Warna Cahaya di panggung Aula Hotel Palm Lewoleba, 24 Juli
2017 membungkus sebua spanduk bertuliskan Dialog Kebudayaan. Di Pelataran
berkumpul para raja, pewaris kerajaan, para seniman, para pemerhati budaya.
Semua bersatu dalam satu refleksi tentang Budaya. Dalam Tema “
Menggali Ingatan Kolektif kita, para peserta diajak untuk melakukan
refleksi atas simbol kebanggaan masa
lalu sebagai sumbangan untuk masa kini. Dialog kebudayaan ini sekaligus
silahturahmin Raja- raja sedaratan Flores dan Lembata.
Pembukaan acara ini diawali
dengan sugguhan tarian dari group tari swastika Lepan Bata. Tarian yang
melukiskan perjalanan suku- suku melalui
samudera sungguh menggugah nurani. Perjalanan penuh tantangan. Gelombang waktu
menghempas para penutur sejarah dan yang masih hidup berjuang terus agar
sejarah tidak putus. Perjuangan menuju daratan agar tuturan sejarah tetap
terangkai ke generasi selanjutnya. Perjuangan demi keberlangsungan pewarisan
nilai-nilai kehidupan.
Hari selasa, refleksi dialog
kebudayaan dikemas dalam seminar. Pada sesi pertama, Kepala Dinas Kebudayaan
Provinsi NTT, Drs.Sinun Petrus Manuk memaparkan
tentang Kebijakan Pemajuan Kebudayaan di NTT dengan Visi “ Terwujudnya Masyarakat Nusa
Tenggara Timur yang berbudaya dan berkarakter, Berbasis lokal berkontribusi
pada kemanusiaan dan keragaman budaya nasional dan dunia”. Beliau
menegaskan aspek-aspek yang termuat
dalam UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yakni aspek Toleransi, Keberagaman, Kelokalan, Lintas wilayah,
Partisipasi, manfaat , keberlanjutan, kebebasan berekspresi, keterpaduan,
kesederajatan dan gotong royong.
Sesi selanjutnya adalah “Menghela
Narasi Peradaban yang Hilang” oleh Dr.
Marsel Robot,M.Si. beliau mengajak peserta untuk merenung dampak dari
kehadiran media komunikasi di mana secara perahan, nilai-nilai kemanusiaan,
nilai-nilai sosial budaya ikut tergerus didalamnya. Dua hal penting yang hilang
adalah Kehilangan Kampung halaman dan
Kehilangan Roh dan Roti Kehidupan. Kehilangan Kampung halaman adalah “kehilangan
kepesonaan sebagai manusia yang
hidup dalam kehangatan selimut kolektivitas “. Lebih lanjut ditegaskan
bahwa Kampung halaman dalam pengertian komunal bukan “hanya deretan rumah melainkan gugusan makna membentuk institusi
kemanusiaan”. Satu bentuk pemaknaan kolektivitas, persaudaraan adalah
perjamuan bersama di tengah rumah. Makan bersama- sama perlahan telah digeser
oleh sikap indivualistis di mana anak-anak lebih senang menonton sinetron atau
asyik dengan komunikasi melalui dunia maya seperti facebook atau twiter.
Kebiasaan penuturan pesan-pesan dari orang tua melalui cerita rakyat telah
diganti dengan kebisaan mendengarkan gosip-gosip di layar televisi atau obrolan
murahan di media maya. Masakan yang diolah dari dapur kehilangan makna sebagi
Roti Kehidupan. Meja makan sebagai altar perjamua telah diganti dengan meja
televisi.
Pada titik nadir ini, keheningan
refleksi atas nilai –nilai kehidupan menjadi sebuah barang langkah dan teramat
mahal. Kehilangan semangat refleksi berdampak pada kehadiran generasi yang
gagap dalam menterjemahkan nilai-nilai kehidupan. Untuk itu diperlukan usaha
untuk meliterasikan kembali warisan-warisan budaya. I Made Purna dari Balai Pelestarian Nilai Budaya ( BPNB)
menjelaskan upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk
menarasikan kembali nilai-nilai budaya ini. Pada kesempatan ini juga para
peserta diajak untuk terlibat dalam proses literasi ini.
Sesi terakhir adalah kajian
Antropologi oleh Pastor Gregor Neonbasu
SVD, Phd. Beliau menegaskan bahwa budaya selalu bersifat lokal dalam
konteks dan teks. Desa sebagai sebuah entitas budaya telah menunjukkan sebuah
alam demokrasi yang utuh dan lengkap. Namun sayang entitas ini sering kalah
bersaing dengan perkembangan. Bagimanapun manusia tidak dapat menghindari
perubahaan, perkembangan tetapi cara menjawab perubahaan berbasis nilai-nilai
budaya seharusnya menjadi sebuah keterpanggilan dari setiap masyarakat. Dampak
dari perubahaan , satu di antaranya adalah munculnya konfik. Beliau menegaskan bahwa
“ dalam kaca refleksi antropologis, das
sein dan pendulum dari konflik justru
ada pada ke-tidak-mampu-an untuk memahami “budaya” kehidupan bersama, di mana
terjadi disharmoni yang seakan tidak ada cela untuk mencari jalan keluar, dan
salah satu pihak berusaha dengan
berbagai cara untuk menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya”. Konflik ini terus terjadi ketika orang hanya
berpusat pada perbedaan tanpa sikap
realistis untuk memahami hakekat perbedaan atau keragaman sebagai sebuah
entitas sosial dalam masyarakat. Menerima perbedaan dengan rendah hati dan
penuh kasih adalah ciri manusia berbudaya. Sebagai manusia berbudaya,P. Gregor
menegaskan manusia bertugas untuk merawat, memelihara, menjaga, melindungi dan
memberikan peneguhan. Beliau mengajak peserta untuk belajar dari Yesus sebagai
Antropolog sejati, Yesus yang berani meninggalkan ke-Allahan untuk dapat
menjadi manusia.
Tugas merawat budaya dan tradisi
karena masyarakat yakin dengan cara itu kehidupan manusia senantiasa dirawat
oleh leluhur. Proses perawatan terwujud dalam tradisi ritual yang dilakukan oleh para pemuka adat. Ritual
yang dilakukan sebagai permohonan kepada
para leluhur untuk melindungi generasi kini dari malapetaka. Ketika tradisi
dijaga dan dirawat maka generasi merasa diteguhkan.
Proses menjaga, merawat budaya
membutuhkan sebuah proses literasi budaya. Tanpa sebuah upaya refleksi yang
mendalam serta tertuang dalam tulisan, foto-foto serta proses mengkomunikasikan
makna warisan budaya, maka budaya hanya tinggal kenangan. Budaya hanya sebagai
sebuah pajangan foto, budaya hanya sebuah buku yang akan kusam, termakan rayap.
Meliterasikan budaya adalah gerakan refleksi pribadi, refleksi sosial untuk
menterjemahkan nilai-nilai abstrak dalam tataran strategi pembangunan Desa,
menterjemahkan dalam konteks kekinian.
Penulis bersyukur karena boleh teribat dalam
dialog kebudayaan ini. Refleksi tentang Desa Birawan, desa di lereng gunung Api
Lewotobi yang telah memulai sebuah
proses refleksi nilai budaya sebagai
landasan dalam pembangunan desa mendapatkan appresiasi sekaligus memberikan
inspirasi bagi peserta. Dari dialog ini penulis dan rekan-rekan dialog
berkomitmen untuk terus berupaya melakukan penelusuran dan menarasikan warisan budaya.
Menungguh orang lain menuliskan
budaya kita adalah bentuk kegagapan. Waktunya sekarang, semua komponen wajib
terpanggil melakukan literasi budaya. Dan di atas kapal Motor Lewoleba Karya
dalam perjalanan pulang, Penulis menyadari betapa Ia Tuhan telah mempercayakan
Pena kehidupan bagi setiap orang, termasuk penulis untuk menuliskan
pesan-pesan, untuk merangkai syair-syair kehidupan.
Selamat Melakukan Ziarah Dialog
Budaya.
Uran, Faby
Pemerhati Budaya & Peserta Dialog Budaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar