PERESMIAN WEBISTE DESA DAN PELEPASAN TUKIK
DALAM TUTURAN TUGAS PERUTUSAN BUDAYA
Ziarah pemaknaan komitmen
masyarakat Desa Birawan pada tanggal 01 Juni 2017, dalam kegiatan Seminar
Budaya semakin memberikan warna dalam pembangunan desa berbasis budaya . Hari
ini, Jumad, 08 September 2017 Desa Birawan kembali mengukir lembaran komitmen dalam sajarah Lewo ini. Dua
kegiatan besar yakni Peluncuran Webiste
Desa Birawan dan Website Desa Lewoawang di alula Kantor Desa Birawan serta Pelepasan
Tukik di Pantai Nara Lewotobi yang dilakukan oleh Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST.
Tuturan sastra “ Soga Koda Pulo Kiri Lema” pada gapura
penjemputan diterjemahkan dengan sangat filosofis oleh protokol penjemputan, Sdr. Paulus Senggo Hokeng, S. Fil. Beliau menegaskan makna sastra ini bahwa hari ini dalam kunjungan perdananya,
Bupati Flores Timur hadir untuk mengambil, menerima koda ( kata ) dari
Lewotana. Lebih lanjut, Paul sapaan protokol ini menegaskan “Koda Kiri Lewotana adalah kekuatan tana.
Koda kiri lewotanah juga adalah titiapn tugas bagi siapa saja yang adalah anak
tanah Flores Timur untuk membangun dengan tetap menyadari bahwa tana ekan,
tahi-wai, waten-kne’e telah disucikan untuk kebaikan bersama”
Kesadaran tentang tanah ekan dalam konteks pembangunan Desa, Kepala Desa Birawan Tarsisius Buto Muda sekaligus
mewakili Kepala Desa Lewoawang, Yohanes Wolo Tobi dalam sambutannya
menegaskan bagaimana Desa Birawan dan
Desa Lewoawang menterjemahkan amanat undang-undang Desa no 6 Tahun 2014. Desa
dalam pemaknaan kewenangan lokal berskala Desa, menyadari pentingnnya Website
Desa sebagai media komunikasi dengan semua pihak. Tantangan gangguan sinyal,
kesulitan mengakses jaringan telpon khususnya di Desa Lewoawang tidak
menyurutkan langkah Kepala Desa, bersama aparat Desa dan para tokoh agama,
pendidik, pemuda untuk tetap setia dalam membangun Desa. Sedangkan proses
pelepasan Tukik hari ini adalah rangkain proses ziarah pemaknaan warisan budaya
yang dikemas dalam seminar budaya pada tanggal 01 Juni 2017. Komitmen dari
seminar ini telah tertuang dalam rancangan peraturan Desa tentang perlindungan
Laut dan Pesisir Pantai. Racangan ini sudah disosialisasikan bersama draft
perdes lainnya ke masyarakat dan sekarang sedang dalam tahapan assistensi. Pada
kesempatan ini juga beliau mengucapkan terima kasih khusus bagi mitra
Pemerintahan Desa Birawan yakni Misool
Baseftin yang tetap setia melakukan pendampingan dalam perlindungan laut
dan pesisir pantai, khususnya di perlindungan terumbu karang dan konservasi
penyu.
Bupati Flores Timur dalam
sambutannya memberikan appresiasi atas inisiatif dua desa sebagai desa pertama
di Kabupaten Flores Timur yang membangun
sistim tata kelola pemerintah Desa dengan berbasis online yakni adannya website
desa. Acara peresmian website ditandai
dengan pemukulan Gong dan penekanan mouse Webiste Desa Birawan dan Lewoawang. Bupati Anton, sapaan orang nomor satu
ini, sangat tertarik dengan penjelasan dan peragaan pengolahan menu-menu di
dalam website desa ini. Bagaimana sistim aplikasi surat menyurat, sistim data
kependudukan dan masih banyak menu. Sedangkan untuk konservasi laut dan
pesisir, Bupati memberikan appresiasi bagi Desa Birawan dan mendorong desa –desa lain di Kecamatan Ile
Bura dan desa –desa di pesisir pantai di Kabupaten Flores Timur untuk belajar
dari Desa Birawan. Kronolgis konservasi laut dan keterlibatan kaum muda dalam
keseluruhan proses ini menjadi perhatian khusus Bupati karena sangat sejalan
degan Visi Misinya yakni menyelamatkan kaum muda.
Setelah peresmian Webiste, Bupati
dan masyarakat menuju ke Pantai Nara untuk pelepasan tukik. Acara ini ditandai
dengan penuturan kata adat oleh Bapak Mathias Kaja Witi. Setelah itu Sdr
Kanisius Laranwutun Uran selaku Ketua Kelompok Pengawas laut mengambil tukik,
menaruh di dalam tempurung berisis pasir dan dibagikan ke para Bapak Bupati,
Bapak Benediktus Beda Witi mewakili
tuan tanah, Ibu Bupati, Kabid Kelautan dan Perikanan, Diakon Martinus Weruin Pr mewakili Pastor
Paroki St. Yosep Lewotobi, Sekretaris Dinas Kominfo, Kepala Bank NTT cabang
Larantuka serta tamu undangan lainnya. Sebelum pelepasaun tukik oleh Bapak
Bupati dan Bapak Benediktus Beda Witi
secara bersamaan, Bapak Matias Kaja Witi sebagai petugas ritus Awe
Lape melakukan dialog kosmic dengan penghuni laut. Dalam dialog ini beliau
memaklumkan janji seluruh masyarakat Desa Birawan khususnya Lewotobi bahwa
mulai hari ini dan seterusnya masyarakat Lewotobi tidak akan lagi mengambil
telur penyu, menangkap dan membunuh penyu. Jika masyarakat melanggar, maka Hari Neda ( penjaga laut ) akan menanti mereka dengan sanksi di laut.
Tubuh tukik yang kecil bergeliat
menantang ombak. Hempasan ombak seolah olah datang menyapa dan menjemput 19 ekor tukik menuju tengah laut tempat keluarga mereka sedang menanti mereka.
Liukan gerakan mereka diiringi sorak sorai masyarakat dan mereka pun tidak
sadar lagi sepatu, sendal pakaian mereka basah oleh ombak. Bupati Anton pun
tidak ketinggalan disirami hempasan gelombang pantai lewotobi. Semua
bersukacita, semua bahagia. Bapak
Benediktus Beda Witi sambil menahan air mata, mengucapkan rasa syukur dan
terima kasih bagi generasi muda yang telah berjuang mengangkat nama lewotana,
mengangkat kembali warisan budaya yang telah hilang dan sudah dilupakan.
Sukacita hari ini menjadi sukacita istimewa bagi Camat Ile Bura. Dua kegiatan
besar hari ini seolah-olah menjadi kado Istimewah bagi beliau yang akan
menyelesaikan tugas pengabdiannya sebagai abdi negara pada tanggal 30 September
2017.
Setelah acara pelepasan, Bapak
Bupati bersama Kabid Perikanan, kepala Desa Birawan berlayar menuju tiga pulau,
Nuha witi, nuha bele dan nuha kowa untuk melihat dari dekat pesona pulau ini.
Kecepatan speed boat dari Dinas Perikanan dan Kaluatan seolah-olah menjadi
hiburan tersendiri bagi warga masyarakat. Ini juga menjadi harapan masyarakat
agar pemerintah sebagaimana misi Bupati Selamatkan Laut mendirikan Pos Penjaga
Pantai di wilayah Kecamatan Ile Bura. Bapak Bupati dalam dialog setelah kembali
dari pelepasan tukik, mengatakan bahwa masyarakat jagan lagi takut degan para
peruskan lingkungan laut. Pesan pembakaran kapal motor nelayan yang melakukan
pengembomban ikan adalah pesan yang sangat tegas bahwa Laut dan isisnya harus
dilindungi dari tindakan-tindakan yang merusak lingkungan.
Dalam hiruk pikuk sukacita ini, Kanisius Laranwutun Uran hanya mengucap
syukur karena boleh belajar setia menjaga amanat tradisi yang diwariskan
leluhur sebagai penjaga kne”wai dan
segala isinya. Butuh pengorbanan, butuh kesetiaan, butuh totalitas pengabdian. Soga Koda Pulo Kiri Lema adalah tugas perutusan,
tugas menerjemahkan amanat tradisi serentak tugas pemuliaan kemanusiaan dalam
relasi kosmic karena Ia Tuhan telah menyucikan tana ekan, kne’e wai demi kebaikan bersama.
URAN, Faby Boly
Team Konservasi Penyu
Penulis dan Pengamat Budaya



Tidak ada komentar:
Posting Komentar