Tradition
TUTURAN TRADISI KAMI BERNAMA WAI UHE WATO LOTA
BUKAN BATU ROTI
Lokasi Pusat Wato Lota
Tulisan ini disajikan sebagai sebuah penjelasan
atas tuturan tradisi di Lewouran, Ile Bura berkaitan dengan lokasi wisata yang
saat ini menarik perhatian khalayak dan ramai dikunjungi. Beberapa
video dan tulisan singkat tentang lokasi wasata ini sudah penulis sajikan di
laman media sosial. Kini Penulis kembali menyajikan tulisan ini dengan tujuan
agar sejarah dan identitas kawasan ini dapat dipahami secara utuh mulai dari
nama yang benar hingga kepada nilai-nilai spiritual dan ekologis yang berkaitan
dengan lokasi ini. Dengan penyebutan dan
pemaknaan nama yang benar, diharapkan agar generasi muda dan semua yang berasal
dari Lewouran serta para pengunjung situs
ini tidak lagi menyebut kawasan ini dengan nama yang tidak mencermikan
identitas tempat ini, tetapi sebaliknya kembali menaruh rasa hormat terhadap
nilai-nilai sakral tradisi Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
Lewouran di dalam
tuturan tradisi setempat disebut dengan Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
Ungkapan Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri menegaskan tatanan kehidupan sosial
budaya masyarakat Lewouran yang merangkai kisah-kisah peradaban mereka dalam
tarian kesunyian, yang terus menerus menghayati nilai-nilai kehidupan dalam
keheningan relasi kosmik. Ulasan tentang makna Lewouran ini dapat dibaca di
dalam buku Penulis dengan Judul “Di Balik Kesunyian lewouran Duli Detu Saka
Ruka Paji Wuri ".
Warisan alam yang
indah yang dinamai Wato Lota tidak dapat dihayati secara tersendiri, terlepas
dari filosofi nama Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri. Bentangan Wato Lota
pun tidak dapat dilepaspisahkan dari keberadaan Sumur Legenda Wai Uhe yang
terletak langsung di kawasan yang sama. Sebelum mengujungi dan menikmati
keindahan alam di Kawasan Wai Uhe Wato Lota, para wisatawan perlu disajikan
informasi yang benar sesuai dengan tuturan tradisi asli Lewouran, bukan tuturan
dari sumber-sumber lain yang tidak sempurna.
Wai Uhe
Dalam penuturan
tradisi, sumur Wai Uhe ditemukan oleh seorang pemburu bernama Rowe Uran dengan
anjingnya bernama Uhe. Untuk mengenang
Rowe Uran yang menemukan mata air ini, maka sebuah batu besar di depan sumur
diberi nama Rowe Wato. Wai
Uhe adalah sumur perdana di Lewouran dan
usianya diperkirakan sudah ribuan tahun. Butuh penelitan lebih mendetail dan
panjang untuk memastikan usia sumur ini. Pada masa dulu,
perkampungan masyarakat Lewouran terletak jauh dari laut. Mereka tinggal di
kawasan-kawasan yang disebut, Rie-Rie dan Kebe. Perlahan sejarah memahat kesadaran
akan sebuah peradaban sosial, mereka sepakat untuk membangun sebuah Kampung
yang saat ini disebut Lewooki, artinya Kampung Lama. Dinamakan Lewooki karena
pada pertengahan tahun 1970, oleh karena akutnya kekurangan akan air minum
bersih, mereka meninggalkan tempat di wilayah bukit dan pegunungan itu untuk
menempati lokasi baru di pesisir pantai Waiotan dan Tanjung Niwan, di hadapan
Laut Sawu dan pulau Solor. Untuk melestarikan relasi antara masa kini dan masa
lalu, tetapi lebih dari itu untuk melestarikan kesinambungan tradisi, di
Lewooki ini telah diresmikan Lago Koke Bale Ure Wai pada tanggal 20 Oktober
2019.
Wai Uhe juga merupakan sebuah lokasi Nuba Nara
untuk meminta air hujan. Menurut ibu Teresia Bura Muda, ada enam Nuba berada di
sepanjang pesisir pantai Lewouran hingga timur ke Lewotobi dan ke barat ke
Lewoawang. Ke-enam Nuba itu masing-masingnya berada di pantai Nara (Lewotobi), pantai Waiotan, Wai Uhe, Pantai Ele (Lewoawang), di Lewooki
Lewouran serta di satu lokasi yang disebut Wato Manu (batu menyerupai ayam) di
kawasan perbukitan Lewouran. Fungsi Nuba di Wai Uhe dan pantai Ele adalah untuk
meminta air hujan.
Sebagai sebuah kawasan yang dipercayai memiliki
kekuatan mistis, masyarakat Lewouran selalu berusaha untuk tidak berjalan
sendirian ketika mencari ikan, atau menimbah air di kawasan ini. Masyarakat
Lewouran meyakini bahwa sumur Wai Uhe bukan hanya merupakan sumber air bagi
manusia saja tetapi juga bagi para arwah. Beberapa kisah yang dituturkan oleh
para penutur tradisi setempat yang saat ini masih hidup, bahwa sudah banyak
kisah mistis yang dialami oleh masyarakat Lewouran ketika berada di tempat ini.
Pernah seorang bapak sendirian mencari ikan di dekat sumur. Tiba-tiba dia mendengar
suara tawa seorang ibu di wilayah sumur. Suara itu
kedengaran seperti suara seorang perempuan dari Kampung yang sudah sering dia
dengar. Si bapak tadi mendengar seolah-olah perempuan tersebut sedang berbicara
dengan banyak orang di wilayah sumur. Ketika si bapak tadi menoleh ke arah
sumur, dia tidak melihat seorang manusia pun di sana. Dia memutuskan untuk segera meninggalkan tempat
itu. Ketika beliau tiba di rumah dan menceritakan peristiwa itu kepada istrinya,
langsung dia dikabarkan oleh sang istri bahwa perempuan tersebut baru saja
meninggal dunia.
Wato Lota
Kawasan Pesisir pantai Lewouran mulai dari pantai
Pede hingga ke pantai Ele, yang adalah Kene’e suku Muda Lewouran (secara
geografis sudah masuk wilayah Desa Lewoawang ), setiap tempat memiliki nama dan
makna tesendiri. Di bentangan kawasan Wai Uhe terhampar bebatuan yang tersusun rapih
dan disebut dengan nama Wato Lota. Susunan alamiah batu-batu ini menampilkan bentuk
yang bervariasi dan mudah dikaitkan atau diasosiasikan dengan benda-benda
tertentu yang tentu saja syarat makna. Ada yang berbentuk seperti peti orang mati,
ada yang seperti mahkota permaisur. Ada pula yang menyerupai ikan lumba lumba,
kura-kura dan buaya. Bentuk lain yang kemudian menjadi ramai diperbincangkan
atau viral adalah bentuk khas yang disebut Batu Roti. Jika menelusuri pesisir
kawasan ini maka para pengujung dapat menyaksikan aneka bentuk susunan Wato
Lota ini. Setiap susunan mengandung makna tersendiri. Satu lokasi, tidak jauh
dari Wato Lota nimu, di dinding sebuah Wato Lota ada tulisan angka yang berbentuk
sebuah pahatan.
Di antara bentangan kawasan Wato Lota ini, ada
sebuah lokasi yang disebut Wato Lota nimu. Artinya Pusat Wato Lota. Lokasi ini berada
sekitar 50 meter ke arah timur dari sumur Wai Uhe. Dalam tuturan tradisi, tempat ini dipercaya sebagai
Gereja Para Arwah. Penutur tradisi yang masih hidup, Bapak Herman Demo Uran,
usia 89 tahun, menuturkan kisah mistis yang beliau alami bersama alhmarum Pater
Van Stee di kawasan ini. Saat itu mereka menembak ikan. Oleh karena ombak
besar, beliau meminta Pater Van Stee untuk tidak ikut menembak ikan. Ketika
sudah berada di kejauhan untuk menangkap ikan, tiba-tiba Bapak Demo melihat Pater
Van Stee berlutut dan memberikan salam hormat ke arah Wato Lota ini. Pulang
dari wilayah ini Bapak Demo tidak ingin bertanya tentang apa yang dia saksikan
tadi. Sampai hari ini dia tetap menyimpan misteri ini. Suatu saat, ketika Pater
Lambertus Lamen Uran (alhmarum) mengunjungi keluarga mereka, barulah beliau menjelaskan
bahwa Wato Lota nimu inilah yang selama ini dikenal sebagai tempat perkumpulan
para arwah yang disebut Neme re’e. Ternyata Neme re’e adalah sebuah Gereja
besar untuk para arwah. Beliau pun berpesan agar kawasan ini harus terus dijaga
kesakralannya, sebagaimana yang dilakukan oleh para leluhur. Penturan tradisi lain
lagi mengisahkan bahwa ketika ada warga Lewouran meninggal dunia, akan
terdengar bunyi musik, seperti digelar sebuah pesta di lokasi ini. Hal ini
dimaknai bahwa arwah orang yang meninggal dunia dijemput di sini secara meriah.
Kisah mistis
lainnya dialami oleh beberapa orang yang datang memancing di malam hari. Saat
memancig tiba-tiba mereka dihantam oleh desiran ombak dari arah darat. Jika
salah memilih lokasi untuk duduk memancing, maka bahaya besar akan mengancam.
Wato Tena.
Di hamparan wilayah Wato Lota ini, ada sebuah
batu seperti perahu yang disebut Wato Tena. Batu ini dipercayai sebagai Perahu
Suku Kwure yang berubah wujud menjadi batu setelah mereka berlabuh. Perubahan
wujud perahu menjadi batu menegaskan bahwa di kawasan inilah (Lewouran) suku
Kwure akan memulai peradaban kehidupan baru dengan suku-suku yang sudah ada
(suku Muda dan suku Uran. Selanjutnya
Suku Kwure, menyusul Kewuta dan Kedang). Ulasan lengkap tentang sejarah Suku Kwure dapat
di baca di dalam buku tentang Lewouran.
Garis Mistis Wai
Uhe, Wato Lota dan Kawasan Nuha Telo
Di hadapan kawasan
Wato Lota ini terdapat gugusan Nuha yang disebut Nuha Telo, yakni Nuha Witi,
Nuha Kowa dan Nuha Bele. Ketiga Nuha ini dalam tuturan tradisi diyakini juga sebagai lokasi para arwah. Bagi
masyarakat Lewotobi, arwah orang yang meninggal dunia bergerak menuju Nuha Witi
melalui jalur pantai Pede. Bagi orang Lewouran, arwah orang yang meninggal dunia
bergerak menuju Wai Uhe untuk membersihkan diri, disambut di Wato Lota lalu
bergerak menuju Nuha Kowa. Menurut Ibu Theresia Bura Muda, Nuha Kowa dipercayai
sebagai ujung sebuah perjalanan. Para arwah dari Nuha Bele dan Nuha Witi
berkumpul untuk pembagian lokasi kebun, sekaligus lokasi tempat tempat tinggal
yang baru.
Wato Lota, Bolehkah diganti namanya?
Bagi para penutur tradisi di Lewouran, Nama Wato
Lota TIDAK dapat diganti dengan sebutan lain. Ketika para penutur tradisi
menegaskan tentang hal ini maka generasi muda Lewouran, semua yang berasal dari
Lewouran dan siapa saja yang berkunjung ke tempat sakral ini tidak memiliki pilihan
lain selain dengan tegas, jelas dan penuh hormat menggunakan nama asli di atas.
Dengan menggunakan nama asli Wato Lota, maka seorang sekaligus menegaskan
identitas mistis dengan segala keterkaitan sejarah dari sebuah Kampung yang
bernama Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paju Wuri. Sebagaimana Nama Wai Uhe tidak
bisa diganti dengan sebutan lain, demikian juga Wato Lota tidak dapat diganti
dengan nama apapun. Sebuah adaptasi nama situs-situs bersejarah dan bernilai
mistis dengan sebutan-sebutan modern dengan tujuan agar mudah disebut atau
mudah dikenal orang asing, tidak mencerminkan rasa hormat terhadap keotentikan
sebuah sejarah dan keluhuran sebuah tradisi.
Saat berjumpa dengan beberapa pengunjung di kawasan
Wato Lota, khususnya di lokasi Wato Nimu, dijumpai pula beberapa wisatawan
yang kebetulan sedang berkunjung ke tempat ini. Di sini mereka dijelaskan oleh
penutur tradisi dari Lewouran tentang makna serta kesakralan tempat ini. Mereka
merasa kagum dan bersyukur bahwa mereka mendapat pencerahan yang memperkaya
wawasan mereka dan membangkitkan rasa hormat yang lebih besar terhadap
situs-situs bersejarah dan sakral itu.
Pengembangan Kawasan Wai Uhe Wato Lota
Pengembangan kawasan ini sebagai destinasi
Wisata harus dikemas dalam bingkai sosial budaya. Artinya filosofi masyarakat
adat Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri harus menjadi fondasi nilai untuk
pengembangan kawasan ini. Pada tanggal 1
Juni 2017, masyarakat Lewouran dan Lewotobi dalam semangat membangun Desa berbasis
Budaya Ekologis telah memeteraikan poin-poin yang merupakan komitmen bersama.
Beberapa diantaranya sudah diwujudkan, misalnya Konservasi Terumbu Karang,
Penyu, dan menarasikan serta mendokumentasikan warisan leluhur dalam bentuk
buku. Selain itu juga dilakukan upaya penataan kawasan sumur-sumur
tua dan mendesign pengembangan Wisata Bahari Nuha Telo.
Arah design pengembangan wisata di kawasan ini
sudah diletakan dalam konteks komitmen Lewo pada tanggal 1 Juni 2017 serta komitmen
masyarakat Lewouran sendiri pada tanggal 20 Oktober 2018 bertempatan dengan kegiatan
bedah buku “di Balik kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka
Paju Wuri “. Untuk diketahui publik, pada kegiatan ini dimeteraikan
pula komitmen Lewo yakni membangun rumah Koke Bale Ure Wai di Kampung Lama (Lewooki)
serta penataan kawasan Wai Uhe. Untuk pembangunan rumah
Koke Bale Ure Wai telah diresmikan pada tanggal 20 oktober 2019, genap setahun setelah
komitmen dimeteraikan di balai Dusun Lewouran.
Bagi pemerintah Desa Lewotobi (dulu namanya
Desa Birawan), sesuai dengan pengamatan penulis dan keterlibatan bersama selama
ini, sudah benar bahwa membangun sebuah rencana dan sebuah design harus melalui
sebuah proses diskusi dan dialog dengan masyarakat. Inilah pola yang tepat
dalam membangun desa. Sebuah keputusan adalah hasil dari dialog dan proses transformasi
kesadaran masyarakat, bukan mengikuti dan menerapkan perintah dari atas secara
harafiah.
Ketika kawasan ini mulai ramai, banyak yang
menyampaikan gagasan. Sebaik apapun gagasan, tanpa keterlibatan Lewo
(masyarakat Lewouran), kawasan wisata ini dalam pengembangan selanjutnya bisa
kehilang roh, nilai-nilai spiritualitas dan keotentikannya. Di dalam menggarap
tulisan ini, Penulis sendri sudah sedang terlibat langsung dalam menata
partisiapasi masyarakat setempat.
Bagi penulis, adalah sebuah tanggung jawab
moral sebagai generasi keturuan Lewouran untuk membantu mengembangkan kawasan,
walaupun untuk langkah awal ini hanya melalui tulisan. Tetapi langkah ini
penting untuk menempatkan pendasaran yang benar untuk bisa membangun masa depan
yang benar dan teratur. Jika tidak ada narasi yang benar tentang tuturan
tradisi, maka bisa terjadi bahwa suatu waktu generasi sesudah ini akan
kehilangan identitas dan nuansa tradisi. Karena membangun dan mengembangkan sesuatu
di atas pijakan sejarah budaya dan peradaban adalah seni menterjemahkan tuturan
nilai-nilai tradisi yang sudah diwariskan dari nenek moyang sekian ribuan tahun
lamanya, syarat pesan moral dan kehidupan yang dititip dari generasi ke
generasi.
Salam
Uran Faby
Penulis Buku Di
Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri.
keindahan panoram wai uhe wato lota dapat diakses dalam kumpulan foto ini