Suarah Adzan menyapa kami di
Beranda Aceh saat pesawat Lion Air mendarat di Bandara Aceh. Senja Enam Mei
2017 untuk pertama kali aku merasakan suasana Kota Aceh. Di depan ruang penjemputan penumpang, alunan
musik Qosidah lembut menyapa. Di tengah hiruk pikuk penumpang menanti
bagasi, aku mencoba menikmati syair-syair sapaan yang ditujuhkan bagi para
peserta Pekan Nasional Petani Nelayan XV. Sungguh terasa rajutan Kebangsaan.
Aceh yang bangkit dari
keterpurukan akibat Bencana Tsunami telah mendandani malam-malamnya dengan
geliat kehidupan yang tidak sepih. Dinamika kehidupan terus menorehkan
kisahnya. Dan pada tanggal 7 Mei, Hari Minggu, sopir taksi menghantar kami
menuju Gereja Katolik Hati Kudus. Misa pagi dinamakan Misa Nusantara karena
umat yang hadir dari Marauke sampai Sabang. Banyak peserta awalnya
bertanya-tanya, apakah di Aceh ada Gereja. Ternyata Paroki Hati Kudus Aceh
telah ada sejak tahun 1926 dan pada hari Sabtu tanggal 6 Mei Paroki ini
merayakan hari Jadi ke 90 Tahun.
Kekuatan Ekaristi yang kami
terima hari itu memampukan kami untuk mengikuti rangkaian kegiatan Penas Petani
Nelayan Andalan XV. Kegiatan ini adalah pertemuan para petani Nelayan se
Nusantara dalam rangkah saling belajar, saling berbagi informasi, pengalaman,
keahlian. Diperkirakan sekitar 35 ribu petani yang hadir dalam kegiatan ini.
Para petani melalui wadah Kontak Tani Nelayan Andalan dapat saling membangun
relasi kemitraan. Kegiatan –kegiatan dalam Penas adalah Pameran Produk-produk
pertanian dari setiap Provinsi, Gelar Teknologi, temu wicara dengan pengusaha,
lomba-lomba.
Pertanian Organik- Pesan Ekologi
Pada stand NTT, kontingen
Kabupaten Flores Timur memamerkan jagung titi dan Kacang mente. Banyak
pengunjung tertarik dengan makanan khas Flores Timur ini. Olahan secara
tradisional dan merupakan hasil dari pertanian organik ternyata sangat
berpengaruh pada para pembeli. Demikian juga pada kacang mente. Pesan ekologi
melalui pendekatan pertanian organik ini ternyata mendapat respon yang sangat
baik dari seorang pengunjung dari
Propinsi Lampung. Bapak Ir. Stanislaus Bambang Cahyo. Usaha
beliau adalah Budidaya Kelor, Lada dan Ternak Kalkun. Pria kelahiran tanggal 11 April 1961 ini sangat peduli
dengan pengembangan pertanian Organik.
Hal yang menarik dari diskusi
kami adalah Budidaya Kelor dan olahan daun kelor menjadi beberapa jenis produk
olahan seperti mie kelor, teh kelor. Juga pengolahan limbah kelor yakni batang
kelor menjadi pupuk organik. Umat Paroki Pringsewu Keuskupan Tanjung Karang ini
berharap dapat membangun kerjasama dengan para petani di Keuskupan Larantuka
dalam pengembangan kelor.
Tiwul
Beras dari Ubi Kayu
Cerita menarik lainnya masih dari
Provinsi Lampung adalah olahan beras dari Ubi Kayu, yang biasa disebut Tiwul.
Sosok di balik produk ini adalah Ibu
Idah Handayani. Produk yang
dihasilkan bervariasi yakni Tiwul warna
putih, Merah dan Hitam. Hasil usahanya ini telah mendapat penghargaan dari
Kementrian Pertanian. Dari usaha ini, Pihak Universitas Lampung telah membantu
beliau dalam pengembangan Teknologi Tepat Guna Pengolahan Tiwul. Produk beras
ubi ini pun rutin mendapat pesanan dari Jakarta. Untuk mengembangan usahanya
ini, beliau mempekerjakan 50 orang ibu –ibu untuk pengupasan kulit Ubi. Satu
hal menarik adalah kulit ubi diolah lagi ( fermentasi ) untuk pakan ternak
sapi.
Olahan pakan ternak ini pun
langsung dipasarkan ke peternak sapi dan peternak sapi pun membantu beliau
dengan menyediakan pupuk Kompos dari kotoran sapi. Hal menarik adalah bagaimana
setiap unit usaha saling berkaitan dan saling mendukung.
Dalam kunjungan ke beberapa
stand, dari diskusi dengan para petani ternyata pendekatan organik pada
budidaya Pajale, sayur-sayuran masih sangat rendah. Penggunaan pupuk kimia
masih mendominasi hasil pertanian. Hanya segelintir saja petani yang mulai
fokus pada pertanian organik. Gaung pertanian organik seperti suarah minor di
tengah lantunan seribu nada.
Petani, Berani Bermimpi
Beberapa petani yang sukses dalam
pengembangan usaha pertanian, dalam sharing mengatakan bahwa semuanya berawal
dari mimpi. Ibu Idah Handayani
bermimpi bagaimana agar hasil kebun Ubu Kayu dapat diolah dengan aneka jenis
dan warna sehingga beliau tidak hanya menjual dalam bentuk gelondongan saja. Bapak Bambang bermimpi bagaimana
mengembangkan pertanian organik?
Petani tidak hanya fokus pada
produksi saja tetapi bagaimana pengolahan pasca panen. Hal yang menarik adalah
bagaimana sistim kemitraan yang dibangun sehingga para petani mampu dalam
mengakses sumber daya dukung dalam pengembangan hasil pertanian. Sebagaimana
kata-kata Ebiet G. Ade aku punya mimpi, para petani Flores Timur, petani di
Keuskupan Larantuka pun harus berani bermimpi bahwa Pertanian Flores Timur akan
terkenal dengan Branding Pertanian Organik.
Meskipun gaung Pertanian Organik
masih seperti suarah minor tetapi ketika para petani bersatu, maka gaung
pertanian yang ramah Lingkungan sesuai pesan tahun Ekologi akan lebih bergemah
kuat dan berdaya transformatif.
Wilayah Flores Timur kaya dengan
Kelor, Ubi Kayu tetapi kita masih “ kurang bermimpi” dalam mengolah potensi
lokal ini. Masih banyak potensi lokal yang belum dikembangkan secara sistimatis
dan sinergis. Semuanya masih bergerak secara parsial. Di pelosok-pelosok banyak
petani yang telah berani bermimpi tapi kadang masih terpaku pada mimpi, belum
beranjak mengambil langkah awal.
Kisahpun berakhir, tapi gaung
ekologi terus bergemah. Taksi di pagi
subuh, Kamis 11 Mei menghantar kami ke
Bandara untuk kembali ke Larantuka. Aceh yang telah bangkit dari keterpurukan
mengajari banyak hal. Rasa penghormatan dan penghargaan terhadap sesama,
keramahan dalam menyapa sesama menegaskan bahwa Aceh adalah bagian dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Semangat bangkit kembali menegaskan bahwa Ia Tuhan
selalu setia menolong manusia. Inisiatif Tuhan pun harus diimbangi dengan mimpi
dan usaha manusia.
Mewujudkan Pertanian Organik
adalah cara para Petani Memulihkan Karya Ciptaan Tuhan. Mengolah hasil
pertanian dalam aneka bentuk, kemasan, cita rasa adalah cara kita menyajikan Persembahan
di Altar Tuhan agar Ia mengubahnya menjadi Sukacita Surgawi.
Uran Oncu
Peserta Penas XV