Hari Jumad, tanggal 16 Maret
dalam Masa Prapaskah ditandai dengan Ibadah Jalan Salib. Sebuah Ziarah
Pemaknaan Perjalanan menuju Puncak Gologota, Puncak Salib Terpancang dan semua
mata tertuju pada Dia yang dimuliahkan. Hari itu juga Masyarakat Desa Lewotobi (dulu namanya Desa Birawan tetapi telah berganti nama dengan Desa
Lewotobi berdasarkan Perda No 5 Tahun 2015) mengarahkan pandangan mereka,
mengarahkan jiwa dan semangat mereka pada sebuah momentum Deklarasi Lewotobi
Sebagai Desa Layak Anak dalam Tema “Memateraikan
Lewotobi Sebagai Desa Layak Anak” oleh Wakil Bupati Flore Timur Agustinus
Payong Boli.
Penulis bersyukur karena tawaran
tema yang penulis sampaikan dalam Rapat Panitia diterima. Dalam Konteks
menarasikan Tema ini, penulis menyajikan sebuah refleksi mengapa Tema ini
dipilih.
Sebuah kalimat sastra (koda kenake) yang ditawarkan oleh Bapak
Mathias
Wato Kwuta, Kaur Administrasi Desa Lewotobi sangat menarik bagi Penulis
yakni “Gene Koda Soga Nubu Kenawe” sebagai sebuah kalimat refleksi
yang akan digaungkan di Gapura Penjemputan. Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, Guru di SMPK Ile Bura yang
dipercayakan untuk menyusun Sapaan Pembukaan oleh Protokol di Gapura Penjemputan
melukiskan dengan indah makna Sastra ini “
“ Sejarah Tobi Lewo Pulo, Gelong Tana Lema dalam Perjalanan Waktu
semakin Indah dan membanggakan. Lewotobi, Lewotobi yang pernah jadi Pusat
Pemerintah Kakang Lewotobi, kini dimateraikan menjadi Desa Layak Anak. Ternyata
Leluhur Lewotana telah menenun sendiri dengan benang dan tangan Anak-anak Tanah
satu materai Indah ...Anak-Anak Jadi Permata Lewotana yang harus dijaga dan
dilestarikan keindahaan masa depannya”.
Warisan Nilai dari Leluhur
dituturkan dalam relasi dialogis yang disebut “Gene
Koda”. Arti Etimologis : Gene : Mewarsikan, Meninggalkan, Koda : Kata ( baca Kata-kata, Kalimat). Nilai yang ditanamkan oleh oleh orang tua
satu di antaranya sebagaimana diungkap
oleh Romo
Christian Uran, Pr tentang
Prinsip dari orangtua “biar kame malu
mara bute bia mio anak tetap mori dan sekolah”. Para leluhur, orang tua telah membangun dan
meletakkan sebuah Visi bagimana keberlangsungan
Martabat dan Kualitas dari Lewotana dengan segalah Khasananya. Visi yang
diwariskan dalam tuturan lisan, yang diungkapkan dalam cara-cara sederhana,
yang dipahami dengan sekian cara.
Dalam Konteks Komunikasi
Pembangunan Berbasis Budaya, Kearifan lokal ini harus dikemas dalam guratan
pena, dirangkai dalam tulisan agar pesan-pesan tersebut terus hidup, terus
direfleksikan dan darinya setiap generasi, setiap orang boleh membaca, menginteprestasikan, mengaktualisasikan
sebagai sebuah landasan bagaimana mendesign pembangunan yang berpihak pada
anak-anak sebagai “ Nubu Kenawe”.
Kata “Soga” sebagai penyambung
kata Gene Koda dan Nubu Kenawe “ Gene Koda Soga Nubu Kenawe”
mereflesikan sebuah gerakan Dinamis. Soga berarti Mengakat. Gerakan
mengangkat bisa dilakukan oleh seseorang jika beban tersebut ringan tapi jika
berat maka butuh kekuatan dan kesatuan, kekompakan. Soga dalam konteks ini
adalah gerakan kesatuan secara Lewotana, secara Desa. Sebagai gerakan dinamis,
setiap anak tanah, setiap generasi, setiap pihak dipanggil untuk terus merefleksikan dan
memperbaharui pesan-pesan yang termateraikan (Gene Koda) dalam konteks
kekinian. Kata Gene Koda dalam
konteks ini diterjemahkan sebagai kata “ Memateraikan”. Sesuatu yang telah
dimateraikan harus dijaga dan ditaati oleh Generasi sekarang dan seterusnya.
Ritus penjemputan yang semuanya
dibawakan oleh anak-anak merupakan sebuah gerakan Dinamis, bagaimana anak-anak
dilibatkan sejak awal untuk belajar “Soga” nare Lewotana, bagaimana
mereka belajar mengangkat nama Lewotana, nama Desa. Gerakan ini juga
menunjukkan sebuah proses pemaknaan nilai, pemaknaan peran dalam kehidupan
sosial budaya. Gerakan yang mewajibkan generasi tua untuk berani memberi
kesempatan kepada Generasi Muda untuk
tampil, bukannya terus bercokol pada egois diri.
Nilai yang dimateraikan adalah Nilai
Keberpihakan pada Anak. Nilai-nilai keberpihakan ini harus mampu
diterjemahkan, didesign dalam Tataran
Strategis Pembangunan Desa. Dengan memateraikan Nilai Keberpihakan ini maka seluruh nuansa design pembangunan Desa
harus berfokus pada anak. Artinya apa yang sedang dan akan dilakukan harus membawa perubahaan
transformatif-holistik bagi tumbuh kembang anak menuju generasi yang
berkualitas. Dengan “memateraikan” ini,
titik refleksi setiap kebijakan adalah untuk anak-anak, untuk Generasi. Tarsisius Buto Muda, Kepala Desa
Lewotobi, dalam pandang penulis mewarisi nilai-nilai kepemimpinan dari
Ayahnya Longginus Nuli Muda, mantan Kepala Desa Birawan. Gaya kepemimpinan
ayahnya diterjemahkan oleh beliau dalam konteks dan semangat kekinian. Inilah
satu dari sekian contoh bagaimana proses menginternalisasikan keluhuran
nilai-nilai warisan leluhur, warisan budaya.
Refleksi kegembiraan atas
pendeklarasian Desa Layak Anak harus dilanjutkan dalam gerakan komunal, dalam
gerakan solidaritas untuk bersama- sama dalam beragam cara mengangkat martabat
anak-anak “ Nubu Kenawe “ ( Nubu : Tunas, Kenawe, tumbuh ). Nubu Kenawe,
tunas yang telah bertumbuh harus dijaga, dirawat dengan baik. Ini bukan berarti
hanya fokus pada anak-anak yang baru lahir saja tetapi sejak awal dalam
kandungan ibunya. Sekian regulasi dalam Peraturan Desa yang dilahirkan telah menjadi
satu dari sekian penuntun bagaimana setiap warga Desa menempatkan anak sebagai
prioritas utama dalam pembangunan Desa.
Gerakan “ Soga Nubu Kenawe” adalah pesan keterpanggilan
untuk setiap anak tanah baik di Lewotobi Lewouran juga di tanah rantau untuk
terus menghidupi nilai-nilai luhur ini.
Gene Koda dapat efektif ketika terjadinya proses komunikasi
Dialogis. Penuturan warisan –warisan budaya harus menjadi ruang dan lokus utama
di dalam rumah ketimbang berhadapan layar lebar dengan tawaran film-film yang
tidak mendidik dan tidak sesuai umur anak-anak. Proses komunikasi dialogis
harus disertai dengan niat untuk siap memikul Salib menuju Puncak Kemenangan
karena hanya dengan totalitas dalam karya pelayanan, sebagaimana Yesus yang Total memberikan diri
maka, kita pun boleh dimateraikan oleh Kristus yang Bangkit karena kita dengan
cara kita masing-masing telah menghantar Anak-anak menuju Yesus Sang Guru Agung
Sumber Keselamatan.
Selamat Menyongsong Paskah.
URAN, Faby Boli, S.IKom
Penulis dan Pemerhati Budaya.
