Jumat, 02 November 2018

MENGARTIKULASIKAN NARASI EMAS DESA LEWOTOBI


Alunan lagu ciptaan Saudara Anjus Muda “ Emas Di Desa Lewotobi “ membahana, menggetarkan sukma kerinduan warga Lewouran dan Lewotobi, untuk bersatu dalam sebuah Narasi tentang Perjalanan Lewo, Lewotobi dengan Gelar Tobi Lewo Pulo Gelong Tana Lema dan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
                28 Oktober, bertepatan dengan kenangan akan  momentum   Peristiwa Sumpah Pemudah di usia yang ke-90, Warga Desa Lewotobi berkumpul di halaman Kantor Desa Lewotobi. Semuanya berdiri mengarahkan pandangan kearah Pintu Masuk Tenda. Dari rumah Besar, rumah Tuan Tana, Bapak Yohanes Sina Witin, para mantan Kepala Desa Lewotobi didampingi Camat Ile Bura, Kepala Desa Lewotobi, Para tokoh adat, masyarakat, bergerak. Alunan Musik mengiringi ayunan langkah mereka, gerakan yang pelan karena kaki- kaki itu telah letih melangkah ribuan- jutaan kali selama memimpin. Kini mereka melangkah menuju sebuah “ Lage Gole” tempat Ehi Le’e, tempat Ribu Polu Ratu Lema berkumpul untuk mengucap Syukur pada Lera Wulan Tana Ekan. Di depan Pintu Masuk Tenda, mereka disapa dan dikalung oleh anak-anak. Sekali lagi mereka dalam usia yang rentan, bergerak pelan membungkuk badan agar kalungan selempang boleh menyentuh kedua bahu mereka, bahu yang telah letih karena di atasnya amanat Lewo yang mereka emban.

Pengalungan Mantan Kades Pertama Bpk, Yohanes Sina Witin oleh Ketua Forum Anak Desa, Elsa Uran
 
                                               
Hari itu, alam dalam caranya diam. Sehari sebelumnya, angin besar memporakporandakan tenda, hujan Lebat mengguyur lewo. Sentuhan lembut angin, sapaan matahari tanpa halangan, menegaskan keberpihakan dan restu alam dan Lewotana untuk sukacita hari itu.  Rasa Syukur itu membahana dalam alunan lagu –lagu dari Koor  Umat Stasi Lewotobi. Mereka menyanyi dengan sepenuh Jiwa, setulus pengabdian, seiklas menerima harapan,  Emas dalam Kesederhanaan. Ibadat Syukur dipimpin oleh Saudara Paulus Senggo Hokeng, S.Fil, guru Agama Katolik SMPK Ile Bura. Dalam Kotbahnya, refleksi tentang Bartimeus dalam Bacaan Injil Mrk 10:46-52 disajikan;

                                                          
  


 Seruhan  Bartimeus mengetuk pintu hati Yesus dan sesama yang lain untuk beraksi membantu Bartimeus. Peristiwa di luar kota Yeriko, memberi kita inspirasi untuk menjadi pemimpin dan sesama warga Lewotanah yang baik. Seruhan Bartimeus didengar dan ditanggapi oleh Yesus  sang pemimpin sejati dengan rasa simpatik yang istimewah. Kata-kata Yesus: Panggilah dia adalah keputusan yang bijaksana dari  Yesus. Di tengah orang banyak yang berbondong-bondong,  Yesus tetap mau mendengarkan  suara dan teriakan kaum terbatas itu. Yesus sanggup memilahkan mana yang mesti diutamakan dalam tugas pelayanan. Menyelamatkan nyawa, mengangkat harga diri manusia menjadi pilihan utama. Kepada Bartimeus yang ingin ditolong, Yesus tidak bertanya: Mengapa atau kenapa kau memanggil aku. Karena pertanyaan mengapa dan kenapa selalu ada muatan ego. Ketika penjelasan atas pertanyaan  Mengapa dan kenapa itu masuk akal baru ada kemungkinan untuk mendapat pelayanan.  Yesus bertanya: Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu, pertanyaan ini mengandung muatan Kasih yang membebaskan. Dengan pertanyaan ini Bartimeus yang buta, merasa diterima, didengarkan, dan boleh berharap untuk sembuh. Dan kerinduan Bartimeus terjawab, Bartimeus sembuh, matanya terbuka dan mulai mengikuti Yesus. Bagi Yesus kesembuhan Bartimeus menjadi kemenangan-Nya sebagai utusan Allah, kemenangan-Nya sebagai pemimpin. Daya kasih Yesus mengubah situasi hidup Bartimeus. Ia tidak lagi duduk di jalan. Bartimeus tidak lagi menjadi pengemis. Ia bangkit dan menjadi manusia baru berkat perjupaannya dengan Yesus di jalan. Sebuah pertemuan yang tidak terlalu resmi dengan Yesus tetapi memberikan suatu perubahan yang sangat istimewah dalam kehidupan Bartimeus.

Perayaan Ibadat berlangsung dalam suasana yang sangat Khusuk. Semuanya berjalan lancar tanpa halangan sekecilpun. Sungguh Hikmad dan Agung.  Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran dalam sambutannya menyatakan bahwa Perayaan Ibadah Hari ini seperti Perayaan Imam Baru. Setelah Perayaan Ibadah dilanjutkan dengan Resepsi. Lagu Amazing Grace yang dibawakan oleh Siswa Siswi SMPK Ile Bura sebagai pembuka acara, mengajak orang untuk tidak berhenti bersyukur atas rahmat dan berkat dari Sang Pencipta.

Sebuah momentum yang sangat indah, setelah Sambutan Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius Buto Muda adalah Penyematan Tanda Pengabdian ke para Mantan Kepala Desa yang hadir, yakni pengenaan Cincin Emas  di jari manis mereka. Kepala Desa Pertama, Bapak Yohanes Sina Witin, dikenakan oleh Ketua Panitia, Antonius Nuli Uran. Mantan Kades  yang ketiga, Bapak Yosep Uli Muda, dikenakan oleh Bapak Hendrikus Hading Uran, mewakili Masyarakat Lewouran. Dan untuk Bapak Markus Lapi Witi, mantan Kades  yang keenam, dikenakan oleh Bapak Simon Pehan Hayon, Ketua BPD Lewotobi. Untuk Mantan Kades  yang kedua, Paulus  Wajon Muda, Kades yang keempat, Longginus Nuli Muda, dan mantan Kades ke lima Hendrikus Hadung Mua tidak bisa hadir. Kepala Desa Tarsisius Buto Muda, dalam sambutannya menegaskan ulang poin yang telah disampaikan oleh Ketua Panitia, bahwa para mantan Kepala Desa  adalah orang-orang yang meletakan dasar dan generasi sekarang bertugas melanjutkan dalam cara dan semangat baru.

                                  


 Pemakaian   Cincin oleh Ketua Panita ke Bapak Yohanes Sina Witin,
Mantan Kades Pertama

                                                           


 Pemakaian Cincin ke Bpk Yosep Uli Muda, Mantan Kades ke tiga
oleh Bapak Hendrikus Hading Uran

                                                            

Pemakaian Cincin ke Mantan Kades ke enam, Bapak Markus Lapi Witi
oleh Ketua BPD Lewotobi
 

Setelah penyematan tanda Jasa dilanjutkan dengan acara Peluncuran Buku Desa, Seri Pertama dengan Judul di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Buku ini berkisah  tentang Kisah Suku- Suku di Kampung Lewouran. Seri Kedua yang akan terbit berkisah tentang Kisah Suku-Suku di Lewotobi. Kehadiran buku ini merupakan terjemahan atas amanat Lewo dalam Seminar Budaya pada tanggal 1 Juni 2017, dengan Tema “ Membangun Desa Berbasis Budaya Ekologis” di mana satu poin amanat Lewo yang tertuang dalam Berita Acara Komitmen adalah  Mendokumentasikan Warisan  Budaya dalam Bentuk Buku sehingga menjadi Dokumen Desa Lewotobi. Peluncuran ini ditandai dengan Pembubuhan  tanda tangan oleh ketiga mantan kepala Desa  di 10 buah Buku dan diserahkan ke bebepara Pihak yakni, Ignasius Boli Uran, S. Fil, Camat Ile Bura, Bapak Jack Ara kian, Mantan Camat Ile Bura, Yosep Tua Dolu, Mantan Sekcam Ile Bura, yang sekarang tela menjadi Camat, Yohanes Ibi Hurint, Kepala Puskesmas Ile Bura, Kepala  SDK Lewotobi, Lewouran dan Kepala SMPK Ile Bura serta Perwakilan pemilik Narasi Lewouran, rencana diterima oleh Bapak Anselmus Pai Muda, tidak hadir karena sakit maka diterima oleh Ketua Stasi Lewouran, Bapak Agustinus Beo Uran. Sepuluh orang yang diundang diatas ini menerima buku dari para mantan kepala Desa dan mereka pun berkontribusi dengan membeli buku ini. Hasil penjualan buku ini diserahkan ke Forum Anak Desa untuk kegiatan pengembangan minat dan bakat mereka.







 
para mantan Kades Membubuhkan tanda tangan di Buku Kenangan 50 Tahun  Desa Lewotobi, Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri





                                                       
 Foto Bersama dengan 10 Orang Penerima Buku

Yosep Tua Dolu,  sebagai camat Pertama Ile Bura, dalam sambutannya mewakili undangan memberikan appresiasi atas perjalanan Desa Lewotobi. Rasa syukurnya karena ia dan para mantan pegawai kecamatan Ile Bura boleh hadir dan berbagi sukacita. Boleh kembali merasakan rasa Persaudaraan bersama orang-orang kecil, orang orang sederhana yang mengajari ia bagaimana belajar memberi dalam ketulusan dan totalitas pengabdian. Camat Ile Bura, Jack Ara Kian kembali menegaskan kembali tentang makna Pelayanan dalam Tugas sebagai Kepala Desa dan rasa tanggungjawab dari masyarakat sebagai empunya narasi. Beliau mendorong warga untuk membeli buku ini agar sejarah, Kisah Lewo terus dituturkan dan darinya boleh lahir komitmen-komitmen baru sebagaimana hasil komitmen dari Warga Lewouran dalam acara Bedah Buku ini di Lewouran pada tanggal 20 Oktober 2018.



Camat Ile Bura Jack Ara Kian

Komitmen Warga Lewouran, pemilik Narasi yang tertuang dalam Buku Ini, yakni : Membangun Rumah Adat di Lewo Oki , Kampung lama, Merstorasi Due Date, Hutan terlarang, mengembalikan Newa ( Nura ) di Lokasi Bao Bele Tiwe Lime yang dimateraikan sebagai Hutan Suku Kwure, ke Suku Kwure, Menjadikan Lokasi Pantai Pede sebagai Lokasi Konservasi Terumbu Karang, Menghidupkan Ritus Lela dan Leba Kene’e dalam semangat Konservasi ekosistem laut serta membagun Kalander Budaya Lewo.

Anselmus Pai Muda, Ketua Lembaga Adat menandatangani Berita Acara Lewo untuk Merawat Warisan Budaya Lewouran


Komitmen Warga Lewouran ini sangat diappresiasi dan di dukung  oleh anak Tana, Pater Dr. Markus Solo Kwuta, yang memberikan Pengantar dari Buku Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Sabtu malam, setelah acara Pawai Marching Band di Lewouran  pada sore hari, dan dilanjutkan dengan Parade membentuk huruf 50 Tahun , di malam hari di lapangan Bola Kaki yang diwarnai dengan kembang api, Pater Markus melalui Video kirimannya ke Penulis dari Vatikan memberikan Ucapan Selamat.  Mengawali Ucapannya beliau mengatakan bahwa Tahun 2018 ditandai dengan tiga peristiwa Besar yakni Emas SMPK Ile Bura, Emas SDK Lewouran dan Emas Desa Lewotobi. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa  Masyarakat harus mampu belajar dan memahami kisah dan sejarah agar dapat merangkai dan membangun masa depan. Kepala Desa dan seluruh elemen masyarakat harus terus memupuk harapan, optimisme untuk menata kearifan – kearifan local sebagai nilai-nilai dalam pembangunan Desa.                         







Dari Kearifan local, gagasan membangun desa berbasis Budaya dikemas dan disuarahkan kembali oleh anak-anak baik selama acara perlombaan-perlombaan seperti membacakan Puisi, berpidato dan menulis artikel maupun acara-acara yang ditampilan dalam  resepsi perayaan Emas ini.
                 



Juara 1 Lomba Pidato Tingkat SMP. Tema yang diangkat tentang Sarung  Figure 7 Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SMP. Imel Kwuta

                                           


                                Juara 1 Lomba Membacakan Puisi tingkat SD, Yosep Pati Hokeng


           
                                                                                 Juara I Lomba Baca Puisi Tingkat SMP : Imel Kwuta



Penampilan Keluarga Besar Puskesmas Ile Bura
                                    
                                                                              
 
Keagungan Kearifan local ini dalam symbol Nasi Tumpeng Beras Jagung, dihidangkan di atas Sebala, dengan lauk pauk Sayu Marungge, Ikan Bakar. Dua Nasi Tumpeng menyimbolkan Gunung Lewotobi berkembar dua. Nasi Tumpeng ini adalah karya dari seluruh elemen masyarakat, yang mengambil peran, memainkan peran dalam keluguan, kesederhanaan, dan ketulusan. Dan Kepala Desa mewakili Ribu Pulo Ratu Lema, dalam gerakan membungkuk, memotong dan menyuap ketiga mantan kepala Desa ini. Sebuah symbol pelayanan, Pengabdian dan Rasa Terima Kasih karena mereka telah melayani Lewo ini dengan ketulusan dan totalitas dalam komitmen pengabdian. Ibadat Sabda dalam Keagungan disyukuri kembali dalam perjamuan  bernuasa Lokal karena masyarakat tidak punya Hosti dan Anggur, karena ada pada mereka hanya nasi Jagung dan Marungge serta Ikan Bakar.





                        
       
 
 
Dari keterbatasan, dari kesederhanaan, mereka terus belajar memberi dan terus menarasikan tentang Keindahaan Hidup di Desa, tentang Desa sebagai sebuah Gerakan Kesunyian Sosial yang terus mendorong alam bawah kesadaran manusia untuk bertindak memuliahkan Manusia, Sesama, Alam. Karena dengan itu Mereka mampu menjawab panggilan Raja Lera Wulan Tana Ekan untuk terlibat dalam totalitas pengabdian dan ketulusan menyapa kehidupan.





Dirgahayu Lewotanaku, menyebut namamu seperti mendaraskan sebuah syair, ada nilai magis, ada nilai seni, ada pengharapan, ada kehidupan, ada kisah yang menanti untuk diartikulasikan dalam semangat “ Bangga Membangun Desa”.


Lewotobi, Penghujung Oktober 2018

URAN, Fabianus Boly

MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...