Rabu, 26 Juli 2017

Merajut Dialog Kebudayaan



Warna Cahaya  di panggung Aula Hotel Palm Lewoleba, 24 Juli 2017 membungkus sebua spanduk bertuliskan Dialog Kebudayaan. Di Pelataran berkumpul para raja, pewaris kerajaan, para seniman, para pemerhati budaya. Semua bersatu  dalam satu  refleksi tentang Budaya. Dalam Tema “ Menggali Ingatan Kolektif kita, para peserta diajak untuk melakukan refleksi  atas simbol kebanggaan masa lalu sebagai sumbangan untuk masa kini. Dialog kebudayaan ini sekaligus silahturahmin Raja- raja sedaratan Flores dan Lembata.


Pembukaan acara ini diawali dengan sugguhan tarian dari group tari swastika Lepan Bata. Tarian yang melukiskan perjalanan suku- suku  melalui samudera sungguh menggugah nurani. Perjalanan penuh tantangan. Gelombang waktu menghempas para penutur sejarah dan yang masih hidup berjuang terus agar sejarah tidak putus. Perjuangan menuju daratan agar tuturan sejarah tetap terangkai ke generasi selanjutnya. Perjuangan demi keberlangsungan pewarisan nilai-nilai kehidupan.



Hari selasa, refleksi dialog kebudayaan dikemas dalam seminar. Pada sesi pertama, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTT, Drs.Sinun Petrus Manuk memaparkan tentang Kebijakan Pemajuan Kebudayaan di NTT dengan Visi “ Terwujudnya  Masyarakat Nusa Tenggara Timur yang berbudaya dan berkarakter, Berbasis lokal berkontribusi pada kemanusiaan dan keragaman budaya nasional dan dunia”. Beliau menegaskan  aspek-aspek yang termuat dalam  UU No 5 tahun 2017 tentang  Pemajuan Kebudayaan yakni aspek   Toleransi, Keberagaman, Kelokalan, Lintas wilayah, Partisipasi, manfaat , keberlanjutan, kebebasan berekspresi, keterpaduan, kesederajatan dan gotong royong.


Sesi selanjutnya adalah “Menghela Narasi Peradaban yang Hilang” oleh Dr. Marsel Robot,M.Si. beliau mengajak peserta untuk merenung dampak dari kehadiran media komunikasi di mana secara perahan, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai sosial budaya ikut tergerus didalamnya. Dua hal penting yang hilang adalah Kehilangan Kampung halaman  dan Kehilangan Roh dan Roti Kehidupan. Kehilangan Kampung halaman adalah “kehilangan  kepesonaan sebagai manusia  yang hidup dalam kehangatan selimut kolektivitas “. Lebih lanjut ditegaskan bahwa Kampung halaman dalam pengertian komunal bukan “hanya deretan rumah melainkan gugusan makna membentuk institusi kemanusiaan”. Satu bentuk pemaknaan kolektivitas, persaudaraan adalah perjamuan bersama di tengah rumah. Makan bersama- sama perlahan telah digeser oleh sikap indivualistis di mana anak-anak lebih senang menonton sinetron atau asyik dengan komunikasi melalui dunia maya seperti facebook atau twiter. Kebiasaan penuturan pesan-pesan dari orang tua melalui cerita rakyat telah diganti dengan kebisaan mendengarkan gosip-gosip di layar televisi atau obrolan murahan di media maya. Masakan yang diolah dari dapur kehilangan makna sebagi Roti Kehidupan. Meja makan sebagai altar perjamua telah diganti dengan meja televisi.



Pada titik nadir ini, keheningan refleksi atas nilai –nilai kehidupan menjadi sebuah barang langkah dan teramat mahal. Kehilangan semangat refleksi berdampak pada kehadiran generasi yang gagap dalam menterjemahkan nilai-nilai kehidupan. Untuk itu diperlukan usaha untuk meliterasikan kembali warisan-warisan budaya. I Made Purna dari Balai Pelestarian Nilai Budaya ( BPNB) menjelaskan upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk menarasikan kembali nilai-nilai budaya ini. Pada kesempatan ini juga para peserta diajak untuk terlibat dalam proses literasi ini.


Sesi terakhir adalah kajian Antropologi oleh Pastor Gregor Neonbasu SVD, Phd. Beliau menegaskan bahwa budaya selalu bersifat lokal dalam konteks dan teks. Desa sebagai sebuah entitas budaya telah menunjukkan sebuah alam demokrasi yang utuh dan lengkap. Namun sayang entitas ini sering kalah bersaing dengan perkembangan. Bagimanapun manusia tidak dapat menghindari perubahaan, perkembangan tetapi cara menjawab perubahaan berbasis nilai-nilai budaya seharusnya menjadi sebuah keterpanggilan dari setiap masyarakat. Dampak dari perubahaan , satu di antaranya adalah munculnya konfik. Beliau menegaskan bahwa “ dalam kaca refleksi antropologis, das sein dan pendulum  dari konflik justru ada pada ke-tidak-mampu-an untuk memahami “budaya” kehidupan bersama, di mana terjadi disharmoni yang seakan tidak ada cela untuk mencari jalan keluar, dan salah satu pihak  berusaha dengan berbagai cara untuk menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya”. Konflik ini terus terjadi ketika orang hanya berpusat pada  perbedaan tanpa sikap realistis untuk memahami hakekat perbedaan atau keragaman sebagai sebuah entitas sosial dalam masyarakat. Menerima perbedaan dengan rendah hati dan penuh kasih adalah ciri manusia berbudaya. Sebagai manusia berbudaya,P. Gregor menegaskan manusia bertugas untuk merawat, memelihara, menjaga, melindungi dan memberikan peneguhan. Beliau mengajak peserta untuk belajar dari Yesus sebagai Antropolog sejati, Yesus yang berani meninggalkan ke-Allahan untuk dapat menjadi manusia. 



Tugas merawat budaya dan tradisi karena masyarakat yakin dengan cara itu kehidupan manusia senantiasa dirawat oleh leluhur. Proses perawatan terwujud dalam tradisi ritual  yang dilakukan oleh para pemuka adat. Ritual yang dilakukan  sebagai permohonan kepada para leluhur untuk melindungi generasi kini dari malapetaka. Ketika tradisi dijaga dan dirawat maka generasi merasa diteguhkan.

Proses menjaga, merawat budaya membutuhkan sebuah proses literasi budaya. Tanpa sebuah upaya refleksi yang mendalam serta tertuang dalam tulisan, foto-foto serta proses mengkomunikasikan makna warisan budaya, maka budaya hanya tinggal kenangan. Budaya hanya sebagai sebuah pajangan foto, budaya hanya sebuah buku yang akan kusam, termakan rayap. Meliterasikan budaya adalah gerakan refleksi pribadi, refleksi sosial untuk menterjemahkan nilai-nilai abstrak dalam tataran strategi pembangunan Desa, menterjemahkan dalam konteks kekinian. 

 Penulis bersyukur karena boleh teribat dalam dialog kebudayaan ini. Refleksi tentang Desa Birawan, desa di lereng gunung Api Lewotobi  yang telah memulai sebuah proses refleksi nilai budaya  sebagai landasan dalam pembangunan desa mendapatkan appresiasi sekaligus memberikan inspirasi bagi peserta. Dari dialog ini penulis dan rekan-rekan dialog berkomitmen untuk terus berupaya melakukan penelusuran  dan menarasikan warisan budaya.

Menungguh orang lain menuliskan budaya kita adalah bentuk kegagapan. Waktunya sekarang, semua komponen wajib terpanggil melakukan literasi budaya. Dan di atas kapal Motor Lewoleba Karya dalam perjalanan pulang, Penulis menyadari betapa Ia Tuhan telah mempercayakan Pena kehidupan bagi setiap orang, termasuk penulis untuk menuliskan pesan-pesan, untuk merangkai syair-syair kehidupan.
Selamat Melakukan Ziarah Dialog Budaya.





Uran, Faby
Pemerhati Budaya  & Peserta Dialog Budaya

Minggu, 23 Juli 2017

Kisah Unik Penyelamatan Penyu

Kamis, 20 Juli, sekitar Pkl 11 malam, saat aku lagi asik membaca buku, tiba-tiba HP aku berdering dengan nomor baru. Agak malas aku mencoba menjawab telpon. Saat aku menjawab langsung  terdengar perintah..." Segerah ke Belakang Gereja, Bapak Ditus Muda dan Tinus Sabu menemukan Penyu. Saya dan mereka ada di sini..." itu adalah Suarah Om saya, Anis Uran, Ketua Kelompok Pengawas Laut Kecamatan ILe Bura.  Sesegerah aku sambar Kameran Nikon aku dan bergegas menuju lokasi. Dalam Hati aku bertanya, " Bisa ya, Penyu datang bertelur waktu gelap". Biasanya Penyu bertelur waktu ada cahaya bulan.....


Kamis malam, 20 Juli 2017. Benedikutus Jawa Muda dan Ketua Pokmaswas Ile Bura, Kanisius Laranwutun Uran.

Tiba dilokasi, saya langsung melakukan shooting proses pengamanan Penyu. Karena Penyu harus diamankan sampai hari Jumad, tgl 21 Juli agar Petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur datang melakukan pengukuran dan pemberian tanda. Lokasi telur penyu telah ditandai dan esoknya dipagari dengan seng.


Jumad, 21 Juli 2017, saat Matahari Menyibak Tirainya, Cerita Penyelamatan Penyu segerah menyebar dan masyarakat pun berbondong- bondong ke lokasi. Selama ini jika ada penyu yang dtemukan waktu bertelur maka Penyu tersebut langsung dieksekusi dan telurnya pun diambil. Tetapi Kisah hari itu menjadi Kisah Baru, karena Penyu diselamatkan.....


Semunya Berawal dari sini......

Tanggal 1 Juni 2017, Desa Birawan menyelenggarakan Kegiatan Seminar Budaya dengan Tema " Birawan Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis". Satu dari sekian komitmen dari seminar ini adalah Konservasi Penyu dan Telur Penyu. Gaung dari komitmen ini mendorong seluruh masyarakat untuk terlibat aktif dalam penyelamatan Penyu dan Telur Penyu. Sejak kegiatan seminar ini, Masyarakat Birawan, telah menemukan tiga lokasi penyu bertelur. Dua kali di Dusun Lewouran dan 1 kali di Dusun Lewotobi. dan Temuan keempat Induk Penyu dan Telurnya. Cerita lain adalah saat air surut pada malam hari dan masyarakat pergi mencari ikan yang disebut "Nyulu" beberapa masyarakat menemukan penyu dan mereka tidak menangkap. Bapak Philipus Witin menceritakan pengalamanya, beliau menemukan penyu yang terperangkap di lokasi air surut lalu beliau menggendong penyu dan melepaskan di luar lokasi air yang surut. Cerita Bapak Philupus dan yang lain hanya mereka sendiri yang menyaksikan tetapi kisah pagi itu, 21 Juli 2017 menjadi kisah perdana, Kisah Dialog manusia dengan alam.

Sekitar Pkl 10 pagi, petugas dari DKP Kabupaten Flores Timur tiba dan melakukan pengukuran, penandaan penyu serta pengobatan. Setelah itu dilakukan pelepasn. Proses pelepasan penyu hari itu merupakan momentum Perdana penyelamatan penyu. 

Masyarakat beramai-ramai menghantar penyu ke laut. Momen yang sangat mengharukan adalah  saat Penyu ketika telah tiba di bibir air laut dan telah diselimuti oleh gelombang, Penyu memutar tubuhnya menantap masyarakat. Aku begitu dekat dengan penyu. Aku menyampaikan "Tolong angkat kepalamu agar aku bisa foto lebih baik" dan Penyu pun mengangkat kepala". Bagi aku ini merupakan sesuatu yang sangat menyentuh jiwaku. Penyu seolah -olah enggan pergi. Kami pun menyampaikan " Pergilah, Telurmu aman di sini. Bapak Tinus, orang yang menemukan penyu, terpaksa memutar tubuh penyu menghadap laut dan Penyu pun bergerak menuju laut. Gelombang sesegerah membungkus tubuhnya dan teriakan pamitan dari masyarakat " Selamat Jalan" membahana mengiringi Penyu mengarungi selat Lewotobi.


Setelah kejadian ini Kepala Desa Birawan, Tarsisius Buto Muda dalam refleksinya mengatakan bahwa Penyu telah merasa aman untuk datang bertelur di lokasi Pantai Desa Birawan karena masyarakat telah sadar dan siap melindungi penyu. Lebih lanjut beliau pun berharap agar gerakan ini juga menginspirasi desa-desa lain di pesisir pantai untuk melindung penyu. Karena apa yang kita lakukan hari ini untuk diwarisakan ke anak cucu.




Aku, merasa bangga menjadi bagian dari keseluruhan momentum ini. Kajian budaya yang aku lakukan sebagai bahan dalam Seminar Budaya ternyata perlahan membuahkan hasil. Komitmen aku bersama rekan-rekan yang lain, Sdr Nikolaus Nara, Sekretaris Desa Birawan,  Kanisius Uran, Wilibrodus Suban Aran, Paulus Senggo Hokeng dan yang lain telah membantu Kades Birawan untuk mewujudkan harapan membangun Desa berbasis budaya.

Upaya mewujudkan dialog dengan alam, dialog Kosmic ternyata tidak semuanya didukung oleh masyarakat. Ada masyarakat yang menolak bahkan muncul banyak polemik. Ditengah tantangan kami tetap tegar melangkah, tetap setia pada komitmen kami. Dengan dukungan moral dari Ketua Lembaga Adat Lewotobi  Bapak Longginus Nuli Muda dan Pastor Paroki St Yosep Lewotobi, Rm. Marcelinus H.F Lamury, kegiatan seminar dapat berjalan lancar dan sukses.

Komitmen bersama pada tanggal 1 Juni 2017, bertepatan dengan peringatan hari jadi Pancasila telah materaikan oleh sekian kejadian dan momentum hari Jumad, 21 Juli membuktikan bahwa saat kami berkomitmen melindungi penyu, alam mendengar dan penyu pun tidak segan datang bertelur. Ketika manusia membuka diri membangun dialog kosmic dengan alam, serentak alam mempercayakan dirinya bagi manusia. Tetesan air mata dari ibu-ibu, anak anak yang menyaksikan kejadin ini merefleksikan suarah kegembiraan, suara harapan.

Aku bersyukur menjadi bagian dari keseluruhan momentum ini dan bersyukur apa yang aku tulis telah dimateraikan oleh alam dengan caranya. Aku bersyukur menjadi bagian kecil dari pesan mandat Pastoral keuskupan Larantuka di Tahun 2017 sebagai Tahun Ekologis.




https://youtu.be/bpsi59M-zqU

Sumber foto : Dokumentasi Pribadi



Uran Oncu

Pengamat dan Penulis sosial budaya




Selasa, 18 Juli 2017

Menarasikan Spirit APBDes Sebuah Refleksi atas Komunikasi Pembangunan



Baliho APBDes Desa Birawan di Kecamatan Ile Bura Kabupaten Flores Timur dengan  ukuran empat kali enam meter terpapang menggoda setiap orang. Godaan pada deretan potret dan angkah-angkah, pada rangkaian program tahunan. Semuanya terpapang jelas, bukan hanya angkah gelondongan tetapi sampai pada jumlah rupiah untuk  konsumsi sebuah kegiatan. Terpampang tegak di pinggir jalan seolah mengajak setiap insan yang lewat untuk berhenti sejenak membaca rangkaian program.

Baliho APBDes hanyalah satu dari sekian media dan cara pemerintah desa menarasikan prinsip keterbukaan dalam tata kelola pemerintahan desa. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa merupakan dokumen yang lahir dari harapan publik dan ia terbuka untuk dibaca, dipertanyakan, didukung juga untuk dikritisi. Biasanya yang suka mengkritisi dan menentang  adalah orang-orang yang umumnya  tidak terlibat sejak awal pembahasan di tingkat dusun serta memiliki pemahaman  terbatas.

Sebagai sebuah dokumen yang lahir dari suara, harapan publik, APBDes harus terus menerus disosialisasikan termasuk progres realisasi dan perencanaan yang akan dilakukan. Pemerintah hendaknya memanfaatakan setiap momentum pertemuan dengan warga untuk mengkomunikasikan progres implementasi APBDes. Proses komunikasi APBDes adalah sebuah seni Menarasikan Spirit APBDes. 

Mengapa Perlu Menarasikan Spirit APBDes?

Struktur sosial budaya masyarakat Desa adalah masyarakat yang suka dengan cerita-cerita. Mereka suka  berkumpul untuk sebuah cerita. Mengharapkan masyarakat membaca dokumen APBDes kemungkinan sangat kecil dan biasanya hanya dibaca oleh segelintir orang saja. Masyarakat umumnya lebih tertarik mendengar secara langsung. Ruang dialog yang disebut ”Genua Ulu”  adalah media yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan nilai dari struktur APBDes. Umumnya komunikasi yang dibangun hanya sebatas pada struktur anggaran dan rencana kerja saja tetapi nilai-nilai kehidupan yang hendak dibangun, dikemas, dikembangkan lupa untuk diceritakan. Sebuah pesan menjadi bermakna dan berdaya guna ketika pesan tersebut mampu menggerakan hasrat, jiwa orang untuk bergerak maju, mendukung sebuah program. Hal yang menggerakan jiwa orang adalah nilai luhur yang selama ini dilakoni tetapi tidak mampu dibahasakan, nilai yang selama ini diharapkan tetapi masyarakat gagap dalam menterjemahkan struktur nilai tersebut dalam struktur legalitas pembangunan. 

Proses komunikasi APBDes adalah proses menarasikan pesan, nilai-nilai yang diperjuangkan bersama-sama, nilai-nilai yang diharapkan. Masyarakat didorong untuk bergerak melintasi batas stuktur keuangan menuju sebuah kesadaran akan keluhuran nilai yang menjiwai dan sebagai roh penggerak dalam kehidupan sosial budaya, dalam kesatuan relasi kosmic. Proses kesadaran menurut Randall Cassey “ Muncul kesadaran  bahwa unsur-unsur tradisional dari masyarakat zaman sekarang memasuki saluran-saluran komunikasi  yang dapat menjadi  sarana untuk merangsang pembangunan pedesaan dan yang sesuai dengan media massa dan para pekerja eksistensi. Saluran-saluran ini merupakan media  rakyat yang  menggunakan  idiom-idiom lokal  dan berbasis rakyat”.

 Pendapat Randall Cassey ini menegaskan bahwa proses komunikasi pembangunan harus mampu dikemas dalam khasana lokal.  Sementara itu, pemerintah, menurut Dany Vardiansyah harus mampu mengemas komunkasi pembangunan yang disebut “ Tindakan Komunikasi “. Menurut Dany, tidak semua tindakan manusia adalah tindakan komunikasi karena harus dilandasi  motif komunikasi. Tindakan komunikasi dengan metode  melalui “apa yang dipunyai” masyarakat disadarkan akan keluhuran nilai dari setiap aspek pembangunan. Penggunaan idiom-idiom adalah cara menyampaikan pesan tanpa menggurui. Karena kesadaran  lahir dari sebuah proses permenungan. Cerita timbul kesadaran masyarakat di Desa Birawan yang mulai berupaya melindungi penyu dan telur penyu adalah satu contoh kecil bagaimana  peran komunikasi  berbasis khasana tradisi sungguh  mengefektifkan pesan konservasi penyu. Hal ini dipertegas oleh  Schramm “ Hanya  pada saat komunikasi dapat membangun dirinya sendiri ke dalam stuktur sosial sajalah, komunikasi akan menunjukkan  harapan  yang sebenarnya dari hasil-hasil  eksistensinya. Hanya pada saat saluran-saluran media dapat bergabung dengan saluran-saluran pribadi dan organisasi di desa, Anda akan mendapatkan jenis pembangunan yang Anda inginkan” .

Pendapat Schramm menegaskan bagaimana membangun kesadaran sosial melalui kesadaran individual-individual. Kesadaran personal akan menggairahkan dan menggerakan kesadaran individu yang lain. Di sinilah disebut komunikasi dapat membangun dirinya sendiri karena  pesan yang terkandung di dalamnya sebagai sebuah spirit yang menggerakan manusia dalam kehidupan sosial budaya. Senada dengan Schramm,  Jayaweera menegaskan komunikasi pembangunan adalah “ As an Integral part of development, and communication as a set of variables instrumental in bringing about development”.  Tanpa sebuah tindakan komunikasi yang baik maka pesan pembangunan akan kehilangan  arah, dan partisipasi masyarakat sebagai pilar utama dalam pembangunan di desa akan terus menjadi sebuah tantangan. Piere James menjelaskan bahwa   target ruang kesempatan berpartisipasi  masyarakat dalam pembangunan adalah sasaran  utama dari komunikasi pembangunan yang dilihat sebagai sebuah proses sosial.

Aspek lain dari menarasikan spirit APBDes adalah pendokumentasian keseluruhan proses sebagai sebuah diary kehidupan sosial masyarakat. Setiap momentum harus mampu ditangkap, dikemas dalam sebuah refleksi. Karena setiap momentum tidak hanya menceritakan tentang kisah saat sejarah itu ditulis tetapi ia serentak mewariskan sekian nilai-nilai kehidupan.

Tugas menarasikan Spirit APBDes serentak menuntut para penutur untuk memberikan kesaksian hidup. Spirit keterbukaan, kejujuran, kerjasama, tidak manipulatif, berani mempercayakan bawahan mengembang tugas, berani memberikan koreksi dan teguran dan siap untuk mendengar kritikan. Struktur  nilai  dalam kehidupan sosial masyarakat menuntut para pemimpin, para penutur menunjukkan jati diri sebagai orang yang layak dan pantas dipercayai. Ketika seorang pemimpin tidak jujur, ketika seorang tokoh, contoh seorang  guru, atau orang-orang berpendidikan dalam keseharian hidup tidak berkontribusi nyata dalam pembanguan desa, atau terus hadir hanya memberikan kritikan tanpa ada tawaran solusi atau tawaran design program yang strategis, maka masyarakat dalam diam menjadi ragu. Bagaimana mungkin sebuah pesan nilai dapat mentrasformasi orang jika si pembawa berita dalam kesaksian hidup tidak merefleksikan nilai-nilai luhur kehidupan?.
Kesadaran menarasikan Spirit APBDes hendaknya menjadi sebuah keterpanggilan dari setiap pemimpin yang diberikan mandat, juga dari segenap masyarakat yang dianggap mampu mengkomunikasikan pesan – pesan nilai  dari strukur program, keuangan APBDes. Para pemimpin dan semua yang berkehendak baik hendaknya terus mengolah segala potensi agar mampu melakukan tindakan komunikasi yakni menjadi pembawa kabar sukacita. Tindakan komunikasi yang dilandasi oleh motif membawa pencerahan, memberikan penjelasan, meneguhkan publik adalah tindakan kerasulan. Tindakan komunikasi dalam menarasikan spirit APBDes adalah proses ziarah dialog sosial budaya, sebuah proses yang tidak hanya berhenti dan dibatasi oleh ruang birokrasi tetapi ruang dan waktu yang harus terus didesign.

Mendesign tindakan komunikasi dalam proses menarasikan spirit APBDes adalah peran dari orang-orang yang disebut Public Relations atau disebut Humas. Para Sarjana   yang pulang kampung dengan Tridharma Perguruan Tinggi sebagai sumber spirit ( syukur jika para para sarjana masih ingat dan menghayati Tridharma perguruan tinggi,), para guru yang dipandang sebagai orang yang membawa pencerahan, para tokoh masyarakat, adat yang dihormati karena kebijaksanaan, para tokoh agama yang terus menyuarahkan suara profetis, dan para pemimpin di tingkat lokal yang diberikan mandat adalah orang-orang yang memainkan peran Public Relations, sebagai jembatan komunikasi. Seorang Public Relatios adalah agen yang harus mampu mengemas komunikasi, yang mampu membahasakan harapan tidak tertulis dan tidak terucap dari masyarakat, yang mampu melakukan refleksi kritis dan menyajikan buah-buah permenungan dalam dialog sosial budaya.
Ruang pemaknaan nilai pembangunan Desa adalah sebuah ruang dan waktu ziarah dialog sebagaimana ziarah dua murid Tuhan menuju Emaus. Apakah anda menyadari bahwa anda seorang PR yang sedang melakukan Ziarah Dialog?




URAN, Faby Boli, S.Ikom.
Pengamat dan Penulis Sosial Budaya
Tinggal di Lewotobi Desa Birawan

sumber pustaka : Dilla, Sumadi " Komunikasi Pembangunan". Simbiosa Rekatama Media: Bandung , 2007

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...