Petani, sosok
sentral dalam pentas kehidupan. Darinya segala kebutuhan makanan mengalir
menghidupi dan menguatkan setiap orang dengan aneka panggilan hidup, harapan,
kegelisaan.
Panggilan hidupnya mengisahkan
harapan, kegelisaan, kegetiran nilai-nilai kemanusiaan. Potret kehidupan petani
seharusnya melukiskan apakah pembangunan itu sudah berdampak pemberdayaan
kemanusiaan atau belum.
Petani, apakah
diperhatikan atau tidak dia tetap berkarya. Apakah musim hujan menggenapi
kebutuhan selama musim tanam atau mengancam tanaman-tanaman tidak menyurutkan
langkahnya menuju ladang. Apakah hasil panen cukup atau tidak tidak pernah
membuat ia berhenti mengusap tetesan keringat di tengah ladang. Apakah tanaman
terkena hama penyakit tidak pernah menyurutkan langkahnya menyapa setiap batang
pohon tanaman. Apakah hasil pertaniannya dihargai layak atau tidak ia tetap
menjual hasilnya.
Petani terus
bergeliat mengekspresikan diri dan panggilannya sebagai Co- Creator Dei ( Rekan Kerja Allah ). Dalam spiritualitas ini
seorang petani terus berpegang teguh pada
Tuhan yang ia imani.
Spritualitas yang Mentransformasi.
Keteguhan Iman,
Harapan seorang petani juga merupakan sebuah tatanan warisan sosial budaya yang
terus dibingkai dalam Terang Kasih. Namun spiritualitas ini harus diperbaharui
dalam kekinian sebagai sebuah bentuk pertagungjawaban atas iman tersebut.
Pertanyaan mendasar, siapa yang memulai proses transformasi tersebut.?
Petani adalah
pelaku transformasi dengan caranya dan dalam kapasitas keterbatasannya. Dari keterbatasan
para petani dapat mengubah dunia dengan cara-cara sederhana. Mereka dapat
mempengaruhi para pedagang, para sarjana, juga pemerintah sebagai pemangku
kebijakan bagi para petani meskipun masih ada kebijakan “menjual petani” demi
kepentingan jabatan.
Pemasaran Bersama (PB)
Pemasaran
Bersama yang digagas Delegatus Sosial (Delsos) Keuskupan Larantuka dan
selanjutnya dikembangkan oleh Wahana Visi Indonesia, bagi para petani di
Kecamatan Ilebura, Titehena, Demong Pagong dan kecamatan lainya merupakan
sebuah gerakan Profetis dari petani untuk memuliahkan diri mereka.
Melalui
strategi Pemasaran Bersama, para petani belajar mentransformasi dirinya untuk
melihat skala pengembangan pertanian
sesuai dengan standard Mutu, Volume, kontinuitas, Networking serta
penerapan Teknologi Tepat Guna. Hasil komoditi bukan hanya sekedar menjual dan
mendapatkan sekian rupiah tetapi Pemasaran Bersama ( PB ) menjadi strategi
transformasi bagi petani, Pedagang, Gereja, Lembaga Pendidikan dan Pemerintah
serta LSM-LSM. Dari cara sederhana ini, menurut Silvester, Kepala BP3K
Kecamatan Ilebura, para petani sudah memulai sebuah gerakan sosial.
Gapoktan sebagai gerakan Sosial.
Gabungan
Kelompok Tani hendaknya menjadi wadah untuk menata gerakan-gerakan sosial ini.
Untuk itu Gapoktan se Kecamatan Ilebura terus berupaya merajut kesatuan daya
untuk memperjuangan harkat dan martabat petani. Meskipun ada dampingan dari
banyak pihak, Gapoktan harus terus mengasah dirinya untuk menjadi wadah yang
mandiri, independen dan berorientasi luas serta berpikir strategis.
Gerakan ini
hendaknya menginspirasi generasi mudah khususnya para sarjana yang berorientasi
PNS atau kerja di kantor untuk menterjemahkan Tri Dharma perguruan Tinggi.
Gerakan ini SEHARUSNYA menggetarkan mental para PNS di jajaran Birokrasi
Pemerintahan untuk tidak sekedar
mengejar Surat Perintah Perjalanan Dinas ( SPPD) saat melakukan pendampingan
bagi para petani atau saat dikejar oleh Dewan untuk secepatnya “menghabisi
anggaran” agar performance keuangan daerah tidak buruk.
Totalitas Panggilan.
Melibatkan diri
dalam strategi penguatan petani melalui Gapoktan serentak menuntut kesadaran
pengabdian yang total. Para pengurus Gapoktan hendaknya sadar bahwa ia
dipanggil untuk menjadi jembatan agar darinya proses transformasi panggilan
profetis ini berdaya. Totalitas pengabdian artinya terus berupaya untuk
mengembangkan pertanian bukan hanya dari satu aspek tetapi dari semua aspek dan
kesemuanya itu dibingkai dalam sebuah bingkai yang holistik (menyeluruh).
Terus Belajar.
Potensi yang
sangat banyak hanya bisa dikembangkan ketika orang mau terus belajar. Para
petani belajar mengelola lahan pertanian, Gereja belajar cara-cara tepat dalam menyampaikan pesan-pesan profetis,
Pemerintah belajar bagaimana alokasi dana yang membawa dampak Transformasi
bukan koruptif. Lembaga pendidikan belajar bagaiman mulok menjadi media
transformasi bagi peserta didik untuk menjadi wirausahawan muda bukan generesi
bermental Deker dan Celana umpan peluru atau kaki botol.
Gapoktan Orin
Bele Desa Birawan melalui Pemerintah
Desa Birawan telah mengalokasi dana Rp. 15 juta bagi pengembangan kapasitas
petani termasuk strategi penguatan Mulok bersama SMPK Ilebura. Melalui Strategi
pembangunan desa yang Terintegrasi, Sinergis dan berdaya lanjut, Gapoktan hadir
untuk membantu menterjemahkan Visi Misi Desa Birawan.
Konteks terus
belajar adalah berani berpikir di luar kebiasaan-kebiasaan lama, merancang
gagasan –gagasan baru dan berani mengambil langkah-langkah transformasi. Hanya dengan
cara ini maka Petani dapat belajar
memuliahkan dirinya dan pemerintahan dapat mengarahkan pembangunan yang berdaya
transformasi menuju martabat kemanusiaan.
TARIAN PETANI, APAKAH MENJADI TEMA HUT RI 2015?
Tahun ini
Kecamatan Ilebura telah memulai kampanye
dan Gerakan pemberdayaan melalui Program Satu Pintu. Strategi Pemasaran
Bersama yang dimainkan oleh Gapoktan menjadi agenda utama dalam pemberdayaan
petani. Namun sayang semua gerakan ini tidak dapat dibingkai dalam sebuah tema
untuk HUT RI tahun 2015 ini. Seharusnya ada tema untuk refleksi
kolektif-solidaritas agar menjadi wadah tranformasi.
Tulisan ini adalah
refleksi Pribadi penulis saat mengikuti Pelatihan Olahan Mutu dan Pemasarean
Bersama bagi gapoktan se-kecamatan Ilebura dan Wulanggitang
di Hotel Pelita Maumere, 18-20 Juni 2015. Difasilitasi oleh Wahana Visi
Indonesia.
URAN, Faby Bolly
Sekretaris Gapoktan Orin Bele Birawan