Selasa, 14 Juli 2020

KEAJAIBAN WAI UHE WATO LOTA

Tradition
TUTURAN TRADISI KAMI BERNAMA WAI UHE WATO LOTA
BUKAN BATU ROTI

Lokasi Pusat Wato Lota

Tulisan ini disajikan sebagai sebuah penjelasan atas tuturan tradisi di Lewouran, Ile Bura berkaitan dengan lokasi wisata yang saat ini menarik perhatian khalayak dan ramai dikunjungi. Beberapa video dan tulisan singkat tentang lokasi wasata ini sudah penulis sajikan di laman media sosial. Kini Penulis kembali menyajikan tulisan ini dengan tujuan agar sejarah dan identitas kawasan ini dapat dipahami secara utuh mulai dari nama yang benar hingga kepada nilai-nilai spiritual dan ekologis yang berkaitan dengan lokasi ini.  Dengan penyebutan dan pemaknaan nama yang benar, diharapkan agar generasi muda dan semua yang berasal dari Lewouran serta  para pengunjung situs ini tidak lagi menyebut kawasan ini dengan nama yang tidak mencermikan identitas tempat ini, tetapi sebaliknya kembali menaruh rasa hormat terhadap nilai-nilai sakral tradisi Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.

Lewouran di dalam tuturan tradisi setempat disebut dengan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Ungkapan Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri menegaskan tatanan kehidupan sosial budaya masyarakat Lewouran yang merangkai kisah-kisah peradaban mereka dalam tarian kesunyian, yang terus menerus menghayati nilai-nilai kehidupan dalam keheningan relasi kosmik. Ulasan tentang makna Lewouran ini dapat dibaca di dalam buku Penulis dengan Judul “Di Balik Kesunyian lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri ".

Warisan alam yang indah yang dinamai Wato Lota tidak dapat dihayati secara tersendiri, terlepas dari filosofi nama Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Bentangan Wato Lota pun tidak dapat dilepaspisahkan dari keberadaan Sumur Legenda Wai Uhe yang terletak langsung di kawasan yang sama. Sebelum mengujungi dan menikmati keindahan alam di Kawasan Wai Uhe Wato Lota, para wisatawan perlu disajikan informasi yang benar sesuai dengan tuturan tradisi asli Lewouran, bukan tuturan dari sumber-sumber lain yang tidak sempurna.
Wai Uhe
Dalam penuturan tradisi, sumur Wai Uhe ditemukan oleh seorang pemburu bernama Rowe Uran dengan anjingnya bernama Uhe.  Untuk mengenang Rowe Uran yang menemukan mata air ini, maka sebuah batu besar di depan sumur diberi nama Rowe Wato. Wai Uhe adalah  sumur perdana di Lewouran dan usianya diperkirakan sudah ribuan tahun. Butuh penelitan lebih mendetail dan panjang untuk memastikan usia sumur ini. Pada masa dulu, perkampungan masyarakat Lewouran terletak jauh dari laut. Mereka tinggal di kawasan-kawasan yang disebut, Rie-Rie dan Kebe. Perlahan sejarah memahat kesadaran akan sebuah peradaban sosial, mereka sepakat untuk membangun sebuah Kampung yang saat ini disebut Lewooki, artinya Kampung Lama. Dinamakan Lewooki karena pada pertengahan tahun 1970, oleh karena akutnya kekurangan akan air minum bersih, mereka meninggalkan tempat di wilayah bukit dan pegunungan itu untuk menempati lokasi baru di pesisir pantai Waiotan dan Tanjung Niwan, di hadapan Laut Sawu dan pulau Solor. Untuk melestarikan relasi antara masa kini dan masa lalu, tetapi lebih dari itu untuk melestarikan kesinambungan tradisi, di Lewooki ini telah diresmikan Lago Koke Bale Ure Wai pada tanggal 20 Oktober 2019.

Wai Uhe juga merupakan sebuah lokasi Nuba Nara untuk meminta air hujan. Menurut ibu Teresia Bura Muda, ada enam Nuba berada di sepanjang pesisir pantai Lewouran hingga timur ke Lewotobi dan ke barat ke Lewoawang. Ke-enam Nuba itu masing-masingnya berada di pantai Nara (Lewotobi),  pantai Waiotan,  Wai Uhe, Pantai Ele (Lewoawang), di Lewooki Lewouran serta di satu lokasi yang disebut Wato Manu (batu menyerupai ayam) di kawasan perbukitan Lewouran. Fungsi Nuba di Wai Uhe dan pantai Ele adalah untuk meminta air hujan.

Sebagai sebuah kawasan yang dipercayai memiliki kekuatan mistis, masyarakat Lewouran selalu berusaha untuk tidak berjalan sendirian ketika mencari ikan, atau menimbah air di kawasan ini. Masyarakat Lewouran meyakini bahwa sumur Wai Uhe bukan hanya merupakan sumber air bagi manusia saja tetapi juga bagi para arwah. Beberapa kisah yang dituturkan oleh para penutur tradisi setempat yang saat ini masih hidup, bahwa sudah banyak kisah mistis yang dialami oleh masyarakat Lewouran ketika berada di tempat ini. Pernah seorang bapak sendirian mencari ikan di dekat sumur. Tiba-tiba dia mendengar suara tawa seorang ibu di wilayah sumur. Suara itu kedengaran seperti suara seorang perempuan dari Kampung yang sudah sering dia dengar. Si bapak tadi mendengar seolah-olah perempuan tersebut sedang berbicara dengan banyak orang di wilayah sumur. Ketika si bapak tadi menoleh ke arah sumur, dia tidak melihat seorang manusia pun di sana. Dia memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Ketika beliau tiba di rumah dan menceritakan peristiwa itu kepada istrinya, langsung dia dikabarkan oleh sang istri bahwa perempuan tersebut baru saja meninggal dunia.
Wato Lota
Kawasan Pesisir pantai Lewouran mulai dari pantai Pede hingga ke pantai Ele, yang adalah Kene’e suku Muda Lewouran (secara geografis sudah masuk wilayah Desa Lewoawang ), setiap tempat memiliki nama dan makna tesendiri. Di bentangan kawasan Wai Uhe terhampar bebatuan yang tersusun rapih dan disebut dengan nama Wato Lota. Susunan alamiah batu-batu ini menampilkan bentuk yang bervariasi dan mudah dikaitkan atau diasosiasikan dengan benda-benda tertentu yang tentu saja syarat makna. Ada yang berbentuk seperti peti orang mati, ada yang seperti mahkota permaisur. Ada pula yang menyerupai ikan lumba lumba, kura-kura dan buaya. Bentuk lain yang kemudian menjadi ramai diperbincangkan atau viral adalah bentuk khas yang disebut Batu Roti. Jika menelusuri pesisir kawasan ini maka para pengujung dapat menyaksikan aneka bentuk susunan Wato Lota ini. Setiap susunan mengandung makna tersendiri. Satu lokasi, tidak jauh dari Wato Lota nimu, di dinding sebuah Wato Lota ada tulisan angka yang berbentuk sebuah pahatan.

Di antara bentangan kawasan Wato Lota ini, ada sebuah lokasi yang disebut Wato Lota nimu. Artinya Pusat Wato Lota.  Lokasi ini berada sekitar 50 meter ke arah timur dari sumur Wai Uhe. Dalam tuturan tradisi, tempat ini dipercaya sebagai Gereja Para Arwah. Penutur tradisi yang masih hidup, Bapak Herman Demo Uran, usia 89 tahun, menuturkan kisah mistis yang beliau alami bersama alhmarum Pater Van Stee di kawasan ini. Saat itu mereka menembak ikan. Oleh karena ombak besar, beliau meminta Pater Van Stee untuk tidak ikut menembak ikan. Ketika sudah berada di kejauhan untuk menangkap ikan, tiba-tiba Bapak Demo melihat Pater Van Stee berlutut dan memberikan salam hormat ke arah Wato Lota ini. Pulang dari wilayah ini Bapak Demo tidak ingin bertanya tentang apa yang dia saksikan tadi. Sampai hari ini dia tetap menyimpan misteri ini. Suatu saat, ketika Pater Lambertus Lamen Uran (alhmarum) mengunjungi keluarga mereka, barulah beliau menjelaskan bahwa Wato Lota nimu inilah yang selama ini dikenal sebagai tempat perkumpulan para arwah yang disebut Neme re’e. Ternyata Neme re’e adalah sebuah Gereja besar untuk para arwah. Beliau pun berpesan agar kawasan ini harus terus dijaga kesakralannya, sebagaimana yang dilakukan oleh para leluhur. Penturan tradisi lain lagi mengisahkan bahwa ketika ada warga Lewouran meninggal dunia, akan terdengar bunyi musik, seperti digelar sebuah pesta di lokasi ini. Hal ini dimaknai bahwa arwah orang yang meninggal dunia dijemput di sini secara meriah.

Kisah mistis lainnya dialami oleh beberapa orang yang datang memancing di malam hari. Saat memancig tiba-tiba mereka dihantam oleh desiran ombak dari arah darat. Jika salah memilih lokasi untuk duduk memancing, maka bahaya besar akan mengancam.

Wato Tena.

Di hamparan wilayah Wato Lota ini, ada sebuah batu seperti perahu yang disebut Wato Tena. Batu ini dipercayai sebagai Perahu Suku Kwure yang berubah wujud menjadi batu setelah mereka berlabuh. Perubahan wujud perahu menjadi batu menegaskan bahwa di kawasan inilah (Lewouran) suku Kwure akan memulai peradaban kehidupan baru dengan suku-suku yang sudah ada (suku Muda dan suku Uran. Selanjutnya Suku Kwure, menyusul Kewuta dan Kedang). Ulasan lengkap tentang sejarah Suku Kwure dapat di baca di dalam buku tentang Lewouran.


Garis Mistis Wai Uhe, Wato Lota dan Kawasan Nuha Telo

Di hadapan kawasan Wato Lota ini terdapat gugusan Nuha yang disebut Nuha Telo, yakni Nuha Witi, Nuha Kowa dan Nuha Bele. Ketiga Nuha ini dalam tuturan tradisi diyakini  juga sebagai lokasi para arwah. Bagi masyarakat Lewotobi, arwah orang yang meninggal dunia bergerak menuju Nuha Witi melalui jalur pantai Pede. Bagi orang Lewouran, arwah orang yang meninggal dunia bergerak menuju Wai Uhe untuk membersihkan diri, disambut di Wato Lota lalu bergerak menuju Nuha Kowa. Menurut Ibu Theresia Bura Muda, Nuha Kowa dipercayai sebagai ujung sebuah perjalanan. Para arwah dari Nuha Bele dan Nuha Witi berkumpul untuk pembagian lokasi kebun, sekaligus lokasi tempat tempat tinggal yang baru.


Wato Lota, Bolehkah diganti namanya?

Bagi para penutur tradisi di Lewouran, Nama Wato Lota TIDAK dapat diganti dengan sebutan lain. Ketika para penutur tradisi menegaskan tentang hal ini maka generasi muda Lewouran, semua yang berasal dari Lewouran dan siapa saja yang berkunjung ke tempat sakral ini tidak memiliki pilihan lain selain dengan tegas, jelas dan penuh hormat menggunakan nama asli di atas. Dengan menggunakan nama asli Wato Lota, maka seorang sekaligus menegaskan identitas mistis dengan segala keterkaitan sejarah dari sebuah Kampung yang bernama Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paju Wuri. Sebagaimana Nama Wai Uhe tidak bisa diganti dengan sebutan lain, demikian juga Wato Lota tidak dapat diganti dengan nama apapun. Sebuah adaptasi nama situs-situs bersejarah dan bernilai mistis dengan sebutan-sebutan modern dengan tujuan agar mudah disebut atau mudah dikenal orang asing, tidak mencerminkan rasa hormat terhadap keotentikan sebuah sejarah dan keluhuran sebuah tradisi.
Saat berjumpa dengan beberapa pengunjung di kawasan Wato Lota, khususnya di lokasi Wato Nimu, dijumpai pula beberapa wisatawan yang kebetulan sedang berkunjung ke tempat ini. Di sini mereka dijelaskan oleh penutur tradisi dari Lewouran tentang makna serta kesakralan tempat ini. Mereka merasa kagum dan bersyukur bahwa mereka mendapat pencerahan yang memperkaya wawasan mereka dan membangkitkan rasa hormat yang lebih besar terhadap situs-situs bersejarah dan sakral itu.


Pengembangan Kawasan Wai Uhe Wato Lota

Pengembangan kawasan ini sebagai destinasi Wisata harus dikemas dalam bingkai sosial budaya. Artinya filosofi masyarakat adat Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri harus menjadi fondasi nilai untuk pengembangan kawasan ini.  Pada tanggal 1 Juni 2017, masyarakat Lewouran dan Lewotobi dalam semangat membangun Desa berbasis Budaya Ekologis telah memeteraikan poin-poin yang merupakan komitmen bersama. Beberapa diantaranya sudah diwujudkan, misalnya Konservasi Terumbu Karang, Penyu, dan menarasikan serta mendokumentasikan warisan leluhur dalam bentuk buku. Selain itu juga dilakukan upaya penataan kawasan sumur-sumur tua dan mendesign pengembangan Wisata Bahari Nuha Telo.
Arah design pengembangan wisata di kawasan ini sudah diletakan dalam konteks komitmen Lewo pada tanggal 1 Juni 2017 serta komitmen masyarakat Lewouran sendiri pada tanggal 20 Oktober 2018 bertempatan dengan kegiatan bedah buku di Balik kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paju Wuri “. Untuk diketahui publik, pada kegiatan ini dimeteraikan pula komitmen Lewo yakni membangun rumah Koke Bale Ure Wai di Kampung Lama (Lewooki) serta penataan kawasan Wai Uhe. Untuk pembangunan rumah Koke Bale Ure Wai telah diresmikan pada tanggal 20 oktober 2019, genap setahun setelah komitmen dimeteraikan di balai Dusun Lewouran.

Bagi pemerintah Desa Lewotobi (dulu namanya Desa Birawan), sesuai dengan pengamatan penulis dan keterlibatan bersama selama ini, sudah benar bahwa membangun sebuah rencana dan sebuah design harus melalui sebuah proses diskusi dan dialog dengan masyarakat. Inilah pola yang tepat dalam membangun desa. Sebuah keputusan adalah hasil dari dialog dan proses transformasi kesadaran masyarakat, bukan mengikuti dan menerapkan perintah dari atas secara harafiah.
Ketika kawasan ini mulai ramai, banyak yang menyampaikan gagasan. Sebaik apapun gagasan, tanpa keterlibatan Lewo (masyarakat Lewouran), kawasan wisata ini dalam pengembangan selanjutnya bisa kehilang roh, nilai-nilai spiritualitas dan keotentikannya. Di dalam menggarap tulisan ini, Penulis sendri sudah sedang terlibat langsung dalam menata partisiapasi masyarakat setempat.
Bagi penulis, adalah sebuah tanggung jawab moral sebagai generasi keturuan Lewouran untuk membantu mengembangkan kawasan, walaupun untuk langkah awal ini hanya melalui tulisan. Tetapi langkah ini penting untuk menempatkan pendasaran yang benar untuk bisa membangun masa depan yang benar dan teratur. Jika tidak ada narasi yang benar tentang tuturan tradisi, maka bisa terjadi bahwa suatu waktu generasi sesudah ini akan kehilangan identitas dan nuansa tradisi. Karena membangun dan mengembangkan sesuatu di atas pijakan sejarah budaya dan peradaban adalah seni menterjemahkan tuturan nilai-nilai tradisi yang sudah diwariskan dari nenek moyang sekian ribuan tahun lamanya, syarat pesan moral dan kehidupan yang dititip dari generasi ke generasi.


Salam
Uran Faby
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.

keindahan panoram wai uhe wato lota dapat diakses dalam kumpulan foto ini





Kamis, 06 Februari 2020

Nama Bulan Dalam Tradisi Lewotobi- Lewouran Bagian Pertama

Dalam Tradisi Masyarakat Lewotobi- Lewouran, ada Kalender Musim dalam sebutan lokal. Setiap nama bulan mengandung makna yang sangat mendalam.
Menggali dan menemukan kembali nama, kandungan makna serta menarasikan kembali dalam sebuah tulisan adalah bentuk tanggungjawab penulis atas warisan leluhur. Tulisan ini merupakan hasil wawancara penulis dengan beberapa tokoh, masyarakat petani nelayan di Kampung Lewotobi dan Lewouran.
Pada Bagian pertama ini Penuli menurunkan ulasan tentang Nama Bulan dari Bulan Januari- Mei.
Semoga bermanfaat bagi para pembaca.




sumber Foto : Dok. Pribadi Uran


                                                       Bulan Januari : Mapa

Bulan Januari disebut Mapa. Etimologis Mapa berarti : Berhadapan. Pada bulan ini para petani berhadapan dengan rumput tanaman,. Ungkapan Mapa Nora artinya ; saat membersikan rumput di sekitar tanaman, para petani mengalas kaki mereka dengan rumput rumput karena cuaca panas. Saat bulan Januari curah hujan agak kurang dan cuaca cukup panas. Kebiasaaan para petani membersihkan ladang dari pagi sampai tengah hari. Istirarahat sejenak untuk makan siang dan melanjutkan pekerjaan. Pada bulan ini ditandai dengan buah- buah hutan seperti  buah merah ( la’a ) dan buah Ata.
Mapa juga berarti berhadapan dengan angina ribut yang disebut  Wara Leko Nika.   Wara artinya angina ribut. Nika : alat untuk menanam. Leko : patah. Artinya pada bulan Januari, waktu untuk menanam padi jagung sudah selesai. Jika ditanam, tanaman tumbuh tidak terlalu sehat karena kondisi tanah sudah dingin.

Ladang Sorgum Penulis di Lewotobi- Musim Tanam Tahun 2019-2020






                                                   Bulan Februari : More

More artinya Hujan.  Istilah Hore More artinya menggayung/ambil air, menuangkan air.   Artinya pada bulan ini hujan sangat lebat dan  kebutuhan tanaman akan air sangat besar untuk proses pertumbuhan  yang cepat. Pada bulan ini, disebut Wata Plae ( tanaman cepat besar ).  Agar tumbuhan cepat tumbuh maka tanaman harus bersih dari gulma. Untuk itu maka pada bulan Januari para petani fokus membersihkan ladang, membersihkan gulma sehingga meskipun panas  dengan istilah Mapa Nora mereka tetap bekerja.



                                                    Bulan Maret :  Duru

 Duru artinya Tanaman mulai matang. Pada bulan ditandai dengan pengambilan Nale ( Nyale ) di laut.  Untuk pengambilan nyale dalam tradisi di Lewotobi, dilakukan oleh Suku Uran. Ritus pengambilan nyale diawali dengan puasa ke laut, ke lokasi pantai selama tiga malam berturut turut. Tiga malam mini kondisi laut dalam keadaan gelap. Artinya tidak ada aktivitas penangkapan ikan di malam hari. Pada malam ke empat, masyarakat ke pantai untuk mengambil nyale yang didahului oleh pihak Suku Uran. Tradisi ini sudah lama tidak dijalankan lagi. Saat ini pihak suku Uran di Lewotobi sedang mewacanakan untuk menghidupkan kembali ritus ini.
Nyale yang diambil selain digunakan untuk konsumsi juga digunakan untuk menyiram  (srisa : mereciki ) tanaman padi jagung, kacang- kacang di ladang.  Sebuah kebiasaan yang dilakukan dulu adalah ketika pulang ambil Nale masyarakat langsung bergerak menuju ladang. Dalam perjalanan ke ladang, petani memetik jagung  petani lain di pinggir jalan, hanya satu – dua buah. Sebuah istilah yang dikenal “ Lako Wata “. Lako artinya tupai. Wata : Jagung. Dan pemilik kebun tidak marah.  Sebuah kearifan belajar berbagi. Para petani dalam kesadaran penuh bahwa jagung di pinggir jalan untuk dibagikan ke sesama dan tidak ada yang menjadikan ini sebagai sebuah perkara. Pihak yang mengambil pun dengan kesadaran hanya satu- dua buah saja, cukup untuk malam tersebut. Kegiatan memetik jagung ini pun hanya berlangsung pada malam pengambilan Nale , hari lain tidak.
Mengapa hanya satu – dua buah dan di pinggir jalan. Kesadaran petani bahwa masih ada petani lain di belakang yang akan memetik dan masih banyak ladang lain yang akan dilewati. Di pinggir jalan karena petani tidak boleh masuk ke dalam kebun petani lain. Sebuah penghormatan dan penghargaan bagi tanaman dan pemilik kebun. Nilai lain adalah mengambil secukupnya, tidak lebih. .Pengambilan jagung pun bukan wajib dilakukan di setiap ladang yang dilewati.  Petani hanya mengambil cukup untuk dinikmati pada malam tersebut dengan lauk pauk ikan Nale. 
Tradisi Srisa/mereciki tanaman padi jagung, kacang – kacangan, umbi – umbian dengan Nale karena Nale dipadang sebagai ikan besar, sebagai Ratu laut yang harus diperlakukan dengan hormat saat pengambilan karena ia membawakan berkat bagi tanaman. Ikan dari laut, direciki pada tanaman menyombolkan sebuah kesatuan relasi kosmik  daratan dan laut yang membawakan berkat bagi para petani. Berkat relasi kosmik ini agar tanaman mulai matang. Istilah  Wata Bete Kemehe, Tehe Pluo Pote, Wete Kuma melukiskan bahwa tanaman – tanaman adalah gadis  yang sedang hamil siap melahirkan kehidupan bagi keberlangsungan sebuah peradaban kemanusiaan. Teriakan- teriakan saat Pengambilan Nale : gere duru gere, gere duru gere ( gere : naik ) adalah ekspresi harapan dan doa untuk hasil yang diperoleh cukup, hasil seperti  ribuan untaian nale yang muncul di permukaan laut. Gere Duru Gere, sebuah syair penuh makna, untaian harapan bagi Sang Ratu laut. Gere : naik, tunjukan dirimu, berikan berkatmu dengan mempersembahkan diri, agar di tangan para petani dirimu dibawa ke tengah ladang, ke tengah para gadis yang sedang hamil, agar berkatmu menghasilkan buah- buah ladang yang melimpah.

                                                          April : Breke Kre/Bleke Kre

Sebutan Bulan April dengan kata Breke Kre. Breke adalah sarana tangkap ikan yang terbuat dari kawat. Mata Pencaharian Masyarakat Lewotobi Lewouran adalah Petani – Nelayan. Mereka selalu membagi waktu kerja mengolah ladang dan mencari ikan. Ketika ene sare (  kondisi laut tenang dan pergerakan arus yang tepat untuk menangkap ikan ) maka para nelayan pergi melaut. Kebiasaan mencari ikan selain menggunakan perahu juga dengan menembak ikan di pinggir pantai menggunakan kawat   ( breke kre).
  
Penggunaan kata Breke ini menegaskan bahwa masyarakat Lewotobi Lewouran sangat memahami alam, bahwa upaya membangun kehidupan tidak hanya bergantung pada hasil ladang saja tetapi juga dari hasil laut.

                                                     Bulan Mei : Breke Bele/Bleke Bele.

Breke Bele adalah kawat yang digunakan untuk memancing ikan di laut yang dalam. Bulan April dan Bulan Mei bagi petani adalah musim untuk menangkap ikan. Pada bulan Mei, hasil tangkapan ikan bukan hanya untuk dijual tetapi digunakan khusus untuk mempersembahkan kepada saudari karena  Opu Bine akan dihargai dengan menikmati hasil ladang pertama. Beras baru dengan lauk ikan segar adalah menu perjamuan sukacita.

Untuk nama Bulan April dan Mei ini yang biasa disebut Breke Kre ( April ) dan Mei ( Breke Bele ), bagi penulis, Bulan April juga bisa disebut Bleke Kre dan Bulan Mei disebut Bleke Bele. Bleke adalah wadah untuk menyimpan padi terbuat dari anyaman daun lontar.  Bulan April adalah Bulan, masa memanen  hasil ladang. Sebuah Tradisi dalam memanen padi adalah adanya Bleke kre. Bleke Kre ini berisi pada yang dipanen pertama di tengah ladang dan digantung di pojok bagian kiri dalam lumbung. Ketika kegiatan memanen padi esok harinya, Bleke kre ini dikeluarkan, ditaruh di depan pondok, setangkai padi diambil, taruh dalam bakul yang akan digunakan pada hari tersebut. Setelah panen, diambil sejumput padi dan dimasukan ke dalam bleke kre ini selanjutnya digantung dalam  pondok/lumbung. Ritual ini terus menerus sampai selesai kegiatan memanen padi.

Pada bulan Mei, hasil panen dikeluarkan dari dalam pondok untuk proses pembersihan. Dan padi yang digantung dalam bleke Kre akan digabung dengan padi dalam Bleke Bele yang dipersembahkan untuk Opu Bine.  ( Opu adalah suami dari saudari ) Bine adalah Saudari.
Dari uraian di atas bagi penulis, Bulan April selain disebut Breke Kre  dan Breke Bele untuk melukiskan aktivitas pencarian ikan, bulan April dan Mei juga dapat disebut Bleke Kre dan Bleke Bele.

Aktivitas Pertanian di bulan April adalah memanen padi dan pada bulan Mei adalah aktivitas membersihkan gabah padi agar didapatkan padi yang bernas, untuk siap diolah untuk bahan makanan.  Kegiatan memanen padi biasanya dilakukan secara gotong royong. Untuk menjamu tenaga kerja, para petani menyiapkan ikan. Ada juga yang menjamu dengan lauk pauk berupa daging babi atau kambing, ayam. Penggunaan kata Breke Kre, breke Bele melukiskan tentang lauk pauk berupa ikan dari pantai selatan Lewotobi yang sangat enak. Ungkapan sastra “Tua moe teti heri lodo, ike moe lau nuse dai, tobo behi hada loto lolo” adalah sebuah tuturan tentang kenikamatan hasil alam yang dinikmati dalam kebersamaan. Opu Bine datang membawa tuak dan ikan, mengunjugi ina ama. Hasil ikan dari ina ama dan tuak disatukan , bersama sama menikmati dalam semangat berbagi, semangat penuh kekeluargaan. Ungpakan tobo behi hada loto lolo adalah ekspresi merendahan diri, ekspresi melayani. Tuak  dalam Nawi ( wadah dari bambu ), saat dituang ke dalam gelas dari tempurung, opu mengambil posisis duduk.  Nawi tersebut, ditaruh di atas lutut agar proses menuang tuak tidak tumpah ke tanah. Gambaran ukuran nawi biasanya besar sehingga jika dituang dalam posisi berdiri sangat sulit.

Akivitas pada bulan Mei yakni Opu Bine mengeluarkan padi dalam Bleke Kre dan mengambungkan dalam Bleke Bele untuk dibawa pulang sebenarnya merupakan puncak perayaan petani dalam mengolah hasil ladang. Pesta Petani adalah saat hasil ladang mereka diambil dan dinikmati oleh Opu Bine.

Mengapa Opu Bine  ( Opu : sebutan untuk suami dari saudari , Bine : Saudari ).
Nolo Bare ( tanamana padi jagung, kacang- kacangan ) dipercayai sebagai  Saudari yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi keberlangsungan sebuah kehidupan peradaban manusia ( ata dike ). Kata Nolo berarti yang dulu kala, sesuatu yang telah menjadi tradisi. Bare artinya perempuan. Nolo Bare berarti Perempuan yang dulu kala, perempuan yang menjamin keberlangsungan tradisi dan peradaban kehidupan manusia.  Nolo Bare menegaskan nilai kesakralan tradisi, nilai pengorbanan dan darinya spirit merawat kehidupan harus tetap dan terus diturukan dalam setiap generasi.




Bersambung

Penulis

Fabianus Boli Uran

Senin, 20 Januari 2020

Transformasi Literasi di Sekolah Catatan Lepas Perjalanan SMPK Ile Bura di Usia Ke 52


Tepat pada tanggal 15 Januari 1968, di Lereng Gunung Api Lewotobi, di Kampung Lewotobi sebagai pusat Kakang Lewotobi, Alhmarum Pater Lambertus Lamen Uran SVD mendirikan sebuah sekolah menengah pertama, dimateraikan dalam sebuah tuturan dengan nama Ile Bura. Di tahun 2020, SMPK Ile Bura menapaki usianya ke 52. Merefleksikan Penyertaan Tuhan atas Lembaga Pendidikan ini, penulis mencoba mengenang HUT kali ini dalam sebuah refleksi Gerakan Literasi.

 Literatur akarnya dari bahasa Latin , yakni kata “littera”, arti awalnya adalah huruf atau tulisan tangan,  digunakan untuk merujuk ke semua yang tertulis. Tetapi konsep ini telah berubah dari waktu ke waktu. Tidak hanya bentuk tulisan, tetapi juga bentuk2 ucapan (oral) atau lisan, juga bentuk seni verbal (ucapan) yang tidak tertulis. Kemajuan teknologi cetak kemudian memungkinkan berkembangnya literasi tulisan dan lisan yang berpuncak pada literatur elektronik. Isitlah Literasi dalam bahasa Latin, Literatus  artinya orang yang belajar. Mengutip National  Institut for Literacy dalam Wikipedia, Literasi literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.  

Pentingnya gerakan Literasi ini telah mendorong pemerintah untuk menurunkan Regulasi yakni Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 21 Tahun 2015 dan telah diganti dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 23 Tahun 2015  Tentang Penumbuhan Budi Pekerti.  Pada Salinan Lampiran  Poin F Romawi VI tentang Mengembangkan Potensi Diri Peserta Didik Secara Utuh, dijelaskan kegiatan yang dlakukan adalah sekolah mengaolakasikan waktu 15 Menit sebelum pembelajaran diisi dengan kegiatan membaca buku selain buku pelajaran.

Sebuah pertanyaan, Cukupkah 15 Menit ini ?
Reformasi sisitim Pendidikan menjadi sebuah keharusan dan Presiden Jokowi  telah menginstruksikan Mentri Pendidikan  Nadiem Makarim untuk melakukan  Perubahan Kurikulum ( Kompas, 25 November 2019 ).  Bagi Nadiem Makarim, Merdeka Belajar dan Kehadiran Guru Penggerak merupakan dua poin penting yang didorong dalam pengembangan sisitim belajar di Indonesia. (Kompas, 25 November 2019 dengan Judul “ Upacara Hari Guru Nasional, Nadiem Bicara soal Merdeka Belajar dan Guru Penggerak ).


  
 Merdeka Belajar.
Dikutip dari Kompas, Merdeka Belajar menurut Nadiem adalah “memberikan kesempatan bagi sekolah, guru dan muridnya bebas untuk berinovasi, bebas untuk belajar dengan  mandiri dan kreatif.” Belajar adalah sebuah proses yang membebaskan keterkungkungan jiwa dalam sebuah ketidaktahuan menujuh  sebuah gairah,  semangat untuk terus mengekspresikan diri, cita dan harapan. Merdeka adalah kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk mencintai. Non Scholae  Sed Vita Discimus, kita belajar bukan untuk sekolah tapi untuk hidup adalah cara orang orang yang menyadari hakekat kemerdekaan dalam proses belajar. Term Edukasi dari bahasa Latin, Ex ( Keluar ) Ducere  ( menghantar ) menegaskan bahwa pendidikan sebagai sebuah proses menghantar, sebuah proses pencaharian. Peran guru dalam proses menghantar, proses pencaharian ini sangat penting. Guru hadir sebagai pendamping yang harus mampu menumbuhkan semangat peserta didik untuk belajar menemukan sesuatu, menumbuhkan semangat anak- anak didik untuk berani bermimpi. Dari kerinduan dalam mimpi ada gairah yang terus dipelihara untuk diwujudkan.

Guru Sebagai Penggerak.
Pendidikan sebagai Proses menghantar menegaskan bahwa peran utama yang bergerak adalah peserta didik itu sendiri. Kehadiran guru sebagai motivator yang membantu anak untuk berani mengambil langkah sekecil apapun untuk  meraih mimpinya. Sebagai Penggerak berarti guru harus terus dan sediah menemani peserta didik, terus berupaya mengembangkan kreativitas pendampingan. Guru terus belajar mengembangkan dirinya. Untuk ituh ruang bagi guru untuk mengembangkan dirinya harus mendapat porsi yang lebih besar daripada kesibukan bersifat administratif.


Upaya Menciptakan Merdeka Belajar dan Guru Sebagai Penggerak.
Dua poin penting yang ditegaskan oleh mentri Pendidikan merupakan sebuah tantangan yang harus segerah diwujudkan bukan hanya oleh pemerintah saja tetapi peran semua pihak termasuk Yayasan ( Yapersuktim )  komite sekolah, orang tua, para pemerhati pendidikan,   kepala sekolah dan dewan guru. Upaya menciptakan Merdeka belajar dan guru sebagai penggerak ternyata telah dirintis oleh Pendiri Sekolah ini alhmarum Pater lambertus Lamen Uran, SVD. Sekitar tahun 2000, ketika penulis bertemu dengan Pater Lamen, demikian sapaanya di Biara Simeon Ledalero, penulis mendapatkan informasi tentang cita- cita awalnya mendirikan Sekolah Menengah Tingkat Pertama. Awalnya Pater Lamen merencanakan mendirikan sekolah pertanian di daerah Watobuku. Tetapi atas saran para pemuka di wiayah Lereng Gunung Api Lewotobi dengan dasar pertimbangan fakta social budaya bahwa Lewotobi sebagai pusat Kakang ( kerajaan ) Lewotobi maka sekolah didirikan di Sekolah Menengah Pertama di Lewotobi dengan nama Ile Bura. Komitmen bersama ini juga dipertegas oleh Wilhelmus Wuring, seorang guru di Riang Baring yang bersama para tokoh lain dalam keputusan mendirikan sekolah ini. ( Wawancara dengan Beliau pada bulan Juli 2017 dalam rangkah persiapan perayaan Emas SMPK Ile Bura ).

Rencana mendirian sekolah pertanian di Watobuku karena bagi Pater Lamen Uran, wilayah ini cocok untuk menyiapkan para generasi yang mampu mengelola ladang- ladang menjadi kawasan Lereng Gunung Api Lewotobi menjadi areal pertanian yang maju. Sebagai anak petani Pater Lamen telah memulai sebuah Visi yakni bagaimana generasi selanjutnya mampu mengelola potensi – potensi local yakni potensi lahan pertanian, peternakan dan kelautan.

Kerinduan Pater Lamen Uran ini ternyata sadar atau tidak diterjemahkan oleh para guru di awal – awal tahun berdiri.  Para murid diwajibkan kerja kebun, mengolah ladang sekolah. Kalau saat air laut surut, ada kebijakan sekolah, para siswa pergi mencari ikan dan hasil ikan dibawa ke sekolah untuk dinikmati secara bersama sama. Praktek ini masih penulis alami baik saat masih di SDK Lewotobi maupun saat di menjadi siswa di SMPK Ile Bura. Melalui kegiatan ini sebenarnya para guru sedang membantu para siswa untuk menemukan kembali jati diri mereka sebagai anak petani- nelayan. Tapi satu hal yang terlewatkan adalah para siswa tidak dilatih untuk menuliskan pengalaman mereka, apa hasil pengamatannya selama menjalankan aktivitas ini dalam sebuah jurnal sekolah. Semuanya mengalir saja dan hanya tersimpan dalam kenangan yang dituturkan secara lisan ke generasi selanjutnya.

Berkaitan dengan catatan harian ini, sebenarnya telah didorong oleh alhmarum Andreas Ramu Uran, mantan Kepala SMPK Ile Bura. Beliau setia menuliskan pengalamanya sebagai guru di SMPK Ile Bura. Melalui buku diarnya  serta foto – foto yang tersimpan rapi penulis memperolah banyak kisah di balik layar tentang perjalanan lembaga pendidikan ini.
Gairah sebagai anak petani – nelayan seharusnya menjadi sebuah metode pembelajaran. Teriakan anak- anak di sepanjang jalan menuju ladang setelah pulang sekolah, teriakan melawan gelombang blelawutun, gelombang pantai selatan   harusnya menjadi pangung teater anak anak menemukan jatih diri dan pada akhirnya mereka sendiri memutuskan untuk melakukan sesuatu dalam proyek- proyek social di sekolah, di masyarakat.  Dari proyek social ini anak- anak dipersiapkan untuk peran yang lebih besar dalam kehidupan social budaya. Kegiatan menanam pohon, anakan sengon laut di Kampung lama Lewouran yang digagas penulis perlahan mendorong lembaga pendidikan ini untuk terus mempersiapkan generasi yang cinta dan peduli dengan kampung halaman.  Dan inilah esensi sebenarnya dari Giat Literasi. Berawal dari kemampuan membaca, perlahan kemampuan bertutur, berhitung, anak- anak perlahan dalam semangat kemandirian mampu membahasakan impian dalam sebuah karya termasuk dalam sebuah tulisan.






Menyadari pentingnya kegiatan Literasi ini, maka penulis dalam koordinasi dengan Kepala Sekolah dan Dewan Guru mengundang Ketua Agupena Cabang Flores Timur, Maksimus Masan Kian untuk memberikan pembekalan tentang Giat Literasi di hadapan dewan guru, para siswa, serta tamu undangan yakni Camat Ile Bura, Kepala Desa Lewotobi, ketua dan anggota Komite SMPK Ile Bura, pada tanggal 18 Januari 2020 di SMPK Ile Bura.  Dalam sesi yang dibawakan oleh Agupena di isi dengan penampilan Penyair Zaeni Boli Ama dengan membawakan puisi Sutardji Calzoum Bachri berjudul Jembatan. Penampilan beliau sangat memukau para peserta dan mendapatkan applaus yang meriah. 

Dari penampilan ini, Ama Zaeni menunjukkan bahwa kekuatan sebuah kata, syair terletak pada kemampuan menariskan, menuturkan kata- kata, kalimat itu. Kemampuan mengekspresikan sastra harus menjadi sebuah tradisi yang terus dikembangkan di sekolah- sekolah. Literasi juga kemampuan mengekspresikan nilai- nilai, kepekaan jiwa membahasakan sebuah pesan agar pesan itu menjadi bermakna. Bagi Penyair Percy Bysshe Shelley  puisi adalah rekaman detik detik yang paling indah dalam hidup. Sekolah adalah pagung, ruang yang indah, nyaman bagi anak- anak  untuk merangkai pesan pesan kehidupan, tempat memahat kisah yang harus dikembangkan menjadi sebuah komunitas Literasi yang membawa semangat kelahiran baru. 









Momentum kehadiran Agupena di SMPK Ile Bura sebagai sebuah proses untuk menata kembali kearifan- kearifan pendidikan yang telah dilakukan dalam sebuah stategis peningkatan kualitas pendidikan yang lebih terarah dan terukur serta berdampak transformatif. Kegiatan Natal bersama dan peringatan HUT sekolah dalam dengan Tema “ Komunitas Literasi Menjanjikan Kelahiran Baru “. Dalam Kotbanya, Paulus Senggo Hokeng menegaskan bahwa melalui “Komunitas Literasi,  kita mampu menterjemahkan Sang Sabda dalam tuturan lisan dan tulisan “




Upaya menterjemahkan Sang Sabda dalam tindakan, karya yang transformatif buka lagi pilihan tetapi sebuah keharusan panggilan sebagi murid- murid Tuhan yang siap diutus mewujudkan tatanan kehidupan yang holistic.  Lembaga pendidikan sejalan dengan arah reformasi pendidikan yang sedang dipersiapkan dari aspek regulasi harus terus menerus berbenah diri, terus belajar, belajar dan belajar sebagaimana pesan dan penegasan dari Alumni SMPK Ile Bura, Pater Markus Solo Kwuta, SVD melalui penulis yang dibacakan dihadapan peserta. Bagi Pater Markus, menabur 100 benih unggul hari ini sama dengan mendapatkan 1000 buah unggul lainnya di masa depan. Sebuah tantangan adalah membawa SMPK Ile Bura sebagai model di wilayah dalam membantu mengatasi ketertinggal di wilayah, demikian tegasnya.

Kegiatan Natal Bersama dan Peringatan HUT Sekolah diisi juga dengan Penyerahan Buku Asal Usul Lewo, kerjasama Agupena dengan Dinas Paeiwisata dan Kebudayaan Flore Timur. SMPK Ile Bura merupakan sekolah pertama yang menerima buku ini. Pada kesempatan ini juga Kepala Desa Lewotobi menerima buku ini dan menjadi desa pertama juga yang menerima buku ini. sedangkan buku untuk penulis, penulis percayakn untuk diserahkan ke saudara penulis Antonius Nuli Uran, yang menjabat sebagai Ketua Komite SMPK Ile Bura





Semoga melalu semangat Giat Literasi , semangat Kelahiran Baru menjadi   kerinduan jiwa yang terus rindu belajar dari Sang Sabda, kerinduan untuk menghadirkan Sang Sabda  dalam Karya dan tindakan- tindakan transformatif  demi kebaikan bersama dan keberlangusang tuturan nilai- nilai kehidupan.

Dirgahayu Almamaterku

Penulis, anggota Komite SMPK Ile Bura

Minggu, 24 November 2019

SISTEM PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN KPU - ppt download

SISTEM PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN KPU - ppt download: Latar Belakang UU No.15/2011, BAB I Pasal 1 Butir 6, KPU sbg penyelenggara Pemilu Melaksananakan tugas, wewenang dan kewajiban dalam penyelenggaraan Pemilihan Anggota DPR, DPD, DPRD, Gubernur, Bupati/Walikota serta Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Amanat dan Amanah kepada KPU Rakyat Memilih dan Mendapatkan Pemimpin Bangsa KPU yang profesional, berintegritas, beretika, berkapabilitas dan berakuntabilitas Diselenggarakan secara langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil Terwujudnya Tujuan Nasional serta memiliki komitment mewujudkan Good Governance dan Clean Government

Rabu, 13 November 2019

Pancasila dalam Pembangunan Desa Refleksi Nilai dalam Ikatan Manusia Lamaholot


Tepat dua tahun lalu, 1 Juni 2017,  berlokasi di halaman Kantor Desa Lewotobi sebuah refleksi peradaban yang hilang kembali diangkat dalam rangkaian kegiatan  Seminar Budaya dengan Tema " Birawam Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis Penulis  merasa bangga karena menjadi bagian kecil dari proses ini. Penulis merasa bersyukur karena hasil kajian warisan budaya Penulis  menjadi sebuah referensi yang dibedah oleh sekian banyak narasumber dan akhirnya melahirkan keputusan Lewo dan telah tertuang dalam Perdes. Beberapa Keputusan Lewotobi dan Lewouran adalah :


1. Konservasi Terumbu Karang
2. Konservasi Penyu dan Telur Penyu
3. Menarasikan Warisan Budaya dalam bentuk Dokumentasi berupa buku.
4. Menanam Pohon-pohon di Pinggir pantai untuk mengatasi Abrasi Laut
5. Membangun Design Wisata Bahari berbasis Budaya.

Poin satu sampai tiga  sudah dilakukan. Untuk Poin  tiga, pada tanggal 28 Oktober 2018, bertepatan denga peringatan Usia Emas Desa Lewotobi ( Birawan ) Buku dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri diluncurkan sebagai kenangan atas ziarah Lewotana.  Hari ini, 1 Juni 2019, dalam permenungan setelah apel memperingati HUT Pancasila, penulis mencoba merefleksikan tentang Nilai Pancasila dalam semangat membangun Desa, Membangun Lewo. Desa adalah sebuah tatanan Sosial, Desa adalah sebait syair tentang kesunyian, tentang kesederhanaan, tentang kearifan bagaimana membangun dari keterbatasan, tentang kesadaran untuk terus kembali berpijak pada nilai-nilai warisan leluhur. Desa dalam tarian kesunyian adalah bagian tak terpisahkan dalam membangun bangsa ini.

Sejak Kesepakatan Lewo ini pada tanggal 1 Juni 2019, Pemerintah Desa terus berjuang mewujudkan amanat keterpanggilan ini. Ada sekian banyak tantangan di awal dan sesudah proses ini tetapi, Kekuatan Lewo terlalu kuat untuk dikalahkan oleh segelintir pihak yang tidak memahami tentang Spirit membangun Lewo. Penulis sangat bersyukur, Program Konservasi Terumbu Karang bisa menghantar Desa Lewotobi  meraih juara II tingkat Propinsi untuk Kategori Desa dengan Program Inovasi. Saat ini Penyu-Penyu  semakin akrab dengan Pantai- Pantai di Lewotobi, di Pantai Blelawutun, Pantai Waiotan. Masyarakat menemukan sekian banyak titik penyu  bertelur dan setelah dipastikan, lokasi ini ini dipagari. Bersama Kelompok Konservasi dan Pemerintah Desa, Masyarakat terus disadarkan dan semakin sadar serta  tidak berani lagi mengambil telur penyu untuk dikonsumsi. Dulu kalau mendapatkan Penyu saat bertelur, Penyu dan telur penyu dieksekusi untuk konsumsi. Sekarang masyarakat telah sadar dan perlahan tumbuh jiwa melindungi dan merawat. Sebuah proses transformasi nilai sedang bergerak dan terus menemukan bentuk-bentuk.
Nilai transformasi ini juga berpengaruh ke desa desa tentangga. Seorang Nelayan , Andreas  Tutu Muda, di Desa Riangbaring  yang selalu mengambil telur penyu  untuk Konsumsi dan dijual kini telah beralih menjadi pegiat Konservasi Penyu dan Telur Penyu. Kesadaran Ande demikian sapaanya, bukan hanya karena takut dengan regulasi tentang perlindungan penyu tetapi karena muncul kesadaran tentang pentingnya kelestarian ekosistem.
Spirit Melindungi dan Merawat Ekosistem adalah bentuk kecil cara masyarakat Desa menghayati Nilai-Nilai Luhur Pancasila yang lahir di Bumi Flores, Inspirasi dari Sang Pencipta kepada Sang Proklamator Soekarno. Merefleksikan nilai-nilai luhur, mengkaji dan menyajikan sebagai sebuah  design pembangunan Desa adalah cara bagaimana membangun Desa bersumber dari kekuatan Lewo, kekutatan yang diwariskan oleh Leluhur. Setiap Narasi tentang Lewo lewat tuturan –tuturan lisan serentak juga ada proses transformasi kekuatan-kekuatan itu yang sering tidak disadari. Kekuatan-kekuatan Lewo adalah bisikan panggilan yang harus didengarkan dengan bijak karena ia mengandung sejuta makna.

 Pancasila dalam Sepenggal Refleksi Nilai Lamaholot

Keluhuran  Nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek Moyang adalah hasil dari dialog kosmik dengan wujud tertinggi yang disebut Ama Lerawulan Ema Tana Ekan, ( Sila Pertama )  melalui perantara Kewoko Kelite, Nitu Pudu  Hari Neda ( Kewoko Kelite : arwah para leluhur, Nitu Pudu : Penjaga Hutan hutan, Hari Neda : Penjaga Laut dan pantai ) melalui sebuah proses pencarian kebenaran yang disebut Tura Neda Lone Kemie Padu. Proses pencarian kebenaran ini bertujuan untuk membangun Ata Dike ( Orang baik) ( Sila Kedua ). Ata Dike tidak bisa hidup sendirian, ia terpanggil hidup dalam sebuah ikatan social budaya yang disebut ata kaja ribu pulo ratu lema. ( Sila Ketiga). Ikatan social budaya ini termateraikan dalam adat istiadat yang lahir atas kesekapatan bersama yang dilakukan dalam sebuah wadah yang disebut Lage Loge  untuk melahirkan Koda Geto ( kesepakatan ). Hasil kesepakatan ini juga tercermin dalam sikap penerimaan suku-suku pertama yang mendiami sebuah wilayah terhadap suku-suku pendatang atau yang datang belakangan. Penerimaan disertai dengan Pua Tana ekan, memberikan sebagai dari empunya mereka agar ribu ratu  ( masyarakat ) yang baru tiba boleh menjadi bagian tidak terpisahkan dalam ikatan social budaya. Agar mereka pun boleh bersama mengolah tanah, mengail ikan untuk sebuah kehidupan yang layak ( Sila Kelima )  demi sebuah pewarisan generasi penutur peradaban Ata Dike, penutur Kemanusiaan yang berbudaya

Kuntowijoyo dalam Anton Baker “Badan Manusia dan Budaya”  menegaskan bahwa Budaya adalah sebuah sistim yang koherensi di mana bentuk-bentuk simbolis berkaitan erat dengan konsep epistemologis dari sistim pengetahuan masyarakat. Sistim ini tidak terlepaskan dari Manusia sebagai bagian inti dalam pembentukan budaya. Ruang refleksi warisan budaya selama ini belum dikemas secara terintegrasi sehingga roh pembangunan desa seolah-olah tanpa dilandasi asas berbasis budaya. Rendahnya ruang refleksi ini pun berpengaruh pada hilang atau punahnya warisan budaya. Untuk itu diperlukan upaya terobosan untuk melakukan refleksi sosial untuk menemukan nilai-nilai peradaban yang telah hilang.

Menghayati Pancasila adalah cara memahami dan memperlakukan manusia sebagai bagian tidak terpisahkan dari segala proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk bagaimana menumbukan kembali semangay menggali keluhuran nilai-nilai yang diwariskan. Dari Desa, Pancasila terwujud dalam nilai-nilai kearifan local. Ketika ada konflik di masyarakat desa, masyarakat dalam kearifan lokalnya mempunyai cara untuk berdamai, secara cepat atau lambat. Menjadi sebuah tantangan ketika, para pemimpin atau gembala ( pemimpin dalam Geraj Katolik )  yang hadir dan kurang memahami tentang nilai-nilai kearifan local  mencoba menggiring masyarakat untuk sebuah penyelesaian dengan cara dan pemahamannya. Belajar dari para penenun sarung, ketika ada benang yang salah dimasukan atau terbelit, maka sang penenun dengan tekun mengurai benang tersebut yang disebut “ Hua Kenire” dan setelah itu akan di “ Bolo Kape”, disatukan lagi. Hua Kenire adalah  kejelihan melihat motif tersebut sepandan dengan motif lain, tidak salah ditempatkan. Hua Kenire dalam konteks penyelesaian konflik  adalah melihat dan mendengar dengan ketenangan  akar permasalahan, dengan bijak menempatkan diri tanpa menghakimi sebelum kebenaran tersebut ditemukan. Para penenun dengan sabar melakukan proses penguraian kusutnya benang. Demikian juga seorang pemimpin atau gembala, ia harus sabar memahami setiap persoalan bukan dengan muda termakan atau terpengaruh dengan berita berita yang belum dipastikan kebenaran.
Para Leluhur ketika menyelesaikan konflik, mereka melalui sebuah proses pencarian kebenaran lewat Tura Neda Lone Kemie Padu, artinya mereka tidak mengandalkan hanya kemampuan mereka tetapi mereka meletakan dalam pengharapan terhadap Sang pencipta untuk menujukkan kebenaran serta cara penyelesaian. Penyelesaian sebuah konflik juga disertai dengan tindakan dalam ritus yang disebut “ Hoi Bake”, memperbaiki kesalahan agar  social budaya  kehidupan generasi selanjutnya terlepas dari ikatan dosa sebelumnya.  Ada Proses merangkul kembali dan memperbaiki bukan proses terus memelihara konflik dan membangun kubu- kubu permusuhan, apalagi menjadikan setiap momentum konflik sebagai bahan untuk kotbah. Para Leluhur setelah menyelesaikan konflik, mereka melipatnya dengan rapih permasalah itu dan menyonsong masa baru dengan kebersamaan yang ditandai dengan “ Hue Nuhe atau Kela Tou Nuro Rua.

Menghayati Pancasila hanya bisa dilakukan ketika manusia melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya, ketika melihat alam sebagai saudara kehidupan. Menghayati Pancasila dalam Berdesa adalah kerelasediaan untuk terus belajar memberikan diri bagi pembangunan sebuah peradaban kehidupan lebih baik, berbasis warisan nilai-nilai luhur. Kami Indonesia, Kami Pancasila, Kami Orang Desa Kami Pancasila.

Selamat Merayakan Hari Lahir Pancasila


Larantuka, 1 Juni 2019
URAN, Fabianus Boli, S.IKom
Pengamat dan Penulis Isu-Isu Sosial Kebudayaan

Selasa, 22 Oktober 2019

KEMBALI KE KOKE BALE URE WAI LEWOURAN


 Minggu, 20 Oktober 2019, genap setahun peluncuran Buku " di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri, ada sekian komitmen yang dimateraikan melalui penandatanganan Berita Acara  Komitmen dalam bingkai Ritus Tito Gebia Waja. Satu di antaranya adalah Membangun Rumah Koke Bale Ure Wai di Kampung lama Lewouran.
Penulis  bersyukur boleh menjadi bagian dari proses ini, bersyukur karena semangat asa usul dari Lewouran selalu menginspirasi Penulis untuk bersama para tetuah adat dan masyarakat Lewouran, bersama rekan diskusi penulis sdr Nikolaus Nara, sekretaris Desa Lewotobi, Ade Asis Muda sebagai Kepala Desa Lewotobi, Kanisius Laranwutun Uran dan  segenap pejuang tradisi  mewujudkan komitmen itu. Dukungan moril dan doa serta berkat dari Pater Markus Solo Kwuta  SVD dari Vatikan selalu menguatkan  Penulis , Kak Mathias Kwuta, Kake Ansel Pai Muda, Bapak Knoba Uran, Bapak Panus Kwuta  serta para tetua adat lainnya untuk terus melangkah maju, menjadi pelopor untuk mewujudkan nilai - nilai ini.

Tepat Pkl 12.30 siang tanggal 20 Oktober, kami keluar dari rumah  Tuan Tanah lewouran , bergerak di tengah terik matahari, melewati ladang yang gersang, mendaki bukit menuju kampung lama Lewouran. Perjalanan hari itu seperti Ziarah Bangsa Israel melewati padang gurun menuju tanah perjanjian. Kami bergerak dalam sebuah ziarah nilai  kehidupan, menuju kampung lama adalah simbol menemukan kembai nilai - nilai kehidupan luhur yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan lupa dituturkan.







Hari itu, di bawa naungan pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun, di hadapan altar batu, tempat ritus permohonan Ure Wai dilaksanakan sekitar tahun 1970-an dalam Misah oleh Pater Cornelius Jan Smith, SVD Rumah Koke Bale Ure Wai didirikan. Empat tiang rumah yang disiapkan  oleh masing- masing Suku Muda, Uran, Kwure dan Kwuta menyimbolkan kesatuan, keteguhan komitmen sebagai penyokong keberlanjutan tradisi nilai - nilai kehidupan.










Lantuna lagu Mars Lewouran  Ciptaan Pater Markus Solo Kwuta, SVD  mengalun dalam keheningan, membisikan sejuat pesan, bahwa di atas peradaan ini, nilai kehidupan didirikan, sebagai sebuah entitas Gereja Kecil yang harus terus merefleksikan dirinya sebagai Murid Tuhan dalam ziarah kehidupan. Dan Lagu Lewouran Tanah Pusaka  setelah Ritus Lou Lete, ritus memberkati rumah ini agar menjadi tempat yang sejuk , menegaskan komitmen untuk terus setiap menjaga dan merawat, menghidupi nilai- nilai luhur meskipun di tanah rantau. Keriduan sang penyair dalam lagu ini, Pater Markus Solo Kwuta , SVD , secara lewo Ribu Pulo Ratu Lema menterjemahkan dengan perjuangan menenun kembali warisan leluhur ini. Setelah keseluruhan rangkain ritus peresmian Rumah Koke Bale Ure Wai ini, dilanjutkan dengan sambutan- sambutan dari  yang mewakili Kepala Desa Lewotobi, Sdr. Polus Aran, Camat Ile Bura, Kabid Pengembangan Seni dan Budaya Dinas Pariwisata Kab. Flore Timur. Polus Aran menyampaikan tentang semangat membangun Desa termasuk rencana pembangunan Jalan Usaha Tani yang mendukung mobilitas masyarakat menjangkau kawasan ini. Camat Ile Bura Bapak Yakobus Arakian mengharapkan agar kisah Lewouran yang telah ditulis disempurnakan lagi termasuk kegiatan ritus hari ini. Sedangkan dari Dinas Pariwisata, ibu Neldi Koten menyampaikan proficiat atas semangat warga , komunitas adat Lewouran dalam menggali dan menghidupan nilai- nilai tradisi.  Harapan kedepan agar nilai – nilai ini digali dan didokumentasian dengan baik dalam bentuk buku- buku. Lebih dari itu adalah bagaimana semangat tradisi membantu masyarakat dalam keterlibatan membangun Lewotana Flores Timur.




Dalam sesi penutup untuk merangkum keseluruhan proses yang telah dilalui  Penulis   menegaskan bahwa proses hari ini adalah proses ziarah nilai. Segala ritus hari ini harus kita terjemahkan dalam tindakan - tindakan transformasi sebagai bentuk dan jawaban iman kita sebagai manusia beragama dan berbudaya.  Bentuk – bentuk Konkrit  tindakan transformasi adalah , merestorasi kwasan ini  Kampung lama ini dan kwasan due Date ( hutan terlarang lainnya ) dengan menanam Pohon- pohon pelindung seperti pohon beringin pada musim hujan ini, menggantung  gebote ( ari- ari ) dalam wadah  ramah lingkungan yang disebut nebe ( tidak menggunakan kantong plastik. Acara selanjutnya adalah Ritus Pau Bau Tana Ekan dan dilanjtukan dengan acara sukacita yakni menampilkan  tarian Raja Sine dan  Sole Sika Mula.

Hari itu, tanggal 20 Oktober 2019 kami telah memulai sebuah ziarah baru, kami telah memulai sebuah catatan baru dari lembaran – lembaran kisah yang telah kami lalui. Penulis bersyukur karena boleh mendokumentasikan dalam narasi dan foto serta Video.  Kisah yang dulu dituturkan dalam tuturan lisan kini boleh dikemas dalam rangkain kata, lewat lembaran potret dan  gerakan kesunyian terekam di balik lensa kamera.  Nantikan buku selanjutnya tentang  Ziarah Tradisi dalam Kalender Musim Tradisi Lewotobi- Lewouran.






Salam dari anak kampung, penulis kisah tradisi


URAN , Fabianus Boli
Penulis Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.





MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...