Jumat, 17 Maret 2017

Merenungkan Salib dalam Kesatuan Kosmos



Prahara badai angin yang melanda wilayah Flores Timur pada tanggal 7 – 9 Maret 2017 menghancurkan banyak bangunan termasuk Gereja Santo Fransiskus  Xaverius Lewotobi, Paroki Santo Yosep Lewotobi Keuskupan Larantuka. Badai angin ini memaksa umat Lewotobi menjalankan ibadah atau misa hari  Minggu di ruang SDK Lewotobi.  Dan pada masa Prapaskah, sebuah prosesi jalan salib setiap Jumad  mendorong umat untuk melakukan ziarah balik ke Gereja Lama di kampung lama. Atas usulan saudara Nikolaus Nara, sekretaris Desa Birawan, ziarah balik ini pun menjadi sebuah titik refleksi di tahun ekologi, tahun yang ditetapkan oleh keuskupan Larantuka.

Menapaki seratus anak tangga menuju Gua Maria, tempat kampung lama, juga gereja lama, berjalan di penghujung senja, di bawah naungan pohon-pohon seolah – olah menggambarkan sebuah ziarah Yesus, berjalan tertatih menapaki  bukit Gologota. Derita Yesus memikul salib kini dirasakan umat, yang rindu akan bangunan Gereja. Derita karena bangunan gereja yang rusak. Derita karena ketakberdayaan mereka untuk segerah memperbaiki gereja yang rusak. Namun di balik semua ini, dibalik cerita bencana ini, ada refleksi kehidupan yang mungkin jika tanpa bencana manusia akan lupa akan Tuhan sang Pencipta Alam Semesta.

Rimbunan Pohon, kicauan burung, juga tunas-tunas yang tumbuh disetiap patahan kayu akibat angin badai mengajak manusia untuk sadar akan relasi erat dalam kesatuan kosmos. Anak-anak tangga yang berlumut, dedaunan kering yang menghiasi pelataran Gua Maria, cahaya senja di cela dedaunan, semuanya melukiskan Keagungan Tuhan. Alam dengan caranya memuji Tuhan. Dan ketika Manusia dalam kerakusan mengambil bagian alam untuk dirinya maka Manusia akan mendapatkan bencana. Bagian dari diri alam bukan hanya untuk alam tetapi merupakan  sarana untuk menyelamatkan manusia. 

Tahun Ekologi yang dicanangkan oleh Keuskupan Larantuka mengajak semua umat, Masyarakat Kabupaten Flores Timur dan Lembata untuk sadar bahwa alam adalah bagian yang teramat penting dalam keberlangsungan kehidupan, keberlangsungan sebuah warisan peradaban dan iman.  Di lokasi Gua Maria, tempat kampung lama ini, dikenal dengan nama Due Date ( Due : Hutan, Date, : Buruk). Sebutan Due Date karena ini adalah tempat para arwah, hantu. Jika manusia mengganggu eksistensi mereka maka manusia akan mendapatkan masalah-masalah. Karena sifat dan eksistensinya ini maka manusia dilarang untuk mengeksploitasi wilayah ini. Dalam iman dan pengetahuan, pemahaman eksistensi hutan ini harus diterjemahkan sebagai sebuah kawasan hutan lindung karena sifatnya melindungi manusia. Karena itu maka hutan ini pun harus dilindungi.

Dalam kontkes kearifan lokal, ziarah Salib menuju puncak, menuju pelataran Gua Maria, melewati hutan terlarang ini mau menegaskan bahwa kemenangan tidak mudah diraih. Setiap tantangan harus dihadapi. Setiap anak tangga berlumut, mengajak setiap peziarah untuk hati-hati. Dan setiap lumut yang menempel seolah-olah mengajak manusia untuk selalu membersihkan diri  agar tidak licin , mudah tergoda untuk meruskan tatanan nilai-nilai kosmos.
Jika melewati hutan terlarang ini, sendirian kadang masyarakat merasakan ketakutan. Seolah-olah ada kekuatan gaib yang seakan-akan siap menerkam mereka. Rasa takut menujukkan kelemahan manusia dan hanya dengan doa maka manusia akan mampu menapaki anak tangga berlumut, menuju pelataran Gua Maria. Di sana manusia dalam keheningan doa akan merasakan keindahan Tuhan dalam dawai gita alam. Cahaya lilin yang menyala, kicauan burung, tebaran daun –daun kering, bias cahaya di cela dedaunan menyuguhkan sebuah refleksi kehidupan, refleksi tentang manusia dan alam dalam ikatan Iman.



Jalan Salib di tengah hutan adalah bentuk Meditasi, sebuah kontemplasi aktif.  Jalan salib hanya bermakna ketika manusia merungkan  pesan jalan salib dan melakukan tindakan aktif untuk memuliahkan salib sebagi sarana keselamatan. Tindakan aktif, melindungi hutan terlarang, menaman pohon,  tidak menembak burung-burung, margasatwa hutan lainnya adalah cara-cara pertobatan. Hanya dengan pertobatan pribadi dan komunal, salib bermakna menjadi sarana keselamatan. Berelasi dengan alam akan menghantar manusia menuju puncak keselamatan, di mana bersama Maria manusia mengangkat Pujian kepada  Tuhan Sang Cinta dan Pencipta alam semesta.



 Uran Faby
Pengamat Kebudayaan dan Aktivis Lingkungan Hidup


MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...