Prahara badai angin yang melanda
wilayah Flores Timur pada tanggal 7 – 9 Maret 2017 menghancurkan banyak
bangunan termasuk Gereja Santo Fransiskus
Xaverius Lewotobi, Paroki Santo Yosep Lewotobi Keuskupan Larantuka.
Badai angin ini memaksa umat Lewotobi menjalankan ibadah atau misa hari Minggu di ruang SDK Lewotobi. Dan pada masa Prapaskah, sebuah prosesi jalan
salib setiap Jumad mendorong umat untuk
melakukan ziarah balik ke Gereja Lama di kampung lama. Atas usulan saudara
Nikolaus Nara, sekretaris Desa Birawan, ziarah balik ini pun menjadi sebuah
titik refleksi di tahun ekologi, tahun yang ditetapkan oleh keuskupan
Larantuka.
Menapaki seratus anak tangga
menuju Gua Maria, tempat kampung lama, juga gereja lama, berjalan di penghujung
senja, di bawah naungan pohon-pohon seolah – olah menggambarkan sebuah ziarah
Yesus, berjalan tertatih menapaki bukit
Gologota. Derita Yesus memikul salib kini dirasakan umat, yang rindu akan
bangunan Gereja. Derita karena bangunan gereja yang rusak. Derita karena
ketakberdayaan mereka untuk segerah memperbaiki gereja yang rusak. Namun di balik
semua ini, dibalik cerita bencana ini, ada refleksi kehidupan yang mungkin jika
tanpa bencana manusia akan lupa akan Tuhan sang Pencipta Alam Semesta.
Rimbunan Pohon, kicauan burung,
juga tunas-tunas yang tumbuh disetiap patahan kayu akibat angin badai mengajak
manusia untuk sadar akan relasi erat dalam kesatuan kosmos. Anak-anak tangga
yang berlumut, dedaunan kering yang menghiasi pelataran Gua Maria, cahaya senja
di cela dedaunan, semuanya melukiskan Keagungan Tuhan. Alam dengan caranya
memuji Tuhan. Dan ketika Manusia dalam kerakusan mengambil bagian alam untuk
dirinya maka Manusia akan mendapatkan bencana. Bagian dari diri alam bukan
hanya untuk alam tetapi merupakan sarana
untuk menyelamatkan manusia.
Tahun Ekologi yang dicanangkan
oleh Keuskupan Larantuka mengajak semua umat, Masyarakat Kabupaten Flores Timur
dan Lembata untuk sadar bahwa alam adalah bagian yang teramat penting dalam
keberlangsungan kehidupan, keberlangsungan sebuah warisan peradaban dan iman. Di lokasi Gua Maria, tempat kampung lama ini,
dikenal dengan nama Due Date ( Due : Hutan, Date, : Buruk). Sebutan Due
Date karena ini adalah tempat para arwah, hantu. Jika manusia mengganggu
eksistensi mereka maka manusia akan mendapatkan masalah-masalah. Karena sifat
dan eksistensinya ini maka manusia dilarang untuk mengeksploitasi wilayah ini.
Dalam iman dan pengetahuan, pemahaman eksistensi hutan ini harus diterjemahkan
sebagai sebuah kawasan hutan lindung karena sifatnya melindungi manusia. Karena
itu maka hutan ini pun harus dilindungi.
Dalam kontkes kearifan lokal, ziarah
Salib menuju puncak, menuju pelataran Gua Maria, melewati hutan terlarang ini
mau menegaskan bahwa kemenangan tidak mudah diraih. Setiap tantangan harus
dihadapi. Setiap anak tangga berlumut, mengajak setiap peziarah untuk
hati-hati. Dan setiap lumut yang menempel seolah-olah mengajak manusia untuk
selalu membersihkan diri agar tidak
licin , mudah tergoda untuk meruskan tatanan nilai-nilai kosmos.
Jika melewati hutan terlarang
ini, sendirian kadang masyarakat merasakan ketakutan. Seolah-olah ada kekuatan
gaib yang seakan-akan siap menerkam mereka. Rasa takut menujukkan kelemahan
manusia dan hanya dengan doa maka manusia akan mampu menapaki anak tangga
berlumut, menuju pelataran Gua Maria. Di sana manusia dalam keheningan doa akan
merasakan keindahan Tuhan dalam dawai gita alam. Cahaya lilin yang menyala,
kicauan burung, tebaran daun –daun kering, bias cahaya di cela dedaunan
menyuguhkan sebuah refleksi kehidupan, refleksi tentang manusia dan alam dalam
ikatan Iman.
Jalan Salib di tengah hutan
adalah bentuk Meditasi, sebuah kontemplasi aktif. Jalan salib hanya bermakna ketika manusia
merungkan pesan jalan salib dan
melakukan tindakan aktif untuk memuliahkan salib sebagi sarana keselamatan.
Tindakan aktif, melindungi hutan terlarang, menaman pohon, tidak menembak burung-burung, margasatwa
hutan lainnya adalah cara-cara pertobatan. Hanya dengan pertobatan pribadi dan
komunal, salib bermakna menjadi sarana keselamatan. Berelasi dengan alam akan
menghantar manusia menuju puncak keselamatan, di mana bersama Maria manusia
mengangkat Pujian kepada Tuhan Sang
Cinta dan Pencipta alam semesta.
Uran Faby
Pengamat Kebudayaan dan Aktivis Lingkungan Hidup