Alunan lagu ciptaan Saudara Anjus Muda “
Emas Di Desa Lewotobi “ membahana, menggetarkan sukma kerinduan warga Lewouran
dan Lewotobi, untuk bersatu dalam sebuah Narasi tentang Perjalanan Lewo,
Lewotobi dengan Gelar Tobi Lewo Pulo
Gelong Tana Lema dan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
28 Oktober, bertepatan dengan kenangan akan momentum
Peristiwa Sumpah Pemudah di usia
yang ke-90, Warga Desa Lewotobi berkumpul di halaman Kantor Desa Lewotobi.
Semuanya berdiri mengarahkan pandangan kearah Pintu Masuk Tenda. Dari rumah
Besar, rumah Tuan Tana, Bapak Yohanes Sina Witin, para mantan Kepala Desa
Lewotobi didampingi Camat Ile Bura, Kepala Desa Lewotobi, Para tokoh adat,
masyarakat, bergerak. Alunan Musik mengiringi ayunan langkah mereka, gerakan
yang pelan karena kaki- kaki itu telah letih melangkah ribuan- jutaan kali
selama memimpin. Kini mereka melangkah menuju sebuah “ Lage Gole” tempat Ehi Le’e,
tempat Ribu Polu Ratu Lema
berkumpul untuk mengucap Syukur pada Lera
Wulan Tana Ekan. Di depan Pintu Masuk Tenda, mereka disapa dan dikalung
oleh anak-anak. Sekali lagi mereka dalam usia yang rentan, bergerak pelan
membungkuk badan agar kalungan selempang boleh menyentuh kedua bahu mereka,
bahu yang telah letih karena di atasnya amanat Lewo yang mereka emban.
| Pengalungan Mantan Kades Pertama Bpk, Yohanes Sina Witin oleh Ketua Forum Anak Desa, Elsa Uran |
Hari itu, alam dalam caranya diam. Sehari sebelumnya, angin besar
memporakporandakan tenda, hujan Lebat mengguyur lewo. Sentuhan lembut angin,
sapaan matahari tanpa halangan, menegaskan keberpihakan dan restu alam dan
Lewotana untuk sukacita hari itu. Rasa
Syukur itu membahana dalam alunan lagu –lagu dari Koor Umat Stasi Lewotobi. Mereka menyanyi dengan
sepenuh Jiwa, setulus pengabdian, seiklas menerima harapan, Emas dalam Kesederhanaan. Ibadat Syukur
dipimpin oleh Saudara Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, guru Agama Katolik SMPK Ile
Bura. Dalam Kotbahnya, refleksi tentang Bartimeus dalam Bacaan Injil Mrk
10:46-52 disajikan;
“Seruhan Bartimeus mengetuk pintu hati Yesus dan
sesama yang lain untuk beraksi membantu Bartimeus. Peristiwa di luar kota
Yeriko, memberi kita inspirasi untuk menjadi pemimpin dan sesama warga
Lewotanah yang baik. Seruhan Bartimeus didengar dan ditanggapi oleh Yesus sang pemimpin sejati dengan rasa simpatik
yang istimewah. Kata-kata Yesus: Panggilah dia adalah keputusan yang bijaksana
dari Yesus. Di tengah orang banyak yang
berbondong-bondong, Yesus tetap mau
mendengarkan suara dan teriakan kaum
terbatas itu. Yesus sanggup memilahkan mana yang mesti diutamakan dalam tugas
pelayanan. Menyelamatkan nyawa, mengangkat harga diri manusia menjadi pilihan
utama. Kepada Bartimeus yang ingin ditolong, Yesus tidak bertanya: Mengapa atau kenapa kau memanggil aku.
Karena pertanyaan mengapa dan kenapa
selalu ada muatan ego. Ketika penjelasan atas pertanyaan Mengapa dan kenapa itu masuk akal baru ada
kemungkinan untuk mendapat pelayanan.
Yesus bertanya: Apa yang kau
kehendaki Kuperbuat bagimu, pertanyaan ini mengandung muatan Kasih yang
membebaskan. Dengan pertanyaan ini Bartimeus yang buta, merasa diterima,
didengarkan, dan boleh berharap untuk sembuh. Dan kerinduan Bartimeus terjawab,
Bartimeus sembuh, matanya terbuka dan mulai mengikuti Yesus. Bagi Yesus
kesembuhan Bartimeus menjadi kemenangan-Nya sebagai utusan Allah,
kemenangan-Nya sebagai pemimpin. Daya kasih Yesus mengubah situasi hidup
Bartimeus. Ia tidak lagi duduk di jalan. Bartimeus tidak lagi menjadi pengemis.
Ia bangkit dan menjadi manusia baru berkat perjupaannya dengan Yesus di jalan.
Sebuah pertemuan yang tidak terlalu resmi dengan Yesus tetapi memberikan suatu
perubahan yang sangat istimewah dalam kehidupan Bartimeus.
Perayaan Ibadat berlangsung dalam suasana
yang sangat Khusuk. Semuanya berjalan lancar tanpa halangan sekecilpun. Sungguh
Hikmad dan Agung. Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran dalam sambutannya
menyatakan bahwa Perayaan Ibadah Hari ini seperti Perayaan Imam Baru. Setelah
Perayaan Ibadah dilanjutkan dengan Resepsi. Lagu Amazing Grace yang dibawakan
oleh Siswa Siswi SMPK Ile Bura sebagai pembuka acara, mengajak orang untuk
tidak berhenti bersyukur atas rahmat dan berkat dari Sang Pencipta.
Sebuah momentum yang sangat indah, setelah
Sambutan Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius
Buto Muda adalah Penyematan Tanda Pengabdian ke para Mantan Kepala Desa
yang hadir, yakni pengenaan Cincin Emas
di jari manis mereka. Kepala Desa Pertama, Bapak Yohanes Sina Witin, dikenakan oleh Ketua Panitia, Antonius Nuli
Uran. Mantan Kades yang ketiga, Bapak Yosep Uli Muda, dikenakan oleh Bapak
Hendrikus Hading Uran, mewakili Masyarakat Lewouran. Dan untuk Bapak Markus Lapi Witi, mantan Kades yang keenam, dikenakan oleh Bapak Simon Pehan
Hayon, Ketua BPD Lewotobi. Untuk Mantan Kades yang kedua, Paulus Wajon Muda, Kades yang keempat, Longginus Nuli
Muda, dan mantan Kades ke lima Hendrikus Hadung Mua tidak bisa hadir. Kepala
Desa Tarsisius Buto Muda, dalam sambutannya menegaskan ulang poin yang telah
disampaikan oleh Ketua Panitia, bahwa para mantan Kepala Desa adalah orang-orang yang meletakan dasar dan
generasi sekarang bertugas melanjutkan dalam cara dan semangat baru.
Pemakaian Cincin oleh Ketua Panita ke Bapak Yohanes
Sina Witin,
Mantan Kades Pertama
Pemakaian
Cincin ke Bpk Yosep Uli Muda, Mantan Kades ke tiga
oleh Bapak Hendrikus Hading Uran
Pemakaian
Cincin ke Mantan Kades ke enam, Bapak Markus Lapi Witi
oleh Ketua BPD Lewotobi
Setelah penyematan tanda Jasa dilanjutkan
dengan acara Peluncuran Buku Desa, Seri Pertama dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka
Paji Wuri. Buku ini berkisah tentang
Kisah Suku- Suku di Kampung Lewouran. Seri Kedua yang akan terbit berkisah
tentang Kisah Suku-Suku di Lewotobi. Kehadiran buku ini merupakan terjemahan
atas amanat Lewo dalam Seminar Budaya pada tanggal 1 Juni 2017, dengan Tema “
Membangun Desa Berbasis Budaya Ekologis” di mana satu poin amanat Lewo yang
tertuang dalam Berita Acara Komitmen adalah
Mendokumentasikan Warisan Budaya
dalam Bentuk Buku sehingga menjadi Dokumen Desa Lewotobi. Peluncuran ini
ditandai dengan Pembubuhan tanda tangan
oleh ketiga mantan kepala Desa di 10
buah Buku dan diserahkan ke bebepara Pihak yakni, Ignasius Boli Uran, S. Fil,
Camat Ile Bura, Bapak Jack Ara kian, Mantan Camat Ile Bura, Yosep Tua Dolu,
Mantan Sekcam Ile Bura, yang sekarang tela menjadi Camat, Yohanes Ibi Hurint,
Kepala Puskesmas Ile Bura, Kepala SDK
Lewotobi, Lewouran dan Kepala SMPK Ile Bura serta Perwakilan pemilik Narasi
Lewouran, rencana diterima oleh Bapak Anselmus Pai Muda, tidak hadir karena
sakit maka diterima oleh Ketua Stasi Lewouran, Bapak Agustinus Beo Uran.
Sepuluh orang yang diundang diatas ini menerima buku dari para mantan kepala
Desa dan mereka pun berkontribusi dengan membeli buku ini. Hasil penjualan buku
ini diserahkan ke Forum Anak Desa untuk kegiatan pengembangan minat dan bakat
mereka.
para mantan Kades Membubuhkan tanda
tangan di Buku Kenangan 50 Tahun Desa
Lewotobi, Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri
Foto Bersama dengan 10 Orang Penerima
Buku
Yosep Tua Dolu, sebagai camat Pertama Ile Bura, dalam
sambutannya mewakili undangan memberikan appresiasi atas perjalanan Desa
Lewotobi. Rasa syukurnya karena ia dan para mantan pegawai kecamatan Ile Bura
boleh hadir dan berbagi sukacita. Boleh kembali merasakan rasa Persaudaraan
bersama orang-orang kecil, orang orang sederhana yang mengajari ia bagaimana
belajar memberi dalam ketulusan dan totalitas pengabdian. Camat Ile Bura, Jack
Ara Kian kembali menegaskan kembali tentang makna Pelayanan dalam Tugas sebagai
Kepala Desa dan rasa tanggungjawab dari masyarakat sebagai empunya narasi.
Beliau mendorong warga untuk membeli buku ini agar sejarah, Kisah Lewo terus
dituturkan dan darinya boleh lahir komitmen-komitmen baru sebagaimana hasil
komitmen dari Warga Lewouran dalam acara Bedah Buku ini di Lewouran pada
tanggal 20 Oktober 2018.
| Camat Ile Bura Jack Ara Kian |
Komitmen Warga Lewouran, pemilik Narasi
yang tertuang dalam Buku Ini, yakni : Membangun Rumah Adat di Lewo Oki ,
Kampung lama, Merstorasi Due Date, Hutan terlarang, mengembalikan Newa ( Nura )
di Lokasi Bao Bele Tiwe Lime yang
dimateraikan sebagai Hutan Suku Kwure, ke Suku Kwure, Menjadikan Lokasi Pantai
Pede sebagai Lokasi Konservasi Terumbu Karang, Menghidupkan Ritus Lela dan Leba
Kene’e dalam semangat Konservasi ekosistem laut serta membagun Kalander Budaya
Lewo.
| Anselmus Pai Muda, Ketua Lembaga Adat menandatangani Berita Acara Lewo untuk Merawat Warisan Budaya Lewouran |
Komitmen Warga Lewouran ini sangat
diappresiasi dan di dukung oleh anak
Tana, Pater Dr. Markus Solo Kwuta, yang memberikan Pengantar dari Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka
Paji Wuri. Sabtu malam, setelah acara Pawai Marching Band di Lewouran pada sore hari, dan dilanjutkan dengan Parade
membentuk huruf 50 Tahun , di malam hari di lapangan Bola Kaki yang diwarnai
dengan kembang api, Pater Markus melalui Video kirimannya ke Penulis dari
Vatikan memberikan Ucapan Selamat. Mengawali Ucapannya beliau mengatakan bahwa Tahun
2018 ditandai dengan tiga peristiwa Besar yakni Emas SMPK Ile Bura, Emas SDK
Lewouran dan Emas Desa Lewotobi. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa Masyarakat harus mampu belajar dan memahami
kisah dan sejarah agar dapat merangkai dan membangun masa depan. Kepala Desa
dan seluruh elemen masyarakat harus terus memupuk harapan, optimisme untuk
menata kearifan – kearifan local sebagai nilai-nilai dalam pembangunan Desa.
Dari Kearifan local, gagasan membangun
desa berbasis Budaya dikemas dan disuarahkan kembali oleh anak-anak baik selama
acara perlombaan-perlombaan seperti membacakan Puisi, berpidato dan menulis
artikel maupun acara-acara yang ditampilan dalam resepsi perayaan Emas ini.
Juara 1 Lomba Pidato Tingkat
SMP. Tema yang diangkat tentang Sarung Figure 7 Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SMP. Imel Kwuta
Juara 1 Lomba Membacakan Puisi
tingkat SD, Yosep Pati Hokeng
Juara I Lomba Baca Puisi Tingkat SMP : Imel Kwuta
| Penampilan Keluarga Besar Puskesmas Ile Bura |
Keagungan Kearifan local ini dalam symbol
Nasi Tumpeng Beras Jagung, dihidangkan di atas Sebala, dengan lauk pauk Sayu Marungge, Ikan Bakar. Dua Nasi
Tumpeng menyimbolkan Gunung Lewotobi berkembar dua. Nasi Tumpeng ini adalah
karya dari seluruh elemen masyarakat, yang mengambil peran, memainkan peran
dalam keluguan, kesederhanaan, dan ketulusan. Dan Kepala Desa mewakili Ribu Pulo Ratu Lema, dalam gerakan
membungkuk, memotong dan menyuap ketiga mantan kepala Desa ini. Sebuah symbol
pelayanan, Pengabdian dan Rasa Terima Kasih karena mereka telah melayani Lewo
ini dengan ketulusan dan totalitas dalam komitmen pengabdian. Ibadat Sabda
dalam Keagungan disyukuri kembali dalam perjamuan bernuasa Lokal karena masyarakat tidak punya Hosti
dan Anggur, karena ada pada mereka hanya nasi Jagung dan Marungge serta Ikan
Bakar.
Dari keterbatasan,
dari kesederhanaan, mereka terus belajar memberi dan terus menarasikan tentang
Keindahaan Hidup di Desa, tentang Desa sebagai sebuah Gerakan Kesunyian Sosial
yang terus mendorong alam bawah kesadaran manusia untuk bertindak memuliahkan
Manusia, Sesama, Alam. Karena dengan itu Mereka mampu menjawab panggilan Raja Lera Wulan Tana Ekan untuk terlibat
dalam totalitas pengabdian dan ketulusan menyapa kehidupan.
Dirgahayu
Lewotanaku, menyebut namamu seperti mendaraskan sebuah syair, ada nilai magis,
ada nilai seni, ada pengharapan, ada kehidupan, ada kisah yang menanti untuk
diartikulasikan dalam semangat “ Bangga Membangun Desa”.
Lewotobi,
Penghujung Oktober 2018
URAN, Fabianus Boly
