Rabu, 21 Maret 2018

MEMATERAIKAN LEWOTOBI SEBAGAI DESA LAYAK ANAK (Sebuah Refleksi atas Kata Sastra“ Gene Koda Soga Nubu Kenawe”)


Hari Jumad, tanggal 16 Maret dalam Masa Prapaskah ditandai dengan Ibadah Jalan Salib. Sebuah Ziarah Pemaknaan Perjalanan menuju Puncak Gologota, Puncak Salib Terpancang dan semua mata tertuju pada Dia yang dimuliahkan. Hari itu juga Masyarakat  Desa Lewotobi (dulu namanya Desa Birawan tetapi telah berganti nama dengan Desa Lewotobi berdasarkan Perda No 5 Tahun 2015) mengarahkan pandangan mereka, mengarahkan jiwa dan semangat mereka pada sebuah momentum Deklarasi Lewotobi Sebagai Desa Layak Anak dalam Tema “Memateraikan Lewotobi Sebagai Desa Layak Anak” oleh Wakil Bupati Flore Timur Agustinus Payong Boli.

Penulis bersyukur karena tawaran tema yang penulis sampaikan dalam Rapat Panitia diterima. Dalam Konteks menarasikan Tema ini, penulis menyajikan sebuah refleksi mengapa Tema ini dipilih.
Sebuah kalimat sastra (koda kenake) yang ditawarkan oleh Bapak Mathias Wato Kwuta, Kaur Administrasi Desa Lewotobi sangat menarik bagi Penulis yakni “Gene Koda Soga Nubu Kenawe” sebagai sebuah kalimat refleksi yang akan digaungkan di Gapura Penjemputan. Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, Guru di SMPK Ile Bura yang dipercayakan untuk menyusun Sapaan Pembukaan oleh Protokol di Gapura Penjemputan melukiskan dengan indah makna Sastra ini “ 

“ Sejarah Tobi Lewo Pulo, Gelong Tana Lema dalam Perjalanan Waktu semakin Indah dan membanggakan. Lewotobi, Lewotobi yang pernah jadi Pusat Pemerintah Kakang Lewotobi, kini dimateraikan menjadi Desa Layak Anak. Ternyata Leluhur Lewotana telah menenun sendiri dengan benang dan tangan Anak-anak Tanah satu materai Indah ...Anak-Anak Jadi Permata Lewotana yang harus dijaga dan dilestarikan keindahaan masa depannya”.

Warisan Nilai dari Leluhur dituturkan dalam relasi dialogis yang disebut  “Gene Koda”. Arti Etimologis : Gene : Mewarsikan, Meninggalkan, Koda : Kata ( baca Kata-kata, Kalimat). Nilai yang ditanamkan oleh oleh orang tua satu di antaranya  sebagaimana diungkap oleh Romo Christian Uran, Pr  tentang Prinsip dari orangtua “biar kame malu mara bute bia mio anak tetap mori dan sekolah”.  Para leluhur, orang tua telah membangun dan meletakkan sebuah Visi bagimana keberlangsungan  Martabat dan Kualitas dari Lewotana dengan segalah Khasananya. Visi yang diwariskan dalam tuturan lisan, yang diungkapkan dalam cara-cara sederhana, yang dipahami dengan sekian cara.

Dalam Konteks Komunikasi Pembangunan Berbasis Budaya, Kearifan lokal ini harus dikemas dalam guratan pena, dirangkai dalam tulisan agar pesan-pesan tersebut terus hidup, terus direfleksikan dan darinya setiap generasi, setiap orang boleh membaca,  menginteprestasikan, mengaktualisasikan sebagai sebuah landasan bagaimana mendesign pembangunan yang berpihak pada anak-anak sebagai “ Nubu Kenawe”.

Kata “Soga” sebagai penyambung kata Gene Koda dan Nubu KenaweGene Koda Soga Nubu Kenawe” mereflesikan sebuah gerakan Dinamis. Soga berarti Mengakat. Gerakan mengangkat bisa dilakukan oleh seseorang jika beban tersebut ringan tapi jika berat maka butuh kekuatan dan kesatuan, kekompakan. Soga dalam konteks ini adalah gerakan kesatuan secara Lewotana, secara Desa. Sebagai gerakan dinamis, setiap anak tanah, setiap generasi, setiap pihak  dipanggil untuk terus merefleksikan dan memperbaharui pesan-pesan yang termateraikan (Gene Koda) dalam konteks kekinian. Kata Gene Koda dalam konteks ini diterjemahkan sebagai kata “ Memateraikan”. Sesuatu yang telah dimateraikan harus dijaga dan ditaati oleh Generasi sekarang dan seterusnya.
Ritus penjemputan yang semuanya dibawakan oleh anak-anak merupakan sebuah gerakan Dinamis, bagaimana anak-anak dilibatkan sejak awal untuk belajar “Soga” nare Lewotana, bagaimana mereka belajar mengangkat nama Lewotana, nama Desa. Gerakan ini juga menunjukkan sebuah proses pemaknaan nilai, pemaknaan peran dalam kehidupan sosial budaya. Gerakan yang mewajibkan generasi tua untuk berani memberi kesempatan kepada Generasi Muda untuk tampil, bukannya terus bercokol pada egois diri.

Nilai yang dimateraikan  adalah Nilai Keberpihakan pada Anak. Nilai-nilai keberpihakan ini harus mampu diterjemahkan, didesign  dalam Tataran Strategis Pembangunan Desa. Dengan memateraikan Nilai Keberpihakan ini maka seluruh nuansa design pembangunan Desa harus berfokus pada anak. Artinya apa yang sedang dan akan  dilakukan harus membawa perubahaan transformatif-holistik bagi tumbuh kembang anak menuju generasi yang berkualitas. Dengan “memateraikan” ini,  titik refleksi setiap kebijakan adalah untuk anak-anak, untuk Generasi. Tarsisius Buto Muda, Kepala Desa Lewotobi, dalam pandang penulis mewarisi nilai-nilai kepemimpinan dari Ayahnya  Longginus Nuli Muda, mantan Kepala Desa Birawan. Gaya kepemimpinan ayahnya diterjemahkan oleh beliau dalam konteks dan semangat kekinian. Inilah satu dari sekian contoh bagaimana proses menginternalisasikan keluhuran nilai-nilai warisan leluhur, warisan budaya.

Refleksi kegembiraan atas pendeklarasian Desa Layak Anak harus dilanjutkan dalam gerakan komunal, dalam gerakan solidaritas untuk bersama- sama dalam beragam cara mengangkat martabat anak-anak “ Nubu Kenawe “ ( Nubu : Tunas, Kenawe, tumbuh ). Nubu Kenawe, tunas yang telah bertumbuh harus dijaga, dirawat dengan baik. Ini bukan berarti hanya fokus pada anak-anak yang baru lahir saja tetapi sejak awal dalam kandungan ibunya. Sekian regulasi dalam Peraturan Desa yang dilahirkan telah menjadi satu dari sekian penuntun bagaimana  setiap warga Desa menempatkan anak sebagai prioritas utama dalam pembangunan Desa.

Gerakan “ Soga Nubu Kenawe” adalah pesan keterpanggilan untuk setiap anak tanah baik di Lewotobi Lewouran juga di tanah rantau untuk terus menghidupi nilai-nilai luhur ini.
Gene Koda dapat efektif ketika terjadinya proses komunikasi Dialogis. Penuturan warisan –warisan budaya harus menjadi ruang dan lokus utama di dalam rumah ketimbang berhadapan layar lebar dengan tawaran film-film yang tidak mendidik dan tidak sesuai umur anak-anak. Proses komunikasi dialogis harus disertai dengan niat untuk siap memikul Salib menuju Puncak Kemenangan karena hanya dengan totalitas dalam karya pelayanan,  sebagaimana Yesus yang Total memberikan diri maka, kita pun boleh dimateraikan oleh Kristus yang Bangkit karena kita dengan cara kita masing-masing telah menghantar Anak-anak menuju Yesus Sang Guru Agung Sumber Keselamatan.




Selamat Menyongsong Paskah.

URAN, Faby Boli, S.IKom
Penulis dan Pemerhati Budaya.

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...