Jumat, 08 September 2017

PERESMIAN WEBSTE DESA DAN PELEPASAN TUKIK.... DALAM TUTURAN TUGAS PERUTUSAN BUDAYA



PERESMIAN WEBISTE DESA DAN PELEPASAN TUKIK
DALAM TUTURAN TUGAS PERUTUSAN BUDAYA

Ziarah pemaknaan komitmen masyarakat Desa Birawan pada tanggal 01 Juni 2017, dalam kegiatan Seminar Budaya semakin memberikan warna dalam pembangunan desa berbasis budaya . Hari ini, Jumad, 08 September 2017 Desa Birawan kembali mengukir  lembaran komitmen dalam sajarah Lewo ini. Dua kegiatan besar  yakni Peluncuran Webiste Desa Birawan dan Website Desa Lewoawang  di alula Kantor Desa Birawan serta Pelepasan Tukik  di Pantai Nara Lewotobi yang dilakukan oleh Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST.


Tuturan sastra “ Soga Koda Pulo Kiri Lema” pada gapura penjemputan diterjemahkan dengan sangat filosofis oleh protokol penjemputan, Sdr. Paulus Senggo Hokeng, S. Fil.  Beliau menegaskan makna sastra ini  bahwa hari ini dalam kunjungan perdananya, Bupati Flores Timur hadir untuk mengambil, menerima koda ( kata ) dari Lewotana. Lebih lanjut, Paul sapaan protokol ini menegaskan “Koda Kiri Lewotana adalah kekuatan tana. Koda kiri lewotanah juga adalah titiapn tugas bagi siapa saja yang adalah anak tanah Flores Timur untuk membangun dengan tetap menyadari bahwa tana ekan, tahi-wai, waten-kne’e telah disucikan untuk kebaikan bersama”
 

 



 Kesadaran tentang tanah ekan dalam konteks pembangunan Desa, Kepala Desa Birawan Tarsisius Buto Muda sekaligus mewakili  Kepala Desa Lewoawang, Yohanes Wolo Tobi dalam sambutannya menegaskan bagaimana  Desa Birawan dan Desa Lewoawang menterjemahkan amanat undang-undang Desa no 6 Tahun 2014. Desa dalam pemaknaan kewenangan lokal berskala Desa, menyadari pentingnnya Website Desa sebagai media komunikasi dengan semua pihak. Tantangan gangguan sinyal, kesulitan mengakses jaringan telpon khususnya di Desa Lewoawang tidak menyurutkan langkah Kepala Desa, bersama aparat Desa dan para tokoh agama, pendidik, pemuda untuk tetap setia dalam membangun Desa. Sedangkan proses pelepasan Tukik hari ini adalah rangkain proses ziarah pemaknaan warisan budaya yang dikemas dalam seminar budaya pada tanggal 01 Juni 2017. Komitmen dari seminar ini telah tertuang dalam rancangan peraturan Desa tentang perlindungan Laut dan Pesisir Pantai. Racangan ini sudah disosialisasikan bersama draft perdes lainnya ke masyarakat dan sekarang sedang dalam tahapan assistensi. Pada kesempatan ini juga beliau mengucapkan terima kasih khusus bagi mitra Pemerintahan Desa Birawan yakni Misool Baseftin yang tetap setia melakukan pendampingan dalam perlindungan laut dan pesisir pantai, khususnya di perlindungan terumbu karang dan konservasi penyu.




Bupati Flores Timur dalam sambutannya memberikan appresiasi atas inisiatif dua desa sebagai desa pertama di Kabupaten Flores Timur yang  membangun sistim tata kelola pemerintah Desa dengan berbasis online yakni adannya website desa.  Acara peresmian website ditandai dengan pemukulan Gong dan penekanan mouse Webiste Desa Birawan dan Lewoawang. Bupati Anton, sapaan orang nomor satu ini, sangat tertarik dengan penjelasan dan peragaan pengolahan menu-menu di dalam website desa ini. Bagaimana sistim aplikasi surat menyurat, sistim data kependudukan dan masih banyak menu. Sedangkan untuk konservasi laut dan pesisir, Bupati memberikan appresiasi bagi Desa Birawan  dan mendorong desa –desa lain di Kecamatan Ile Bura dan desa –desa di pesisir pantai di Kabupaten Flores Timur untuk belajar dari Desa Birawan. Kronolgis konservasi laut dan keterlibatan kaum muda dalam keseluruhan proses ini menjadi perhatian khusus Bupati karena sangat sejalan degan Visi Misinya yakni menyelamatkan kaum muda.




Setelah peresmian Webiste, Bupati dan masyarakat menuju ke Pantai Nara untuk pelepasan tukik. Acara ini ditandai dengan penuturan kata adat oleh Bapak Mathias Kaja Witi. Setelah itu Sdr Kanisius Laranwutun Uran selaku Ketua Kelompok Pengawas laut mengambil tukik, menaruh di dalam tempurung berisis pasir dan dibagikan ke para Bapak Bupati, Bapak Benediktus Beda Witi mewakili tuan tanah, Ibu Bupati, Kabid Kelautan dan Perikanan, Diakon Martinus Weruin Pr mewakili Pastor Paroki St. Yosep Lewotobi, Sekretaris Dinas Kominfo, Kepala Bank NTT cabang Larantuka serta tamu undangan lainnya. Sebelum pelepasaun tukik oleh Bapak Bupati dan Bapak Benediktus Beda Witi secara bersamaan, Bapak Matias  Kaja Witi  sebagai petugas ritus  Awe Lape melakukan dialog kosmic dengan penghuni laut. Dalam dialog ini beliau memaklumkan janji seluruh masyarakat Desa Birawan khususnya Lewotobi bahwa mulai hari ini dan seterusnya masyarakat Lewotobi tidak akan lagi mengambil telur penyu, menangkap dan membunuh penyu. Jika masyarakat melanggar, maka Hari Neda ( penjaga laut )  akan menanti mereka dengan sanksi di laut.




Tubuh tukik yang kecil bergeliat menantang ombak. Hempasan ombak seolah olah datang menyapa dan menjemput 19 ekor tukik menuju tengah laut tempat keluarga mereka sedang menanti mereka. Liukan gerakan mereka diiringi sorak sorai masyarakat dan mereka pun tidak sadar lagi sepatu, sendal pakaian mereka basah oleh ombak. Bupati Anton pun tidak ketinggalan disirami hempasan gelombang pantai lewotobi. Semua bersukacita, semua bahagia. Bapak Benediktus Beda Witi sambil menahan air mata, mengucapkan rasa syukur dan terima kasih bagi generasi muda yang telah berjuang mengangkat nama lewotana, mengangkat kembali warisan budaya yang telah hilang dan sudah dilupakan. Sukacita hari ini menjadi sukacita istimewa bagi Camat Ile Bura. Dua kegiatan besar hari ini seolah-olah menjadi kado Istimewah bagi beliau yang akan menyelesaikan tugas pengabdiannya sebagai abdi negara pada tanggal 30 September 2017. 


Setelah acara pelepasan, Bapak Bupati bersama Kabid Perikanan, kepala Desa Birawan berlayar menuju tiga pulau, Nuha witi, nuha bele dan nuha kowa untuk melihat dari dekat pesona pulau ini. Kecepatan speed boat dari Dinas Perikanan dan Kaluatan seolah-olah menjadi hiburan tersendiri bagi warga masyarakat. Ini juga menjadi harapan masyarakat agar pemerintah sebagaimana misi Bupati Selamatkan Laut mendirikan Pos Penjaga Pantai di wilayah Kecamatan Ile Bura. Bapak Bupati dalam dialog setelah kembali dari pelepasan tukik, mengatakan bahwa masyarakat jagan lagi takut degan para peruskan lingkungan laut. Pesan pembakaran kapal motor nelayan yang melakukan pengembomban ikan adalah pesan yang sangat tegas bahwa Laut dan isisnya harus dilindungi dari tindakan-tindakan yang merusak lingkungan.


Dalam hiruk pikuk sukacita ini, Kanisius Laranwutun Uran hanya mengucap syukur karena boleh belajar setia menjaga amanat tradisi yang diwariskan leluhur sebagai penjaga kne”wai dan segala isinya. Butuh pengorbanan, butuh kesetiaan, butuh totalitas pengabdian. Soga Koda Pulo Kiri Lema adalah tugas perutusan, tugas menerjemahkan amanat tradisi serentak tugas pemuliaan kemanusiaan dalam relasi kosmic karena Ia Tuhan telah menyucikan tana ekan, kne’e wai demi kebaikan bersama.


URAN, Faby Boly
Team Konservasi Penyu
Penulis dan Pengamat Budaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...