasuk rencana pembangunan Jalan Usaha Tani yang mendukung mobilitas masyarakat menjangkau kawasan ini. Camat Ile Bura Bapak Yakobus Arakian mengharapkan agar kisah Lewouran yang telah ditulis disempurnakan lagi termasuk kegiatan ritus hari ini. Sedangkan dari Dinas Pariwisata, ibu Neldi Koten menyampaikan proficiat atas semangat warga , komunitas adat Lewouran dalam menggali dan menghidupan nilai- nilai tradisi.  Harapan kedepan agar nilai – nilai ini digali dan didokumentasian dengan baik dalam bentuk buku- buku. Lebih dari itu adalah bagaimana semangat tradisi membantu masyarakat dalam keterlibatan membangun Lewotana Flores Timur.




Dalam sesi penutup untuk merangkum keseluruhan proses yang telah dilalui  Penulis   menegaskan bahwa proses hari ini adalah proses ziarah nilai. Segala ritus hari ini harus kita terjemahkan dalam tindakan - tindakan transformasi sebagai bentuk dan jawaban iman kita sebagai manusia beragama dan berbudaya.  Bentuk – bentuk Konkrit  tindakan transformasi adalah , merestorasi kwasan ini  Kampung lama ini dan kwasan due Date ( hutan terlarang lainnya ) dengan menanam Pohon- pohon pelindung seperti pohon beringin pada musim hujan ini, menggantung  gebote ( ari- ari ) dalam wadah  ramah lingkungan yang disebut nebe ( tidak menggunakan kantong plastik. Acara selanjutnya adalah Ritus Pau Bau Tana Ekan dan dilanjtukan dengan acara sukacita yakni menampilkan  tarian Raja Sine dan  Sole Sika Mula.

Hari itu, tanggal 20 Oktober 2019 kami telah memulai sebuah ziarah baru, kami telah memulai sebuah catatan baru dari lembaran – lembaran kisah yang telah kami lalui. Penulis bersyukur karena boleh mendokumentasikan dalam narasi dan foto serta Video.  Kisah yang dulu dituturkan dalam tuturan lisan kini boleh dikemas dalam rangkain kata, lewat lembaran potret dan  gerakan kesunyian terekam di balik lensa kamera.  Nantikan buku selanjutnya tentang  Ziarah Tradisi dalam Kalender Musim Tradisi Lewotobi- Lewouran.






Salam dari anak kampung, penulis kisah tradisi


URAN , Fabianus Boli
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.





Rabu, 02 Oktober 2019

MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIA WAJA PESTA DEMOKRASI


MEMAKNAI PEMILU 2019 SEBAGAI GEBIAH WAJA PESTA DEMOKRASI
( Refleksi Pemilu 2019 dalam Perspektif Budaya Lamaholot Kabupaten  Flores Timur)


Keseluruhan Proses dan Tahapan Pemilihan Umum telah dirangkai  oleh KPU Flores Timur dalam Spirit KPU Melayani. Keterpanggilan melayani masyarakat untuk menggunakan Hak Konstitusi telah memateraikan pencapaian yakni Flores Timur dapat menyelenggarakan Pemilihan Umum Tanpa Pemungutan Suara Ulang sebagaimana Slogan yang terus digaungkan selama masa- masa persiapan menuju hari Pemungutan suara.  Di tengah tantangan tradisi keagamaan Semana Santa dan  Pesta Demokrasi, KPU Flores Timur bersama seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Flores Timur mampu dan berhasilkan menterjemahkan tradisi dan tugas Negara dengan baik, aman dan sukses.
Istilah Pesta Demokrasi pertama kali diucapkan oleh Presiden Soeharto pada kegiatan   Pembukaan Rapat Gubernur / Bupati/ Walikota se Indonesia pada tanggal 23 Februari 1981 di Jakarta.  Beliau menegaskan bahwa,  Pemilu harus dirasakan sebagai pesta poranya demokrasi, sebagai penggunaan hak demokrasi yang bertanggungjawab dan sama sekali tidak berubah menjadi sesuatu yang menegangkan dan mencekam.
Ungkapan bahwa Pemilu 2019 sebagai Pesta Demokrasi pun diucapkan oleh Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 2018. Beliau menegaskan bahwa rakyat menyambut pesta demokrasi itu dengan kegembiraan, dengan antusiasme yang tinggi serta kedewasaan politik yang matang.

Pemilu 2019 sebagai sebuah Pesta tepatnya Pesta Demokrasi  dapat terlaksana jika semua pihak terlibat aktif dan dengan kesadaran penuh menyiapakan Meja perjamuan Pesta Demokrasi serta para tamu undangan, peserta kontestan pemilu dalam kelayakan menghadiri perjamua Pesta tersebut. Memahami Pemilu 2019 sebagai Pesta, Penulis mencoba menghadirkan sebuah media budaya sebagai  refleksi tentang Pemilu 2019 di tingkat Kabupaten Flores Timur dalam Tradisi Pesta Lamaholot yang disebut dengan Gebia Waja.

Gebia  adalah tempat siri pinang, Waja   berarti menyuguhkan. Gebia Waja  adalah sebuah proses menyuguhkan undangan. Dalam Tradisi Pesta Pernikahan di Lamaholot, tuan pesta mengundang keluarga, masyarakat umum dengan membawakan Gebia Waja dari rumah ke rumah.  Untuk membawakan Gebia Waja, dilalui dengan ritus Tula Gebia, sebuah proses menjadikan wadah tersebut sacral dan kudus sebagai  tempat menaruh   pesan. Saat membawakan Gebia Waja, pembawa pesan menyampaikan pesan- pesan dari tuan pesta, seperti tanggal pernikahan adat, pemberkatan Nikah di Gereja, Resepsi juga undangan untuk bersama- sama bekerja menyiapkan pesta seperti membuat tenda pesta.

Gebia Waja juga sebagai symbol penerimaan tamu yang datang dari jauh. Dengan menyentuh Gebia, tamu diterima dan dilindungi, menjadi keluarga dari keluarga, masyarakat yang dikunjungi. Ketika ada konflik, setelah proses penyelesaian, dilanjutkan dengan ritus makan Sirih Pinang di Gebia yang disebut Tito Gebia Waja ( Tito : menyentuh ). Tito Gebia Waja dilakukan sebelum dimulai sebuah pekerjaan, seperti membangun fondasi rumah atau pelaksanaan ritual adat lainnya. Intinya dengan menyentuh Gebia Waja, semua orang yang terlibat bersatu hati, komitmen untuk bersama sama membangun, mensukseskan sebuah pekerjaan.

 Bagi penulis, Pemilihan Umum 2019 adalah sebuah Pesta Budaya, tempat Ribu Ratu ( masyarakat )  memilih Ata Dike ( orang dengan Budi Baik ) yang dipercayakan untuk membawakan Koda Pulo Kiri Lema ( bahasa Sastra : Pesan, Mandat ).   Ata Dike dalam perspektif  Orang Lamaholot  ( masyarakat di Kabupaten  Flores Timur dan Lemabata ) adalah orang- orang pilihan yang telah melewati proses dan pada akhirnya terpilih untuk membawakan, menyuarahkan suara, harapan- harapan masyarakat untuk membangun Kabupaten Flores Timur, Bumi Lamaholot yang lebih baik.
Gebia Waja adalah Sarana yang digunakan untuk mengundang masyarakat terlibat dalam sebuah kegiatan Pesta. Di dalam Gebia waja yang dibawakan oleh para utusan, dititipkan siri dan pinang serta koda kiri, pesan. Dengan menyentuh Gebia, penerima pesan dipanggil untuk terlibat, melibatkan keseluruhan diri, jiwa dan raga. KPU Flores Timur sebagai pembawa Pesan Konstitusi Demokrasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS, Sekretariat PPK, PPS, KPPS, PAM TPS,  melalui keseluruhan tahapan Pelaksanaan Pemilihan Umum 2019 telah menghadirkan Gebia waja di tengah – tengah masyarakat Flores Timur, di tengah tengah kontestan Pemilu.
Melalui Gebia Waja Pesta Demokrasi, sejarah Pemilihan Umum serentak pertama kali disajikan di atas meja perjamuan dengan berbagai jenis pilihan.  KPU Flores Timur sebagai Implementor Regulasi, bersama seluruh jajarannya, PPK, PPS dan KPPS berjuang dalam keterbatasan menjadi Penatalayan Pesta Demokrasi. Menjadi Penata, yang memastikan keseluruhan tahapan berproses, berjalan sesuai regulasi. Memastikan masyarakat yang telah memenuhi kriteria sebagai pemilih dapat terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap, atau sebagai Pemilih Kategori Daftar Pemilih Tambahan ( DPTb )  atau Dalam Daftar Pemilih Khusus, memastikan kelengkapan dokumen-dokumen para calon DPRD Kabupaten telah sesuai dengan kriteria dan tuntutan regulasi, memastikan  Logistik Pemilu siap dan telah diterima KPPS pagi hari sebelum pemungutan suara dimulai.
 Jawaban atas Gebia Waja, symbol kesakralan suara, kemurnian hati dan jiwa, tanggal 17 April masyarakat pagi – pagi bergegas menuju TPS untuk menitipkan Koda Pulo Kiri Lema, menaruh harapan pada Ata Dike yang mereka percayakan untuk meneruskan dan mewujudkan harapan , impian mereka. Dalam semangat KPU Melayani,  KPPS di seluruh Pelosok TPS, 689 TPS menjadi Saksi dan pelaku Sejarah, menjadi Pelayan untuk memastikan Pesta Demokrasi hari itu berjalan aman, memastikan bahwa setiap undangan Gebia Waja dapat menitipkan pesan mereka di bilik- bilik suara, dalam kerahasiaan abadi. Di tengah hiruk pikuk keruwetan pemilihan umum, pihak keamanan, TNI-Polri setia menjadi Pelayan yang hadir memberikan rasa aman bagi penyelenggara dan masyarakat.  Di wilayah – wilayah yang menyebakan proses Pleno tingkat Kabupaten tidak berjalan lancar, mereka masih setia, menahan kerinduan kembali menyapa keluarga yang selalu merindukan mereka, anak yang rindu cerita sang ayah, istri yang rindu mendengarkan suka duka selama bertugas.  Mereka yang bertugas di gudang Logistik siap siaga setiap detik, memastikan Gudang Logistik aman.  Yang bertugas di Kantor KPU memastikan keamanan seluruh Komisioner dan staff, memastikan aktivitas di Kantor berjalan dalam suasan aman.   Mereka memastikan Proses Distribusi Logistik ke TPS dan kembali ke Gudang Logistik tanpa hambatan, memastikan keseluruhan Logistik aman. TNI- Polri adalah bagian dari Pelayan Demokrasi. Setelah Proses perhitungan Suara berita tentang hasil di setiap TPS segerah dikirim ke Team Situng di Kabupaten agar segerah mengungah hasil ke Aplikasi Situng, sehingga publik pun dapat mendapatkan informasi perkembangan hasil pemilu.
Pihak Kantor Pos Larantuka berjuang memastikan sebagai Rekanan KPU yang terpercaya dalam mendistribusikan logistic. Pihak PLN Cabang Larantuka memastikan Lampu tetap menyala. Bahwa ada pemadaman tiba – tiba, dengan cepat mereka berjuang mengatasi dan lampu kembali menyala. Pihak Pemerintah Kabupaten Flores Timur memastikan seluruh perangkat Desa, ASN terlibat untuk mensukseskan Pemilihan Umum. Para Tokoh Agama melalui Mibar Agama, melalui Surat Kegembalaan menyeruhkan agar umat terlibat aktif dalam menggunakan Hak Konstitusi sesuai Nurani. Bawaslu Flores Timur bersama jajarannya hadir sebagai sahabat yang memastikan saudaranya tidak jatuh dalam perbuatan yang melanggar regulasi pungut hitung dan rekapitulasi, memastikan para penyelenggara setia pada kode etik sebagai penyelenggara. Para petugas Kesehatan, dokter, Perawat, Bidan sigap melayani penyelenggara yang sakit. Para Kepala Desa yang memfasilitasi para PPS menggunakan aula Kantor Desa sebagai Gudang Logistik Pemilu, sebagai sekretariat PPS. Para Camat bersama seluruh jajarannya yang memfasiltasi PPK dalam menjalankan tugas mereka sebagai penyelenggara.
Semua Pihak dengan caranya masing-masing telah menuturkan kisah dengan bahasa berbeda, telah memainkan peran dengan alur narasi yang berbeda, dan semuaya itu tersatukan dalam semangat persatuan, dalam Satu Gebia Pemilu 2019 di Bumi Lamaholot  Kabupaten Flores Timur.

Berdasarkan Keputusan MK nomor 245-06-19/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 tanggal  6 Agustus 2019, KPU Flores Timur pada tanggal 10 Agustus, bertempat di Aula OMK  St. Cecilia Larantuka KPU Flores Timur menyelenggarakan Rapat Pleno Penetapan Perolehan Kursi dan Calon Terpilih DPRD Kabupaten Flores Timur.
Para Peserta Rapat Pleno Terbuka Penetapan Perolehan Kursi dan Penetapan Calon Terpilih disambut dengan Tarian Kepe Wayan dari Sanggar Tari Nulu Nuda  SMA Yohanes Paulus Waibalun. Ketika para Tamu peserta Rapat Pleno, tamu undangan disapa dengan Siri Pinang yang ditaruh di dalam Gebia ada pesan tersajikan bahwa Perhelatan Demokrasi telah usai. Perbedaan pilihan adalah warna warni Demokrasi. Ada yang kalah, ada yang menang, semuanya menjadi satu, bersatu dalam membangun Lewotana, Kabupaten Flores Timur.




Gebia Waja adalah spirit tradisi budaya dalam mengundang masyarakat, menerima yang berbeda menjadi keluarga, memahami perbedaan, perselisihan sebagai dinamika kehidupan yang harus dimateriakan dalam semangat perdamaian, persatuan sebagai Ata Dike ( Orang baik ). Dengan menyentuh Gebia Waja, setiap orang terpanggil untuk hadir dan terlibat penuh dalam keseluruan proses Pemilu, Proses memilih Pemimpin, wakil rakyat. Sebagaimana Kesakralan dari Gebia Waja proses menterjemahkan makna Gebia Waja, sebuah symbol, melalui Pemilu sebagaimana Prinsip Pemilu, Langsung Umum, Bebas, Rahasia, kesakralan Koda Kiri yang dititip   hendaknya terus memotivasi  semua pihak baik para peserta kontestan Pemilu, para penyelenggara Pemilu dan masyarakat  untuk bersama- sama  dengan tugas dan peran masing-masing membangun Peradaban Kemanusiaan, Ata Dike Lamaholot- Flores Timur.
Melalu Gebia Waja, KPU Flores Timur menterjemahkan eksistensinya sebagai Penatalayan Demokrasi, Pelayan dan Penata  Perjamuan.  Melalui  keseluruah proses dan tahapan, setiap pihak dengan caranya telah membantu KPU Flores Timur untuk terus belajar menjadi Penatalayan Demokrasi yang semakin baik. Melalui Gebia Waja, masyarakat menitipkan Koda Kiri Pulo Lema, melalui Gebia Waja, Konstestan Pemilu berjuang menterjemahkan kesakralan Gebia waja tersebut.


Larantuka, September 2019

URAN, Fabianus Boli
Komisioner KPU Kabupaten Flores Timur

 Beberapa Sumber Tentang Pemilu sebagai Pesta Demokrasi :



CATATAN LEPAS KONSOLIDASI NASIONAL KPU


CATATAN LEPAS KONSOLIDASI NASIONAL
21- 24 September 2019
Dalam Sepenggal Refleksi atas Buku  Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap


Bertempat di JCC Senayan, tiga ribuan anggota KPU Provinsi dan Kabupaten Se Indonesia berkumpul.  23 September 2019 KPU meluncurkan  Pemilihan Serentak 2020, yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 September 2020.  Kegiatan pada tanggal ini sebagai puncak dari rangkaian kegiatan di masing- masing Divisi dan sekretariat sejak tanggal 21 yang tersebar di beberapa tempat di Jakarta.
Momentum ini juga diluncurkan Buku  DPT di Balik Layar. Perjuangan KPU bersama jajaranya sampai tingkat PPS coba dipotret, setiap kisah coba dirangkai sebagai sebuah refleksi perjuangan elemen bangsa ini khusunya KPU dalam mewujudkan Daftar Pemilih Tetap yang berkualitas. Banyak kisah- kisah lepas dari para petugas Pemutakhiran Data Pemilih, PPS, PPK , KPPS yang kadang terelewatkan untuk didokumentasikan. KPU bersama jajaranya berusaha membingkai catatan catatan lepas, kisah- kisah inspiratif penuh perjuangan untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar darinya setiap pihak boleh belajar dan memberikan masukan untuk proses perbaikan penyelenggaraan pemilu pada tahun- tahun mendatang.





Konsolidasi Nasional sebagai sebuah ruang refleksi bersama dari para penyelenggara Pemilu. Pada titik ini sebuah pertanyaan  mengusik Penulis untuk sekedar bertanya tentang  Eksistensi Penyelenggara Pemilu. Selama Proses, tahapan Pemilu 2019, banyak berita Hoax menyerang KPU, banyak narasi ketidakpercayaan kepada KPU bahkan narasi- narasi kebencian mengarahkan pada personal anggota  KPU menghiasi dunia Maya. Arief Budiman, Ketua KPU menuturkan bagaimana Pribadinya diserang denga berita- berita bohong. Semuanya dihadapi dengan senyum. Sebagai Penyelenggara Pemilu, Lembaga yang dipercayakan Konstitusi untuk menyelenggarakan Pemilu, semua penyelenggara dituntut untuk bersikap sebagai seorang Negarawan.


Sosok seorang Negarawan dalam Kepemiluan adalah Alhmarum  Husni Kamil Malik, Mantan Ketua KPU. Buku dengan Judul Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap sebagai sebuah buku kenangan akan Perjuangan Husni Kamil Malik mengisahkan tentang perjuangan KPU bersama seluruh jajaranya membangun sistim kepemiluan yang lebih modern, transpran dan mudah diakses oleh Publik. Perjuangan KPU dalam membangun sistim kepemiluan yang terbuka dimateraikan dengan penghargaan dari Kementrian Hukum dan HAM sebagai  anggota Jaringan  Dokumentasi dan Informasi Terbaik untuk Tingkat Lembaga Negara Non Struktural tahun 2019.





Bagi Penulis, Penyelenggara Pemilu adalah Penatalayan Demokrasi, pihak yang menata Meja Perjamuan Demokrasi dan Melayani Pemilih. Menata Sisitim Kepemiluan agar proses Pemilu, setiap tahapan berjalan sesuai dengan Regulasi, setiap regulasi dapat memenuhi kebutuhan kaum disabilitas, prinsip- prinsip nilai- nilai kemanusiaan. Arief Budiman, Ketua KPU Periode 2017-2022 dalam sambutan untuk Buku kenangan ini mengatakan
“ Pemilu Berintegritas sebagai instrument utama demokrasi tidak hadir begitu saja. Semua ada prosesnya. Benih- benih integritas mesti disemai, dirawat, diberi unsur hara yang cukup agar pohon demokrasi kita terus tumbuh, berkembang dan melahirkan pemilih dan pemimpin yang berintegritas pula. Dengan demikian, keadilan, kesejahteraan dan pemerataan yang menjadi cita-cita konstitusi kita dapat segerah terwujud” (hal xv).

Pemilu sebagai sebuah sistim berproses melewati setiap tantangan. Perjalanan memahat kisah Demokrasi yang semakin moderen butuh kerjsama dan dukungan dari semua pihak. Tanpa peran pihak lain, KPU tidak mampu menterjemahkan amanat Konstitusi  mewujudkan Demokrasi melalui Pemilu yang bermartabat.


 Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap merupakan refleksi perjalanan bangsa ini membangun sistim kepemiluan. Sisitim Pemilu yang dulu sering dimanipulasi, penuh intimidasi perlahan seriring dengan Reformasi, Pemilu semakin ditata sebagai sebuah sistim yang moderen, terbuka, mudah diakses. Sisitim keterbukaan Informasi sebagai sebuah bentuk menuntun Publik melewati lorong- lorong gelap, menuju pemahaman yang benar bukan membangun pemahaman berdasarkan asumsi pribadi apalagi mendasarkan pandangan pada berita bohong.

Sebagai sebuah sistim, KPU mendorong KPU di setiap Provinsi dan Kabupaten untuk terus melakukan inovasi- inovasi  untuk memperkaya dan membaharui sistim kepemiluan. Sebuah contoh, Proses Uji Publik di Provinsi Jawa Tengah sebelum penetapan DPT berbasis Desa Kelurahan sangat membantu proses penetapan DPT yang berkualitas. Proses Uji public yang dilakukan  dengan melibatkan semua kepala dan anggota keluarga di setiap Dusun/ RT lebih efektif daripada sekedar pengumuman melalui corong desa. Praktek baik ini menginspirasi KPU Provinsi Kabupaten Kota untuk menerapkan di masing- masing Satuan Kerja. Bahwa masih ada kekurangan- kekurangan, adalah bagian dari proses pembelajaran sehingga setiap tahapan yang dilalui dapat berkontribusi pada kesuksesan Pemilu.


Setiap Pengalaman dalam penyelenggaraan Pemilihan umum merupakan proses edukasi bagi Penyelenggara pemilu, Partai Politik dan masyarakat. Edukasi, Ex : keluar, Ducere; Menghantar sebagai proses menghantar orang keluar dari situasi ketidaktahuan, situasi gelap menuju sebuah pemahaman baru, menuju sebuah sistim yang terang benderang. Bagi penyelenggara Pemilu atau pun para pegiat demokrasi, setiap catatan catatan lepas merupakan sumber pengetahuan yang harus didokumentasikan dengan baik agar setip orang boleh belajar, memahami sejarah kepemiluan, boleh menimbah kreativitas- kreativitas dalam mentransformasi pesan- pesan kepemiluan.
Sebagai sebuah proses edukasi, KPU pun terus berupaya mengembangan Sistim IT yang lebih efektif dan efisien. Wacana E- Rekap di mana hasil pungut hitung di tingkat TPS diproses langsung sehingga tidak ada lagi proses rekapitulasi di tingkat Kecamatan. Dari segi waktu dan biaya , sistim ini akan sangat membantu. Untuk itu butuh pelatihan – pelatihan yang intens bagi para KPPS, PPS dan PPK. Ini adalah satu contoh proses inovasi dalam mendesign sistim kepemiluan. Proses edukasi juga bagi para pemilih untuk sadar dan taat untuk mengurusi dokumen kependudukan sehingga dapat menggunakan hak konstitusi setelah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap.
 DPT selalu menjadi persoalan bahkan menjadi materi dalam gugatan hasil di sidang Mahkama Konstitusi.  KPU telah berjuang mendata warga yang secara regulasi telah berhak menyalurkan hak konstitusinya. Ada banyak tuduhan – tuduhan , berita bohong tentang data ganda. Mersepon berita ini KPU bersama jajaaranya telah membuktikan bahwa sistim kepemiluan telah berjalan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.


Mewujudkan DPT yang bersih adalah tanggungjawab semua pihak bukan hanya KPU saja. Bahwa peran dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan agar informasi tentang data kependudukan terdokumentasikan dengan baik dan benar. Harapan kedepan, segenap masyarakat telah mengurusi dokumen kependudukan termasuk E- KTP sebagai syarat untuk dapat memilih. Dengan tertib mengurusi dokumen kependudukan, masyarakat calon pemilih telah berkontribusi bagi terwujudnya sistim kepemiluan yang bermartabat dan sesuai dengan regulasi.



Buku Mengeluarkan Pemilu dari Lorong Gelap menarasikan perjalanan KPU dalam mendesign Kepemiluan yang lebih moderen.  Buku ini merasikan dengan  indah tentang soliditas team, komunikasi kemitraan dengan pihak lain, tentang kesadaran akan amanah yang dipercayakan.  KPU sebagai lembaga Independen yang dipercayakan Konstitusi adalah lembaga yang sangat dinamis Dengan berefleksi atas peran dan kipra Husni  Kamil Malik, siapapun yang tertarik dengan sistim demokrasi dan Pemilihan Umum sebagai sarana mewujudkan Demokrasi tersebut hendaknya terpanggil untuk membaca dan berziarah bersama menyelami setiap spirit pergumulan para penyelenggara Pemilihan umum, orang- orang yang dipanggil untuk melayani Rakyat empunya daulat suara di meja Perjamuan Demokrasi.

#KPU Penatalayan Demokrasi

Larantuka, 2 Oktober 2019

URAN, Fabianus Boli
Komisioner KPU Flores Timur






MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...