Rabu, 26 Juli 2017

Merajut Dialog Kebudayaan



Warna Cahaya  di panggung Aula Hotel Palm Lewoleba, 24 Juli 2017 membungkus sebua spanduk bertuliskan Dialog Kebudayaan. Di Pelataran berkumpul para raja, pewaris kerajaan, para seniman, para pemerhati budaya. Semua bersatu  dalam satu  refleksi tentang Budaya. Dalam Tema “ Menggali Ingatan Kolektif kita, para peserta diajak untuk melakukan refleksi  atas simbol kebanggaan masa lalu sebagai sumbangan untuk masa kini. Dialog kebudayaan ini sekaligus silahturahmin Raja- raja sedaratan Flores dan Lembata.


Pembukaan acara ini diawali dengan sugguhan tarian dari group tari swastika Lepan Bata. Tarian yang melukiskan perjalanan suku- suku  melalui samudera sungguh menggugah nurani. Perjalanan penuh tantangan. Gelombang waktu menghempas para penutur sejarah dan yang masih hidup berjuang terus agar sejarah tidak putus. Perjuangan menuju daratan agar tuturan sejarah tetap terangkai ke generasi selanjutnya. Perjuangan demi keberlangsungan pewarisan nilai-nilai kehidupan.



Hari selasa, refleksi dialog kebudayaan dikemas dalam seminar. Pada sesi pertama, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTT, Drs.Sinun Petrus Manuk memaparkan tentang Kebijakan Pemajuan Kebudayaan di NTT dengan Visi “ Terwujudnya  Masyarakat Nusa Tenggara Timur yang berbudaya dan berkarakter, Berbasis lokal berkontribusi pada kemanusiaan dan keragaman budaya nasional dan dunia”. Beliau menegaskan  aspek-aspek yang termuat dalam  UU No 5 tahun 2017 tentang  Pemajuan Kebudayaan yakni aspek   Toleransi, Keberagaman, Kelokalan, Lintas wilayah, Partisipasi, manfaat , keberlanjutan, kebebasan berekspresi, keterpaduan, kesederajatan dan gotong royong.


Sesi selanjutnya adalah “Menghela Narasi Peradaban yang Hilang” oleh Dr. Marsel Robot,M.Si. beliau mengajak peserta untuk merenung dampak dari kehadiran media komunikasi di mana secara perahan, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai sosial budaya ikut tergerus didalamnya. Dua hal penting yang hilang adalah Kehilangan Kampung halaman  dan Kehilangan Roh dan Roti Kehidupan. Kehilangan Kampung halaman adalah “kehilangan  kepesonaan sebagai manusia  yang hidup dalam kehangatan selimut kolektivitas “. Lebih lanjut ditegaskan bahwa Kampung halaman dalam pengertian komunal bukan “hanya deretan rumah melainkan gugusan makna membentuk institusi kemanusiaan”. Satu bentuk pemaknaan kolektivitas, persaudaraan adalah perjamuan bersama di tengah rumah. Makan bersama- sama perlahan telah digeser oleh sikap indivualistis di mana anak-anak lebih senang menonton sinetron atau asyik dengan komunikasi melalui dunia maya seperti facebook atau twiter. Kebiasaan penuturan pesan-pesan dari orang tua melalui cerita rakyat telah diganti dengan kebisaan mendengarkan gosip-gosip di layar televisi atau obrolan murahan di media maya. Masakan yang diolah dari dapur kehilangan makna sebagi Roti Kehidupan. Meja makan sebagai altar perjamua telah diganti dengan meja televisi.



Pada titik nadir ini, keheningan refleksi atas nilai –nilai kehidupan menjadi sebuah barang langkah dan teramat mahal. Kehilangan semangat refleksi berdampak pada kehadiran generasi yang gagap dalam menterjemahkan nilai-nilai kehidupan. Untuk itu diperlukan usaha untuk meliterasikan kembali warisan-warisan budaya. I Made Purna dari Balai Pelestarian Nilai Budaya ( BPNB) menjelaskan upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk menarasikan kembali nilai-nilai budaya ini. Pada kesempatan ini juga para peserta diajak untuk terlibat dalam proses literasi ini.


Sesi terakhir adalah kajian Antropologi oleh Pastor Gregor Neonbasu SVD, Phd. Beliau menegaskan bahwa budaya selalu bersifat lokal dalam konteks dan teks. Desa sebagai sebuah entitas budaya telah menunjukkan sebuah alam demokrasi yang utuh dan lengkap. Namun sayang entitas ini sering kalah bersaing dengan perkembangan. Bagimanapun manusia tidak dapat menghindari perubahaan, perkembangan tetapi cara menjawab perubahaan berbasis nilai-nilai budaya seharusnya menjadi sebuah keterpanggilan dari setiap masyarakat. Dampak dari perubahaan , satu di antaranya adalah munculnya konfik. Beliau menegaskan bahwa “ dalam kaca refleksi antropologis, das sein dan pendulum  dari konflik justru ada pada ke-tidak-mampu-an untuk memahami “budaya” kehidupan bersama, di mana terjadi disharmoni yang seakan tidak ada cela untuk mencari jalan keluar, dan salah satu pihak  berusaha dengan berbagai cara untuk menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya”. Konflik ini terus terjadi ketika orang hanya berpusat pada  perbedaan tanpa sikap realistis untuk memahami hakekat perbedaan atau keragaman sebagai sebuah entitas sosial dalam masyarakat. Menerima perbedaan dengan rendah hati dan penuh kasih adalah ciri manusia berbudaya. Sebagai manusia berbudaya,P. Gregor menegaskan manusia bertugas untuk merawat, memelihara, menjaga, melindungi dan memberikan peneguhan. Beliau mengajak peserta untuk belajar dari Yesus sebagai Antropolog sejati, Yesus yang berani meninggalkan ke-Allahan untuk dapat menjadi manusia. 



Tugas merawat budaya dan tradisi karena masyarakat yakin dengan cara itu kehidupan manusia senantiasa dirawat oleh leluhur. Proses perawatan terwujud dalam tradisi ritual  yang dilakukan oleh para pemuka adat. Ritual yang dilakukan  sebagai permohonan kepada para leluhur untuk melindungi generasi kini dari malapetaka. Ketika tradisi dijaga dan dirawat maka generasi merasa diteguhkan.

Proses menjaga, merawat budaya membutuhkan sebuah proses literasi budaya. Tanpa sebuah upaya refleksi yang mendalam serta tertuang dalam tulisan, foto-foto serta proses mengkomunikasikan makna warisan budaya, maka budaya hanya tinggal kenangan. Budaya hanya sebagai sebuah pajangan foto, budaya hanya sebuah buku yang akan kusam, termakan rayap. Meliterasikan budaya adalah gerakan refleksi pribadi, refleksi sosial untuk menterjemahkan nilai-nilai abstrak dalam tataran strategi pembangunan Desa, menterjemahkan dalam konteks kekinian. 

 Penulis bersyukur karena boleh teribat dalam dialog kebudayaan ini. Refleksi tentang Desa Birawan, desa di lereng gunung Api Lewotobi  yang telah memulai sebuah proses refleksi nilai budaya  sebagai landasan dalam pembangunan desa mendapatkan appresiasi sekaligus memberikan inspirasi bagi peserta. Dari dialog ini penulis dan rekan-rekan dialog berkomitmen untuk terus berupaya melakukan penelusuran  dan menarasikan warisan budaya.

Menungguh orang lain menuliskan budaya kita adalah bentuk kegagapan. Waktunya sekarang, semua komponen wajib terpanggil melakukan literasi budaya. Dan di atas kapal Motor Lewoleba Karya dalam perjalanan pulang, Penulis menyadari betapa Ia Tuhan telah mempercayakan Pena kehidupan bagi setiap orang, termasuk penulis untuk menuliskan pesan-pesan, untuk merangkai syair-syair kehidupan.
Selamat Melakukan Ziarah Dialog Budaya.





Uran, Faby
Pemerhati Budaya  & Peserta Dialog Budaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...