Kamis, 12 September 2019

Legenda Tulang Ikan di Lewoawang

Berlokasi di Pantai Lewoawang, Kecamatan Ile Bura Kabupaten Flores Timur, tepatnya di Tanjung Ike Kote Wutu, ada peninggal yang melegenda yakni Tulang Ikan Paus.
Tuturan Tradisi bahwa Ikan Paus ini adalah penolong dua anak kecil yang diculik oleh Hantu.
Sesudah ditolong, pesan ikan paus bahwa dalam beberapa hari kedepan, akan ada Ikan besar yang terdampar di pantai. Orang lain akan mengambil daging saya tetapi kalian berdua tidak boleh. Tugas kalian adalah mengambil tulang saya dan menyimpan baik baik.

Tulang ikan yang disimpan sampai sekarang. Kondisinya sebagian sudah rusak tetapi masih nampak jelas.

Masyarkat tidak berani mengambil tulang ikan tersebut, atau potongan sekecil apapun untuk dibawa ke rumah.

ini merupakan sebuah Potensi asset Wisata Bahari yang harus dikemas dan dikelola oleh Pemerintah Desa melalui pemanfaatan Dana Desa













Sumber Foto dan Video : Dokumentasi Pribadi Uran Oncu



Jumat, 06 September 2019

DARI KETERBATASAN KPPS FLORES TIMUR MERAJUT DEMOKRASI TANPA PSU


“Banggalah bahwa kalian menjadi bagian dari sejarah Pemilihan Umum serempak  pertama kali di Indonesia. Banggalah bahwa kalian menjadi Pejuang Demokrasi di garis terdepan, orang - orang pilihan yang memastikan Proses Pemungutan dan Perhitungan Suara tanggal 17 April 2019 berjalan lancar dan sesuai regulasi. Pada Kalianlah Harapan Pesta Demokrasi dengan Seluruh rangkaian Tahapan menjadi bermakna ketika Flores Timur boleh melewati Pesta demokrasi ini tanpa PSU”. kalimat- kalimat  motivasi yang penulis sampaikan saat memberikan bimbingan Teknis Pungut Hitung bagi para KPPS
Keruwetan dengan lima jenis surat suara, sekian banyak formulir,  bagaimana melayani para pemiih DPT, DPTb dan DPK, cara mengisi setiap formulir dipaparkan saat bimtek dengan peserta yang terbatas karena  keterbatasan anggaran. Atas keterbatasan jumlah KPPS yang mengikuti bimtek oleh KPU yakni 3 orang per KPPS, PPK dan PPS melanjutkan dengan bimtek mini ke setiap KPPS. Durasi Bimtek yang singkat dengan persiapan lainnya menjelang tanggal 17 April, semuaya dijalankan dengan penuh semangat dan total.
Aspek lain adalah keterbatasan Sumber Daya Manusia. PPS pun berlomba- lomba dengan pihak partai Politik yang mencari para saksi, berlomba dengan Pengawas tingkat Kecamatan yang gencar melakukan perekrutan Pengawas TPS. Satu hal yang patut dibanggakan adalah di tengah keterbatasan, prinsip Penyelenggara yang netral tetap ditegakan, tuntutan sesuai regulasi setia dipegang teguh. Kerbatasan ini pun akhirnya menggerakan Jiwa Ernesta Kata, mantan Ketua KPU Flores  Timur untuk menjadi KPPS di TPS 003 Kelurahan Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka












Sejarahpun mencatat, saat matahari belum  menyibak kesunyian pagi para petugas KPPS, PAM TPS, PPK, PPS telah bergerak menyibak sisa sisa mimpi karena Panggilan Negara sedang menanti. Mimpi keruwetan yang selama ini dihadapi  dalam pemikiran, saat itu siap menjadi kenyataan. Slogan KPU Flores Timur Tanpa PSU sepertinya menjadi doa yang menggerakan seluruh energi KPPS. Durasi Waktu 17 April, pagi Pkl 07.00 proses Pemungutan Suara dan dilanjutkan dengan perhitungan suara  sampai batas waktu 18 April  Pkl  12.00, dilanjutkan dengan proses salinan Dokumen C1 ke pihak lain, proses serah terima, pengemasan logistic dan pendistribusian kembali kotak Pemilu ke Sekretariat PPK, KPPS melewati dengan tetap semangat meskipun keletihan telah menderah fisik mereka.  Ada sekian banyak kisah yang dituturkan oleh para KPPS, PPK dan PPS serta team Monitoring dari KPU, kisah- kisah  sedih, lucu mewarnai perjuangan para KPPS.


Kasman Ola Samon  Ketua KPPS Pemilu 2019 di Desa Riangduli, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus melewati kisah yang teramat sedih, ditinggalkan Sang Ibunda Tercinta pada pukul 01 Pagi tanggal 17 April 2019. Imannya diuji antara Cinta pada Sang Ibunda dan Tugas Negara. Karena Cinta pada Sang Ibunda Ia tetap setia menjalankan tugas sebagai Ketua KPPS  dan sesekali lari kembali ke rumah memeluk jasad ibundanya yang terbujur kaku. Pukul  15.00 dalam ketegaran Jiwa Sang Ibunda dihantar  menuju perisitirahatan kekal dan Kasman tetap kembali bertugas melakukan Rekapitulasi suara sampai selesai yakni dini hari tanggal 18 April 2019.  Kisah Kasman ini pun diliput oleh team  Liputan6.com, Kamis (18/4/2019). Kisah Pilu Ketua KPPS di NTT yang Ditinggal Sang Ibu Saat Pemilu


Kasman, Ketua KPPS. Sumber Foto : Liputan 6.com



Kisah lain tetang KPPS dari Kecamatan Wulanggitang. Saat proses perekapan ada selisih di jumlah Pemilih yang menggunakan Hak pilih dengan jumlah surat suarah sah dan tidak sah. Para KPPS yang semuanya perempuan, berjuang mencari tau. Selisih pun tidak berhasil mereka temukan.  Ketakutan akan kesalahan mengoncang jiwa mereka. Tangisan mereka pun pecah. Dalam keterbatasan, mereka pun meminta bantuan Dukun untuk membantu mereka dengan ritual adat. Telur ayam pun dipecahkan di lokasi TPS. Seolah - olah doa mereka dalam tradisi budaya terkabul. Anggota PPK Wulanggitang tiba, Saudara Eman  Tupen  Bara. Selisih angkah berhasil ditemukan. Apakah Karena Ritual adat atau karena kehadiran dari anggota PPK yang membantu mereka menemukan selisih angkah, satu hal yang pasti Ketulusan Jiwa Mereka, penyerahan total atas keterbatasan mereka  kepada Tuhan telah menghantar mereka melewati proses yang melelahkan jiwa dan raga dengan penuh sukacita.

 Dari Kecamatan Wotan Ulumado, Kisah  tentang suara Sah bagi calon atau Partai. Ketika ada dua tusukan di calon dan di partai, Ketua KPPS membacakan bahwa suara sah untuk Partai. Hal ini diprotes oleh saksi yang hadir. Jawaban Ketua KPPS, “yang ikut bimtek saya atau kamu. Saksi pun menjawab, “Teman baca ulang buku panduan. Ketua KPPS pun membuka buku panduan KPPS, membaca lalu menjawab, Teman saya yang salah, engkau yang benar.  Si saksi pun merespon, Teman, kau kira kerja ini seperti engko tembak ikan kah? Dan suasana pun penuh gelak tawa karena guyonan guyonan lucu dua sahabat ini.  Poin dari kisah ini adalah saksi memainkan peran sebagai  Correctio Fraternal.  Banyak informasi yang diperoleh bahwa pemahaman teknis antara KPPS dengan Pengawas TPS dan Para Saksi sangat berbeda dan menyebabkan perdebatan -  perdebatan. Hal ini karena Bimtek ke Para Pengawas TPS tidak melibatkan KPU. Kisah di Wotan Ulumado, pengawas TPS dapat memberikan koreksi yang benar karena, saat Bimtek ke para KPPS, Ketua Panwascam Wotan Ulumado meminta Ketua PPK Wotan Ulumado agar para pengawas TPS pun boleh ikut dalam Bimtek. Pemahaman Teknis yang berbeda ini pula yang menyebabkan tata cara melayani pemilih Kategori dalam Daftar Pemilih Khusus.  Ketika Para pemilih kategori DPK tidak bisa menunjukkan  dokumen Kependudukan yakni E- KTP atau Suket ( Surat Keterangan ) dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Flores Timur, KPPS dengan bijakasana menjelaskan regulasi bahwa mereka tidak bisa dilayani.  Bahwa ada pandangan berbeda dari pengawas TPS dan Saksi, KPPS tetap teguh pada regulasi ini.


               Pemahaman teknis Pungut Hitung harus dikuasai oleh KPPS, Pengawas TPS dan Para Saksi. Dengan pemahaman yang baik, maka semua pihak dapat berkontribusi untuk menjalankan keseluruhan prosedur dengan benar sesuai regulasi. Proses koreksi sejak awal adalah bentuk control moral agar para penyelenggara tidak jatuh dalam kesalahan. Kehadiran para saksi dan Pengawas TPS bukan menanti dan mengamati kapan ada kesalah dibuat tetapi bagaimana mengawal agar TIDAK ADA KESALAHAN TERJADI. Spirit ini yang harus dipahami dengan benar. Untuk itu maka pada proses pemilihan –pemilihan selanjutya, Bimbingan Teknis ke Pengawas TPS dan Para Saksi harus dilakukan oleh KPU bersama Bawaslu karena yang sangat memahami hal teknis pelaksanaan Pungut Hitung adalah KPU dan Bawaslu membantu dari aspek pengawasan.



Kesulitan Akses ke setiap Desa tidak pernah mematahkan semangat para penyelenggara di tingkat PPK dan PPS. Dari Tanjung Bunga, kegiatan Bimbtek dibagi kedalam dua kelas. Untuk Kelas kedua, meliputi Desa  Latonliwo,  Patisirawalang, Aransina dan Latonliwo Dua. Lokasi Kegiatan Bimtek di Desa terujung Pulau Flores, Patisirawalang. Daerah yang terkenal dengan nama  Basira, sebuah perkampungan yang dapat dikatakan terisolir. Akses ke lokasi ini sangat sulit, medannya sangat berat.  Jarak dari Waiklibang Pusat Kecamatan Tanjung Bunga ke Latonliwo sekitar 28 KM.  Jarak tempuh mencapai tiga jam dengan sepeda motor. Sedangkan ke Desa Patisirawalang desa terujung dengan kondisi jalan tanah kurang lebih 9 KM. Wilayah -  wilayah ini dalam jadwal distribusi logistik Pemilu  selalu menjadi yang terdahulu karena akses ke sana sangat berat.  Biasanya distribusi logistik melalui laut, dan selanjutnya dipikul mendaki bukit menuju kampung –kampung. Penulis bersyukur boleh mengalami pergumulan PPK, PPS dan KPPS melewati medan yang teramat berat ini. Ketika kegiatan Bimtek dilakukan di sini, warga masyarakat sangat senang dan para KPPS dari Desa lain pun senang karna kesempatan ini. Jarang ada kunjungan – kunjungan dari pihak luar ke wilayah ini. Menurut  Rofina Bince Maran, anggota PPK Tanjung Bunga, ketika kegiatan Bimtek dilakukan di desa ini, Kepala Desa  dan sangat antusias dan beliau pun mengikuti Bimtek bersama KPPS sampai selesai










 Dalam wawancara dengan Ernesta Katana Mantan Ketua KPU Flores Timur yang bertugas sebagai ketua KPPS di TPS 003 Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka, hal teknis membuka surat Suara oleh KPPS dan menyerahkan ke para pemilih adalah hal yang sangat teknis tetapi sangat menentukan karena dengan menyerahkan Surat suara dalam keadaan terbuka ke pemilih, KPPS telah terhidar dari kesalahan memberikan surat suara lebih dari aspek jumlah maupun jenis.  Hal lain adalah sangat membantu pemilih untuk segerah menentukan pilihan di dalam bilik suara karena tidak disibukan lagi dengan membuka surat suara. Hal teknis lainnya adalah di awal perhitungan Jumlah Surat suara, dilakukan dengan cepat karena dibagi team dan masing-masing team dikawal oleh Para Saksi dan dipantau oleh Pengawas TPS. Kunci kesukseskan di TPS ini dan TPS laiinya di seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur adalah Para KPPS didampingi oleh PPK dan PPS melakukan simulasi pungut hitung secara swadaya tanpa anggaran.

Dari Aspek biaya, sangat disadari bahwa honorarium petugas KPPS sangat kecil dibandingkan dengan beban tugas yang sangat berat. Tetapi panggilan jiwa untuk menjadi bagian dalam sejarah kepemiluan ini, panggilan jiwa untuk mengabdi Lewotana Flores Timur mengalahkan keterbatasan anggaran ini. Saat Bimtek, disampaikan besaran Honorarium KPPS. Bahwa ada yang merasa tidak puas, adalah hal yang teramat wajar. KPU Flores Timur sangat bersyukur karena tidak ada berita  KPPS mengundurkan diri karena kecilnya honor penyelenggara KPPS.
 Masih banyak kisah tentang perjuangan para KPPS. Keterbatasan waktu tidak mengijinkan untuk merangkai semuanya saat ini. Biarkan kisah- kisah lainnya menjadi tuturan lisan dan pada waktunya semoga dapat menjadi sebuah tulisan.  Semoga dengan Foto- foto perjuangan Para KPPS saat mengikuti Bimtek dan menjalankan tugas di hari pemungutan suara  di lembaran Landscape  Foto foto dapat memberikan gambaran tentang Semangat Melayani, Semangat memberikan yang terbaik bagi Pesta Demokrasi. Karena Ketulusan Jiwa, integritas sebagai ujung tombak, KPU Flores Timur bersama seluruh jajarannya, PPK dan PPS berhasil menjalankan tugas sebagai Penatalayan Demokrasi, berhasil menyajikan Perjamuan Demokrasi Pemilihan Umum serempak Nasional 2019.

Penulis
URAN, Fabianus Boli
Anggota Komisioner KPU Flores Timur

























MENANTI PARA PENATALAYAN DEMOKRASI

  Geliat   Perayaan demokrasi, Pemilu serentak tahun 2024 semakin kuat.   Setiap tahapan telah dan sedang dikerjakan oleh KPU RI dan jajaran...